House, Love, Song

House, Love, Song
Perjodohan


__ADS_3

Hari ini hatiku resah. Otot-otot tubuh ikut menegang. Seiring otak yang mengutuk tajam kelemahan argumenku tuk mengatakan; Tidak! Mereka tersenyum menyambut kebisuan yang kutampilkan. Tunggu! Ini pasti salah paham! Aku diam bukan berarti aku bersedia, justru kebimbangan yang mengisi penuh benak dengan ribuan pertimbangan.


“Beri waktu aku untuk berpikir.” ucapku akhirnya sebelum salah paham semakin menjadi.


“Apalagi, sekilas kau pernah mengenalnya, bukan? Kini saatnya kau mengunjunginya dengan cinta. Jadilah pria tangguh demi merebut hatinya. Jangan kau lari sebelum mengenal. Rasakanlah buaian hangat yang akan melenakan.”


“Bukankah dia begitu dingin?” sanggahku. “Dia bahkan sanggup membekukan batuan.”


“Kau hanya belum mengenalnya.”


“Apa dia akan menerima aku?”


“Jika kau pria sejati, kami tunggu kehadiranmu.”


“Apa ini tantangan?”


“Tentu saja.”


“Baiklah.” adrenalinku tersulut membara.


“Bagus!”


Terlambat. Begitu sadar, ketukan palu telah memutuskan bahwa aku setuju menerima tantangan perjodohan ini.


Meski ketika teringat bagaimana dia menghajar, mencaci dan menertawakan diriku, ingin rasanya menyudahi permainan bertaruh nyawa ini. Terlambat, sekali lagi terlambat. Aku semakin terjerambab jauh dalam arena perputaran nasib yang mengarahkan laju langkah pada tangga tak beranak. Aku telanjur berucap bersedia mengenalnya. Mereka mengartikannya secara berlebihan. Aku harus menikah dengannya!


Baiklah. Demi harga diri agar tidak dijuluki si pecundang, aku rela menyerahkan diri sebagai bentuk pengabdian. Toh, aku tidak sendiri. Aku yakin akan ada yang mendongkrak semangatku nanti.


Mereka menyambutku dengan tepuk ria. Memastikan bahwa sesuatu yang indah akan segera terjelang setelah aku bertemu dengannya. Bahwa kecantikannya tiada tara, begitu mereka selalu mendendangkan.


Dengan enggan aku mengikuti arak-arakan dalam baris satu-satu yang rapi. Sebuah gerbang megah menjadi batas antara kerajaan hijau dengan peradaban penuh warna. Hawa dingin menerpa lembut dengan tusukan maut menghujam tulang. Nafas mulai kering, berhembus putus-putus. Sementara beban dipundak menekan seakan ingin menancapkan pijak pada tatanan tanah basah.

__ADS_1


Aku semakin yakin bahwa aku hanyalah seorang muda yang lemah. Aku hanya anak manja dari peradaban penuh warna yang tak mengerti dunia alam atau kerajaan liar. Jiwaku mencintai dunia kerlap dengan desingan suara gaduh. Aku sama sekali tak suka seni petualangan yang dicintai para maniak alam. Tapi kenapa dia memilihku tuk jadi teman hidupnya. Bukankah banyak pejantan tangguh yang lebih kenal dirinya dan mencintainya? Bahkan mereka rela jika harus menjadi budak-budak yang bersedia tunduk pada titah sang alam. Tidak dengan aku.


Sebenarnya aku hanya ingin mencoba sisi lain sebuah dunia yang mungkin akan memberi rasa berbeda. Kenyataannya aku hanya terjebak oleh ego sendiri. Semakin terperangkap sangat erat memasung raga dan sukma. Memaksa melangkah demi menerima uluran tangannya.


Mustahil lepas! Jika dipaksa hanya akan menyakiti nyawa lain yang masih ingin menghirup aroma kebebasan. Seteguk madu manis yang bagi mereka sangat menggairahkan. Tidak dengan yang kurasakan.


Siang ini hawa dingin yang menyelebungi tubuhnya sedikit banyak berhasil ditepis oleh pancaran panas surya yang lincah menerobos di antara celah rimbun pepohonan. Selama aku melangkah dia tetap setia menyorotkan berkas hangatnya yang kadang menyilaukan.


Kerindangan yang dia tawarkan tak lagi memberi kesenangan. Kesegaran yang dia tebarkan tak sanggup mengusir letih yang menguasai. Nyanyian riang menjelma jerit pilu. Bahkan wangi rumput yang selalu mengiringi kaki justru terasa mendesak ulu hati.


Keringat mengucur deras membasahi balutan tubuh. Masih jauhkah peraduannya? Hanya itu yang selalu kuucapkan tuk mengusir lelah dan bosan.


Aku teguk setetes air tuk menghilangkan dahaga. Undakan yang akan membawa ke singgasana pelaminan diwarnai dengan berbagai rintangan menyusahkan dan melelahkan. Aku mendongak ke sisi kanan jauh di atas. Samar terlihat aura biru menjulang bertahta rangkaian awan putih. Begitu agung. Tidak jauh lagi. Hibur nurani.


“Cantik bukan?” seorang kawan menepuk bahuku.


“Sepertinya,” sahutku masih terengah-engah.


“Mari kita lanjutkan langkah kita!” serunya.


“Lihatlah adakah sesuatu yang tercecer. Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki kita.” seru kawan lain mengingatkan.


“Jika kita datang dengan santun, dia akan menyambut dengan kasih laksana kidung ibu.”


Aku beranjak enggan. Melihat berkeliling, gerak selanjutnya merayap kembali bersama para pengiring setia. Tertatih mendaki seiring nafas yang patah-patah.


Tak terasa tabir terang berganti corak menjadi hitam kelam. Aku duduk mengitari api penebar hangat bersama jiwa-jiwa pencari cinta. Banyak cerita, kelakar dan canda. Semua itu berhasil membuat hatiku menghangat dan terhibur. Kisah-kisah dan kelucuan yang dilepaskan perlahan menjadi dongeng-dongeng indah dalam mimpi semalam.


Pagi cerah menyambut geliat mata yang terbuka. Senyum ceria jiwa-jiwa yang menyertai menambah suasana gemilang. Entah dengan raut mukaku. Bersukakah? Ujian berat untuk mendapat tiket masuk singgasana tempat dia bersemayam baru akan dimulai, sementara gairah dalam diri perlahan menguar pergi.


Kini aku hanya mengandalkan keinginan tuk tetap hidup. Tentu saja! Aku tak mau mati konyol. Ini akan menjadi tongkat sakti yang bakal menuntun pijak kaki hingga ku bersanding dengannya nanti.

__ADS_1


Sedikit lagi, pompa semangatku. Jangan mati sia-sia di sini. Tak seorang akan menemanimu kelak. Hanya dingin, gemuruh angin dan tiupan petir yang akan menjilati jiwa kesepianmu. Mantapkan! Bersemangatlah!


Teriakan kemenangan berkumandang. Ini... ini adalah puncak singgasana tempatku akan bersanding kelak. Mataku nanar memandang sekitar. Decak kagum tanpa sadar memuji keelokan istana di atas awan. Teringat aku lagu tentang negeri di atas awan milik Katon Bagaskara. Dia benar. Kedamaian adalah jiwanya dan menjadi saksi bisu atas polah laku yang sering melukai kesabaran hatinya.


Dari sini aku merasa bisa melihat dunia seluruh. Aku sungguh kecil, sangat kecil. Seumpama kutu, aku sendiri berada di padang gersang dan terlupakan.


Sontak aku ingin terbang melanglang angkasa. Memandangi bumi dalam harap warna hijau lebih mendominasi. Meski aku tahu semakin jauh aku terbang, warna bumi menjadi cokelat keperakan, hitam, muram memantulkan hawa panas yang menyesakkan. Ah, seandainya aku bisa terbang sambil menyulap daratan tak hijau itu menjadi hijau seluruh.


Kemudian, aku terkesiap. Sebuah wajah lugu nan ayu mendesirkan hati. Ronanya tersembul dari balik gugusan awan. Senyum itu. Jantungku berdetak cepat. Mengagumkan! Mahkota dari jamrud berkilauan menerpa jubah kebesaran bertahtakan mutiara bening yang singgah di pagi buta. Wawasannya pun luas, mengisahkan dongeng pembentukan aura cantik yang kini memancar.


Ini adalah maha karya agung yang teramat sempurna. Beberapa kali ku bisikkan nama Sang Pencipta yang telah menghadiahkan keindahan ini. Segala Puji Untuk-Mu.


Rupanya tak sia-sia aku berpeluh, mengeluh dan kaki melepuh demi bisa berjumpa dengannya. Aku justru akan sangat menyesal jika mengabaikan tantangan yang mereka tawarkan.


Tanpa ragu aku segera menyambut uluran tangannya. Lalu kami menari berputar menciptakan kehangatan yang semula kusangka tak ada. Wajahnya kian merona seiring pijar bola siang memecah kabut temaram. Semakin riang kita.


Sayang, sebuah seruan memupus kemesraan yang baru saja tercipta. Rautku kecewa, tapi roman mukanya tak berubah menjadi kesal. Dia mengerling manja seraya berbisik akan menanti hadirku kembali.


“Tentu saja,” balas bisikku, tak lupa berjanji segera bertandang.


“Ayo, kita segera turun! Sebelum dingin mengarcakan tubuh kita.” seru seorang yang paling tahu maha cantik ini kadang tidak bersahabat.


Seperti dugaanku. Suasana hatinya tidak bisa ditebak. Kadang manis seperti gula-gula surgawi seperti saat ini, beberapa menit kemudian bisa berubah gahar laksana gelegar neraka. Terkadang sendu menitik air mata, setelahnya bisa menjelma riang bertabur pelita.


Tanpa banyak kata aku mengikuti langkah-langkah berarak turun menyusuri jalan setapak menjauh dari singgasana tempat pertemuan dengan seorang yang dijodohkan denganku. Ada getar aneh menelusup ke nurani.


Aku menoleh sejenak seraya berkata. “Aku terima perjodohan ini wahai dewi penjaga daratan bumi.”


Senyum puas tersungging dibibir. Letih yang melibas anggota tubuh meluruh bersama tatapan pesona nan anggun itu. Lepas….


Batinku pun kemudian berucap, “Tunggulah, hadirku akan kembali memeluk dingin yang kau cipta hingga hangat kan kau rasa. Ku pastikan aroma indah yang kau tawarkan akan selalu ku ingat dalam hati yang merindu.”

__ADS_1


__ADS_2