
Sudah bertahun-tahun lalu. Namun rasanya baru kemarin aku duduk di sini menantikan kemunculan dia. Depan teras Lab Fisika yang sekarang beralih fungsi jadi Perpustakaan. Sebuah teras yang menghadap lapangan rumput hijau berseberangan dengan ruangan kelas yang berderet mengelilingi lapangan nan segar itu.
Sayang penantianku selalu terganggu mahluk-mahluk tengil teman ekstra bela diri Padjadjaran.
“Hoi, bengong aja! Kemasukan jin kampret loh.” tegur Dodo langsung duduk menjejeri aku.
“Yah, merusak pasaran nih.” balasku.
“Hah, belum laku juga ya. Kasihan…”
“Aku ini harganya mahal. Jadi nggak sembarang orang bakal mengambilnya.”
“Haha….” Dodo tertawa. “Dari sisi mana kamu mahal?” Dodo semakin terpingkal-pingkal.
“Kalian disini rupanya.” Teguh datang bersama dengan Margi dan dua anak baru lainnya. Kami akhirnya bercakap-cakap bersenda sambil menunggu pelatih datang.
Fiuh, kalau begini kesempatanku untuk melihat dia jadi terhambat. Anak-anak PMR sepertinya sudah ramai di depan kelas tempat biasa mereka menerima materi ekskul PMR. Dia belum tampak.
__ADS_1
Oh ya, dari tadi aku bicara tentang dia-dia terus tanpa penjelasan. Baiklah akan kuceritakan jati dirinya secara setengah mendalam, hmm, setahuku saja. Pada dasarnya aku tak tahu tentang dia. Yang kutahu dia anak kelas III IPS, kelas IPS apa aku juga belum tahu. Yang jelas dia sangat menarik hatiku. Mukanya mirip-mirip Jimmy Lin (bintang film pada masa itu) dan aku penggemar beratnya.
Pertama kali aku melihatnya saat ulangan tengah semester. Tradisi disekolahku jika ulangan tempat duduk diberseling dengan kelas lain, kelas yang setingkat lebih tinggi atau lebih rendah. Misal kelas satu dengan kelas tiga, kelas kelas dua bisa dengan kelas tiga atau kelas satu. Saat itu kebetulan aku dengan anak kelas tiga IPS, tapi aku tidak tahu pasti dengan kelas tiga IPS berapa.
Sinar wajahnya tiba-tiba saja menyorotku, menyilaukan mataku dan membuat jantungku mendadak berhenti sedetik. Dia asyik membaca buku sambil sesekali berbicara dengan temannya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa auranya telah menusukku hingga aku jatuh bersimbah asmara.
Selama ulangan mataku tak mau lepas memakunya yang duduk disebelah kanan depanku. Biasanya leherku sehabis ulangan jadi sakit tak bisa menengok ke kiri. Tapi aku bahagia, kuanggap sebagai sengsara yang membawa nikmat.
Aku mulai menyusuri koridor ruang kelas X yang dulu merupakan deretan kelas tiga. Pintu kelas terkunci, tak seperti dulu aku bisa bebas keluar masuk kelas saat ekstra sore hari. Demi mengetahui dimana dia bercokol saat menerima pelajaran, aku datang awal saat ekskul lalu berlagak seperti detektif masuk ke ruangan IPS mencari tahu dari daftar absensi. Ternyata tidak mudah menemukan nama Nanda, karena memang tidak ada yang memiliki nama depan Nanda untuk cowok. Ada Nanda Seila Kusuma, atau Ratna Nanda Putri. Apa aku salah dengar? Hanya ada satu kemungkinan tentang namanya, sebuah nama yang menggelitik hatiku, mungkinkah ini namanya ‘Lananda Pelucida’ nama yang unik bisa dipakai untuk laki-laki dan perempuan. Dan bisa jadi Lananda dipanggil Nanda. Entah kenapa aku yakin itu dia namanya.
Untuk lebih memastikan setiap pagi dan siang pulang sekolah aku sengaja lewat deretan ruang kelas tiga. Harap-harap cemas bisa menemukan sosoknya berada di depan kelasnya. Terasa canggung melakukannya, karena biasanya aku lebih suka menerobos potong kompas melewati lapangan rumput untuk menuju kelasku. Beruntung aku punya teman yang punya misi sama ngecengin anak kelas tiga meski dia tidak tahu maksud tujuanku. Setidaknya sepulang sekolah ada teman saat harus menyusuri kerumunan anak-anak yang salah satunya bisa jadi dia.
Senyum kecil menghias mulutku.
Sekali lagi aku melihat seisi ruang. Banyak perubahan yang terjadi. Dulu papan yang tersaji hanya papan tulis hitam. Sekarang, papan hitam itu telah bermetamorfosis menjadi putih dengan layar LCD berdiri angkuh disisi kirinya.
Tentu saja, SMA ku sekarang, SMA Negeri Banyumas sedang berproses menjadi sekolah bertaraf internasional (RSBI). Sistem pembelajaran sudah lebih canggih menggunakan laptop yang disorot ke layar LCD dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris.
__ADS_1
Puas mengenangnya dalam ruang kelas, aku beranjak keluar menyelinap diantara dua gedung kelas menuju belakang sekolah yang merupakan kebun sekolah. Dulu dijalan setapak ini aku pernah berpapasan dengannya saat dia selesai jam olah raga dan aku yang akan mulai jam olah raga. Cahaya wajahnya lagi-lagi menusuk jantungku. Melelehkan ragaku. Kami begitu dekat selintas jalan.
Kini tanah yang kupijak telah berpaving. Belakang bangunan kelas tiga dan dua bukan lagi kebun pisang dan WC. Bangunan-bangunan megah berdiri berjejer dengan menyandang nama Laboratorium, dari sisi kiri di mulai dengan ruang music, lab IPS, lab biologi, lab kimia, terakhir lab fisika. Namun lapangan rumput belakang sekolah masih tetap ada.
Aku kembali ke lapangan tengah sekolah, duduk menghadap lapangan berseberangan dengan perpustakaan tempat pertama kakiku memijak dan mengenang banyak tentang dia. Mendadak hiruk-pikuk disertai lengkingan bunyi peluit mengisi sunyi lapangan di depanku. Aneka perlombaan dan pertandingan mewarnai pemandangan mataku.
Dia berdiri disisi lapangan bola voli bertepuk tangan manakala timnya berhasil mencetak angka. Sepertinya dia tidak jago dalam hal olah raga. Satu hal kekurangan fisiknya, menurutku dia tidak terlalu tinggi. Mungkin hampir sama denganku 160 cm. Untuk ukuran cowok bukankah dia termasuk mini. tapi entah kenapa aku begitu memendam rasa yang tak terkatakan. Mungkinkah ini cinta, atau hanya kesilapan mataku saja?
Aku terus memperhatikannya, melihat setiap gerak-geriknya tanpa berkedip hingga perih terasa mataku. Sejujurnya aku ingin sekali menyapanya dengan berbagai trik yang selalu dicontohkan oleh film atau novel untuk bisa bercakap dengannya. Sayang, aku tak akan sanggup melakukannya.
Mungkin benar aku tampak seperti jagoan. Walau sejatinya nyaliku sangat kecil. Di sekolah ini pun aku yang dulu waktu SMP menjadi juara bukan apa-apa disini. Nilai-nilaiku hancur, peringkatnya melonjak hingga 10 besar terakhir. Dan lagi, wajahku gaya dan penampilanku tidak ada sisi perempuan sama sekali. Mana ada yang mau sama aku? Ah, aku semakin menciut tak berani menyapanya.
Aku hanya jadi penguntitnya setiap saat. Aku bahkan pernah merasa cemburu manakala sepulang sekolah dia bersenda berdua dengan teman perempuannya. Dia begitu perhatian padanya, bahkan berusaha melindungi gadis itu saat ada kendaraan yang hendak menyerempetnya. Seandainya aku gadis itu… alangkah bahagianya.
Akhirnya hingga dia lulus aku hanya bisa memendam rasa. Menyukainya secara diam-diam menyimpan album fotonya dalam ruang hatiku. Hanya bisa mengenangnya, berharap bisa bertemu dalam kesempatan lain dan kami bisa saling mengenal.
Hhh…. aku mendesah seraya berlalu dari tontonan layar hidupku dulu. Indah, apalagi kenangan bersama teman-teman Padjadjaran ikut pula menyemarakkan memori yang tersimpan. Ada rindu terselip diantaranya.
__ADS_1
Langkah ringanku menuntunku kembali menyusuri bekas kelasnya. Aneh, aku bisa merasakan hadirnya disekitarku. Aku terhenyak. Seutas wajah yang sama memandangku dengan penuh tanda tanya. Dan sinar itu, cahaya wajah itu menusuk hingga jantungku berhenti sedetik kembali.