
Prolog
Topeng semangat dan cerianya tersibak. Banyak yang mengira itu sandiwara untuk mencari perhatian dunia. Mungkin ada benarnya. Karena kita tidak tahu isi hati manusia.
**
Mentari pagi ini tersenyum riang sama seperti kemarin dan yang lalu. Wajahnya yang tak ber-make up meronakan bias-bias cemerlang. Tak lupa cericit ramai mewarnai udara.
“Selamat pagi, Mbak Ivan! Selamat pagi, Mbak Asti. Hai, met pagi Mas Yo!” sapa Tari pada seluruh penghuni kubah berisi resep dan obat. “Maaf terlambat lagi, hehe....”
“Kamu tuh, kapan nggak terlambat, Ri?” sergah Ivanka yang menunggu pergantian shift dengan Tari.
“Semalam habis lembur Mbak, maaf.”
“Lembur terus, hasil lemburnya bagi-bagi dong!” tanggap Mas Yo sambil menyodorkan absensi ke Tari.
“Siap, Mas Yo!”
“Makanya kerja jangan kemaruk. Masa semua apotek mau kamu kuasai.” Asti sang kasir ikutan ambil suara sambil menghitung jumlah total harga obat yang tertera pada resep.
“Demi sesuap nasi dan sebongkah berlian, Mbak,” sahut Tari tertawa ngakak.
“Ini siapkan obatnya.” Asti menyodorkan resep ke Tari setelah memanggil pasien agar membayar obatnya.
“Aku pulang dulu ya, sudah ditunggu anak.” Ivanka berpamitan.
“Hati-hati Mbak Ivan!” seru Tari. “Besok kalau jaga bareng aku traktir.”
Ivanka hanya tersenyum sambil mengacungkan ibu jari.
“Mas Yo tunggu, tolong pesankan mie ayam ya. Tiga.” seru Tari selepas Ivanka tertelan pintu sebelum Mas Yo mengikuti jejaknya.
“Sip!”
Tari kembali menekuri resep-resep coretan dokter yang mirip benang kusut. Untung para apoteker sudah mempelajari cara mengurai huruf stensil ala dokter. Kalau tidak bisa gawat limabelas. Salah kasih obat, pasien kena imbas, mereka bakalan kena teguran keras atau pecat.
**
Sepertinya dia terjebak cinta buta. Cinta yang menghilangkan realita. Sepertinya dia terperangkap cinta sejati maya. Cinta yang indah dalam angan semata.
Mentari selama ini tak sekali pun menghilang dari bumi. Setiap pagi dia akan menggeliat membangunkan mahluk bumi memberinya semangat untuk bekerja giat di bawah cahaya yang penuh berkah.
“Putus cinta tak berarti matahari berhenti bersinar kan, Mbak Ivan?” ucap Tari lesu.
“Betul!” sahut Ivanka asal bunyi. “Hah? Memangnya kamu putus cinta?” lanjut Ivanka menyadari maksud ungkapan Tari. “Memangnya kamu punya pacar?”
“Ah, Mbak Ivan.” Tari meringis. “Ternyata selama ini dia menganggapku hanya sebagai adik.”
“Dan kamu menganggap dia apa?”
“Lebih dari teman, lebih dari sekedar adik. Berharap bisa hidup bersamanya selamanya. Hhh...”
“Memangnya cowok di dunia cuma dia? Banyak kali, Tar! Aku yakin yang suka sama kamu juga banyak, kalau kamu mau membuka mata dan membuka hati. Kamu sama sekali tidak sadar ya kalau kamu itu cantik?”
“Masa sih, Mbak?” Tari tersipu-sipu.
“Sayangnya wajahmu tertutup oleh sesuatu.”
“Wah, berati jelek dong!”
“Maksudku, kamu itu tidak mau merawat diri. Berhias Tari sayang, biar aura wanitamu keluar.”
“Paschal tidak mempermasalahkan penampilanku.”
“Bagus itu. Tapi kenyataannya kamu putus sama dia.”
“Bukan karena itu, Mbak.” Tari tersenyum penuh misteri.
“Saranku mulai sekarang, rawat diri dan temukan cinta yang lain.”
“Siap!”
“Nah gitu. Move on! Jangan jalan ditempat!”
“Oke, harus move on!” Tari mengangkat kepalan tangannya ke udara.
Ivanka jadi senyum-senyum geli melihatnya. Anak ini mudah sekali berubah cuacanya.
**
__ADS_1
Uluran tangannya yang ringan seringkali disalahartikan bahkan dimanfaatkan. Bukannya jera dia semakin menebar bibit-bibit kebaikan.
Mentari siang ini bersaput mendung. Tak biasa mentari menyapa bumi dengan wajah kusut dan bias sinar yang tidak beraturan.
“Maaf terlambat.” ucap Tari lunglai sambil mengikat rambut ala kadarnya.
“Ada apa?” tanya Asti penasaran.
“Habis menunggu orangtua teman yang sakit.” sahut Tari langsung konsen pada pekerjaannya.
“Siapa?” selidik Asti.
“Ibunya Paschal.”
“Oh,” gumam Asti yang paham bahwa Paschal bukan teman biasa.
Paschal teman teristimewa Tari. Seorang teman dekat yang dibilang pacar bukan. Dibilang tidak pacaran mereka seperti berkomitmen. Entahlah, Asti kadang bingung dengan jalan pikiran Tari dan teman tapi mesranya itu. Apa tidak lelah berjalan tanpa status yang jelas.
“Dirawat di mana?”
“Rumah sakit ini juga. Nanti habis tugas aku mau ke ruangannya lagi. Kasihan Mbak, anaknya laki-laki semua. Beliau sama sekali tidak bisa bangun, kena stroke.”
“Tunggu, bukannya kamu bilang kalian sudah putus? Berarti kamu bukan siapa-siapa mereka?”
“Semoga kelak menjadi siapa-siapa mereka.” balas Tari tersenyum simpul berlalu mengambil obat yang berada di gudang.
Satu minggu kemudian. Tari datang ke apotek sambil berlari-lari.
“Sepertinya kamu salah jadwal lagi.” sapa Asti yang kebetulan jaga kasir.
Tari menggeleng cepat sambil mengatur nafas. “Hari ini aku off bukan? Mbak, tolong nanti kalau ada yang menebus obat atas nama Ibu Maria Juminah, tagihannya aku yang lunasi ya. Berapa pun nanti aku bayar.”
“Serius?” Asti melihat ke layar monitor lalu menatap lagi ke Tari.
“Iya,”
“Totalnya duapuluhan juta lebih lho, Tar?”
“Ah, sudah datang ya?” Tari segera mengintip melalui lubang kecil loket. “Bapak rupanya yang kemari.” gumam Tari setelah matanya berhasil mendeteksi seseorang yang duduk pada kursi antrian. “Pokoknya nanti bilang saja sudah dibayar. Aku pergi dulu Mbak, ambil uang.”
Asti dan Ivanka saling mengerling mengangkat bahu.
**
Jerihnya selama ini terbuang percuma. Lihat, apa yang dia dapat! Cinta masih jauh dari dekat. Uang pun menguar cepat tak meninggalkan sisa.
Cuaca hari ini begitu cerah. Tak tampak gelayut awan menutupi sinaran Sang Mentari. Yah, meski sebenarnya dia kini telah compang-camping tak lagi senang berbagi. Mungkin saatnya menanti balasan dari mereka.
“Tari, maaf. Tagihan untuk Bu Maria Juminah masih kurang lima juta lho. Itu mau dilunasi kapan?” tanya Asti saat mereka tengah istirahat makan siang.
“Iya Mba, nunggu gajian ya. Aku sudah habis-habisan, hehe...” Tari menyeringai malu. “Bu, catat lagi ya.” ucap Tari beranjak.
“Biar saya yang bayar, Bu.” kata Asti cepat.
“Wah, Mbak Asti tidak apa-apa nih?” Tari memastikan dengan mimik lucu.
“Iya, iya, sudah sana. Horor aku!” dorong Asti bergidik.
“Makasih Mbak Asti cantik!” Tari berjingkat dengan ringan.
Asti mendesah. Tari... Tari... Sampai kapan kamu akan begini. Menyerahkan segalanya demi lelaki yang menggantung cintanya.
“Aku bahagia Mbak, asal dia masih mau menerima uluran tanganku. Masih mau membalas sms atau BBM. Masih mau menerima teleponku.” ungkap Tari suatu ketika jauh sebelum ibu Paschal sakit.
“Jadi selama ini kamu dulu yang menghubungi dia?”
Tari mengangguk. “Dia itu orang yang pasif Mbak, jadi tak ada salahnya kan kalau aku yang aktif.”
“Kamu sama sekali tidak lelah?”
“Untuk orang yang aku sayangi...” Tari menggelang. “Terasa sangat menyenangkan.”
Asti kembali mendesah.
**
Akhirnya dia tumbang juga. Hatinya semakin koyak. Badannya pun turut berontak.
Mentari hari ini mendeklarasikan akan berhenti menyinari bumi. Apakah ini pertanda kiamat. Orang-orang gusar mencari kabar.
__ADS_1
Asti gelisah di depan teras. Tangannya tak lepas dari handphone yang dicengkeram semakin erat. Ivanka yang sedang bertugas menitipkan amanat padanya untuk segera melihat kondisi Tari.
“Mbak Asti!” seru Mas Yo yang datang tergopoh-gopoh. “Benaran berita itu?”
“Status BBM-nya sungguh mengerikan. Dia sudah berpamitan Mas, tolong antar aku ke kosnya.”
“Baik, Mbak.”
Mas Yo segera memacu motornya kencang. Di depan rumah kos Tari hampir saja dia bertabrakan dengan motor lain yang melaju tak kalah cepat. Asti sampai menjerit panik.
Lawan motor Mas Yo bermanuver hingga si pengendara jatuh bergulingan. Asti turun dari boncengan dengan gemetar mendekat si pengendara itu.
“Mas, tidak apa-apa?”
“Tidak,” sahutnya sambil bergegas masuk ke rumah kos Tari dengan terpincang-pincang. Ada luka yang merobek celana panjang sisi kanan. Sementara motornya dia biarkan tergeletak begitu saja.
“Mas Yo, tolong motornya.” tunjuk Asti pada motor yang terbaring nelangsa.
Asti segera mengejar pengendara tadi. Tepatnya dia ingin segera menuju kamar Tari.
Pria yang tadi jatuh bersama motornya sudah berada di depan kamar Tari dan menggedor-gedor pintunya. Asti turut berteriak kelu memanggil nama Tari.
“Kamu Paschal?” tanya Asti perlahan penasaran.
“Bukan.” sahutnya lagi-lagi singkat sambil terus menggedor pintu. “Ah,” desahnya lalu berlari masuk ke pintu lain. Pintu masuk rumah induk si empunya kos. Tak lama dia sudah keluar lagi dengan membawa segepok kunci.
Ada banyak kunci yang harus dia coba. Pria itu mencoba dengan kalut. Asti semakin khawatir karena tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam.
“Biar saya yang coba,” Mas Yo menawarkan diri karena hanya dia yang bisa berpikir tenang.
“Alhamdulillah,” ucap Mas Yo ketika anak kunci mau berputar.
Pria itu langsung menghambur masuk, membuat Mas Yo terdorong menampar tembok. Asti tak kalah heboh berderap ke dalam.
“Tari!” seru pria itu mengguncang tubuh Tari yang lunglai tak bergerak.
Asti mengecek nadi Tari. “Ambulance, Mas Yo!” serunya. “Tolong panggilkan ambulance!”
“Sudah saya panggil, Mbak.” ucap Mas Yo membuat Asti sedikit lega.
**
“Dia menelan obat tidur hampir satu botol. Untung dia terselamatkan.” kabar Asti berdiri di depan pria yang duduk menunggu depan ruang perawatan. Pria yang sejak awal begitu panik terhadap kondisi Tari sampai tidak sadar kakinya luka-luka. “Anda?”
“Syukurlah. Saya Candra.” pria itu mengulurkan tangannya. “Saya anak pemilik kos Mentari. Kebetulan Ayah-Ibu sedang keluar kota. Di rumah tidak ada orang, saya jadi sangat khawatir karenanya.”
Asti mengangguk-angguk.
“Dia sudah benar-benar dicampakkan oleh orang yang dia cintai. Laki-laki kurang ajar itu bulan depan akan menikah.”
“Apa?”
“Padahal kemarin dia menceritakan kabar itu sambil tertawa. Kenapa hari ini dia malah memilih untuk pergi dari kenyataan.”
“Anda....”
“Saya itu bayangan Mentari.”
“Maksudnya?”
“Selama Mentari sibuk mencintai pria tak punya hati dan tak tahu malu itu. Saya sabar mencintai Mentari dengan segenap jiwa raga. Bagi Mentari, pria tak bertanggungjawab itu adalah sumber hidupnya. Bagi Candra, Mentari adalah sumber cahaya yang sangat berharga.”
Asti meleleh mendengar penuturan Candra. Tapi mengapa Tari begitu buta untuk melihat betapa ada pria yang begitu mencintainya. Bukankah Mentari dan Candra pasangan serasi dan paling saling mengerti di angkasa.
“Ada hal prinsip yang membuat kami tak mungkin bersama, Mbak.” Asti teringat ucapan Tari selepas mereka putus. “Sesuatu yang tak bisa ditukar dengan cinta.”
**
Saat lelah biarkan Sang Candra yang menopang sang malam. Berikan saja bias senyum ceria, maka Candra akan tetap menjaga bumi dari gelap gulita.
Namanya Mentari Hudabiyah. Dan nama pria itu Paschalis Heronimus.
“Dia tidak sejahat itu, Mbak. Akulah yang tidak tahu diri. Sebenarnya mereka mau mengganti biaya rumah sakit yang telah aku bayar, tapi aku menolak. Ini keputusanku, Mbak. Aku akan berusaha mengikhlaskan Paschal.”
**
Epilog
Sejak awal aku sudah bilang tinggalkan dia dan datanglah padaku, si Candra yang selalu merindukan Mentari. Sayang, bujukanku serupa hiburan indah untuk dia tertawakan. Dan akhirnya semua perhatian yang aku berikan, hanya dia anggap sebagai perhatian kakak terhadap adiknya.
__ADS_1