Hijrah Ku Karena Mu

Hijrah Ku Karena Mu
Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Satu tahun lebih Eldrich mendamba untuk bisa bertatap muka dengan pemilik mata indah itu, dan kini akhirnya tiba waktunya.


Kurang dari lima detik kemudian Eldrich buru-buru mengalihkan pandanganya, dan dengan cepat mengatur perasaanya.


“astaghfirullah kendalikan dirimu El” batin Eldrich berusaha menenangkan dirinya.


“hei El, kenapa malah melamun?”


Seketika pertanyaan Ali sukses membuyarkan lamunannya, ternyata Ali sudah berdiri tepat di depannya.


”tiba-tiba aku teringat sesuatu brother” ucap Eldrich mengalihkan pembicaraan.


“ingat apa memangnya?”Ali penasaran.


“sepertinya ponselku tertinggal entah dimana” jawaban Eldrich sepenuhnya tidak bohong, setelah beberapa detik berusaha mencari alasan yang tepat dan akhirnya inilah yang ia dapat karena setelah di ingat-ingat sejak tadi dia mondar-mandir kesana-kemari ia belum memegang benda pipih itu dan benar-benar lupa dimana meletakkan nya.


“Astaghfirullah El,bisa-bisanya ponsel sendiri lupa...”


Ali sebenarnya sedikit maklum kalau


Eldrich bisa sampai lupa karena sedari tadi dia sibuk kesana-kemari menyapa para tamu undangan yang memang isinya orang penting semua.


“sebentar ya brother aku minta bodyguard carikan dulu takutnya ada telepon penting, kau duduklah kembali aku akan menyusul ke mejamu nanti” ucap Eldrich hendak pergi.


Tapi belum sempat Eldrich benar-benar melangkah lengan nya di tahan Ali.


“ingat-ingat nomor 7”


“hah, apanya?”


“mejanya nomor 7”


“owh oke, kalau gitu permisi dulu brother dan sampaikan maafku pada keluargamu karena belum bisa ikut bergabung” tak lupa Eldrich melempar senyum dibarengi dengan sedikit


anggukan kepala pada keluarga Ali yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka berdua.  Dan di balas dengan senyuman pula oleh Abi dan Umi nya Ali.


“ yang tadi itu bos mu Al?”


“iya Bi, masih muda kan?”


“iya, masih muda tapi wibawa nya luar biasa” imbuh Abinya.


“nanti Abi bisa ngobrol lebih jauh kalau mau, tadi orangnya tak minta gabung kesini”


“emang ada masalah kah,kok tadi Abi liat dia agak buru-buru?”

__ADS_1


“iya dikit Bi, HP nya nyelip jadi dia minta tolong bodyguard buat bantu nyari”


Abi nya mengangguk paham.


Tanpa Eldrich sadari sejak tadi Maira memperhatikan dirinya dan Ali yang sedang mengobrol singkat. Maira juga tampak sedikit penasaran kenapa ia sedikit terburu-buru pergi


setelah Ali panggil sebelumnya, sehingga mata Maira terus mengikuti kemana Eldrich pergi. Eldrich tampak sedang berbicara pada seseorang yang menggunakan setelan serba hitam, orang itu tampak begitu menghormati Eldrich. Setelah Eldrich mengucapkan beberapa kata tampak pria dengan setelan hitam mengangguk paham dan membungkuk hormat lalu pergi, begitupun dengan Eldrich yang pergi ke meja dimana tempat Ali berada.


Tak butuh waktu lama mata elang Eldrich dengan cepat berhasil menemukan meja tempat keluarga Ali berada.


Setelah sampai di meja Ali, Eldrich terlebih dahulu menyapa kedua orang tua Ali.


“halo mr. Abdullah nice to meet you” menjabat tangan Abi nya Ali.


“halo madam Aisya nice to meet you” Ali tidak menjabat tangan ibunda dari sahabatnya itu, melainkan mengisyaratkan tangan di dada dan sedikit membungkuk hormat. Karena setelah


dirinya memutuskan untuk ber islam ia baru tahu batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.


Setelah menyapa kedua orang tua Ali, kini pandangan Eldrich beralih ke Maira yang memang sedari tadi duduk di samping uminya.


Shiitt.. Mata kami lagi-lagi bertemu.


“oh ini adikmu brother?”


“nice to meet you, who is


your name?” tanya Eldrich pada Maira. Damn sebenarnya kenapa ia malah tanya


begitu sih?


Eldrich menatap mata


indah itu untuk beberapa saat.


“you can call me Maira”


Jawab Maira lembut.


Deg..deg..deg.. hanya dengan


mendengar suaranya jantung Eldrich kembali berulah, selama ini dirinya hanya tahu gadis ini lewat foto saja itupun sudah cukup membuat dirinya oleng tak karuan. Apalagi bertemu langsung seperti ini benar-benar berbahaya untuk kelangsungan hidup jantungnya.


Setelah menetralkan diri dengan baik, Eldrich melanjutkan berbincang-bincang dengan Ali dan kedua orang tuanya. Tak terasa sudah setengah jam lebih mereka mengobrol, Adzan maghrib


berkumandang dengan merdu bersamaan dengan mega merah yang terbentang di ufuk

__ADS_1


barat menambah syahdunya senja hari itu. Mc menyampaikan untuk yang beragama islam bisa mengikuti arahan dari dua orang di pintu masuk untuk di antarkan ke tempat ibadah yang memang letak nya ada di ruang lain, dan untuk yang non islam bisa tetap berada di Ballroom sembari menikmati hidangan yang sudah di sajikan.



Saat Eldrich dan keluarga Ali hendak beranjak dari meja mereka tiba-tiba datang seorang bodyguard, lalu bodyguard tadi tampak membisikkan beberapa kalimat pada Eldrich.


“Brother kau bisa duluan nanti aku menyusul” berusaha menyembunyikan kegelisahan yang ada di wajahnya. Ali yang paham dengan situasinya hanya mengangguk dan kemudian mengajak keluarganya untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.


“Ayo Mi, Bi, Maira kita shalat dulu” ajak Ali pada keluarganya, lalu membimbing mereka langsung.


_____


Dengan tergesa-gesa Eldrich keluar dari ballroom diikuti beberapa bodyguard nya.


"haruskah kami mengambil senjata tuan?" tanya salah satu dari mereka.


"tak perlu, mereka tak akan berani menggunakan senjata disini" Eldrich mengeras kan rahangnya, raut wajahnya benar-benar tidak bagus saat ini.


para bodyguard itu saling pandang setelah menyadari perubahan rona wajah pada bos mereka, ini pertama kalinya mereka melihat ekspresi Eldrich yang seperti ini semenjak tiba di Indonesia.


" dua orang sampaikan pada mereka untuk menunggu, sisanya tunggu di depan ruangan ini"


"yes sir.." jawab mereka serempak.


Eldrich masuk ke salah satu kamar hotel yang memang sudah ia booking sebelumnya, ia buru-buru mengambil wudhu dan menunaikan shalat Maghrib dengan khidmat.ia benar-benar meresapi setiap gerakan shalat, ajaibnya kecemasannya sesaat sebelum shalat tadi benar-benar hilang pikirannya menjadi jernih kembali. setelah tiga rakaat terselesaikan Eldrich membaca istighfar berkali-kali dan shalawat nabi seperti yang di ajarkan Ali.


setelah selesai mengontrol dirinya dengan istighfar berkali-kali Eldrich memakai kembali jas nya dan keluar dari kamar itu.


baru membuka pintu, wajahnya yang tadinya sumringah setelah selesai shalat kini berubah datar dan dingin setelah sosok yang kedatangannya tak dia undang dan tidak akan pernah dia undang kini berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.


"rupanya kau lebih tak sabaran dari biasanya" ucap Eldrich datar.


" Long time no see, How have you been?" sapa pria yang sangat tidak ingin Eldrich temui, bahkan wajahnya saja tak ingin Eldrich lihat meski hanya sedetik. tapi sialnya kini malah berdiri tepat di depannya.


"bukankah kita tak sedekat itu untuk saling menanyakan kabar?" Eldrich menampakkan senyum sarkasme nya.


"Oh My heart hurts so much, how can you say that?" pria itu dengan tangan memegang dadanya seolah-olah hatinya benar-benar terluka Karna ucapan Eldrich.


"berhenti berbasa-basi langsung pada intinya, mau apa kau kemari.."


belum sempat pria itu menjawab, tiba-tiba muncul seorang wanita yang sejak tadi berdiri di belakang para bodyguard yang di bawa pria itu.


"bukankah hanya dengan melihat ku saja tujuan kami sudah jelas?" ucap wanita itu dengan tersenyum menggoda ke arah Eldrich.


shittt... satu saja merepotkan kenapa harus muncul yang lebih merepotkan sih, Eldrich tak hentinya mengumpat dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2