Hijrah Ku Karena Mu

Hijrah Ku Karena Mu
Flashback part 1


__ADS_3

_____


Kini Eldrich sudah kembali ke rumah, tepat nya sudah 2 hari lalu ia di perbolehkan untuk pulang, ia terus merenung sambil memegang ponselnya terkadang ia tampak menyalakan ponselnya lalu mematikannya lagi dan begitu terus dari pagi hingga hari menjelang sore.


" El.. makanlah sesuatu, tolong jangan buat nenekmu ini merasa khawatir, kumohon katakanlah sesuatu,,,,"


Ucap neneknya yang tiba-tiba sudah di ambang pintu dengan suara parau, tampak neneknya itu baru saja menangis.


Eldrich mengalihkan pandangannya ke arah suara neneknya dan tanpa pikir panjang ia langsung berlari memeluk neneknya,


" Maafkan aku nek, aku mohon jangan menangis lagi... Maafkan aku, sungguh aku tak bermaksud membuat nenek merasa khawatir, maafkan aku..." Eldrich berulang kali mengatakan maaf sembari memeluk tubuh neneknya yang sudah renta itu, lalu ia menghapus air mata di pipi neneknya dengan lembut.


" Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu, ceritakan lah semuanya Arne, sebenarnya kau ini kenapa?" Desak neneknya.


Eldrich tak bisa mengatakan tidak atau beralasan lagi kali ini. ia lalu menceritakan mimpinya dan tentang dirinya ingin masuk islam namun belum memiliki keberanian untuk menelpon dan memberi tahu orang tuanya yang ada di jerman.


" Nenek tidak keberatan dengan pilihan mu El, malah nenek sangat bersyukur jika kau kembali mempercayai adanya tuhan, apapun agamanya itu tak masalah, nenek akan bicara pada ibumu agar ia mengatakannya baik-baik dengan ayahmu,,," kata neneknya setelah mendengar ceritanya.


"Maafkan aku nek,, aku tak menyangka jika nenek akan mengatakan ini, ku kira nenek akan memarahi ku atau bahkan membenci ku, karena itulah sebabnya mengapa aku tak mengatakan yang sejujurnya,,, aku sungguh minta maaf karena aku nenek jadi tak tenang,,," Eldrich menyesal, sangat menyesal kenapa ia tak mengatakannya sejak awal, maka semuanya akan menjadi cepat, rupanya otaknya tak sempat lagi digunakannya untuk berfikir karena rasa kalut dalam dirinya mengoyak jiwanya.


Dan segara rasa lega menyelimuti dirinya setelah ia menceritakan semuanya pada neneknya, apalagi nenek nya mengatakan akan menceritakan pada ibunya apa yang Eldrich alami agar ibunya bisa membicarakan baik-baik dengan ayah dan kakaknya, tepatnya meminta persetujuan ayahnya untuk masuk Islam.


Tapi meskipun ayahnya tak menyetujuinya pun ia akan tetap masuk islam, apapun resikonya... Ia sudah yakin sekarang bahwa allah lah tuhan yang sebenarnya yang wajib ia sembah, meskipun belum mengikrarkan syahadat dengan resmi tapi itulah yang Eldrich yakini sekarang.


" Baiklah nenek akan menyiapkan bubur dan sup untukmu, makanlah sejak kemarin kau tak menyentuh makanan sekalipun,,," kata neneknya sembari mengelus kepala Eldrich


Eldrich melihat jam di dinding kamar nya, jam menunjukkan 15:08 wib.


" Nenek aku akan ke kantor sebentar, nenek siapkan saja dan aku janji akan memakannya setelah pulang nanti,,"


" Tapi dengan kondisi seperti ini apa kau yakin akan keluar, lihatlah wajahmu yang pucat dan berantakan, badan mu yang tampak kurus tak bertenaga, kau harus makan.." omel neneknya.


" Nenek tak perlu khawatir dengan wajah seperti ini saja aku masih bisa membawa pulang 100 gadis,,, hhhhh" Eldrich berkelakar.


" hais Dasar anak nakal... " Dan akhirnya cubitan di lengan kiri lah yang Eldrich dapat akibat leluconnya itu,


" Awww sakit nek... " Eldrich mengusap lengan kekarnya yang terkena cubitan.


" Hhhh.. baiklah sekarang bersiaplah, nenek akan turun..." Kata neneknya berlalu.


" hum... Nenek aku menyayangimu..." Teriak Eldrich saat nenek nya sudah di ambang pintu,


Nenek nya hanya membalas dengan senyuman saja setelah itu berlalu.


15 menit kemudian Eldrich sudah turun wajahnya kini tampak lebih segar dari yang tadi ditambah rambutnya ia sisir ke belakang tampak sangat cool, meskipun kantung matanya sedikit terlihat, kegantengannya tetap max.


" Nenek aku berangkat dulu,,," sebelum berangkat ia mencium pipi neneknya,


45 menit kemudian ia sampai di perusahaannya, jalannya macet. ternyata salah jika memilih ke kantor di jam pulang kerja maka itu akan sangat berlawanan,, untungnya tidak sampai 1 jam,


Hari sudah mulai gelap...


Dan ia yakin 2 jam lagi kantornya akan sepi, tapi biarlah...


" Hufh... Finally akhirnya... Welcome to my office room,,," katanya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruangan nya, baru beberapa detik tubuhnya menyentuh sofa tiba-tiba ponsel dikantong nya bergetar, terpampang di layar (jimmy) ah malas sekali mengangkatnya tapi ia penasaran bagaimana kabar sahabat brengseknya itu... Sejujurnya ia juga sama brengseknya jika dipikir-pikir lagi..hahaha"

__ADS_1


" Hai... El.........." Teriak Ryan dan Jimmy bersamaan dari seberang telepon.


" Hey... Aku dengar tak usah teriak-teriak... Berisik sekali,,," omel Eldrich telinganya sakit,


" Hhhhh.. kau masih sama seperti waktu terakhir kita ketemu El, dingin dan nada bicaramu itu yang membuat hatiku sakit.. huhu..." Jimmy berakting menangis,


"hentikan itu kau sangat menjijikkan,,,," bentak Ryan pada Jimmy,


" Memang nya apa masalahmu, suka suka ku lah... " Ucap jimmy.


Eldrich yang mendengar perdebatan dua sahabatnya di seberang sana hanya tersenyum kecil,


" Sejak kapan kau mulai tersenyum El..." Kata jimmy dari seberang sana.


" Apa...!!, mana mungkin aku tersenyum,," elak Eldrich dengan cepat-cepat


" Iya kau kebanyakan minum mungkin akhir-akhir ini sampai jadi idiot sekarang mana mungkin Eldrich tersenyum dasar bodoh..." Ledek Ryan.


" Hei siapa yang kau bilang idiot haaa... Kau yang idiot.. dasar brengsek..." Teriak jimmy tak terima dibilang idiot,


" Hei kalian bisa diam tidak, buat apa telepon kalau hanya untuk mendengarkan perdebatan konyol kalian lebih baik tak usah telepon.." Eldrich mulai kesal sebab dari tadi ia dikacangin terus.


" Hehe... Please jangan marah El....


Sebenarnya kami menelpon mu karena ada seseorang yang ingin minta nomormu,,, apakah boleh jika kami memberikannya.." kata Ryan sedikit ragu-ragu.


" Siapa yang memintanya.." Eldrich mengerutkan keningnya tidak senang.


" Aaa... Sebentar kita lakukan video call saja, agar lebih enak.. " kata jimmy lalu mematikan teleponnya,


" Aku tanya sekali lagi siapa yang meminta nomorku,,?" Tanya Eldrich datar dan dingin.


" Yoooo... Santai dulu El, aku yakin kau akan kaget sekaligus senang mendengarnya.... Betul tidak jimm,,," kata Ryan,


" Yoi benar sekali... " Jimmy menimpali.


" Jika kalian tak mengatakannya dengan benar.. ku pastikan besok kalian sudah ada di Afrika Selatan..." Ancam Eldrich. Dengan wajah datar dan Dingin tatapannya tajam dan mematikan.


" Haha baiklah... Ayok katakan bersama..." Ajak Jimmy pada Ryan


" Yang meminta nomor telepon mu adalah... Alice Cooper, nona muda dari keluarga besar Cooper...." Jawab Ryan dan Jimmy serempak.


" Bagaimana, kau terharu kan?,, Hhh aku tahu pasti hatimu sangat senang hingga melayang-layang....hhhhhhh" tawa jimmy dan Ryan pecah.


Eldrich hanya diam dengan raut wajah tak suka, matanya memandang tajam pada dua temannya yang sedang tertawa.


" Jangan berikan,,," Eldrich menutup telponnya sepihak. Lalu melempar hp nya ke samping tempat duduknya.


#Flashback on


Ingatannya kini mulai berkelebat tentang kejadian hampir 7 tahun lalu,Yang dia ingat dirinya tak pernah bicara banyak dengan Alice tapi ia tau perempuan seperti apa Alice dan yang jelas bukan perempuan baik-baik , ya bahkan dirinya masih ingat 7 tahun lalu ia di usir dari rumah karena menghindari perjodohan konyol yang telah di rencanakan ayahnya dengan ayah Alice, dan ia ingat betul bagaimana Alice berakting dengan senyumnya yang anggun serta tutur kata lembutnya mengelabui ayahnya, sungguh memuakkan, dan karena perjodohan itulah ia kabur dari rumah ke Rusia hingga ia bertemu gerombolan mafia yang mengenali dirinya adalah tuan muda keluarga Bezos dan bahkan berniat membunuhnya, tapi dirinya yang saat itu berusia 19 tahun tak bisa dianggap remeh, modal kelincahan tubuh dan kecerdasan otaknya ia mampu melumpuhkan semua anak buah beserta kepala mafianya sekaligus meskipun begitu bukan berarti ia tak terluka, terdapat 3 sayatan pisau di punggung nya dan 2 peluru sniper 1 di paha kanannya 1 lagi tepat di bahu kiri, peluru itu hampir menembus jantung nya saat itu. Tapi ia masih sanggup mengalahkan mereka semua dan bahkan bernegosiasi dengan mereka, dirinya juga mengatakan jika mereka bersedia menjadi anak buahnya dan membantunya menghindari ayahnya maka ia berjanji setelah ia sembuh total maka ia akan membantu mereka menghancurkan basecamp musuh-musuh mereka.


Dia ingat betul betapa mereka meremehkannya pada waktu itu.


" Hahaha... Kau mau membantu kami?, kau saja masih bocah ingusan yang baru tumbuh dewasa kemarin.. haha jangan bercanda,," tawa Majidov Brösmotva pimpinan mafia Rusia itu pecah diikuti anak buahnya, mereka menertawakan Eldrich dengan kondisi yang parah seperti itu mereka masih sempat tertawa, yep itu sangat menggelikan bagi Majidov dan anak buahnya yang masih hidup, bagaimana bisa seorang anak yang belum genap 20 tahun ini bernegosiasi dengan dirinya yang sudah lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia gelap ini.

__ADS_1


" Jangan meremehkan orang lain, kenyataannya kalian yang begitu banyak tak bisa menumbangkan ku lalu apa artinya cih.." sengit Eldrich tersenyum mengejek.


Mereka semua diam seketika. Saling tatap, dan ya keadaan mereka jauh lebih menyedihkan daripada Eldrich yang hanya terluka di beberapa tempat dan masih sanggup berdiri tegak.


Majidov berpikir untuk beberapa saat,, dan akhirnya...


" Baiklah bocah, persyaratan mu kami terima tapi jika kau mengkhianati kami kau akan tau akibatnya.." ancam Majidov.


Dengan senyum sinis nya Eldrich mengatakan.


" Pertama aku bukan bocah, kedua ancaman mu tak berarti bagiku ck, sudah hampir mati masih saja mengancam orang,"


Sejak saat itulah dirinya mulai membunuh orang untuk pertama kalinya di Rusia, menjadi seseorang yang bengis dan kejam bahkan ayahnya mula-mula tak mengetahui bahwa the killer boy adalah anaknya sendiri, ya itu adalah julukan nya di dunia mafia baru 2 bulan resmi bergabung dirinya sudah menggemparkan para mafia dunia pasalnya skill, ketangkasan, kecerdasan dan ketelitian yang ia miliki di luar nalar manusia di usianya yang 19 tahun sudah begitu hebat. Namanya dan usianya disamarkan serta ia selalu mengenakan topeng dan pakaian serba hitam saat melakukan aksinya, tapi itu tak bertahan lama kira-kira hanya 5 bulan ayahnya mengetahui bahwa the killer boy adalah dirinya, ayahnya tak tinggal diam, saat Eldrich menjalankan misinya anak buah terlatih ayahnya membekuk nya dan membawanya pulang ke jerman.


#Di ruang bawah tanah keluarga Bezos..


Saat dirinya terbangun kepalanya pusing sekali, perlahan ia mengerjapkan matanya ia dapati dirinya terikat di sebuah kursi dan pemandangan pertama yang ia lihat setelah itu adalah ayahnya yang duduk di kursi tepat di depannya dengan mata yang menatapnya tajam, mata yang penuh amarah seperti ada bola api yang berkobar-kobar di dalam sana, ia yakin ayahnya sudah tau dan saat ini kemarahannya berada di level max, Eldrich pasrah. Jujur demi apa, saat ini ayahnya menatap dirinya seperti singa yang sedang lapar dan siap menerkam mangsanya.


" Sudah merasa hebat hah...." Tanya ayahnya tanpa mengalihkan tatapan mematikannya dari wajah Eldrich yang penuh dengan luka lebam serta darah yang mengalir dari hidungnya.


Eldrich hanya diam.


" Puas sudah membuat malu ayah dengan cara kabur dari perjodohan seperti anak kecil, lalu membunuh orang seenaknya, sudah enak hidup bebas hah?, kenapa diam...?


Ayah sedang bertanya padamu El..!!! " Tiba-tiba nada bicara ayahnya naik.


Eldrich kaget dan mendongakkan kepalanya. Ia diam seribu bahasa, sejujurnya ia takut akan kemurkaan ayahnya itu.


" Kalau aku bilang ya aku puas, lalu apa urusan ayah,," Eldrich balik bertanya.


Dilihatnya wajah ayahnya semakin merah padam.


"Demi yesus, aku membesarkan mu bukan untuk jadi pembangkang..." Belum selesai ayahnya bicara Eldrich menyela.


" Yesus apa, siapa Yesus,, asal ayah tau aku tak percaya itu dan aku tak mau dengar Yesus ataupun tuhan, tak ada tuhan dalam hidupku, karena hidupku milikku dan tak ada yang berhak mengaturnya termasuk ayah, apakah ayah tau dengan menyuruhku terus belajar hal-hal tak berguna dan belajar bisnis, tak memberiku kebebasan sedikitpun.itu semua ayah lakukan agar bisa mengaturku di bawah kendali ayah kan?, dan ayah pikir aku tak tau aku dijodohkan hanya karna bisnis? Ayah pikir aku dengan bodoh akan mau menerima perjodohan itu?.. "


Plakkk belum selesai Eldrich bicara, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Eldrich,


Perih dan panas itu yang dirasakannya, beberapa detik kemudian darah segar mengalir sekali lagi dari hidungnya, dan bibir sebelah kirinya pecah.


" Dasar anak tak tahu balas budi, ayah menyuruhmu belajar itu demi kebaikan mu agar masa depanmu cerah, bukan untuk mengatur mu, kau bisa hidup bebas jika kau sudah jadi orang hebat. Bahkan tuhan pun kau sepelekan pantas saja ayah kau tentang,,,," Ucap ayahnya dengan suara bergetar menahan amarahnya.


" Tapi yang ku inginkan hanya kebebasan dan lagi ayah mengatur perjodohan konyol dengan perempuan busuk macam Alice aku tak suka itu, apa masalahnya aku tak percaya tuhan lagi pula tanpa tuhan aku bisa hidup,,,!!" Ucap Eldrich dengan nada tinggi.


" Baik jika kebebasan yang kau inginkan, pergilah!! Dan jangan kembali ke rumah ini lagi sebelum kau membuktikan omong kosong mu, dan jangan harap bantuan ku jika kau menemui masalah diluar sana sekarang kau bukan lagi tuan muda keluarga Bezos, dan jangan gunakan nama keluarga Bezos untuk menggertak karena itu tak berguna. Kau pikir hidup diluar mudah hah..!!." Ucap ayahnya berapi-api lalu pergi meninggalkan putra bungsunya yang sangat keras kepala.


" Baik dengan senang hati aku akan pergi..." Ucap Eldrich tak mau kalah.


#beberapa hari kemudian setelah ia pergi..


Ternyata ucapan ayahnya memang benar, tak mudah hidup sendirian di dunia luar apalagi kini dirinya bukan tuan muda keluarga Bezos lagi, sebenarnya yang ia butuhkan hanya Golden card keluarga Bezos saja itu sudah cukup.


jangankan golden card,bahkan ayahnya saja menghapus nama keluarga di belakang namanya.


____

__ADS_1


*edisi revisi


__ADS_2