
Tiit.....tiiiit......tit.......
HP Raditya yang tergolek di lantai sisi ranjang berbunyi mengganggu konsentrasi dia yang sedang menyusun konsep publikasi untuk acara Komputer Expo. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh Racana Pramuka. Organisasi yang sudah digelutinya sejak SMA.
Raditya merangkak meraih HPnya. Di bukanya isi pesan yang tertera dilayar.
“Hhh.....Erta. Mengganggu saja.” gerutu Raditya, yang sebenarnya sudah mulai terbiasa dengan sapaan rutin malam hari Erta.
‘met mlm radit! sdh bo2 blm? br jam 10, ga mungkn kan?lg ngapain?lg mikirin aq ya? met bo2 ya!’
Raditya menggelengkan kepala. “Dasar cewek agresif!” desahnya. Sekejap kemudian ingatannya melanglang ke waktu lampau. Awal mula pertemuannya dengan Erta. Mm, mereka bertemu di Gunung Gede.
Mustahil dan ajaib! Itu pertama kali yang terlintas dipikiran Raditya. Seorang cewek mendaki sendiri? Ah.....apa cewek ini sudah tidak waras? Yang jelas setelah pertemuan dan perkenalan itu, Erta jadi rajin ngabsen Raditya lewat sms, kadang telpon. Pernah juga sekali main ke kos Raditya. Kaget!
Soal sms, tak semua Raditya balas. Paling hal penting saja yang dia beri balasan. Seperti malam ini. Raditya mengacuhkan sms Erta lagi. Balik fokus ke konsep publikasi. Semoga bisa mendapat banyak peserta dan pendonor dana.
Tiit.....tiiiit......tit.......
Sekali lagi HP Raditya berbunyi. Dia sengaja mengacuhkannya sampai sebuah format bakal pamflet lewat goresan sketsa kasar jadi.
“Lumayan.” gumam Raditya. “Tinggal diformat di komputer, huaaahhh!” Raditya menguap lebar lalu merebahkan tubuhnya ke lantai yang beralaskan karpet, matanya menerawang seakan bisa menembus langit-langit kamar.
Raditya teringat kalau beberapa menit yang lalu HPnya telah berbunyi lagi, dua kali malah. Rasa penasaran menyeruak dan menggerakkan tangannya tuk meraih HPnya.
‘Radit km mo naik gn lg ga?naik bareng yuk!aq pengin naik lg ke Semeru. Mo ikut?aq bareng dua teman lain.’
SMS kedua berbunyi;
‘kok ga dibls. gimana?pls hbs?’
Raditya diam berpikir sejenak. HPnya dia genggam terengkuh di dadanya. Lima menit kemudian........
‘maaf, aq lg super sibuk. mo ada kegiatan diracana, dan lg gunung bkn kegemaranku.’ Pesan terkirim.
**
‘hei radit. skrng aq lg dipuncak Semeru. Menikmati punck Mahameru. hii dingin bgt! suhu dibwh 0.’ lapor Erta tiga minggu kemudian. Saat menerima pesan itu Raditya baru saja selesai mandi, dia sendiri sudah bersiap mau ke sekre racana. Yeaah, biasa mengurus segala keperluan Komputer Expo. Jam enam sms dari Erta datang.
‘radit sdh bangun blm?mandi sunrise segar bgt loh. Meski pancarannya ga bs menghalau dingin, tp keindahannya sngt menghangatkan.’
SMS ketiga;
‘Bruntung bgt disini ada sinyal. Setdknya aq bs ngabari ttg kondisiq yg super fit. jngn cemas ya?’
“Apaan sih!” gumam Raditya tersenyum tipis. Pacar saja bukan. Apa urusannya aku mengkhawatirkanmu.
“Radit! Hoi, dari tadi sibuk main HP terus. Negosiasi dengan Radio Perkasa sudah belum?” tegur Diah sekretaris panitia.
“Beres Bos! Ntar sore bisa dibuktikan, jam empat diacara Kawula Muda.” lapor Raditya mantap.
__ADS_1
“Bagus! Eh, nanti malam rapat koordinasi. Nih, undangannya! Tepat waktu lho!” ancam Diah.
“Oke, Bos!
“Dit, udah makan belum?” tanya Diah lagi.
“Mana sempat!”
“Makan yuk!”
“Siap deh, Bos!”
Keduanya lalu melenggang ke warteg terdekat.
Empat bulan sudah. Komputer Expo sukses. Erta pun tak lupa memberi selamat kepadanya. Bahkan kemudian tanpa Raditya duga, Erta nembak dia lewat telpon ngajak jadian. Haaah!
Tak ada jawaban kepastian dari Raditya. Erta pun pasca penembakan seolah menghilang begitu saja. Kecewakah dia?
Raditya memandang HPnya yang tergolek di atas meja. Sudah lama sekali tak ada gangguan sms atau telpon dari Erta. Sepi.... mendadak hati Raditya menghampa, sesunyi HPnya.
“Aku belum mengatakan apa-apa, kenapa dia sudah kabur duluan.” gumam Raditya. Seorang maniak gunung macam dia, kenapa sudah menyerah dengan keangkuhan seorang Raditya. Batin Raditya berujar.
“Hh.....apa yang sedang kupikirkan!” desah Raditya. Bahkan Diah yang begitu dekat pun aku telantarkan. Apa aku ini pria yang yang tak berperasaan? Kecamuk itu kembali berkata dalam benaknya.
Tiit.....tiiiit......tit.......
‘Radit, km sekrng ada waktu ga? aq mo ngjak km kluar.’ pesan dari Diah telah sukses mematikan genderang asa Raditya.
‘mang ada apa?’ balas Raditya.
‘masa km ga tau. hr ini kan ultahq.aq mo nraktir km. bs ya?ntar aq ke kosmu!’
Raditya kembali memencet tombol HPnya.
‘hepi b’day!! km bruntung aq lg ga ada acara’ balasnya.
**
Kurang lebih enam bulan Erta tak lagi menghubungi Raditya. Hal itu sungguh membuat dia jadi penasaran. Setelah mengesampingkan egonya, Raditya pun memberanikan diri untuk meng-sms Erta.
Sebuah balasan membuat Raditya lega. Erta ternyata tidak marah atau kecewa. Malah dia menginginkan Raditya untuk datang ke Bandung. Tanpa pikir panjang, Raditya langsung mengiyakan dan bertandang ke kos Erta.
“Apa Erta sedang pergi?” tanya Raditya pada seorang cewek yang menyambutnya lalu mempersilakannya duduk. Cewek ini mengaku sebagai teman mendaki Erta.
“Jadi kamu orangnya?” katanya sambil menyulut sebatang rokok.
“Hah!” Raditya melongo. “Tidak, makasih.”
“Ini untuk menenangkan aku.” ucapnya kemudian setelah mendengar penolakanku atas tawaran rokoknya. “Yang menyuruh kamu kemari sebenarnya aku.” lanjutnya.
__ADS_1
“Bukankah itu nomor Erta?” sergahku.
“Benar. Tapi tidak lagi.”
“Dia menjual HP dan nomornya ke kamu?” tebakku.
“Ini ada titipan dari Erta!” katanya sambil menyodorkan sebuah buku notes kecil lusuh berwarna kuning pudar.
“Apa ini?”
“Baca saja sendiri isinya!” tiba-tiba kata-katanya terdengar berat.
Teruntuk Raditya,
Lama nian aku mengagumi dan menunggumu. Puluhan gunung begitu mudah aku taklukkan. Tapi gunung di hatimu sangatlah sukar ku daki tuk sekedar menyentuh puncak kasihmu yang begitu dingin.
Sunrise ku ternyata selalu memantul ketika ku coba menerpamu dengan hangatku. Kabut auramu sungguh tebal membutakan mata.
Namun demikian, hingga detik ini aku masih ingin terus menembus tirai rapat yang melingkari sisi pedulimu padaku. Aku yakin suatu saat aku akan bisa membukanya dan mengambil mutiara hatimu yang penuh dengan bibit cinta itu kelak. Meski mungkin raga tiada lagi menyatu nyawa, tapi jiwa ku akan senantiasa berkelana. Dan ku pastikan cintaku akan tetap utuh menghiasi setiap pijak langkahku.
Erta
“Sekarang dia dimana?” tanya Raditya gusar.
“Aku akan mengantarmu.” kata teman Erta beranjak dari duduknya.
Kemudian cewek macho yang bernama Lina itu membawa Raditya dengan sepeda motor menuju tempat yang jauh dari keramaian.
“Di situ Erta bersemayam dengan membawa cintanya.” tunjuk Lina pada sebuah nisan bertuliskan nama Erta Cinta Abadi__wafat tanggal 12 Juni 2005.
Raditya termangu ditempat. Tubuhnya mendadak kaku. Lidahnya kelu.
“Kenapa?” hanya itu yang keluar dari mulut Raditya.
“Dia jatuh terperosok ke jurang saat menolong seseorang.” terang Lina.
“Kenapa?” pertanyaan sama keluar dari mulut Raditya.
“Hatinya amatlah mulia, demi nyawa yang seharusnya memang terjaga dia rela memberikan tubuhnya sebagai tumbal.”
“Bodoh sekali.” runtuk Raditya.
“Kaulah yang tak tahu diri!” ucap Lina berang. “Terlalu!”
“Apa?”
“Kau tahu kan dia sangat mencintaimu?” ungkap Lina diakhiri dengan isak pilu.
Raditya membisu. Dia sendiri limbung dan masih belum percaya dengan apa yang dilihat serta dialaminya. Bahkan hati kecilnya terus berontak berkata; ‘tidak mungkin’. Dia sangat berharap yang ditemuinya hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan berakhir ketika dia bangun esok hari.
__ADS_1