
Aku masih meratapi sunyi dalam ruang sempit kamarku. Melayang, pikiranku membayang pada seutas wajah yang kini telah berada dihadapanku. Yeaah, beberapa menit yang lalu aku berhasil menggoreskan pensilku membuat sketsa wajah seorang gadis yang sedang kudamba.
Cewek yang sederhana namun menawan. Anggun dan santun. “Hhh....” desahku lalu senyum-senyum sendiri memandangi lukisan sederhana lewat tarian penaku tadi.
“Kenapa harus dia?” bisikku. “Aneh!”
Seandainya saja yang di depanku saat ini bukan sekedar gambar. Aku pasti akan lebih senang lagi. Foto pun jadi lah.
“Rosda maukah kamu jadi pacarku, ehm....” aku coba cari kata lain yang lebih keren. Apa ya? “Rosda, kita jadian yuk!”
Ah, apa ya yang akan aku katakan untuk mengungkapkan perasaanku ini padanya. Atau langsung bilang I love U? Terlalu dini dan terlalu terus terang, aku tidak akan sanggup mengatakannya.
Aku lalu beralih ke cermin. Menatap diri sendiri. Lalu mencoba melatih kata-kata ajakan agar dia mau berteman denganku, berteman lebih dari sekedar teman, bla bla....
“Hahaha....” tanpa sadar aku sudah tertawa ngakak. “Dasar badut jelek!” makiku pada wajah yang memang tak bisa dibilang tampan. Mana mungkin Rosda mau jadi pacar seekor badut seram ini.
Tok tok tok. Terdengar suara pintu kamar diketuk, seiringi suara ibu yang memanggil namaku.
“Yovan, temanmu datang tuh!” panggil ibu.
“Ya, sebentar.” sahutku setengah berteriak. Siapa sih? Kalau teman cewek, mustahil. Aku tak begitu akrab dengan teman-teman cewek. Apalagi berkunjung di hari Minggu yang kelabu bagiku. Tak ada acara nge-date atau aktivitas lain. Paling cuma melukis dan menggambar saja kerjaanku, karena itu hobi sejak kecil. Tapi jujur aku tak ingin jadi seorang pelukis. Di tanggung miskin, maksudnya kalau karya tidak laku di pasaran, tidak akan menghasilkan uang kan? Mungkin aku terlalu materialistik. Tapi bagiku asal bisa menyenangkan diri, kenapa tidak? Jalani saja sewajarnya.
Tanpa cuci muka aku langsung melongok ke ruang tamu. Mungkin sisa air liur yang mengering di sudut bibir masih ada. Ah, biar saja.
“Oh, kamu Fik!” sapaku pada Taufik sobatku yang sudah duduk manis di ruang tamu.
“Baru bangun nih?”
“Nggak juga. Cuma malas saja keluar kamar.”
“Berarti hari ini belum ada rencana, kan?”
“Begitulah,”
“Temani aku ke rumah cewekku ya?” pinta Taufik.
“Weiits, cewek? Pacar maksudmu?” ucapku memastikan dengan menopangkan tangan ke dagu dengan tumpuan paha. “Tega, nggak cerita kalau sudah jadian sama seseorang. Kapan?”
“Belum lama. Tenang nanti aku traktir makan.”
“Bener nih?”
“Benar. Mandi dulu sana gih, terus kita cabut ke rumah Weni.”
“Namanya Weni.” ulangku. “Hei, memang aku sudah bilang aku bersedia menemani kamu ketemu dia. Mau kencan bertiga?”
__ADS_1
“Bukan, aku mau pakai kamu sebagai utusan.”
“Utusan?”
“Aku sedang bertengkar dengan Weni. Nah, hari ini aku mau minta maaf lagi ke dia.”
“Ya ampun, belum lama jadian sudah ribut. Lalu hubungannya dengan aku sebagai utusan apa?”
“Sudah satu minggu dia nggak mau ketemu aku. Di telpon nggak mau terima, sms nggak dibalas. Lagu banget pokoknya. Bagaimana bisa aku menjelaskan kesalahpahaman itu.”
“Pasti kesalahanmu besar banget, sampai dia nggak mau ketemu kamu dan maafin kamu.”
“Aku cuma... aduh gimana ceritanya ya?” Taufik menggosok bawah hidungnya, selanjutnya dia pun mulai menceritakan semua kasusnya dari A sampai Z.
**
Aku sudah berada di depan sebuah rumah yang besar dan bagus dengan pintu gerbang menghadang langkahku. Aku melongok ke dalam mengamati situasi. Aman! Fiuuh, aku bernafas lega. Tidak ada anjing penjaga. Mau tahu kenapa aku memastikannya? Pasalnya aku paling takut sama anjing.
Tanpa ragu lagi kupastikan langkahku membuka pintu gerbang dan masuk. Habis tidak ada belnya sih.
“Mau cari siapa Mas?”
“Yaaai!” teriakku kaget. Jantungku jadi deg-degan tidak karuan. Selepas tegang karena takut ada anjing ee... malah tiba-tiba disapa orang yang tiba-tiba muncul dari rimbunan tanaman.
“Eng, anu... Weni ada Pak?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.
Aku menggangguk dan mengikuti perintah si Bapak. Mata kulepas ke halaman rumah yang cukup luas dengan taman yang tertata apik. Wah, Taufik beruntung sekali ya, punya pacar kaya. Emm, mereka pasangan yang serasi, maksudku sama-sama kaya, jadi tidak akan ada masalah jika salah satu atau salah dua orangtua mereka masih mempermasalahkan tentang perbedaan derajat. Mereka ini seimbang.
“Hai!” sapa seseorang.
O lala... aku seperti tersambar petir. Sosok yang muncul di depanku. Sosok itu, sosok asli dari sketsa gambar yang tadi kubuat. Aku ternganga sekaligus terpana.
“Rosda?” sambutku dengan bibir sedikit bergetar.
“Kamu anak XI.A1, kan?” tanya dia membuatku sadar bahwa ini bukan khayalan atau impian. “Kalau tidak salah namamu Yovan?”
“Lho kok tahu?” komentarku. Sementara tubuhku rasanya panas dingin tidak karuan. “Apa Weni ada?” tanyaku dengan gugup.
Tak ada jawaban. Dia hanya tertawa. Dan aku semakin nervous. Otak dan akal warasku entah kemana.
“Weni itu aku.” ucap Rosda membuatku terbengong-bengong.
“Ooo... kamu saudara kembar Weni.” ucapku spontan. “Pantas mirip.”
Rosda masih tertawa. “Kamu lucu ya?” lontarnya. “Rosda itu ya aku.”
__ADS_1
“Rosda sama Weni kamu, lalu....” Ya Tuhan kenapa aku mendadak jadi bego begini.
“Namaku Rosda Mustikaweni. Di rumah aku biasa dipanggil Weni.”
“Ooo....” kini aku sudah mengerti, sangat mengerti bahkan sampai aku serasa tersengat arus listrik.
Tidak Mungkin! bantahku. Rosda itu Weni, Weni adalah pacar Taufik, berarti.... Ahh, aku patah hati! Tidak mungkin aku merebut pacar sobat sendiri.
“Yovan, ada apa?”
Aku menghela nafas tanda menyerah pasrah.
“Yovan!”
“Eh, iya ada apa?”
“Harusnya aku yang tanya kamu ada perlu apa?”
“Rosda, aku... eh, ini ada surat dari Taufik!” aku langsung menyodorkan surat titipan dari Taufik. “Dia sangat menyesal atas perbuatannya, sebenarnya bukan Taufik yang mengajak keluar. Tapi cewek itu memaksa Taufik.” dengan lancar aku menyampaikan amanat Taufik. Aku memprovokasi Weni atau Rosda ini agar mau memaafkan dia. Walau ini mungkin kesempatan bagus bagiku untuk menjatuhkannya. Tapi, ah, aku bukan tipe seorang pengkhianat.
“Mana dia? Dia hanya mengirim kamu dan surat ini. Pengecut!”
“Kamu mau ketemu dia?” tanyaku seraya bangkit. Tak ada jawaban dari Rosda, dia hanya menggigit bibir bawahnya sambil menatapku. Alamaaak... tatapannya. STOP! Fokus ke Taufik.
“Dia khawatir kamu akan menolak lagi makanya dia pakai aku untuk menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya.” aku lalu bangkit dari duduk meninggalkan Rosda yang masih termangu.
“Bagaimana?” tanya Taufik ketika aku menghampirinya di luar gerbang.
“Beres!” sambutku sambil mengacungkan jempol. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang beda saat menghadapi Taufik. Aku seakan sedang berhadapan dengan musuh yang harus dibinasakan.
“Thanks, Van!” katanya menepuk lenganku.
“Fik, selamat ya?”
“Yaah?”
“Selamat atas jadian kalian. Kamu sama Rosda eh, Weni. Dan selamat, karena sudah berdamai dengannya. Ingat jangan sakiti dia lagi!” tandasku membuat Taufik mengernyitkan kening. “Besok belum tentu aku mau membantumu lho, Fik!” kataku sebelum melangkah pergi.
“Tenang, nggak akan. Hei, kamu mau kemana? Kamu tidak ikut masuk lagi?” cegahnya.
“Makasih. Ntar ganggu lagi.” selorohku tersenyum kaku. “Good luck!”
Taufik mengangguk lalu masuk dengan langkah riang. Aku lalu berbalik melangkah dengan gontai. Pupus sudah harapan yang kuuntai pagi tadi. Kata-kata yang kurancang untuk penembakan lebur bersama keringat yang meleleh terpanggang matahari.
Aku meringis kepanasan. Aku coba menatap matahari, hhhh, terlalu silau, tak sanggup aku menantangnya. Seperti hatiku yang tak mampu merebut hati Rosda dari tangan Taufik, sobat terbaikku.
__ADS_1
“Hhah!” dengusku. “Weni pacar Taufik. Rosda yang kuimpi selama ini adalah Weni, pacar dari sobatku sendiri?”
Aku terus melangkah tak tentu arah, batinku pun masih berontak tak percaya.... Hhh, ternyata dia pacar sobatku!