
Chapter 27 : Li Tian dan Chen Lin Xuan
Ayah Li, yang ingin memarahi Putranya, berhenti sejenak. Dia tidak tahu harus bagaimana. Memandang Istrinya menangis memeluk Putranya, hatinya juga sedikit tersentuh.
Dia menghampiri keduanya, lalu memeluk semuanya, Istrinya dan Anaknya. Li Tian juga merasakan kehangatan lagi, pelukan keluarga. Dia sangat senang berharap ini semua nyata dan bukan mimpi belaka, dan dilihat ini memang nyata. Setelah beberapa saat ketiganya mulai berpisah, melirik satu sama lain. Mereka tersenyum dan tertawa bahagia.
“Ehmnn.. Ehmn! Mungkin kita harus pergi.” Partiak Chen berdeham sebentar, dia juga tidak ingin menganggu reuni keluarga Saudaranya. Tapi ada hal penting yang harus mereka lakukan.
Partiak Li tidak tahu harus apa, melihat Istrinya tertawa dan bahagia tentang kepulangan Putranya, dia tidak ingin melihat kesedihan Istrinya, melihat kepergian Putranya sekali lagi.
“Ruong’er, Tian’er harus pergi sekarang. Memasuki 5 pintu Sekte.” Ayah Li membujuk dengan lembut, dan berkata perlahan. Memegang tangan Istrinya.
Ibu Li mendengar kabar ini, tubuhnya bergetar sedikit. Air mata keluar membasahi wajah Ibunya.
“Ibu.. Aku..” Li Tian merasakan gelisah melihat Ibunya menangis.
“Tidak apa-apa Ting’er, kamu harus pergi, kamu harus menjadi kuat melebihi Ayahmu. Dan ingatlah untuk kembali ke Rumah.” Ibu Li memegang tangan kecil Putranya, dia mengelus sedikit. Ibu Li kemudian mencium dahi Li Tian dengan lama, dia ingin Putranya kembali secepat mungkin dan bersatu lagi.
Tapi kemungkinan kembali itu tipis, mungkin membutuhkan waktu yang lama. Dan juga Li Tian mungkin sudah dewasa dan tidak lagi anak kecil, membawa Istrinya dan memberikan cucunya.
Keduanya berpisah, Li Tian memandang Ayahnya lalu mengangguk. Ayah Li melihat ini tersenyum, keduanya mulai berangkat bersama dengan Partiak Chen dan Chen Lin Xuan di depan.
Li Tian berbalik melambaikan tangannya ke atas, lalu berbalik lagi dan terus berjalan. Ibu Li yang melihat kejauhan melambaikan tangannya, berharap Putranya kembali dengan aman.
…………………
Li Tian berjalan mengikuti Ayahnya di belakang, tidak jauh dari gerbang Klan Li. Dia menemukan dua kereta, dia terbata-bata memandang kereta di depannya. Dia bisa menebak apa yang di pikirkan Ayahnya.
“Li Tian kamu sudah tahu soal 5 Pintu Sekte, yang di adakan di Kota Danau Hijau.” Ayah Li melirik Putranya.
Li Tian mengangguk, “Bawahan Ayah memberi tahu saya.”
“Seperti yang kamu tahu, 5 Pintu Sekte mengadakan perekrutan murid baru. Saat kamu memasuki arena, kamu akan dikirim dunia dimensi Alat Asal. Dunia dimensi Alat Asal itu dunia buatan, vitalitas kehidupan Alat Asal mengalir ke setiap titik dunia dimensi, dan ambillah sebanyak mungkin tanaman kultivasi. Hal itu bisa dijadikan bantuan tambahan untuk memasuki Sekte.”
“Ayah percaya kamu kuat, dan berhasil memasuki Pintu Sekte yang kamu inginkan.” Ayah Li menepuk bahu Li Tian.
__ADS_1
“Ayah masuk ke kereta depan, kamu memasuki kereta di belakang. Bercakaplah dengan baik.” Ayah Li tersenyum berseri-seri, kemudian mendekati Partiak Chen, tertawa, lalu masuk ke dalam kereta.
“Tuan Muda Li kereta sudah siap.” Pelayan berkata.
Li Tian hanya menggeleng kepalanya, dia habis berpikir harus apa tentang kelakuan Ayahnya. Dia berjalan menuju kereta di belakang, dan memasuki. Setelah dia memasuki kereta, dia mencium aroma harum di seluruh ruang. Tapi dia mengabaikannya, lalu duduk di bantal yang sudah di siapkan berlawan arah.
Ruang di dalam kereta cukup lebar, sehingga seseorang bebas memilih mana tempat duduknya. Li Tian memejam matanya untuk mengolah Teknik Nafas Naga, baginya waktu adalah kekuatan untuk meningkatkan diri. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan luang ini, tenang dan aman. Mungkin di masa depan dia tidak bisa berkultivasi dengan tenang, jadi dia harus memanfaatkan waktu yang terbaik untuk kultivasi.
Di sisi lain Chen Lin Xuan juga berdiam diri, mengabaikan Li Tian. Memandang ke arah luar, melihat banyak orang berjalan. Suasana di dalam kereta itu begitu sunyi dan hening, hanya suara angin dan detungan kereta.
Tapi lama-kelamaan Chen Lin Xuan tidak tahan lagi.
“Kenapa kamu tidak berbicara?.” Suara Chen Lin Xuan cemberut.
Li Tian tidak menjawab dan terus mengolah Teknik Nafas Naga.
“Apa kamu dengar!.” Suara Chen Lin Xuan kesal.
Tetap mengabaikan.
“…..” Li Tian.
“Jika kamu terus berdiam diri, aku akan mengatakan kepada Ayah kamu karena tidak mau berbicara.” Chen Li Xuan berkata membentak, dan warna merah bisa terlihat pada wajahnya.
Li Tian membuka matanya. Pada saat dia membuka matanya, seberkas niat pedang menghampiri Chen Lin Xuan.
Chen Lin Xuan terkejut dan tidak bisa menanggapi bayangan pedang, dia menutup kedua matanya. Seakan dia rela mati untuk orang yang dia cintai.
Waktu detik berikutnya. Chen Lin Xuan masih menutup kedua matanya, apakah aku sudah mati?.
“Buka Matamu, kenapa kamu masih menutup?”
Chen Lin Xuan mendengar suara pemuda yang dia benci, terdengar pada telinganya. Dengan perlahan dia membuka matanya, dia melacak tubuhnya, setelah dia meraba semuanya, ternyata dia masih hidup.
Dia kemudian melihat Li Tian yang memasang muka polos tidak tahu apa yang terjadi padanya. wajahnya mulai berangsur menjadi merah padam.
__ADS_1
“Kamu…” Chen Lin Xuan berkata suara menggertak.
“Kamu Apa?” Li Tian bertanya.
Krakk!
“Beku Es!”
Ruangan yang dulunya begitu hangat, sekarang seluruh ruangan menjadi dingin, semuanya membeku. Supir yang menyetir kereta menggigil, dan kudanya menarik kereta dengan sekuat tenanga, tetapi tetap saja tidak berjalan.
Supir kereta itu menengok kebelakang, segera dia perlihatkan keretanya menjadi es. Roda pada kereta juga menjadi es, sehingga menyebabkan kereta tidak bisa berjalan lagi.
Kilat biru terlihat dalam ruangan kereta, lalu sesuatu menghancurkan dari pintu kereta.
Bang!
“Fvkk! Apa kamu gila?”
“Seluruh keluargamu yang gila, sekarang terima serangan ini.”
Chen Lin Xuan menunjukkan dirinya di pintu, kemudian menyerang Li Tian dengan sengit.
“Betapa sialnya aku bersamamu.” Li Tian berkata menyesal tentang pengaturan Ayahnya.
…………..
“Partiak Li, kereta Tuan Muda berhenti di belakang.” Menunduk.
“Berhenti?”
“Batuk.. Tuan Muda Li dan Nona muda Chen Lin Xuan sedang bertarung.
“APA?” Partiak Li dan Partiak Chen langsung berdiri.
“Hahh.. Anak-anak terus membuat masalah baru.” Mereka berdua menggeleng kepalanya. Kemudian mereka keluar, dan menuju duo sejoli sedang bertarung sana-sini.
__ADS_1