Heavenly Li Tian

Heavenly Li Tian
Chapter 26 : Aku Kembali


__ADS_3

Chapter 26 : Aku Kembali


Kediaman Klan Li.


Li Weiqian bermondar-mandir, dia sangat cemas tentang Putranya yang tidak kembali dari Hutan Sungai. Dia sudah mengirim bawahan terpercayanya Guo Ye, untuk melindungi Putranya pada saat berbahaya. Namun hari ini adalah hari seleksi memasuki pintu 5 Sekte, dia juga sudah memberitahu pada bawahannya untuk kembali 3 hari, dan sekarang sudah melebihi hari ditentukan.


Kesempatan untuk bergabung untuk 5 pintu Sekte adalah kesempatan besar bagi Putranya. Dia takut terjadi apa-apa dengan Putranya di Hutan Sungai, apalagi sekarang Putranya tidak kembali. Rasa cemas menghampirinya.


Dan sekarang Istrinya telah kembali ke Klan Li, dia juga cemas tentang Putranya yang tidak kembali ke Klan Li. Dia tidak tahu apa-apa, dia hanya diberitahu Putranya Tian’ger sedang pergi dan tidak diberitahu kemana perginya. Li Weiqian menenangkan rasa cemas Istrinya.


“Sebaiknya dia kembali hari ini.” Partiak Li, Menghela nafas.


“Tenang Saudara Li, kamu memiliki Putra yang kuat. Di lihat dari pertarungan dengan anakku, dia mengalahkannya dengan mudah.” Partiak Chen juga menenangkan Saudaranya ini.

__ADS_1


Adapun tentang Chen Lin Xuan, dia berada di samping Ayahnya. Mendengar perkataan Ayahnya tentang pertarungan dengan Li Tian, dia sedikit tidak senang. Yah.. dia sendiri seperti di permainkan saat bertarung, sehingga membuatnya sedikit tidak puas dengan perkataan Ayahnya, bagaimanapun juga dia adalah Anaknya.


“Hah…”


“Mari kita lupakan tentang ini, kita pergi sekarang.” Partiak Li mendesah, dia kemudian berdiri. Begitu juga dengan Partiak Chen dan Putrinya, Chen Lin Xuan.


Tiba-tiba suara keras datang dari pintu, pintu terbuka. Muncul pelayan bergegas menuju Partiak Li, menunduk.


Partiak Li yang sedang berdiri, mendengar pelayannya ini mengatakan Putranya telah kembali. Membuat api menyulut semangat padanya. dia bergegas keluar, lalu dengan cepat dia tiba di halaman depan Klan Li.


Dimana tempat itu adalah tempat yang memiliki lebar panjang, area luas. Biasanya tempat itu dijadikan tempat arena pertarungan antar generasi. Karena hari ini bukan hari pertarungan antar generasi, jadi tempat halaman itu kosong. Dan di gantikan seorang pemuda dan seorang jubah hitam di belakangnya, dan yang lebih mengejutkan adalah ada burung besar di samping Putranya, burung besar itu terlihat gagah.


“Makanlah ini, ini upahmu telah mengantar.” Li Tian melempar daging ke mulut Burung besar itu.

__ADS_1


Burung besar itu dengan senang hati menerimanya, lalu berangkat terbang ke langit, mengepak sayapnya, lalu menghilang.


Li Tian berbalik, saat berbalik dia melihat Ayahnya di depan, lalu juga muncul perempuan cantik dewasa. Perempuan cantik dewasa itu tertegun, kemudian berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Perempuan itu adalah Ibunya, Chen Rouruan.


Li Tian tertegun, dia tidak tahu bagaimana menanggapinya, dia bukan lagi seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dia tahu segalanya, dia memiliki sifat yang tak dimiliki orang lain, dia acuh tak acuh, selama ini dia hidup menyendiri, mengasingkan dirinya pada kegelapan. Kehidupan duniawinya, dia telah membuang semuanya. Setelah kehancuran Keluarganya, kematian kekasihnya, dia selalu memasang wajah dingin, tertutupi dalam es, tertutupi dalam jurang. Tapi entah kenapa sekarang, dia merasakan kedalaman hatinya menghangat, itu sangat hangat. Perasaan itu seperti dia merasakan kehangatan keluarga yang dia nantikan selama ini.


Dia melihat dalam dirinya pada kegelapan, berdiri sendiri merasakan kesepian, menunduk, menangis dalam kegelapan yang dimana dia seorang diri. Tidak ada orang yang tahu, tidak ada orang yang mengenalnya, dan tidak ada orang menemaninya.


Perasaan sedihnya, bertahap mulai menghilang pada saat dia merasakan kehangatan keluarga ini. Li Tian hanya diam kaku, lalu kemudian tangannya mulai memeluk Ibunya. Kehidupan yang penuh dengan kegelapan abu, kini di gantikan warna. Dia memeluk Ibunya dengan erat, tapi lembut. Dia tidak ingin Ibunya tahu rasa sakit ini, dia tidak ingin. Dia menetes air mata untuk pertama kalinya, untuk kehidupannya ini.


“Aku pulang Ibu.”


Li Tian tersenyum indah, dengan wajah tangis. Dia tersenyum asli, bukan senyuman palsu yang dia sembunyikan dalam hidup.

__ADS_1


__ADS_2