
“Gawat!” teriak Hanafi terengah-engah mendobrak pintu kamar, sampai membangunkan aku dari bobo siang yang nikmat.
“Ada apa sih, bikin kaget saja!” semprotku kesal. Pasalnya aku tadi lagi mimpi indah, tapi bukan mimpi basah lho. Aku mimpi ketemu Britney Spears yang tiba-tiba menyatakan suka padaku lalu…..brak! Pintu kamar yang dibuka keras membuyarkan mimpi mustahil dan bullshit itu. Hehe…ketahuan kalau bohong ya?
“Zam, mereka menyerbu sekre kita!” lapor Hanafi sambil nunjuk-nunjuk tidak karuan.
“Mereka siapa? Minum gih, biar nggak belepotan gitu ngomongnya.”
Tanpa diperintah dua kali, dia sudah menegak satu gelas besar jatah minumku.
“Panitia OSPEK kampus pada protes ke kita!” katanya lebih tenang.
“Protes?”
“Iya, gara-gara kita nulis liputan tentang OSPEK, kata mereka apa yang kita tulis, tepatnya yang kamu tulis terlalu mengada-ada dan bersifat memfitnah.”
“Fitnah apa? Memang itu kenyataannya. Perpeloncoan mahasiswa baru tetap ada, dan itu tidak bisa punah. Yeaah, meski sudah banyak modifikasi yang berbaju humanis, tidak pakai hukuman badan tapi tetap aja mental mereka dijatuhkan. Kau juga lihat kan, anak-anak baru masih disuruh pakai pakaian dengan atribut yang aneh-aneh. Yang pakai papan nama besar lah, pakai sayuran sebagai bandul kalung rafia, trus ditambah pakai kaos kaki kanan kiri beda. Belum bawaannya, ngerepotin banget kan? Jelas sekali kebebasan mereka terusik, berontak malah celaka. Pikiran mereka dikebiri tuh! Di jadikan ajang lucu-lucuan, memang mereka itu boneka……yang?”
“STOP!” potong Hanafi. “Orasinya nanti saja di sekre. Sekarang, ayo cepetan ikut!”
“Emergency?”
“Sangat!”
“Kenapa tidak bilang dari tadi!”
“Zam, kau tidak dengar yang kukatakan saat aku datang tadi?”
“Oh, eh….maklum bangun tidur. Nyawa belum full. Yuk!” aku langsung bangkit dari ranjang, nguntit Hanafi keluar kamar.
“Zam, tidak saltum tuh!”
“Apa?” aku bengong.
__ADS_1
“Mau ke wc?”
Aku memeriksa diriku mulai dari ujung kaki sampai setinggi dada, batas penglihatanku pada tubuh sendiri tanpa perantara cermin. Oh, pakaianku! “Ampun!” aku tertawa ketika sadar aku masih memakai celana kolor warna hijau, benar-benar celana pendek setinggi lutut. Bukan tigaperempat yang mungkin bisa ditolerir.
“Dasar!”
“Aduh sorry, aku terlalu bersemangat sih.” aku balik lagi ke kamar langsung pakai celana jeans belel andalan yang punya lubang di atas lutut. Itu bukan sengaja aku sobek lho, asli sobek pas lompat pagar, niatnya cari jalan pintas eh, malah celana yang jadi korban. Dan satu lagi tentang celana jeans yang ku pakai sekarang, celana ini sudah satu bulan belum aku cuci.
“Heran, bukankah mereka ngakunya aktivis yang lebih mengedepankan intelektualitas. Menyukai pikiran yang rasional dan gemar mengkritik kebijakan pemerintah. Lalu kenapa ketika mereka dikoreksi oleh orang lain langsung naik pitam begitu. Aneh!” aku terus ngoceh dibelakang Hanafi yang mengendarai motornya sampai kami tiba di sekretriat.
“Waduh, banyak juga ya?”
Hanafi benar, puluhan mahasiswa tampak memenuhi pelataran sekre RADIKAL PERSMA Universitas kami.
Saat aku dan Hanafi masuk ke ruang utama sekretariat kami yang berukuran 4x4 meter perdebatan dengan perwakilan massa yang pada nongkrong di luar masih berjalan seru. Pihak panita OSPEK bicara dengan emosi yang meledak-ledak, sampai pada muncrat tuh air liurnya. Aku jadi pengin ketawa. Sabar, Mas!
Aku masih diam, mendengarkan dengan seksama. Ketum RADIKAL dengan sabar menjawab semua pertanyaan dengan brilian. Sayang, mereka tetap ngotot dengan pendapatnya sendiri. Berujar bahwa RADIKAL sebagai persma telah mencemarkan nama baik Panitia OSPEK.
Sebagai prolog aku mengungkapkan permohonan maaf jika dalam tulisanku terdapat hal-hal yang ternyata memang menyinggung mereka. Selanjutnya aku ingin menghabisi mereka.
“Terus terang saya heran dan tidak mengerti. Setiap harinya bahkan mungkin tiap detiknya kita membanggakan diri sebagai intelektual muda yang mau terbuka. Lalu dengan kejadian ini dimana jati diri itu?” diam sejenak. “Kalau kami sendiri sih, tak masalah dapat kritikan dari pembaca. Malah kami senang, kalau memang bisa memperbaiki kualitas dari tulisan kami. Kenapa tidak? Seperti kehadiran rekan-rekan yang mengoreksi tulisanku kemarin. Terimakasih.”
“Jadi kamu yang menulis berita itu!” tuding cowok yang berambut gimbal.
“Benar. Tapi bukan berarti apa yang saya tulis sekedar bualan. Bukan pula gosip sensasi untuk menaikkan omzet kami. Saya rasa rekan-rekan tahu kalau orientasi persma bukan uang. Misi kami adalah untuk menambah wawasan para pembaca melalui info-info yang akurat. Kami memakai beberapa metode dalam mengumpulkan berita. Lewat informan langsung, data fisik ada foto dan hasil rekaman wawancara.” aku diam lagi, memandang keempat perwakilan itu. “Banyak informan menyatakan tidak suka diperlakukan seperti boneka mainan yang didandani tanpa bisa protes. Jika protes pun hukuman akan menghajar mereka, meski tidak lagi dalam bentuk hukuman fisik, tapi tetap saja……mm…apa rekan-rekan sekalian tidak berpikir kalau secara tidak langsung kebebasan mereka terkekang, bahkan jiwa pemberontakan mereka diredam dengan hukuman.”
“Maaf, kami harus meralat sangkaan salahmu tadi. Seperti yang sudah aku paparkan dimuka, di sini perlu ditegaskan bahwa aneka perlakuan yang kami berikan itu mempunyai maksud untuk menebalkan mental mereka. Berani tampil meski mereka terlihat nyleneh. Dengan begitu, kami akan dengan mudah membentuk pola pikir mereka agar berani bertindak meski harus melawan arus, demi membela kebenaran.”
Aku tersenyum sinis. “Nilai mana yang mengandung makna akan menjadikan jiwa mereka sigap membela kebenaran? Dari bandul terongkah? Lalu apa benar kalau terong tempatnya menggandul didada dengan helaian tali rafia? Bukankah terong seharusnya ada di dapur untuk dimasak lalu menjadi santapan lezat di meja makan. Bukan sebagai alat pelengkap penderitaan.”
Mereka berempat sepertinya kaget dengan ucapanku. Mungkin mereka berpikir benar juga ya kata-kata cowok keren ini. Cuih! Pada pengin muntah nggak? Kemudian satu dari mereka kembali angkat bicara.
“Seharusnya kalian menghubungi kami dulu sebagai panitia kalau ingin meliput kegiatan OSPEK kami. Lewat prosedur yang benar.”
__ADS_1
“Bukannya kami sudah mengungkapkan permintaan minta maaf kami.” sahut Arifin sang ketum, sebelum aku menjawab dan menyatakan ungkapanku. Tapi intinya sih sama. “Tapi….” lanjut Arifin. “Tapi kami sebagai orang-orang pers, selalu menginginkan berita yang sifatnya objektif. Sebenarnya ada kekhawatiran jika nanti kami minta ijin dulu yang tersiar cuma cerita manis-manisnya saja. Kami tak mau berita seperti itu. Apa yang kami tulis harus aktual, bukan hasil rekayasa.”
Betul, betul…aku setuju, Fin. Rupanya kita sehati, aku juga ingin bilang begitu.
Dialog perdebatan terus berlangsung. Akhirnya mereka menyerah, meski kami tidak janji kelak tak lagi menuliskan berita penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lingkungan kampus ataupun dalam kawasan yang lebih luas nasional.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya RADIKAL mendapat kecaman karena penulisan kami yang berani dan tajam, setajam silet (Ups! sorry, ngutip kata-kata presenter sebuah acara tv). Seolah kami ini wartawan infotainment yang gemar menuliskan gosip agar korannya laku (may be). Sekali lagi bukan materi yang kami cari. Kami lebih humanis, mengetengahkan realita yang terjadi dan mengabarkan tentang hal-hal yang kami anggap menyimpang dan kami mendapat temuannya di lapangan, mencoba memberikan masukan dan alternatif solusi (tentu menurut kacamata kami).
Dulu kami pernah mendapat surat peringatan_surat ralat yang harus kami tulis ulang dari pihak Perhutani. Waktu itu kami menuliskann tentang ketidakbecusan aparat dalam mengelola hutan. Setiap kebijakan yang keluar ternyata hanya sebatas slogan. Ujungnya bukan pelestarian yang didapat, malah penjarahan hutan merajai dan mengusir tahta sang raja hutan. Kebakaran, menguasai angkasa dengan asap kabutnya. Dan yang terpinggir masyarakat desa hutan tetap saja mengais kemiskinannya dari balik hutan yang tak lagi kaya.
Kami sadar itu bukan mutlak salah mereka. Hanya ada satu oknum yang berimbas menghempas citra mereka. Tapi…..mana tindakan preventifnya? Realisasinya hanya diawal cukup sebentar. Kemudian……tetap saja hutan mengalami degradasi tanpa seorang resquer sejati. Bahkan mungkin termasuk aku yang hanya bisa menulis saja.
Hhh, begitulah nasib kami para kuli tinta, kuli disket yang gemar mengembara dengan kata-kata. Ingin mengetengahkan fakta malah dicekal. Sepertinya kebebasan untuk menulis di negeri ini belum diakui. Mungkin di luar sana juga mengalami nasib yang sama. Pasalnya aku sempat baca kalau Amerika yang katanya negara liberal masih ada pengekangan terhadap tulisan pers. Negara liberal layaknya simbol belaka, sementara penguasanya terus menekan kebebasan yang seharusnya ada. Kebebasan untuk berpendapat, mengeluarkan ide dan gagasan lewat perkataan dan tulisan. Yeaah…..gitu deh!
Waktu terus bergulir tanpa ada seorang pun yang sanggup menghentikannya sedetikpun. Kecuali matiin jam kongkret, lha bisa. Tapi tetap saja kan semua berjalan, karena jam abstrak terus melangkah tanpa menoleh dan acuh pada keadaan sekitar.
Rasanya baru kemarin aku berkutat dengan hari-hari menyenangkan bersama RADIKAL. Padahal sudah lima tahun. Tepat selesainya masa studiku. Berarti it’s time to say goodbye. Sebelum aku meninggalkan RADIKAL aku sempat titip pesan buat adik-adik penerusku. Jangan pernah takut menulis apapun yang kau anggap benar dan ada bukti yang menguatkan. Maju terus! Demi kebebasan berkreasi dalam ruang pikir dan kata-kata yang bermakna bagi umat manusia. Kira-kira gitu pesennya.
Sekarang aku bekerja sebagai wartawan freelance sebuah surat kabar dikotaku ini. Aku cukup senang karena aktivitasku tak jauh dari urusan tulis menulis lagi. Bahkan aku mulai mereka cerita fiksi. Cerpen sampai ke novel. Sayang belum satu pun karyaku itu berhasil dimuat atau terbit. Hanya tulisan-tulisan beritaku yang berjaya. Lalu cerita fiksiku? Menemui jalan buntu.
Aku tidak tahu ada apa gerangan dengan karanganku itu? Apa tulisanku terlalu baku dan kaku? Jalan cerita bikin pusing? Apa tulisanku tidak mengandung sisi komersialisme? Apa kisahku terlalu picisan, kolokan seperti cerita sinetron, yang hanya menjual cinta, air mata dan kekerasan? Tidak! Karyaku lebih mendidik, bagus mengandung muatan pesan (setidaknya itu menurutku). Tidak cengeng, tidak ada unsur kekerasan. Tapi ternyata masih ada yang kurang, malah mungkin salah.
Akhirnya aku menemukan semua jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk. Suatu ketika datang surat dari penerbit yang menolakku dengan alasan yang membuatku ingin ketawa ngakak. Mereka bilang karyaku tidak menarik dan tidak menjual. ‘Orientasi kami adalah buku yang tercetak harus habis dalam satu tahun. Jika tidak kami akan merugi.’
Ooo, ternyata gitu to! Penerbit buku pun menyukai cerita-cerita cengeng dan tidak memberikan pesan moral. Hanya berkutat seputar percintaan yang sebenarnya belum layak mengalami kisah tragis. Mereka masih belia. Kenapa harus dipusingkan dengan urusan cinta? Masih banyak cita yang bisa diraih, bukan cinta yang belum tentu abadi kisahnya di dunia nyata. Semu, tidak menjamin hidup bahagia kelak.
Ah ya, tentu saja. Aku tak bermaksud membelenggu imaji tentang cinta dua anak manusia yang beragam versinya. Aku hanya sekedar memberi kritikan, bahwa hidup tak m’lulu tentang cinta dua insan dimabuk kepayang. Masih ada cinta-cinta lain yang bisa diangkat, cinta sesama manusia, cinta sesama mahluk Tuhan, cinta alam, cinta Tuhan dan nikmatnya cinta dalam perdamaian.
Ups! Aku terlalu ngelantur rupanya…..hehe…. Yang pasti sekali lagi aku merasa bahwa keterbukaan menyenandungkan imaji dengan tuaian kritikan belum merasuk di hati insan Indonesia. Kritikan pedas belum bisa menjadi madu yang membuat manis hal yang tercela. Malah kritikan berbuah dendam yang ada.
Yeaah, mau bagaimana lagi kalau ternyata aku kembali menghadapi kenyataan penolakan imaji para peluncur kisah-kisah komersil.
“Maaf, karya Anda belum layak. Tidak menjual……..!”
__ADS_1