House, Love, Song

House, Love, Song
Cinta Buta


__ADS_3

“Loni minggat kemana ya? Udah Maghrib belum nongol juga.” cetus Wiwik yang nongkrong di kamar Tuti. “Kalau ketahuan ibu kos bisa gawat.”


“Beberapa hari ini kelihatannya dia banyak berubah. Ada apa?” tanggap Tuti masih pada aktivitas menyalin catatan.


“Sepertinya sih dia lagi jatuh cinta.”


“Jatuh cinta?” Tuti melongo menatap Wiwik. “Haha......tidak salah dengar nih?”


“Hush! Apaan sih, ketawa gitu.”


“Sori, cuma.......kamu tahu kan Loni itu cewek gimana? Tomboi abis.”


“Yee, setomboi-tomboinya Loni tetap aja, basic dia cewek.”


“Iya ya. Eh, dia jatuh cinta sama siapa?” selidik Tuti lebih lanjut.


“Tau! Dia belum cerita sama aku.”


BRAAAK!


“Suara apa tuh!” ucap Wiwik kaget.


“Dari kamarmu.”


Keduanya bergegas keluar dan mendapati Loni sedang memegangi jidatnya.


“Kenapa Lon?” sapa Wiwik.


“Aku kira cuma gordennya yang tertutup, ternyata pintunya juga tertutup.” Loni meringis mengelus jidatnya. “Pintu itu keras ya?”


"Dasar! Makanya kalau jalan liat-liat!” semprot Tuti.


“Ya, ampun kenapa wajahmu? Bukan karena nabrak pintu barusan, kan?” ucap Wiwik memastikan, ketika melihat muka Loni ada biru luka memar. Selain di jidatnya.


“Bukan.” sahut Loni singkat sambil masuk ke kamar yang tadi dia tabrak pintunya.


“Kamu habis jatuh?” Wiwik menguntit Loni hingga ke kamar.


“Tidak.”


“Lalu?”


Loni menyeringai, “Sssst, tadi aku habis dipukuli orang.” ucap Loni setengah berbisik.


“Apa salahmu? Apa kamu mencuri? Apa kamu jadi korban salah pukul? Apa....”


“Wow, sabar Neng. Nyerocos terus kayak kereta api.”


“Nih, air hangat buat ngompres memarmu!” Tuti tiba-tiba muncul di kamar Loni.


“Hah! Makasih, kak Tuti.” sambut Loni.


“Ada apa sebenarnya?” Tuti ikutan mengintrogasi. “Ibu kos dah tahu kondisi mukamu belum?”


“Hihi, belum. Tadi aku menyelinap masuk. Hasilnya, jidatku malah menyundul pintu.”


“Kamu berkelahi sama siapa?” tandas Tuti penasaran.


“Sama berandalan gang Mangga.”


“Gila apa!” lonjak Tuti. “Jangan main-main. Lon!”

__ADS_1


“Mereka yang mulai duluan,” dalih Loni.


“Ada masalah apa dengan mereka?” tanya Wiwik.


“Mau mulai dari mana nih ceritanya? Mulai dari aku bangun tidur, mandi trus sarapan, berangkat sekolah, atau.......”


“Dari kenapa kamu sampai berkelahi saja.” putus Tuti. “To the point aja, nggak usah pakai muter-muter. Bisa pusing aku dengar ceritamu.”


“Baiklah, aku akan memulai kisahku.” Loni tampak serius, dia duduk dilantai dengan bersandar ke dipan kayu. “Terus terang aku sedang kasmaran sama seseorang nih.” Loni menatap Tuti dan Wiwik secara bergantian. Tak ada reaksi dari keduanya.


“Sa.....”


“Nah, benar kan Ti. Loni sedang jatuh cinta.” tiba-tiba Wiwik angkat bicara.


“Apa sih? Telat banget reaksinya. Tadi pas aku kasih waktu buat komentar diam saja, giliran aku mau cerita aja, kamu putus.” protes Loni.


“Sori, Lon.”


“Lanjut Lon!” komando Tuti.


“Aku.....”


“Siapa cowok itu?” Tuti kemudian ikutan memutus kata-kata Loni.


“Ihh, kalian ini! Aku mau ngomong nih, masa dipotong terus. Lagian motong perkataan orang kan dosa.” protes Loni.


“Sori Lon, kami penasaran.” dalih Tuti.


“Makanya dengerin dulu.”


Wiwik dan Tuti manggut-manggut.


“Cowok yang aku taksir itu, Iqbal.” tutur Loni.


“Tapi Iqbal yang mana ya?” Wiwik balik bertanya.


“Itu loh, anak II.4.” tunjuk Tuti.


“Kak Tuti aja tahu, masa kamu nggak tahu, Wik?” ucap Loni.


“Yaa, Kak Tuti kan anak kelas dua, harus tahu dong. Buat aku nggak wajib buat paham anak kelas dua. Yang satu angkatan kelas satu aja aku nggak hafal, apalagi kelas atas.”


“Aku benar-benar tergila-gila sama dia. Senyumnya Maaak, nggak kuat!” kata Loni tak peduli sama ocehan kawan-kawannya. “Kalian tahu kan, aku sama sekali nggak punya modal buat ngedekatin dia. Wajah berantakan, duit pas-pasan malah kadang ngutang sama kamu ya Wik, terus kecerdasan standar. Ulangan matematik selalu dapat delapan keanginan, sampai bolong satu sisinya. Tapi hasratku untuk memiliki dirinya amatlah besar. Makanya aku sedang berupaya buat menarik perhatian dia dengan cara yang sedang ku selidiki agar mempan nanti. But hiks.......aku malah nemu temuan dia dah punya cewek. Diana hiks hiks…..”


"Diana itu ceweknya?” tanya Tuti disambut anggukan kepala Loni.


“Diana anak 1.7 itu?” Wiwik memastikan.


“Iya, siapa lagi.”


“Kalau begitu sainganmu berat, Lon.”


“Begitulah.”


“Lalu apa yang mukulin kamu orang suruhan Diana yang merasa terusik sama kamu?”


“Bukan.” sanggah Loni.“Aku baru tahu kalau Diana itu ceweknya tadi.”


“Trus trus?” Wiwik tampak antuasias.


“Tadi aku nguntit Iqbal. Dan, gara-gara nguntit itu aku tahu kalau ternyata Diana adalah pacar Iqbal. Mereka janjian diperempatan gardu selatan. Setelah tahu begitu, aku yang cemburu langsung jalan mendahului mereka. Nggak tahan lagi, ngelihat dua orang yang sedang pacaran jalan di depan mata kita. Apalagi cowoknya gebetan kita. Aku takut jiwa membunuhku kambuh. Sampai di Gang Mangga mereka masing ngikutin aku. Nah, di sinilah puncaknya.” Loni diam sejenak untuk menghela nafas.

__ADS_1


“Yaa.....?”


“Ada anak-anak kampung yang duduk dipinggiran jembatan. Aku sih lolos sensor. Mereka nggak peduli aku lewat di depan mereka. Giliran Diana dan Iqbal lewat....”


“Mereka kena palak?” potong Wiwik.


“Mereka menggoda Diana yang cantik.”


“Lalu?”


“Ketika mereka memojokkan Iqbal yang berniat melindungi Diana, aku jadi nggak tega dia dikeroyok sedirian. Aku balik dan menolong mereka.” lanjut Loni. “Hasilnya bisa lihat sendiri kan?” Loni meringis.


“Diana dan Iqbal bagaimana?”


“Mereka aman. Cuma aku yang parah.”


“Kau juga yang cari masalah.” tuding Tuti. “Kalau kamu nggak ikut campur kamu pasti aman.”


“Tapi…..”


Tiba-tiba Wiwik tepuk tangan.


“Ada apa?”


“Aku salut kamu mau berkorban sedemikian buat orang yang kamu suka, meski kamu tahu dia punya cewek lain.”


“Aku?”


“Kamu berhati besar, Lon.” Wiwik memberi semangat ke Loni.


“Sebenarnya, bukan apa-apa. Yang aku kesalkan justru Iqbal, setelah aku membantunya dan babak belur, dia malah marah-marah sama aku.”


“Lho kok?”


“Iya, pasalnya anak-anak kampung itu orang suruhan Iqbal.” terang Loni membuat dua sobat kosnya itu melongo.


“Maksudnya?”


“Iqbal ingin nunjukin ke Diana kalau dia itu seorang cowok yang bertanggungjawab dan berani. Bisa melawan berandalan yang mengganggu ceweknya. Biar terlihat hebat sebagai pahlawan gitu….. aku malah datang mengacaukannya.”


Tuti tertawa.


“Ya ampun, ada ya orang yang ingin jadi sok jagoan.” komentar Wiwik. “Sabar Lon, cowok macam dia nggak pantes untuk kamu sukai. Kamu harus cari yang lebih jantan dan jujur.”


“Baguslah kalau begitu,” kata Tuti. “Lagian kamu kurang kerjaan banget sih ngikutin mereka berdua.”


“Pokoknya sekali Iqbal tetap Iqbal!” pekik Loni tiba-tiba dengan berapi-api. Pokoknya bertolak belakang dengan harapan Wiwik dan Tuti yang antipati sama cowok yang sok jagoan.


“Apa?”


“Iya, aku belum menyerah lho! Aku akan berusaha mendapatkan hati Iqbal.”


“Diana?”


“Mereka masih pacaran kan, belum nikah?”


“Kau gila ya?” semprot Tuti.


“Lalu dengan luka memarmu karena dia?” tembak Wiwik.


“Ini dia nih, serunya. Menantang! Iqbal.....love U muah, muah.....” Loni menyandarkan kepalanya ke dipan selepas tangannya mengembang menyampaikan salam muah-muah dari mulutnya. Sementara Wiwik dan Tuti saling berpandangan lalu memandang Loni dengan ekspresi melongo heran.

__ADS_1


Benar-benar gila ni anak! Udah dapat bogem plus omelan, nggak langsung nyerah malah merasa tertantang. Parah nih! Apa kekuatan cinta sebegitu besarnya? Wiwik garuk-garuk kepala.


Tuti menatap Loni dengan iba.


__ADS_2