House, Love, Song

House, Love, Song
Cinta Siti Nurbaya 2


__ADS_3

“Harus diterapi. Sayangnya ini bukan bagian saya, Anda harus datang ke Androlog.”


“Di sini ada dokter androlog, Dok?” tanya Eva.


“Di Purwokerto sini ada satu, dr Adi. Silakan datang ke sana.” ucap dr Yulia mengakhiri pemeriksaan kami pada kedatangan yang ketiga.


Tidak ada komentar dari Eva. Ini sungguh membuatku semakin merasa bersalah. Apa bisa aku disebut laki-laki jika tidak bisa memberi secara materi. Apa bisa aku disebut pria jika benihku hampa. Rasanya sia-sia membiarkan ladang subur Eva tak tertanami bibit yang sempurna.


“Maaf,” bisikku pada Eva saat kami beranjak tidur.


“Untuk apa?” tubuhnya berpaling padaku.


“Kita tidak kunjung punya anak karena kondisiku.”


“Masih bisa terapi, bukan?”


“Tapi akan banyak keluar uang.” dalihku. “Selama ini aku yang sudah banyak memakai uangmu.”


“Kita coba semampu kita,” jawabnya tak mempedulikan ketidakberdayaanku. “Sudah malam, sebaiknya kita tidur.”


Eva segera bergelung dalam selimut. Sementara aku masih menatap punggungnya dengan rasa sesal besar.


**


“Mas aku ingin mengadopsi anak?” kata Eva membuatku sedikit terkejut. Memang usia pernikahan kami telah menginjak umur empat tahun. Segala usaha untuk memperbaiki kualitas ****** tidak membuahkan hasil.


“Kamu sangat ingin punya anak ya?”


“Seperti kata orang tua, ini sebagai pancingan. Siapa tahu setelah ini, kita diberi kepercayaan untuk mempunyai anak sendiri. Lagi pula umurku sudah semakin bertambah, Mas. Resiko untuk hamil juga semakin tinggi.”


“Kalau menurut Eva baik, aku setuju saja. Lalu anak siapa yang akan kita adopsi?”


“Siapa saja Mas,”


“Apa tidak sebaiknya kita mengadopsi anak dari keluarga sendiri? Setidaknya kita tahu dia dari keluarga baik-baik.”

__ADS_1


“Menurutku semua bayi itu suci seperti kertas baru yang masih putih. Tergantung orang yang akan menulisinya. Jika dia ditorehi gambar atau tulisan yang baik, pasti kertas itu akan menjadi sangat berharga. Sebaliknya jika sejak awal telah dipenuhi coretan-coretan buruk, kertas itu hanya akan jadi sampah.”


“Lalu, kita akan cari di panti asuhan?”


“Mungkin, atau anak-anak yang terbuang. Banyak sekali bukan berita bayi-bayi yang dibuang karena hubungan terlarang. Aku ingin sekali bisa mengadopsi mereka. Bukankah mereka berhak mendapat kehidupan yang lebih baik?”


Aku melihat mata Eva berkaca-kaca. Aku genggam erat tangannya untuk mendukung keinginan mulianya.


“Baiklah, kita akan mengadopsi bayi-bayi malang itu.” ucapku ikut hanyut dalam nelangsa dunia.


Sejak saat itu kami mulai mencari info tentang bayi-bayi yang tidak diinginkan oleh orangtuanya. Kami juga mencari ke panti asuhan. Ternyata setelah kami serius mencari tidak mudah menemukan bayi itu. Eva menginginkan mengasuh anak sejak dia masih bayi baru lahir. Katanya agar tercipta hubungan batin yang erat.


Hubunganku dengan Eva semakin baik. Setidaknya dia melakukan tugas sebagai istri bukan hanya sekedar kewajiban saja tanpa rasa. Kini aku merasa ada sedikit perubahan dari sikapnya. Terus terang aku pun jadi semakin mencintainya. Apalagi hatinya sungguhlah mulia.


Bahkan terkadang jika ada orang melahirkan tidak punya biaya, Eva membebaskan begitu saja semua uang perawatannya. Eva sungguh murni membantu kelahiran orang tanpa pamrih.


Suatu hari dari tetangga desa tersiar kabar ada seorang gadis yang mau bunuh diri. Upayanya gagal. Setelah ditelusur sebabnya ternyata dia tengah mengandung janin dari hubungan gelap dengan pacarnya yang tidak bertanggungjawab.  Saat ini dia masih mendapat perawatan intensif pada sebuah rumah sakit daerah. Mendengar kabar itu Eva segera mengajakku mendatangi gadis itu.


Kami membujuknya agar dia tetap mempertahankan bayi dan merawat kandungannya. Kami berjanji akan membantu biaya perawatan selama kehamilan dan saat kelahiran. Ini seperti yang biasa kami lakukan sebelumnya.


Gadis itu hanya menangis. Dan kami tidak lelah memberi semangat motivasi padanya. Syukurlah setelah selama satu bulan kami mendatangi dan Eva selalu memberi pengertian perlahan dia mau menerima kehadiran janin yang ada di rahimnya. Dan lagi-lagi kami menawarkan diri akan mengasuhnya jika dia tidak bersedia merawatnya.


Sembilan bulan kemudian bayi yang dikandung gadis itu lahir. Seorang bayi perempuan yang lucu. Eva yang membantu proses kelahirannya. Dengan penuh kasih Eva mengurus bayi yang masih merah itu.


“Kamu harus siap lagi jika ibunya menginginkan anaknya, Va.” nasehatku pada Eva setelah memandikan bayi itu untuk dia serahkan pada ibunya.


Eva hanya menghela nafas, berlalu ke ruang inap pasien.


**


Baru kali ini aku melihat senyum Eva mengembang sangat lebar. Dia sangat lincah hinggap ke sana kemari memilih-milih baju bayi. Iya, hari ini ibu gadis itu secara resmi mempercayakan pengasuhan bayinya pada Eva.


“Yang ini bagus nggak, Mas?” tanya Eva minta pertimbangan untuk seperangkat bantal guling bayi.


“Bagus,” sahutku. “Jangan lupa beli botol susu.”

__ADS_1


“Iya, aku tahu.” sungutnya.


Hampir seharian kami pergi dari satu toko perlengkapan bayi ke toko perlengkapan bayi yang lain. Kebetulan hari ini Eva libur dari piket jaga di puskesmas. Jadi kami bisa pergi bersama untuk membeli keperluan calon bayi kami.


Sore hari kami mendatangi rumah gadis itu. Dia menyambut kami sangat ramah bersama bapaknya.


“Kami akan mengasuhnya hingga dewasa. Tapi kami tidak akan memutus hubungan darah kalian. Kami pasti akan memberi tahu bahwa kamu adalah ibu kandungnya. Dan dia nanti kalau sudah dewasa berhak memilih ingin tetap tinggal dengan kami atau dengan kamu, Na.” jelas Eva.


“Iya, Bu. Saya titip anak saya tolong jaga dia.” ucap Wina sendu.


“Benar Bu Bidan, bagaimana pun Wina harus melanjutkan sekolah.” tambah bapak Wina. “Tidak ada yang bisa merawatnya di sini. Kalau ibu Wina masih ada mungkin dia bisa merawatnya.”


Yang aku dengar ibu Wina dulu saat Wina masih kecil pergi dengan laki-laki lain. Sekarang Wina tinggal hanya berdua dengan ayahnya yang harus bekerja keras demi masa depan Wina.


Kami berpamitan dengan membawa kehidupan baru yang akan mewarnai hari-hari kami selanjutnya. Diva kecil akan menjadi bagian keluarga kami yang sebelumnya terasa hambar.


“Abi, terimakasih.” ucap Eva membuatku sedikit kaget.”


“Apa?”


“Telah mengijinkan aku mengasuh anak ini.” ucap Eva malu-malu sambil meletakkan Diva yang sudah tertidur di pembaringan mungilnya.


“Kalau kamu senang aku juga senang, apa tadi kamu memanggilku Abi? Apa aku harus memanggilmu Ummi?” aku coba menggodanya.


“Iya dong! Sekarang kita kan sudah punya anak.”


“Justru aku yang harus berterimakasih padamu, Va, eh Ummi.”


Eva menatapku penuh tanya.


“Kamu bersedia menerimaku yang serba kekurangan ini, bahkan mau menutupinya untukku dengan ini.” aku mencondongkan tubuhku dan mencium pipi lembut Diva.


“Love you, Bi....”


Tanpa aku duga sebuah ciuman telah mendarat di pipiku. Ah, aku sungguh melayang. Bisikan itu telah lama kunantikan selama empat tahun ini.

__ADS_1


“Love you too, Mi....”


__ADS_2