House, Love, Song

House, Love, Song
Matrioska Persahabatan


__ADS_3

“Ups, sori, nggak sengaja.” kata Frandi tanpa ekspresi rasa bersalah.


“Jahat!” jerit Eru dengan mata sebundar bakso nyaris keluar dari panci kelopak matanya.


“Sori….”


“Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja karena kamu nggak suka sama Danu.” tuding Eru hampir nangis.


“Aku sungguh….”


“Alah, jangan banyak alasan!” Eru sangat marah sambil berurai air mata.


“Udah Ru, Frandi nggak sengaja.” kata Gintya menenangkan.


“Aku benci Frandi!” teriak Eru berlari ke kamarnya.


Gintya dan Frandi saling pandang. Keduanya kemudian terpaku pada cangkang tipis yang berserakan di lantai.


“Itu matrioska kesayangan Eru, hadiah dari Danu saat dia ikut program pertukaran mahasiswa ke Rusia.” Gintya dibantu Frandi memunguti puing matiroska bagian terluar yang pecah.


“Aku sungguh nggak sengaja,” ucap Frandi lesu. “Aku memang tidak suka pada pacarnya tapi bukan berarti aku akan menghancurkan barang pemberian dia.”


“He-em,” desah Gintya.


Frandi mengambil tisu dan membungkus puing yang terkumpul kemudian berpamitan pulang setelah sekali lagi mengucapkan perkataan maaf. Eru bergeming dikamar tak peduli permohonan maaf Frandi bahkan malah mengusir agar enyah dari hadapannya.


Di sekolah sikap Eru masih acuh tak acuh pada Frandi. Sapaan Frandi disambut dengan sinis.


“Iya, deh, ntar aku ganti.” kata Frandi menguntit Eru hingga duduk dibangkunya. “Jangan ngambek lagi, ya, ya?”


“Enak aja ngomong, mang kamu mau cari dimana?”


“Aku yakin pasti ada,” kata Frandi sambil duduk tepat di depan Eru.


“Bukan itu maksudku,” bentak Eru. “Itu hadiah dari Danu, tak ada yang bisa menggantikan.”


Frandi diam.


“Minggir-minggir!” Cici, si empunya bangku datang dan mengusir Frandi yang sudah seenaknya mengkudeta tempat duduknya.


“Terserah kamu, Ru!” kata Frandi. “Dasar cewek nggak berhati!”


“Apa?” Eru berdiri menantang.


Guru biologi datang, sebelum sempat Frandi menanggapi Eru. Gintya dengan susah payah mendudukkan Eru agar tenang.


Gintya yang duduk di samping Eru jadi bingung atas perseteruan dua sobatnya itu. Serba salah, takut dianggap memihak salah satu. Dia juga hapal betul watak Eru yang keras tak mudah untuk memaafkan orang lain yang pernah melakukan kesalahan padanya. Tak terkecuali Frandi sobatnya sendiri.


Kalau Frandi, dia anaknya pengalah. Tapi kalau menghadapi sesuatu yang sudah keterlaluan, dia jadi mudah emosi.


“Kamu kekanak-kanakan, Ru!” tegur Gintya akhirnya sambil berbisik ketika Frandi sudah balik ke bangkunya sendiri.


“Apa sih, belain dia!” Eru gusar.


Nah, kan?


“Bukan begitu, cuma nggak asyik aja lihat kalian nggak akur.” kata Gintya kembali membaca buku biologi.


“Makanya jangan ngeliat! Huuu…..”


Perhatian keduanya tertuju pada Bu Tita guru Biologi yang tiba-tiba memberikan tugas pada mereka. Kali ini kelas Eru dapat tugas untuk mengamati jenis daun berdasarkan bentuk dan tulang daunnya. Tugas dibuat perkelompok, empat-empat. Tanpa bisa mengelak, Eru dan Frandi jadi satu kelompok.


Satu hari, dua hari Eru dan Frandi masih belum bisa kerjasama. Tapi pada hari ketiga, setelah dapat protes dari dua teman lain yang sekelompok dengan mereka, keduanya jadi sedikit meredam ego mereka.


“Kita sudah dapat 5 jenis. Sudah memenuhi batas minimal, tinggal mencari nama tanamannya.” kata Fevi.


“Yang belum ketahuan ada 3 macam. Kita cari tahu di perpus?” kata Nanto.


“Besok kalo istirahat, gimana?” tawar Fevi.


“Terserah kamu.” kata Eru.


“Frand?”


“Aku nggak janji.” tanggap Frandi acuh tak acuh.


“Hei?” protes Fevi, “kok gitu sih?”


“Waktu istirahat tuh, buat refresing bukan untuk belajar lagi. Bisa pecah ntar kepala.”


“Kamu nggak ikut nyari juga nggak pa-pa,” cetus Eru.


“Tuh?” tunjuk Frandi ke Eru. “Makasih, Eru Sayang…”


Muka Eru serasa kebakaran. Rambut, matanya ikut menyala.


“Usahain datang ya, Fran?” tandas Fevi meredam api.


**


Waktu istirahat, hari berikutnya.


“Tuh anak memang keterlaluan!” runtuk Eru.


“Ntar katanya mo nyusul sih,” kata Nanto. “Dah, kita cari aja dulu.”


Ketiganya tampak sibuk membuka-buka buku ensiklopedi tentang tumbuhan dan kamus pintar biologi. Setiap ciri dicermati. Kalau dirasa cocok mereka diskusikan dan mencatatnya.


Sepuluh menit kemudian Frandi muncul dengan senyum lebar.

__ADS_1


“Sori, telat!”


“Kamu sih biasa, jagonya bertindak sesuka hati.” tanggap Eru.


Frandi melirik Eru, “Yang penting aku datang, kan? Lagian tanpa aku kelihatannya sudah beres.”


“Huu…dasar!” sembur Nanto.


“Nomer berapa yang belum?” tanya Frandi.


“Sudah selesai, tinggal menulis ke kertas kerja.” kata Fevi.


“Oh,” Frandi melongok ke buku Fevi. Tapi dia kemudian malah mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


“HP baru?” Eru melirik ke Frandi. “Dasar tukang pamer!” desisnya.


“Blackberry,” kata Frandi.


“Coba lihat!” Eru penasaran.


“Apa?” hardik Frandi menjauhkan HP dari jangkauan Eru.


“Pelit!”


Frandi tidak peduli malah memamerkannya itu ke Fevi dan Nanto.


“Keren, kan?” kata Frandi. “Buat FB-an bisa puas dan mantap.”


“Gambarnya jernih banget,” cetus Fevi.


“Tiga koma dua piksel,”


Eru sibuk menulis pura-pura tidak peduli lagi. Padahal pengin sekali melihat HP Frandi. Biasanya kan kalau Frandi punya barang baru dia dulu yang melihat dan menilainya. Sekarang….. huuh!!


“Aku foto ya?” tawar Frandi ke Fevi.


“Begini?” Fevi beraksi.


“Kampungan” desis Eru.


“Aku ikutan dong!” Nanto tak mau ketinggalan.


Tiba-tiba Eru merebut HP Frandi.


“Eh, apaan sih!” Frandi mempertahankan HP-nya.


“Tugas dulu dikerjain. Baru foto-foto. Untuk sementara HP aku sita.”


“Siapa Lo? Guru BP?” kata Frandi sengit.


“Sini!”


“Yaaah!”


“HP ku!”


HP Frandi terlontar dari cengkeraman keduanya. Terbanting cukup keras di lantai hingga casing dan baterai HP memburai.


“Kamu merusaknya, Ru!” tuding Frandi marah.


“Maaf,” kata Eru.


Frandi memungut HP-nya yang sudah tidak utuh lagi. Memasang dan menyalakannya. Tapi……tak ada tanda kehidupan dari HP itu.


Frandi menatap Eru dengan kesal, “Kamu puas sekarang!”


“Frand, aku…..”


Frandi bangkit dari duduk dan meninggalkan perpus dalam kebimbangan hati Eru. Fevi dan Nanto membisu, mengemasi buku-buku karena bel masuk memang telah memanggil mereka untuk kembali ke kelas.


Hubungan keduanya tambah parah. Gintya yang berada ditengah-tengah mereka jadi nggak tahan juga. Dia pun melakukan pendekatan ke masing-masing pihak untuk mencari celah bagi perdamaian keduanya.


“Ru, kamu udah minta maaf lagi ke Frandi?” tanya Gintya.


“Untuk apa, biarin aja. Toh, dia juga dah mecahin matrioskaku. Membuangnya pula.”


“Tapi, Ru…..”


“Udah, berisik. Kita jadi jalan nggak nih?”


Gintya menghela nafas. Keduanya lalu bersenang-senang ke time zone tanpa Frandi, seperti biasa yang mereka lakukan.


**


“Gimana matrioskanya? Udah selesai?” tanya Gintya yang menemui Frandi di kantin.


“Hampir sih,” kata Frandi menggigit bakwannya. “Tapi, karena dia merusak HP ku, aku tunda perbaikannya.“


“Cepat selesaikan dan minta maaf  biar masalah kalian cepat selesai.” kata Gintya.


“Buat apa? Aku mau kasih pelajaran dulu sama dia, Gin. Gimana nggak enaknya kalo permintaan maaf kita nggak diterima. Setelah dia sadar dan mengaku salah, baru aku selesaikan matrioskanya. Eh, lagipula sebenarnya HP-ku nggak pa-pa kok, masih bisa nyala lagi. Hee……”


“Huh, dasar!” Gintya menjitak kepala Frandi.


Gintya pusing sendiri. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Harus cari akal nih, biar keduanya akur lagi. Hemm…..apa ya? Sambil nonton TV Gintya mencoba menelurkan ide untuk mendamaikan Eru dan Frandi. Tiba-tiba……


“Aha!” Gintya menjentikkan jarinya. Sebuah acara TV tepatnya Reality Show memberinya inspirasi.


**

__ADS_1


“Sakit apa?” tanya Frandi terdengar cemas. Memang kebetulan Eru lagi sakit, tapi nggak parah-parah amat sih, cuma demam karena flu. Tapi Gintya membuatnya jadi besar, Eru kena demam berdarah. Dan sekarang sedang berada di RS Harapan.


“Kamu nggak jenguk dia?”


“Ee….dia nerima aku nggak ya?”


“Dia itu lagi sakit, Fran. Udah datang aja, ntar aku juga ke sana.” kata Gintya mengakhiri telponnya. “Eh, dia di ruang VIP 5.”


Fiuh, misi pertama sukses. Misi kedua tinggal nelpon Eru.


“Kamu nggak lagi bercanda, kan, Gin?”


“Buat apa aku bercanda disaat begini, Ru,”


“Dia di mana sekarang!” Eru terdengar gugup dan cemas.


“Rumah Sakit Harapan, kamar VIP 5.”


“Kita ke sana bareng ya?”


“Sori, sekarang aku sudah mo nyampe ke rumah sakit.”


“Ya udah, aku nyusul.”


Gintya tertawa puas. Yes! Sekarang tinggal ganti baju terus lihat ekpresi Eru dan Frandi saat keduanya tiba di rumah sakit dan ketemu. Hihi…… berhasil nggak ya?


Gintya baru saja berpamitan pada ibunya. Tiba-tiba HP-nya berbunyi.


“Halo!!”


“Gin,” ucap Eru dengan suara parau. “kamu dimana?”


“Ada apa, Ru?”


“Frandi….” Eru mulai mengisak.


“Kamu sudah ketemu dia?” Gintya senyum-senyum. “Kenapa, kok nangis?”


“Kamu dimana? Aku sudah mencari kamu ke seluruh rumah sakit, kamu dimana?”


“Ee…aku…, ya, aku segera ke VIP 5.”


“Aku tunggu di kamar mayat,” telpon terputus.


Kamar mayat? Ada apa nih? Apa mereka berdua gantian ngerjain aku? Kenapa Eru nangis gitu? Ah, sudahlah….. Lebih cepat sampai rasa penasaranku akan segera hilang.


Di sekitar kamar mayat tampak ramai. Gintya langsung menemukan Eru yang tiba-tiba menghambur ke arahnya.


“Frandi, Gin…..”


“Ada apa dengan Frandi? Ngapain kamu di sini?”


“Frandi nggak ada, Gin.” Eru menangis semakin menjadi. “Dia kecelakaan dan langsung meninggal.”


“Apa?” Gintya melepas pelukan Eru untuk mencari kepastian dari raut muka dan mata Eru.


“Serius? Kamu bercanda ya, Ru? Mana Frandi?”


“Di sana,” Eru menunjuk ke dalam kamar mayat.


“Nggak, kamu sedang ngerjain aku, kan, Ru?” tiba-tiba air mata Gintya mulai meleleh. “Kamu bohong, kan?” Gintya mendorong Eru lalu menyeruak masuk ke dalam.


Ruang yang dingin. Sedingin tubuh yang membujur kaku tertutup kain putih. Perlahan Gintya membuka penutup kain. Seutas wajah yang tak asing dimatanya memucat dengan mata menutup rapat.


“Fran?” panggil Gintya pelan. “Frandi,” suara Gintya mengeras. “Kamu pura-pura ya, Fran! Hei, Fran,” Gintya menggoyang-goyang tubuh Frandi. “Bangun! Bangun, Fran! Kamu jangan bikin aku takut.” Gintya menjadi histeris. “Fran, bangun kataku! Bangun!”


Seseorang lalu menarik Gintya keluar.


“Tolong bangunkan dia!” Gintya meronta dan memohon pada orang yang menyeretnya keluar.


Di luar Gintya mulai mengusai dirinya. Dengan gontai dia menghampiri Eru yang masih berurai air mata.


“Aku belum minta maaf padanya,” kata Eru terisak. “Aku belum sempat mengucapkan bahwa aku telah memaafkan dia,”


“Maaf, Ru. Aku yang menyebabkan dia meninggal……” ucap Gintya mematung. “Aku yang telah membunuhnya, Ru!”


“Kamu ngomong apa, Gin? Bukan kamu!” Eru berdiri memegang tangan Gintya.


“Iya, Ru. Aku yang membuatnya meninggal.”


“Bukan, tidak,”


“Kalo aku tak bilang kamu sakit hari ini, dia tak akan kemari menemui ajalnya.” kata Gintya kelu. “Kamu boleh memarahi aku, Ru!”


“Tidak, Gin! Jangan bilang begitu, aku yang salah,” sahut Eru. “Kalo saja aku dulu memaafkan dia dan mau minta maaf padanya, ini tak akan terjadi. Kamu nggak perlu bilang kalo aku sakit untuk mendamaikan kami. Kamu……aku yang salah, Gin……” Eru memeluk Gintya.


**


“Jadi Frandi yang menyusun puing matrioska ini?”


“Dia sudah berjuang keras untuk ini,”


Eru menghela nafas, memandang matrioska yang sebagian telah tersusun dari puing-puing pecahannya.


“Kita harus menyelesaikannya,” kata Gintya. “Menyelesaikan pekerjaan Frandi untuk menyusun puing-puing persahabatan kita,”


Eru mengangguk, terdengar sedan isaknya. “Mulai detik ini, matrioska ini akan menjadi matrioska persahabatan kita. Kau, aku dan Frandi.”


Gintya mengangguk, memungut sisa puing matrioska pertama dengan mengelap air matanya.

__ADS_1


__ADS_2