
Sungguhkah ini cinta?
Jika bukan kenapa aku masih saja bertahan
Terbenam dalam kisah cinta yang menyakitkan
Cinta yang telah mengoyak hatiku
Cinta yang telah melumuri tubuhku dengan aroma anyir kematian
Ah,
Mungkin aku hanya terlalu mendramatisir….
**
“Aku ingin kita berpisah.” ucapku dengan terbata seusai isak yang tersisa.
Tak ada tanggapan. Tanpa memandangku dia lalu pergi begitu saja mengambil kontak dan berlari dengan motornya.
Aku terduduk lemas lalu bersandar pada gagang kursi lain.
“Ma,” suara kecil itu menggugahku tuk segera berganti muka ceria. Meski sungguh aku terkejut menatap sosok mungil yang berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
“Sania, ada apa?” tanyaku dalam perasaan was-was, jangan-jangan Sania mendengar pertengkaran aku dengan Mas Danu tadi.
“Pipis,” ucapnya lirih sambil mengucek mata.
“Oh, ayuk, sini!” aku menuntunnya ke kamar kecil dan mengantarnya ke kamar tidur kembali.
“Bobo lagi ya, Sayang.” bisikku seraya mencium keningnya.
“Ma,” panggil Sania sebelum sempat kuberanjak dari ranjangnya. “Ayah nakal ya, Ma?” ucapnya setengah mengerang lalu tanpa menunggu tanggapanku dia sudah memejamkan matanya.
Aku tergugu menatap wajah polos yang telah lelap dalam tidurnya. Lama aku memandangnya. Ah, dia ini mirip sekali dengan Mas Danu yang dulu begitu menawanku.
**
Pangeranku telah datang.
Yeah, pangeran yang telah berjanji akan menikahi aku.
Aku cukup terkejut dengan kehadiran seorang pria yang selama ini selalu berdiri di depan pintu kampus. Matanya selalu menatapku seolah ingin menerkam dan menusuk-nusuk jantungku. Bahkan kadang membuatku jadi takut.
Kini dia berdiri tepat di ambang pintu rumahku dengan seuntai senyum manis, sebuah senyuman yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Bisa ketemu dengan Fitri?” tanyanya lembut.
“Iya, saya sendiri,” sahutku dengan kening berkerut tanda bingung.
Aku membiarkan dia dan temannya masuk. Siapa sangka kalau kedatangannya itu hanya untuk menjual sepatu boot. Ah, ternyata! Satu hal yang membuatku heran, dari mana dia tahu aku butuh sepatu boot untuk aku pakai jika praktikum ke kandang ternak.
Tawar menawar pun terjadi namun tidak menemukan harga sepakat. Dia tetap bertahan dengan harganya, aku pun tidak mau menambah daya tawarku. Dia pun pulang dengan membawa sepatunya kembali.
__ADS_1
Dua hari kemudian mereka datang lagi untuk menjual sepatu yang sama. Dia bilang sedang benar-benar butuh uang untuk bayar kuliah. Dia pun melepaskan sepatu itu dengan harga yang kutawarkan dulu.
Sejak saat itu dia, yang ternyata bernama Danu jadi sering main ke rumah tak pernah ketinggalan bodiguard Ari yang selalu setia mendampingi. Ortuku yang selalu overprotect pada anak-anak perempuannya langsung mengintrogasi tentang dua pria yang selalu datang mengunjungiku.
Mereka tak pernah hilang akal untuk mencari alasan demi bisa menemui aku. Dari alasan pinjam catetan, kerja kelompok, pinjem sepatu, sampai mengambil helm yang sengaja ditinggalkan dan segudang alasan lain yang terkadang terlalu mengada-ada.
Tiga bulan kemudian Mas Danu memintaku untuk jadi pacarnya. Tepat pada saat hari ulang tahunnya di malam tahun baru yang sangat mengesankan. Terus terang aku bingung menjawab apa. Aku tidak mengiyakan namun tidak pula menolaknya. Sepertinya itu bukan masalah baginya, bahkan setelah penembakan itu Mas Danu jadi berani datang sendiri di malam Minggu.
Setelah aku selesai kuliah, Mas Danu pun segera datang melamarku. Senang sekali, meski aku harus mengecewakan orangtuaku yang telah menyiapkan jodoh untukku. Pria yang dijodohkan denganku adalah seorang pria mapan bekerja di BKN sedangkan Mas Danu, dia belum memiliki pekerjaan tetap, meski dia tekun melakukan bisnis serabutan, hatiku menetapkan memilih Mas Danu yang pendiam dan simpatik sebagai pendamping hidupku kelak.
Selanjutnya hari baru sebagai Nyonya Danu berjalan begitu menyenangkan meski aku tidak bekerja lagi. Mas Danu melarangku untuk bekerja. Aku turuti saja, aku nikmati hari-hariku sebagai ibu rumah tangga yang baik, meski menurut Mas Danu selalu saja ada yang kurang dari pengabdianku itu. Ku pikir aku harus belajar lagi untuk membahagiakan suami.
**
Istana yang ku sangka bertahta mutiara kasih
Ternyata hanya berhias daun-daun kering yang terlupakan
Gersang sekali…
”Seharian ini kau kemana saja, hah! Jam segini masakan belum matang!” Mas Danu yang pulang dari ngobyek pekerjaan berang manakala di meja makan belum ditemukan makanan.
Aku hanya diam menatap mata malaikat yang memandangiku dari dalam gendonganku. Sementara panci yang berada di atas kompor mulai bergolak, seakan ikut mewarnai kemurkaan Mas Danu. Tiba-tiba tanpa aku duga Mas Danu menuangkan air ke dalam penggorengan yang sedang ku panaskan juga. Seketika itu aku langsung memeluk melindungi Sania mematikan api yang telah berhasil membuat air dalam minyak berloncatan keluar.
“Wanita tak tahu diuntung!” teriak Mas Danu melangkah keluar meninggalkan tangis Sania yang menggema.
Bukannya aku malas, tapi si kecil Sania yang baru berumur 6 bulan sama sekali tidak bisa ditinggal. Memasak sambil menggendong juga bukannya tanpa resiko. Tapi ku paksakan, dengan konsekuensi makan siang buat Mas Danu jadi telat. Sementara untuk menyewa jasa pengasuh kami jelas belum sanggup. Penghasilan Mas Danu dari pekerjaan serabutannya, hanya cukup untuk makan sehari-hari kadang malah kurang dan berhutang ke warung.
“Cup sayang, sayang…” aku berusaha menenangkan tangis Sania meski sebenarnya aku sendiri pun ingin menangis. Sayang air mataku sama sekali tak bisa keluar. Ini bukan yang pertama kali Mas Danu marah-marah. Aku bahkan pernah ditamparnya hanya gara-gara aku menyapa tetangga baru sebelah rumah. Seorang duda tanpa anak yang baru saja ditinggal istri menghadap Sang Pencipta.
“Mbak tolong, mbak!” kataku cemas.
“Ada apa?” sambutnya dengan roman muka bingung. “Danu lagi?”
“Mbak boleh saya hutang sayur sama lauk, Mbak?” pintaku tanpa basa-basi, tanpa menjawab pertanyaan Mbak Rie.
Mbak Rie mengernyit, “Boleh, gak usah diganti.” katanya langsung masuk ke dalam. “Masuklah!”
“Makasih,” sahutku masih berdiri di ambang pintu berusaha menenangkan Sania.
Tak berapa lama kemudian Mbak Rie sudah keluar lagi dengan membawa dua buah mangkuk kecil.
“Sania sayang, kenapa Fit?”
“Maaf saya nitip Sania, Mbak.” pintaku lagi. “Saya mau kasihkan ini dulu ke Mas Danu.” ucapku seraya menyerahkan Sania pada Mbak Rie yang sudah sigap meletakkan mangkuk di meja ruang tamu siap menerima Sania.
“Tanganmu kenapa?” Mbak Rie memeriksa tanganku yang penuh dengan bercak memerah karena terkena percikan minyak dan air yang bertarung.
“Sebentar saya kembali. Nanti, sayurnya saya ganti.” tepisku segera berlalu.
“Gak usah, Fit!” seru Mbak Rie yang tak begitu kuhiraukan. Yang ada dalam pikiranku, segera menghidangkan makan siang untuk Mas Danu-ku.
**
__ADS_1
Kehadirannya membawa suka sekaligus duka bagiku
Apakah ada orangtua yang tidak menginginkan anaknya tersenyum di dunia?
Berkali-kali aku melongok ke jendela. Tak sabar rasanya ingin melihat wajah suami tercinta pulang untuk mengabarkan dua berita besar hari ini. Keajaiban. Dua keajaiban untuk kehidupan rumah tanggaku dengan Mas Danu yang baru berjalan tiga bulan.
Aku menatap dua amplop yang tergolek di meja. Senyum terbias seketika.
“Ah, Mas Danu lama nian,” desahku mulai resah.
Aku pun menyalakan TV lagi, mengganti-ganti chanel mencari acara yang bagus. Sia-sia tak kutemukan acara yang menarik perhatianku, isinya cuma sinetron aneh, gosip memuakkan dan berita yang membuat hati miris. Jadilah aku nonton iklan dari satu iklan ke iklan lain, ah, menonton iklan jadi pengin beli barang-barang yang ditawarkan. Aku menghadap TV dengan pikiran menerawang jauh.
Mas Danu belum pulang juga. Aku mulai menguap, jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Di sisa nyala mataku yang semakin meredup terdengar suara deru motor memasuki halaman depan. Seketika kantukku hilang. Aku segera meloncat dari sofa ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga menghambur ke pintu dengan hati lebih berbunga.
“Selamat datang suamiku!” sambutku di ambang pintu disertai senyum lebar.
Dan seperti biasa yang kutemui sikap dingin Mas Danu yang dulu sampai sekarang tetap mempesonaku.
“Ada apa, kok senyum-senyum gitu?”
Aku menuntun Mas Danu sampai duduk di sofa.
“Fitri, pijit ya? Mas Danu pasti capek.”
“Gak usah!” sergahnya segera bangkit. “Ngantuk nih, aku mau langsung tidur dulu.”
“Mas!” panggilku tak menghentikan langkahnya menuju kamar.
Aku hanya menghela nafas. Aku tak berani menggugat keputusan Mas Danu. Mungkin hari ini Mas Danu benar-benar capek dan ingin segera tidur.
Baiklah, masih ada hari esok. Kabar tentang kehamilan dan panggilan atas lamaran pekerjaan yang dulu kukirim masih bisa menunggu sampai besok pagi.
Tapi siapa sangka, kabar yang bagiku begitu menakjubkan justru membuat Mas Danu tidak senang pada keesokan paginya.
“Oh,” desahnya. “Aku belum punya penghasilan yang banyak, kenapa kau malah hamil duluan? Dan pekerjaan itu, jangan kau tanggapi.” kata Mas Danu ketus kemudian berlalu tanpa mencium keningku.
**
Aku mengelus perutku yang mulai membesar. Senyum tersungging dibibirku yang berhari-hari lalu sungguh kaku. Pemandangan indah di depanlah yang membuatku menguntai tawa yang nyaris terlupa. Dalam hati aku terus memuji Tuhan yang telah mengembalikan Mas Danu padaku.
Sania berlarian riang sambil mengejar Mas Danu yang menggodanya. Indah sekali. Sebelumnya selama 5 tahun usia Sania, tak pernah sekali pun Mas Danu bercengkerama dengan Sania. Bahkan Sania terkesan takut dengan sosok Mas Danu yang begitu dingin. Saat ini, mereka benar-benar seperti ayah dan anak yang sesungguhnya.
Tak kusangka permintaan ceraiku dulu telah membuka mata Mas Danu bahwa kami, aku dan Sania begitu berharga untuk dilepaskan. Aku ingat betul bagaimana Mas Danu memohon sambil berlutut setelah kepergiannya selama 2 hari tanpa kabar.
“Fitri, aku sungguh membutuhkanmu. Aku sangat mencintaimu, tapi sungguh aku tak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan semua itu. Tolong, kita jangan bercerai…” diam, Mas Danu tercekat. “A_aku…. tolong bimbing aku agar aku bisa mencintaimu seperti caramu mencintai aku, Fit,” ibanya membuatku tak sanggup berpaling. Aku hanya mengangguk pelan terkungkung amuk perasaan campur aduk. Cinta, benci, sebentuk trauma dan pengharapan bahwa Mas Danu kelak tidak akan menyakiti aku dan Sania lagi jika telah termaafkan.
Aku harap aku tidak sedang bermimpi
Karena mimpi ini terlalu indah
Jika pun aku hanya bermimpi
Aku berharap aku tak bangun untuk bertemu dengan kenyataan
__ADS_1
Karena sungguh ku telah lelah.
Semoga Mas Danu mencintai aku dan anak-anak dengan tanpa menyakiti lagi…