
Kuhirup udara sejuk pagi dalam-dalam. Lega. Hawa segar itu meresap memasuki setiap rongga paru-paru dan menyusup menerjang ke dalam otakku. Aroma pagi pedesaan sungguh melenakan kepenatan yang kemarin masih menusuk raga dan batinku.
Sendiri aku melangkah menembus keheningan pagi, berlomba dengan sang mentari menyapa derap langkah petani. Wajah ceria menutupi gurat nestapa yang setia singgah menemani kesederhanaan mereka. Di antara canda, mereka menatap bangga hasil karya atas sulaman permadani hijau yang membentang dengan menyimpan berjuta harap. Sawah hijau mereka adalah mahakarya yang bisa menghidupi berjuta umat manusia.
Aku masih menyusuri jalan dengan tatanan batu yang diatur tertanam sebagian di tanah. Kira-kira dua belokan lagi aku akan sampai di rumah sahabat lamaku. Dia Imah, lengkapnya Rakimah. Dulu selama 15 tahun aku hidup di alam yang damai ini. Namun tiga tahun kemudian kami dipaksa meninggalkan berjuta kenangan manis yang menggores jelas dalam kalbu kami__aku dan keluargaku. Aku pindah bersama keluargaku.
Tugas kerja ayah menuntut aku, ibu dan adikku turut serta menuju kehidupan baru yang bagiku saat itu sangat menyesakkan. Sebuah kehidupan baru yang padat dan senantiasa berhias dengan buliran debu asap akan aku selami setiap hari. Pergaulan aneh menjadi hiburan dikala senggang. Itu pikirku dulu, ketika aku masih muda dan lugu. Sekarang rasanya aku telah teracun oleh segala kebiasaan modernitas yang cenderung westernitas. Sudahlah. Melawan arus hanya akan terinjak dan kandas.
Lewat celah daun pepohonan samar-samar terlihat bangunan rumah yang dulu tidak asing bagiku. Aku yakin itu rumah Imah. Tidak salah lagi, disisi kanan bawah gardu ronda masih berdiri meski kondisinya terlihat begitu rapuh.
Tiga meter lagi aku akan sampai di rumah kayu yang nampaknya telah berganti warna cat. Kalau tidak salah dulu berwarna putih, sekarang berganti dengan warna biru langit. Sepi. Apa terlalu pagi aku datang kemari?
Aku mengingat wajah Imah yang teduh dan manis. Apakah kini dia masih seperti dulu? Atau mungkin telah berubah semakin manis seperti cat rumahnya ini. Dia kuliah atau telah bekerja? Berarti kalau dia telah bekerja, aku datang pada waktu yang salah. Biarlah, aku hanya ingin memastikan bahwa dia masih tinggal di desa ini. Kalau pun dia tidak ada aku masih bisa menyapa orangtuanya.
Aku mantapkan hati untuk mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. Hening. Tak ada sahutan. Hingga pada ketukan ketiga dari kaca jendela muncul sebuah wajah yang sepertinya aku kenal. Dia lalu membukakan pintu untukku.
“Mencari siapa?” sapanya ramah.
“Kamu Raminah? Adiknya Imah?”
“Iya.” jawab gadis itu sambil menatapku lekat-lekat. Detik berikutnya dia tersenyum. “Mas Arjan?” tebaknya.
“Kamu masih ingat aku? Padahal dulu kamu masih mungil sekali.” ujarku.
“Bagaimana kabarnya?” sambutnya menjabat tanganku. “Masuk Mas!”
“Baik. Alhamdulillah.”
“Sendirian, kapan datang?”
“Iya, baru tadi malam.”
“Pasti mbah Darmo senang cucunya datang.”
“Kamu tidak sekolah?”
“Kan sedang libur semesteran.”
“Oh ya, aku lupa.” tanggapku. “Imah ada?”
“Ada, sebentar aku panggilkan.” sahutnya. “Mau minum apa?”
__ADS_1
“Terserah, asal tidak merepotkan.”
Tak beberapa lama kemudian terlihat olehku sosok yang tak asing bagiku. Tentu. Dia Imah sobatku. Teriring senyum manis dia menyambutku dengan hangat.
Untuk beberapa saat aku tercengang. Ada yang berubah dari Imah.
“Aku kira kamu lupa desa ini.” celotehnya setengah mengejek.
“Silakan Mas Ar, airnya diminum!” Raminah sudah muncul lagi dengan membawa dua gelas air putih. “Adanya cuma air putih, nggak apa-apa kan?”
“Makasih, air putih justru sehat.”
“Wah, reuni nih?” kata Raminah lagi. “Baiklah, sepertinya aku akan mengganggu. Saya tinggal ya?”
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Raminah yang dulu pemalu sekarang sudah jadi remaja yang ramah dan agak centil menurutku.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rakimah membuatku fokus lagi ke dia.
“Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri….? Em…kamu sudah menikah?”
Imah mengangguk.
“Berapa bulan?” tanyaku memecah keheningan.
“Delapan jalan.” jawabnya singkat lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.
Aku tersenyum. “Mah....”
“Iya, aku tidak ikut ujian akhir. Cita-citaku pun berakhir.” potong Imah seakan bisa menebak apa yang aku pikirkan. Mata Imah berkaca-kaca.
“Eh, senang dong sebentar lagi punya bayi.” kataku dengan maksud menghibur. Sayang air matanya sudah telanjur menetes dipipinya yang halus. Cepat-cepat dia mengelap aliran air yang membasahi pipinya. Dia pun mengangguk dengan menampilkan sunggingan senyum kelu.
“Kamu masuk universitas mana?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Minggu depan aku mulai masuk masa orientasi kampus di Universitas Wicaksana.” terangku. “Aku masuk jurusan Pertanian.”
“Hebat, kamu berhasil menggapai impianmu. Bergelut dibidang pertanian untuk memajukan dunia para petani.” puji Imah.
Aku bingung mencari topik bahasan untuk perbincangan kami selanjutnya. Padahal sebelumnya aku ingin sekali menanyakan perihal mimpinya yang ingin mengabdi, menjadi seorang pengajar. Mulia sekali. Sekarang masih ada harapankah?
“Suamimu bekerja dimana?”
__ADS_1
Roman muka Imah berubah mendung kembali setelah beberapa detik lalu mulai memancarkan kecerahan. Apa aku salah telah menanyakan perihal suaminya. Aku meremas jari tangan kananku. Bodoh! Apa yang kutanyakan tadi?
“Ar, tidak ada yang perlu kamu risaukan. Wajar kalau kamu bertanya tentang suamiku.”
Aku menyeringai mencoba menstabilkan diri. Sepertinya Imah bisa membaca pikiran orang. Atau hanya kebetulan karena dia sudah hafal semua sikap dan sifatku.
“Suamiku.....dia harus menyelesaikan kuliahnya. Pasti kamu menebak aku hamil di luar nikah?”
“Ee....bu...”
“Tebakkanmu benar.” potong Imah. “Terus terang aku sudah cukup bersyukur ketika dia mau bertanggung jawab.”
“Begitu.” tanggapku. “Apa kamu dipaksa?” tanyaku lirih.
Imah tertawa. “Menurutmu?”
Aku menggelengkan kepala.
“Tidak ada paksaan, tidak ada perkosaan. Kami melakukannya atas dasar nafsu yang meracuni pikiran kami waktu itu.”
Aku menelan ludah. Sementara batinku berontak, tidak mungkin Imah melakukan perbuatan hina itu. Benarkah virus kota telah menyergap desa yang damai dan santun ini? Kenapa?
Aku menatap Imah. Dia kelihatannya sedang berusaha membendung buliran air yang telah bersiap menggelinding ditepian mata.
“Aku sungguh bodoh termakan rayuannya.” kubiarkan dia mengungkapkan isi hatinya. “Aku tahu menyesal selalu datang belakangan. Dan aku juga tahu tidak berguna menyesali yang sudah terjadi. Meski pahit, harus menelan kenyataan yang bersabda bahwa aku hanya berakhir begini. Tanpa mimpi dan hanya menunggu asa baru yang mungkin masih tersisa.”
“Setidaknya asamu berada pada tangan anak dan suamimu. Mereka adalah sumber bahagiamu mendatang.” komentarku.
“Kamu tahu, Ar. Sesungguhnya hidupku kini sangatlah hambar. Tidak seperti dulu saat aku masih mengagumimu, menantimu dan mengharapkanmu.”
Deg, jantungku menghantam keras di dada. Apa aku pernah memberi bintang harapan padanya? Tidak mungkin. Selama ini kami hanya bersahabat. Benarkah dia mengagumi aku?
Berbagai gejolak masih mengiringi langkahku saat kakiku memaksa menjauh dari rumah Imah.
“Imah.” gumamku. Dia masih manis seperti dulu. Tapi ada sisi yang hilang yang tidak aku temukan ketika aku berbincang dengannya. Cerianya hilang! Pergi kemana gerangan? Ceria yang dulu memancar dari balik teduh wajahnya?
Mahluk macam apa nafsu itu hingga dengan mudah menculik ceria Imahku. Tuhan! Sudah begitu hinakah kami kaum manusia hingga tak lagi mampu menerima kebenaran ajaranmu? Kami senantiasa tertipu manisnya madu dunia. Dan akhirnya kami meratap kembali dalam sesal yang mengurung bahagia abadi kelak.
Seperti Imahku yang kini terdampar dalam keterasingan dunia. Ceria Imah yang bertutur tentang mimpi meluruh bersama kesenangan sesaat. Hilang sudah ceria Imah. Ceria Imah yang kusuka. Ceria Imah yang selalu membuatku merasa rindu padanya.
“Imah.”
__ADS_1