
Dulu baginya kekuasaan dan uang adalah segalanya, menurutnya jika ingin diakui maka harus memiliki kekuasaan yang tinggi dengan uang yang tak terhitung jumlahnya. Namun kini ia menyadari 1 hal semakin ia mengejar kedudukan yang tinggi maka rasa haus nya akan tetap berlanjut bahkan semakin menjadi jadi sama hal nya ketika ia membunuh ada rasa kepuasan yang sangat besar saat melihat darah mengalir dari leher seseorang, dan itu dulu. sekarang ia mulai merasa bahwa dirinya sangat kotor bahkan ia bertanya-tanya,akankah allah mengampuni dosa-dosanya? layakkah dia untuk masuk Islam ?dan layakkah dia mendambakan memiliki seseorang sebaik dan sebersih Maira? Melihat semua kejahatannya dan apa yang dia inginkan saat ini rasanya tidak sebanding, hey bayangkan dirinya yang menginginkan Maira itu bagaikan punguk yang merindukan bulan.
___
Kantor Eldrich...
Dert.. dert...
Satu panggilan yang masuk membuyarkan lamunan Eldrich, ia mengambil ponselnya yang tadi sempat ia lempar jauh-jauh beruntung yang retak hanya kaca pelindung layarnya saja.
_Ali_
Itu yang tertera di layar ponselnya,
" El apakah kau sedang di kantor sekarang?.."
"Ya brother memangnya ada apa?..."
"Tadi aku meninggalkan Flashdisk berisi materi rapat yang akan diadakan 3 hari lagi di laci mejaku dan aku lupa meng-copy file nya bisakah kau membawanya bersama mu ? sebenarnya ini bukan hal yang penting tapi jika file itu hilang pasti akan jadi masalah .."
"Hahaha.. santai saja brother, lagi pula aku tak menyesal jika gagal memenangkan tender itu,, tapi karna kau memintanya baiklah aku akan membawanya,,"
" Ck dasar.. bagaimana perusahaan mu akan maju, jika bos nya saja acuh tak acuh begitu...."
" Brother please jangan mengomel seperti itu,.. kau persis sekali dengan ibu-ibu khas Indonesia bhahahah.." seketika Eldrich terpingkal-pingkal.
"Hey... Hentikan, aku ini sedang menasehati mu El, lagian ini demi kemaslahatan gaji ku tau, kalau performa perusahaan menurun aku ga mau tau pokoknya gajiku jangan potong oke itu kan salah mu,,"
"wah dasar jadi kau mau enaknya sendiri brother... "
"makanya itu kalau ada orang tua lagi ngomong di dengerin, haish"
"iya-iya si paling tuaaa..."
"btw kau berencana sampai kapan ada di kantor,mau nginep disana El?
Eldrich pun reflek menoleh ke arah jam dinding,
jam 20:45, ternyata sudah hampir jam 9 malam.
" Ah baiklah aku mau pulang sekarang thanks brother sudah mengingatkan .."
"Ya sama sama, berhati-hati lah di jalan, jangan kebanyakan ngelamun.."
end call.
__ADS_1
Eldrich merapikan laptopnya serta beberapa berkas yang tadi sempat dilihatnya yah meskipun hanya dilihat saja belum sempat ia tinjau lebih lanjut Karna pikirannya sedang tidak disini tapi di tempat lain, lalu ia mengambil Jas hitam nya serta kunci mobil nya tak lupa pula ia ke ruangan Ali guna mengambil flashdisk yang di amanah kan Ali pada dirinya.
Dan benar saja kondisi kantornya sudah sepi tinggal tersisa 3 petugas yang berjaga.
__sampai di mansion
Saat ia masuk di ruang keluarga ia melihat neneknya sedang duduk di sofa dengan menggenggam ponselnya sambil melamun. Melihat itu Eldrich perlahan menghampiri dan menyapa halus nenek nya.
" Nek... Kenapa melamun, nenek sudah makan malam?... " Tanya nya halus sembari berjongkok di depan neneknya.
"Ah.. kau sudah pulang rupanya,..." Ucap nenek nya tersadar dari lamunannya.
" Iya baru saja, nenek sudah makan malam?.."
Tanya Eldrich lagi.
" Belum, aku menunggumu ayo makan malam bersama setelah itu ada yang ingin nenek bicarakan.." ucap nenek nya sambil beranjak
Eldrich hanya mengikuti nya dari belakang.
_Selesai makan
"Arne aku sudah bicara dengan ibumu.." nenek nya membuka pembicaraan.
" Lalu bagaimana pendapat ibu..?.."
" Ibumu senang mendengarnya, berharap kau bisa percaya pada tuhan lagi, ibumu juga bilang tak peduli apapun agamanya asalkan dirimu bisa menjadi lebih baik, ibumu sangat senang karena tujuanmu dikirim ke Indonesia adalah memang agar kau lebih baik disini,,, tapi ayahmu..." Neneknya menjeda Kalimatnya.
"Aku tau ayah pasti tidak setuju..." Ucap Eldrich tersenyum kecut.
" Tidak arne ayahmu bukan tidak setuju hanya saja masih belum,,," neneknya berusaha menghibur Eldrich.
"Tidak ada kata belum dalam kamus ayah nek, jika dirinya mengatakan iya maka harus iya tapi jika tidak maka akan tetap tidak,,,,"
"Lalu apakah kau akan tetap masuk Islam?"
" Apapun resikonya, keputusan ku sudah bulat nek dan kurasa aku menemukan cahaya ku disana dan jawaban atas semua yang aku inginkan ada disana.." ucap Eldrich mantab.
" Jika itu keputusan mu, dan jika memang itu yang terbaik untukmu nenek akan mendukung mu apapun yang terjadi,," ucap nenek nya tersenyum sambil mengelus pundak Eldrich.
Malam itu juga Eldrich mengirimkan pesan kepada Ali bahwa dirinya sudah siap untuk masuk Islam secara lahir maupun batin.
Malam ini Eldrich tidur dengan perasaan bahagia dan lega secara bersamaan.
_______
__ADS_1
Keesokan harinya Di ruangan Eldrich
"Bagaimana pendapat keluarga mu El..?"
Ali membuka pembicaraan.
"Nenek dan ibuku setuju, ayahku menentangnya dan kakakku belum ku beritahu karena ia masih di Amsterdam tapi itu tidak masalah.."
"Apakah kau yakin tidak akan ada masalah?"
Selidik Ali.
" Tidak brother, dari awal aku sudah yakin meskipun dunia menentang takkan ada bisa menggoyahkan komitmen seorang Eldrich untuk masuk Islam, hanya saja kau menyuruhku untuk memikirkan nya lagi..."
" El aku menyuruhmu untuk memikirkan nya lagi karena aku mau saat masuk Islam nanti hatimu benar-benar matang dan siap, dan bukan hanya keinginan sesaat saja.."
" Baiklah aku mengerti, lalu kapan aku bisa masuk Islam brother..." Tanya Eldrich antusias.
"Besok hari Jum'at kan?,,, Aku rasa besok hari yang tepat.."
" Loh kok ngga sekarang... Why?"
Eldrich bertanya-tanya.
" El untuk sesuatu yang baik kita harus pilih hari yang baik,,," terang Ali.
" Bukankah semua hari sama saja, hari apapun akan jadi baik kalau niat nya baik bukan begitu?.."
" Eittts jangan salah, semua hari memang bagus tapi ada 1 hari yang paling bagus bahkan adalah raja dari semua hari yaitu hari Jum'at..."
" Owh gitu... Aku jadi tidak sabar menantikan hari esok, berati sudah diputuskan besok adalah hari besarnya..." ucap Eldrich dengan wajah berseri-seri.
"brother sebelum itu kau harus memberitahu ku terlebih dahulu apa yang harus aku lakukan besok?"
" tidak banyak, yang kau perlu lakukan hanyalah mengikuti semua yang imam Masjid katakan, kebetulan dia kenalanku jadi kau tak perlu khawatir,," ucap Ali sambil tersenyum.
" Brother bisakah kau menceritakan tentang Islam masih ada waktu 2 jam sebelum waktu Dzuhur, katakan apa saja itu aku akan mendengarkannya.." ucap Eldrich antusias.
" emm.. apa saja?"
Eldrich mengangguk.
dan jadilah waktu 2 jam Ali gunakan untuk berceloteh panjang lebar tentang hal hal yang harus Eldrich ketahui, tentang kewajiban seorang muslim, larangan larangannya serta hal-hal yang mendasar tentang Islam meskipun itu tidak mendetail tapi itu cukup sebagai gambaran untuk Eldrich, Ali menyuruh Eldrich untuk mencarinya dari berbagai sumber dan nanti jika ada hal yang tidak ia pahami baru boleh ditanyakan di luar jam kantor ataupun saat jam kantor sedang kosong.
Ali cukup puas dengan cara Eldrich menanggapi jawaban yang ia berikan, dari cara Eldrich berfikir terlihat jelas bahwa ia adalah tipe orang yang yang open minded dalam hal-hal yang baru diterimanya akan tetapi hal yang paling membuat Ali kagum adalah Eldrich tidak menerima sesuatu dengan mentah-mentah akan tetapi ia akan melakukan riset lebih dalam, seperti terus bertanya ataupun menyelidiki sendiri.
__ADS_1
_______
*edisi revisi