
Aku mulai mengamati deretan hutan mangrove yang membentuk pulau-pulau kecil. Mencocokkan dengan peta topografi bentangan Segara Anakan untuk mencari titik start pendaratan.
"Sebelah sana!" tunjukku pada pulau di sebelah kanan yang ujungnya berbentuk moncong buaya. Was-was juga khawatir pulau itu merupakan sarang buaya.
Provokasi senior sih, justru itu tantangannya. Tapi harap tenang! Survei membuktikan : aman! Meski tidak menjamin 100%. Status tetap waspada.
"Kandas, dayung lagi!" seru Kang Yon yang memegang kendali mesin diesel perahu karet. Dia ini senior yang sengaja aku bawa sebagai umpan buaya. Ups! Jadi nahkoda ding, hehe... sama nggak elitnya yah? Biarin, Dia mau pakai terpaksa.
Lima kayuhan dayung berhasil mendamparkan perahu pada tanah lumpur dengan akar nafas yang mencuat ke permukaan. Cukup membantu agar pijakan kaki tidak melesak jauh ke dalam lumpur,
Lisa yang bertubuh paling kecil langsung aku minta menembak pakai kompas untuk menentukan titik finis penjelajahan. Berderap berjajar kami mulai perang dengan lumpur yang selalu berusaha melahap kaki kami. Beruntung menit-menit berikutnya air mulai pasang sehingga pergerakan kaki menjadi lebih ringan.
Di sela perjalanan kami melakukan pendataan vegetasi dan mencatat hewan yang iseng menampakkan diri. Tentu saja dokumentasi pakai kamera turut mewarnai aksi. Tujuan dari pendataan ini nantinya buat tindakan konservasi.
Saat makan siang tiba, saat pasang tertinggi pula. Mau tak mau kami menggelar makan siang di atas dahan pohon bakau. Nyummy juga, menikmati roti tawar isi dan buah. Ssst... tapi kayak monyet nggak sih? Apalagi waktu melihat Prakoso asyik menggerogoti apel sambil garuk-garuk kepala. Ternyata tidak ada beda, wkwkak....
Turun lagi ke medan laga. Kurang lebih sepuluh langkah, ladang jeruju telah menanti dengan seringai yang menampakkan gigi-gigi tajam. Prakoso satu-satunya pejantan yang turun ke rawa tanpa komando langsung maju menghunus golok bak ksatria. Sementara itu para gadis meringis-ringis bahagia menguntit di belakang seperti barisan anak itik manis.
Cara berjalan pada medan jeruju memang tidak masalah jika pakai sistem mengular. Tapi saat jalan di area lumpur yang di dominasi pohon bakau, kita bahkan tidak boleh menginjak jejak teman. Kalau mau coba, bersiap saja tertelan lumpur tanpa ampun.
Bola siang menguliti muka kami yang telanjang. Gelitik duri jeruju turut memberi sensasi geli-geli nyeri kadang gatal. Sungai-sungai pembelah padang tak jarang menggoda dengan area lapang tanpa jeruju namun menjebak kaki hingga tertanam dalam.
Sebuah insiden pun terjadi. Bea yang bertubuh paling subur di antara kami berenam terendam lumpur hingga sepaha saat hendak melintasi sungai kecil. Sungguh usaha berat laksana menaikkan kudanil yang enggan keluar dari tempat bersantainya. Kami harus kerja bakti untuk menarik Bea.
Ah, kami terkapar selepas sukses membebaskan Bea dari sandera sang lumpur. Tidak peduli jeruju semakin liar menjilati sekujur tubuh dengan jarum-jarum kecilnya. Letih luruh, kami segera menerjang kembali hamparan jeruju seakan melaksanakan misi balas dendam karena ia telah lancang menusuk-nusuk kulit kami tanpa permisi.
__ADS_1
Padang jeruju menipis ketika Prakoso yang masih memimpin jalan melapor ada sebuah sarang yang menghalangi jalur kami. Sarang lebah dengan tinggi kurang lebih setengah meter berdiri dengan angkuh.
"Ambil fotonya!" seruku gembira sambil merogoh tas rangsel untuk mengambil kamera.
Belum lagi kamera berhasil aku keluarkan, satu batalyon lebah sudah menunjukkan aksinya dengan beterbangan di sekitar tubuh kami. Sesekali mereka mencolek dengan sengat. Lisa yang tidak tahan dengan salam perkenalan mereka menjerit-jerit ngeri.
"Jangan ada yang bergerak!" seruku. "Tahan nafas!"
Terlambat. Lisa tambah panik sehingga membuat para lebah menjadi gusar. Gerak selanjutnya kami semua sudah kocar-kacir ke segala arah.
Detik itu aku merasa kematian begitu dekat. Tapi jelas aku tidak mau mati konyol seperti ini. Beruntung otak sadarku masih mau bekerja dan berhasil mengingat sesuatu yang bisa menyelamatkan kami dari serangan lebah yang pantang menyerah. Tentu saja bukan air yang saat itu sedang surut terendah.
"Lumpur! Lumpur!" teriakku sekencang-kencangnya sambil menghempaskan tubuh hingga pada posisi tiarap. Muka aku benamkan ke dalam lumpur. "Oles tubuh pakai lumpur!" teriakku lagi mengambil nafas sekaligus mengetes ideku tersebut. Sebuah gagasan dari agas, nyamuk rawa ganas dengan gigitan pedas. Tak jauh dari sengatan lebah. Agas tidak suka lumpur karena lumpur menyamarkan bau mangsanya.
Berhasil kawan! Lebah tidak berani menyengat lagi. Entah bingung atau tidak doyan lumpur, mereka hanya berputar-putar di sekeliling tubuh.
Tapi tunggu dulu! Kok rasanya kurang satu suara?
Setelah berkumpul dengan tubuh seperti zombie yang baru bangkit dari tidur, ternyata benar kurang satu. Bea menghilang.
"Moni cari bantuan ke tepi sungai!" perintahku pada Moni yang bisa diandalkan.
"Lisa, kamu tunggu rangsel di sini. Sisanya mencari Bea." kataku seraya memberi isyarat agar kita berpencar dalam pencarian.
Gundah menyergap saat penyisiran jejak. Dalam hati aku terus berdoa dan berkata Bea pasti baik-baik saja karena kami harus pulang utuh berdelapan. Bahkan tidak boleh ada yang cidera.
__ADS_1
Sebuah teriakan dari Eni membuatku tunggang langgang ke arah suara. Dan pemandangan memilukan terhampar di depan mata. Bea terkulai tidak bergerak dipangkuan Eni.
"Bea!" panggilku dengan suara serak tercekat. "Bea, bangun!" bisikku sambil menepuk-nepuk pipinya pelan. Tidak ada reaksi. Jantungku dag dig dug tidak karuan. Air mataku mulai menganak. Aku terus berupaya membangunkan Bea karena nadinya masih terasa.
"Prakoso, tolong ambilkan P3K!" seru Eni begitu Prakoso muncul. Tanpa banyak komentar Prakoso menghilang cepat dari pandangan.
"Bea, aku mohon bangunlah!" ratapku penuh harap. Sebuah erangan lirih memijarkan asaku. "Minum Bea!" aku segera menyodorkan air minum ke mulutnya.
Aku dan Eni saling pandang lega saat mata Bea mulai mengerjap-kerjap. Tak lama kemudian Prakoso dan Moni muncul sambil mengabarkan kalau Kang Yon dan Fatur sedang merapat.
Terseok-seok bagai pasukan kalah perang kami melangkah sambil memapah Bea yang telah sadar. Di tengah jalan Kang Yon dan Fatur menyambut kami dengan air muka cemas.
"Kami habis spa lumpur!" seringaiku untuk menghapus rasa khawatir mereka. Ada bisa senyum dari mulut keduanya. Seketika hati pun memuji syukur bahwa kami semua masih bernyawa, sebab aku pernah baca ada seorang yang tersengat puluhan lebah langsung tewas.
"Bagaimana kalau kita foto dulu?" usul Eni turut mencairkan suasana. "Mumpung sedang sangat eksotik." kami semua tertawa menyetujui celotehnya.
Tiba di sungai, kami segera membersihkan badan. Saling mencabuti sengat yang tertinggal di kulit muka. Tak lupa minum obat anti biotik dan anti alergi.
Hari semakin menua ketika kami kembali mengarungi muara Segara Anakan. Melihat situasi dan kondisi tim, kami memutuskan untuk bermalam pada sebuah pulau dengan dataran tinggi dan kering. Di tempat inilah kami berlomba buang air besar masal. Racun lebah mewabah!
Untunglah pagi hari kami sudah tidak diare lagi. Hanya saja wajah kami mirip petinju yang babak belur. Yeah, lagi-lagi kami keep on narsis pasang muka bengkak dengan berfoto ria. Bun-chees!!
Meski Pendidikan dan Latihan (diklat) Rawa Laut yang aku koordinatori tidak sukses, setidaknya kami dapat pengalaman menakjubkan. Pokoknya di saat kritis dan terdesak jangan segera pasrah dan menyerah. Usahakan pelihara akal sehat agar tetap selamat. Dan tentu saja sebuah pelajaran Maha Penting yaitu, JANGAN SEMBARANGAN MENGAMBIL FOTO TANPA IJIN, ATAU LEBAH AKAN MENYERANGMU!
Berapa lebah?
__ADS_1
Ratusan...
Lebih!