
“Ta, aku mau ngomong sesuatu nih.” begitu bel tanda pulang berbunyi Mia menarik tanganku menuju bawah pohon yang rindang. Tempat terindah untuk me-refresh otak yang habis dijejali aneka makanan ilmu.
Sekolahku ini, SMA Negeri Banyumas, memang sekolah paling mengasyikkan dari segi lingkungan. Ruang kelas mengelilingi lapangan rumput nan hijau. Dan lapangan rumput itu dipagari pepohonan sejenis akasia yang rindang. Setiap tiga pohon diberi tempat duduk yang terbuat dari semen dicetak menyerupai batang pohon. Lalu pada teras kelas berbagai jenis bunga dalam pot dipajang rapi. (Sangat mendukung pelajaran biologi pokoknya. Jika melakukan praktek tentang tumbuhan tinggal merampok bunga-bunga malang itu).
Sayang tidak asyik dari segi pelajaran khususnya pelajaran eksakta sebangsa matematika, fisika, kimia. Apalagi setelah SMA-ku dinobatkan sebagai SMA RSBI yang mengharuskan menggunakan bahasa bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Walah, pakai Bahasa Indonesia saja aku nggak mudeng penjelasan pelajaran matematika dkk, eh, ini pakai bahasa asing tambah mubeng aku.
“Yee, malah ketawa sendiri. Apaan sih?”
“Habis aku malu! Berasa lucu gitu.” Mia tertawa lagi.
“Apaan, cerita dulu baru ketawa.”
“Aku lagi suka sama seseorang.” bisik Mia. Padahal saat itu posisi kami jauh mojok dibawah pohon dan anak-anak lain pada sibuk berlomba untuk pulang.
“Ya ampun, Mia! Nggak ada yang lucu dari menyukai seseorang. Hal yang wajar.” aku tersenyum geli melihat kelakuan sobatku itu.
“Bagiku ini lucu, Ta. Apalagi orang yang kusuka itu......anak kelas satu.”
“Sungguh, kamu suka brondong?” aku tertawa mendengarnya.
“Memang kenapa? Bukankah cinta itu tak pandang umur, kalau suka ya suka, titik.” ungkap Mia bersemangat. “Cool-nya itu Ta, bikin nggak ku-ku!” Mia memekik pelan.”
“Siapa sih?” aku jadi penasaran.
“Gugun.” bisik Mia.
“Gugun, teman adikmu!?”
“Benar! Jangan keras-keras kenapa?” Mia menendang kakiku sambil mengawasi keadaan. Takut ada radar kuping lain menyesap percakapan kami. “Tahu nggak Ta, kalau dia datang ke rumah nyari Beni, jantungku rasanya mau copot. Deg degan minta ampun.”
“Beni tahu nggak?” aku ikutan berbisik.
“Entah. Tapi sebaiknya jangan tahu dulu. Beni tengil pasti mengacaukan cintaku. Dia akan provokasi Gugun sampai muntah-muntah nggak doyan sama aku. Tuh, anak bawaannya sirik m’lulu ma aku.”
“Hehe.....”
“Kok ketawa aneh gitu?”
“Iya deh, aku ngaku saja. Sebenarnya aku juga lagi suka sama brondong, Mi.”
“Haha......” Mia tertawa. “Siapa?”
“Kamu kenal lho. Dekat malah.”
“Oh ya, siapa?” Mia mencari-cari sosok kelas satu yang dekat dengannya. Mia menggeleng. “Nggak ada,”
“Kalau aku bilang, kamu mau janji nggak akan marah dan melarang aku?”
__ADS_1
Mia mengangguk mantap sambil mengangkat dua jari membentuk V.
“Dia teman Gugun? Tepatnya sobat dekat dia.”
“Yang kutahu sobat dekat Gugun cuma adikku, Beni tengil itu. Siapa lagi sih, anak yang dekat sama Gugun?”
“Ya betul. Dia orangnya.”
“Ben....uhuk uhuk!” Mia tersedak ludahnya sendiri. “Kamu....” Mia nunjuk-nunjuk mukaku. Aku mengangguk was-was.
“Beneran, Beni tengil yang kamu suka?” Mia memegangi dadanya. “Hh, untung aku nggak punya penyakit jantung, Ta.”
“Mia, aku serius suka sama adikmu.”
Mia menghela nafas panjang, “Sejak kapan kamu suka?”
“Waktu aku jadi pendamping ospek kelompok Beni. Lucu banget adikmu itu, aku suka cowok seperti dia.”
“Pelawak kale, lucu.” kata Mia dengan tampang serius.
“Bukan begitu......., aku__entah. Aku merasa senang kalau ada di dekatnya. Ngobrol dengannya seperti bermain dengan air.”
Sedetik kemudian tawa Mia membahana, “Gila! Kamu benar-benar gila, Ta.” tanggap Mia yang membuatku bengong.
“Apa ini berarti kamu merestui?”
“Tenang, eh, ngomong-ngomong Beni dah punya cewek belum?”
“Kayaknya sih belum. Yang kulihat dia mainnya bareng Gugun terus. Oh ya, butuh comblang nggak nih?”
“Kamu? Mau nyomblangi aku?” aku menatap Mia dengan tatapan menyelidik. “Nggak, nggak. Makasih. Aku mau berjuang sendiri. Lagian kamu juga bakal sibuk berjuang untuk Gugun.”
“Benar juga. Selamat berjuang, kawan!” kami berdua melakukan toas kepalan tangan.
**
Beberapa bulan kemudian.
“Ta, sepertinya aku nyerah deh, ngedeketin si Gugun.” lapor Mia lesu.
“Kenapa? Pesimis amat!” cemooh Tara. “Bukannya kalian tambah akrab?”
“Iya memang. Tapi dia sepertinya hanya menganggapku sebagai kakak. Tidak lebih. Tahu nggak sih? Masa dia curhat macam-macam tentang cewek gebetannya. Sebel nggak sih!”
“Malang sekali kamu, Mia.”
“Dia sangat percaya sama aku. Bahkan Beni yang sahabatnya pun tidak dia beritahu, cuma aku Ta, yang dia curhatin. Dia selalu minta pendapatku tentang cewek itu, sekaligus trik buat ngegaet cewek incerannya itu. Hiks....hiks sedih nih.”
__ADS_1
“Hhh......aku juga mau mengibarkan bendera putih, Mia.” tutur Tara kemudian. “Bukannya mau ikutan menambah suasana duka, tapi aku merasa kita senasib. Jadi nggak ada salahnya kalau berbagi, kan.”
“Maksudmu apa?”
“Setelah aku kenal Beni lebih jauh, akhirnya aku sadar Beni semakin tak terjangkau”
“Kenapa?”
“Adikmu yang ganteng itu, punya banyak penggemar.” Tara menghela nafas. “Aku nggak bisa bayangin kalau dah jadian nanti, aku bisa mati karena cemburu. Terus, kamu tahu nggak sih? Adikmu itu ternyata playboy.”
“Beni tengil memang suka jual mahal, Ta. Kalau tentang ke-playboy-an dia, terus terang ku tertipu.”
“Hiiuuuh!” keduanya menghembuskan nafas secara bersamaan.
“Apa ini berarti invasi hati kita sudah usai?” ucap Mia.
“Terus terang aku sudah nggak minat lagi sama adikmu. Meski tak bisa kusangkal kalau berada di dekatnya aku masih merasa deg degan.”
“Aku juga nggak mungkin mengkhianati kepercayaan Gugun, Ta.” sambung Mia. “Dia begitu polos menganggapku sebagai seorang yang mungkin bisa membantu masalah cintanya. Dan aku telah lelah terus berpura-pura mendukung cintanya itu.”
Suasana hening. Keduanya berusaha menyantap burger yang tersaji di depan mereka. Meski saat itu selera mereka mendadak hilang pada makanan kegemaran mereka itu.
Tiba-tiba Mia tertawa keras. Sangat keras malah, sampai seisi kafe menatap ke arah keduanya.
“Hush, jangan keras-keras! Dilihatin tuh!” bisik Tara mencoba meredam tawa Mia yang diluar kontrol.
“Lucu sekali kita ini, Ta.” tanggap Mia masih ketawa.
“Lucu gimana?”
“Bayangin aja ya, Ta! Kita sama-sama suka sama cowok yang lebih muda pada waktu yang bersamaan, lalu aksi pedekate pun bareng, malah sempat kencan bareng juga. Lalu ketika sudah dekat dengan target, akhirnya kita menyerah di waktu yang bersamaan pula. Lucu kan? Kok bisa ya? Kamu nggak latah ngikutin aku kan?” cerocos Mia.
“Nggak lah. Kebetulan yang indah.”
“Benar. Saat ini aku sih cuma bisa berharap kelak ternyata Gugun itu memang jodohku. Jadi misal hatinya sekarang jauh siapa tahu kelak dia menyadari kalau akulah cintanya..”
“Hmm, maunya.” cibir Tara. “Tapi orang bilang sih kalau sudah jodoh nggak akan lari kemana.”
“Semoga.”
“Cari cowok lagi aja gimana?” mata Tara berbinar.
“Heh, cowok m’lulu diotakmu!” tegur Mia. “Ku pikir karena jalan kita masih panjang kenapa kita harus pusing soal cinta dan cowok. Banyak hal indah yang bisa kita raih diluar cinta, tahu!”
“Sok tua kau!” runtuk Tara.
“Cita dan cinta, oke?”
__ADS_1
Keduanya lalu tertawa. Mereka mulai menyusun rencana untuk hidup mereka kelak. Ya demi cita-cita, harapan dan cinta dua manusia tentu.