House, Love, Song

House, Love, Song
Dua Jomblo Berburu Cinta


__ADS_3

Femme menggigit sendok yang dipegang selepas memasukkan bola bakso ke mulutnya. Ekspresi muka Femme tak lupa mirip orang idiot dengan air liur menetes memenuhi mangkok bakso.


“Kapan aku punya pacar ya? Seperti mereka itu.” Femme melepas sendok dari cengkeraman giginya setelah menyadari bahwa sendok itu keras, tidak seperti bakso yang kenyal.


“He-em, aku juga iri berat Fem.” tanggap Osa tak kalah mupeng seraya memilin-milin rambutnya lalu menciumi aroma rambut yang sudah satu minggu tidak dicuci. Hm... ah... sedap gimanah gituh....


“Pak, bakso satu mangkok lagi!” seru Femme lalu menghentakkan sendok-garpu pada posisi berdiri dan bersamaan di atas meja.  “Ini tidak bisa didiamkan!”


“Kamu mau menghapus tradisi pacaran, Fem?” Osa melotot tidak percaya. “Itu tidak mungkin, kan? Pacaran itu seperti virus yang tidak akan bisa dipunahkan begitu saja.”


“Aku tahu.” balas Femme sambil matanya melirik ke arah gerobak bakso yang mangkal di kantin sekolahnya. Tidak sabar menunggu pesanannya.


“Lalu?”


“Kita harus berusaha agar tertular virus itu. Kita harus membuat kekebalan tubuh kita lemah agar virus itu menyergap kita!”


“Betul juga.” sahut Osa berapi-api. “Tapi bagaimana caranya?” api yang menyala ditubuh Osa menjelma asap saja.


Bakso pesanan Femme datang. Dengan kalap Femme segera melahap tanpa sisa.


“Gluek...” terdengar sendawa Femme.


“Jorok, ih!” tegur Osa.


“Nah, mari kita berburu cinta!”


Osa melongo dengan ide Femme yang fantastis. Memangnya ini jaman pra sejarah, pakai berburu segala.


“Hihi...” Femme malah tertawa ngikik meniru tawa Mbak Kunti.


“Yee, ketawa dia. Kirain serius.”


“Sebenarnya aku lagi suka sama seseorang.” bisik Femme setelah celingak-celinguk mengawasi keadaan. Padahal saat itu kantin sedang lengang karena bukan waktu istirahat. Mereka makan di kantin sesudah pelajaran olah raga.


“Siapa?” tanggap Osa ikutan berbisik.


“Ehem, pokoknya aku akan berjuang merebut hatinya.” ucap Femme seperti pejuang 45 dengan mengepalkan tangannya ke udara. “Tunggulah, Ki!”


“Aki siapa? Kamu suka sama aki_kakek-kakek? Tidak salah?” berondong Osa.


“Oki Mahesa Putra.“ Femme menyebut sebuah nama seperti sedang membaca deklamasi.


Osa berpikir mencari sosok bernama itu. “Kok sama seperti nama adikku.” Osa membelalak. “Kiki?”


Femme mengangguk takut-takut kucing.


“Ya, ampun! Kamu naksir Kiki tengil?”


“Please!” Femme memohon dengan mengangkat dua tangannya membentuk V, salam dua jari.


Tawa Osa meledak. Femme jadi salah tingkah. Bagaimana pun yang namanya rasa suka tidak bisa diatur kan, dia selalu bermain sesuka hati menentukan pilihannya. Seperti sekarang ini dia harus menyukai Oki, adik Osa yang punya panggilan sayang di rumah Kiki.


“Baiklah.” wajah Osa mendadak berubah dingin.

__ADS_1


“Kamu tidak setuju-kah?” tanya Femme pelan dan sangat hati-hati.


“Karena kamu sudah mengaku, rasanya tidak adil kalau aku tidak mengatakan isi hatiku.”


“Kalau kamu tidak restu, aku tidak memaksa sih.” ucap Femme meremas jemarinya.


“Dengar dulu, Fem!” protes Osa. “Aku juga mau mengaku kalau aku juga sedang suka sama seseorang.”


“Oh ya.” tanggap Femme takjub. “Siapa?”


“Gugun.”


“Gugun teman adikmu-kah?” tebak Femme.


“Tahu nggak Fem, kalau dia datang ke rumah mencari Oki, jantungku rasanya mau copot. Deg-degan minta ampun.”


“Kiki tahu?” selidik Femme.


“Entah. Tapi sebaiknya jangan tahu dulu. Kiki tengil pasti mengacaukan cintaku. Dia bakal provokasi Gugun sampai muntah-muntah tidak doyan sama aku. Tuh, anak bawaannya sirik terus sama aku.”


“Hehe.... itulah cinta, kawan. Tidak pandang bulu, tidak pandang sumur.”


“Ngomong-ngomong sejak kapan kamu suka Kiki?”


“Waktu jadi pendamping MOS kelompok Kiki. Lucu banget adikmu itu, aku suka cowok seperti dia.”


“Sebenarnya dia itu anak yang menyebalkan suka mengganggu orang. Tapi kalau kamu suka ambil saja. Semoga kamu bisa mengendalikan keliarannya.”


“Apa ini berarti kamu merestui?”


“Yang benar dong, Sa.” rengek Femme.


“Bukan, cuma aku lagi mikir bagaimana kamu mau mendekati dia.”


“Tenang. Eh, tapi, Kiki sudah punya cewek belum?”


“Kayaknya sih belum. Yang kulihat dia mainnya bareng Gugun terus. Oh ya, butuh comblang?”


“Kamu? Mau jadi comblang aku?” Femme menatap Osa dengan tatapan tidak percaya. “Nggak, nggak. Makasih. Aku mau berjuang sendiri. Lagian kamu juga bakal sibuk berjuang untuk Gugun, kan?”


“Benar juga. Selamat berjuang, kawan!” mereka berdua melakukan toas kepalan tangan bersamaan dengan bel ganti pelajaran yang menjerit-jerit.


**


Dua bulan kemudian.


“Fem, sepertinya aku menyerah deh, sama Gugun.” lapor Osa lesu.


“Kenapa? Pesimis amat!” cemooh Femme. “Bukannya kalian tambah akrab?”


“Iya memang. Sepertinya dia hanya menganggapku sebagai kakak. Tidak lebih. Tahu nggak sih? Masa dia curhat macam-macam tentang cewek gebetannya. Sebel banget!”


“Malang sekali kamu, Sa.” Femme menepuk pundak Osa.

__ADS_1


“Parahnya dia malah minta trik buat meluluhkan hati cewek itu. Hiks... hiks... sedih nih.”


“Hhh... nampaknya aku juga harus mengibarkan bendera putih.” tutur Femme kemudian.


“Maksudmu apa?” Osa menahan nafas lalu menyemburkan bersama tiupan kata; “Oke, aku hargai solidaritas kamu Fem, tapi kamu harus tetap berjuang dan bahagia. Jangan pikirkan aku!”


“Setelah aku kenal Oki lebih jauh, akhirnya aku sadar Oki semakin tak terjangkau.”


“Masa kamu menyerah sama anak itu?”


“Kamu tahu, adikmu yang ganteng dan lucu itu punya banyak penggemar?” Femme menghela nafas. “Aku khawatir setelah jadian aku bakal terbakar api cemburu sampai menjadi abu. Dan maaf nih, aku langsung ilfil begitu tahu adikmu itu ternyata juga playboy.”


“Oki, playboy?” Osa mengepalkan tangannya. “Anak itu bisa ya, sok imut manja di rumah sama Yah-Bun. Ternyata buaya darat! Awas nanti!”


“Fiiuuuh!” keduanya menghembuskan nafas secara bersamaan.


“Apa ini berarti perburuan hati kita sudah usai?” ucap Osa lesu.


“Terus terang aku sudah tidak minat lagi sama adikmu. Maaf. Meski tak bisa kusangkal kalau berada di dekatnya masih terasa deg-degan.”


“Aku juga tidak mungkin mengkhianati kepercayaan Gugun, Fem.” sambung Osa. “Dia begitu polos menganggapku sebagai seorang yang bisa membantu masalah cintanya. Dan aku lelah terus berpura-pura mendukung cintanya itu.”


Suasana hening. Keduanya bersusah payah menyantap burger yang tersaji di depan mereka. Padahal burger adalah makanan favorit mereka berdua, lho.


Tiba-tiba Femme tertawa keras. Sangat keras malah, sampai seisi kafe menatap ke arah keduanya.


“Hush, jangan keras-keras! Dilihatin tuh!” bisik Osa mencoba meredam tawa Femme yang diluar kontrol. “Jangan gila dong!”


“Lucu sekali kita ini, Sa.” tanggap Femme masih tertawa tidak peduli sekitar.


“Lucu apanya?”


“Bayangkan saja, Sa! Kita sama-sama suka sama cowok yang lebih muda pada waktu bersamaan, aksi pe-de-ka-te bareng, malah sempat duet kencan. Terus ketika sudah dekat dengan target, akhirnya kita menyerah di waktu yang bersamaan pula. Lucu, kan? Kok bisa ya? Kamu tidak latah ikut-ikutan aku, kan?” cerocos Femme memegangi perutnya yang terasa kaku karena tertawa terus.


“Kebetulan yang indah.”


“Sekarang siap untuk perburuan baru?” mata Femme berbinar.


“Tidak ada tema lain yah?” semprot Osa.


“Apa dong?”


“Yeah, karena jalan kita masih panjang kenapa kita harus pusing soal cinta dan cowok. Aku rasa banyak hal indah yang bisa kita raih di luar cinta.”


“Sok tua kau!” runtuk Femme.


“Setelah dipikir-pikir, bukankah jadi jomblo tidak merana amat. Bukankah kita masih bisa tertawa meski tanpa pacar?”


“Betul juga. Mari kita jadi jomblo yang bahagia.” sambut Femme sambil menjentikkan jari.


“Dan yang penting kita punya sahabat setia.” Osa merangkul pundak Femme.


Keduanya lalu tertawa. Bertoas dengan minuman jus stroberi dan mulai mereka-reka langkah esok. Tentunya berjalan dengan lebih banyak cinta. Cinta pada orangtua, sahabat,  teman, cinta pada semua mahluk hidup di dunia. Berjalan dengan lebih banyak cita demi masa depan yang cemerlang.

__ADS_1


Hip hip huray... mari kita merayakan hari jomblo sedunia. Warning! Yang bukan jomblo dilarang masuk!


__ADS_2