House, Love, Song

House, Love, Song
Sepanjang Jalan Kenangan


__ADS_3

Tangannya masih setia menggamitku. Tak ada lagi debar. Tak ada senyum sipu malu. Hanya ada kenyamanan dan ketenangan karena dia masih bersedia menggenggam jemariku yang semakin keriput. Bersedia menopang tubuh yang tak lagi sekokoh dulu.


Seperti biasa kami menyusuri jalan yang sama. Di mulai dari gang jalan masuk ke rumah kami, keluar menuju hiruk pikuk jalan raya sempit. Menelusur aneka pertokoan yang menjamur sambil sesekali melihat isi tong sampah mereka.


Cukup menakjubkan karena dengan menjenguk tong sampah aku jadi tahu kebiasaan orang atau apa pun yang baru saja mereka makan. Mungkin terdengar tidak sopan, tapi bertahun-tahun kami melakukan ini saat berjalan berdua menyusuri jejak kemarin dan kemarinnya lagi.


Ketika mulai meniti jembatan, kami berdua mendesah. Tak ada lagi arus bebas yang berkejaran dengan riaknya. Tak ada pohon bambu yang menari-nari di sepanjang tepiannya. Air kini seolah enggan mengalir tertimpa beban berton sampah. Deretan pagar alam bambu berubah jadi tumpukan batu-bata yang mulai kusam. Ini sangat mengerikan!


Tak sanggup kami berlama-lama berdiri di atasnya. Aroma segar yang dulu menebar penuh romantika berubah menjadi bau busuk seperti tubuh tua kami yang layu. Ya, kami hanya mendesah, saling tatap sedih dan melanjutkan perjalanan. Berharap yang muda turun tangan mengatasinya.


Satu dua pohon yang kami temui mulai malu memanjangkan bayangan. Tak ada lagi tempat kami berlindung dari beringasnya sang mentari. Jika dulu kami bisa berjalan santai menikmati payung pepohonan, menikmati kesejukan. Kini kami ingin segera berlalu dari jalan ini karena khawatir panas akan mengeringkan tubuh kami hingga layaknya ikan asin.


Peluh menderas seiring tenggorokan yang kerontang. Berkali-kali aku menelan ludah.


“Minum dulu,” tawar suamiku yang membawa air minum. “Nanti kita istirahat di tempat biasa.”


Aku mengangguk sambil meneguk air dari bekas botol minuman mineral. Sebuah sapu tangan aku keluarkan untuk menghisap keringat yang berhasil memerihkan mata. Tak lupa aku pun menyeka keringat yang berkeliaran didahinya yang sibuk memasukkan botol minum ke dalam tas.


“Ayo,” ajaknya meraih tanganku.


Tiba di perempatan jalan kami menunggu hingga lampu berubah hijau. Merunduk-runduk kami menyeberang dengan was-was. Motor-motor sekarang bukankah ganas-ganas. Kadang mereka membutakan diri dengan rambu lalu lintas. Akhirnya kami yang tua-tua jua yang terlindas.


Aku senang setelah menyeberang, kami bisa berjalan di trotoar. Berharap tidak ada motor nyasar. Seminggu lalu, tetanggaku tahu-tahu sudah ada di rumah sakit. Seorang anak muda menyerempetnya padahal dia sudah berjalan di tepi jalan. Ah, entahlah. Anak muda itu berkilah dia sudah membunyikan klakson agar si kakek minggir. Minggir kemana lagi?


Adzan Dhuhur berkumandang tepat saat kami melewati sebuah rumah mewah mirip istana. Kurang lebih sepuluh meter dari situ mushola kecil telah menanti kami dengan keasriannya. Pohon-pohon masih setia mengitari. Beruntung pohon-pohon itu tidak kena razia petugas pangkas. Mungkin letaknya yang tidak berada persis dekat jalan raya menjadi alasan.

__ADS_1


Selepas sholat kami memilih duduk di bawah pohon menghadap jalan raya. Menikmati nasi bungkus dari daun pisang bekas pembungkus tempe. Ya, daun pisang sudah tidak ada di sekitar rumah, pakai kertas minyak sayang duitnya bisa buat beli beras. Meski demikian ini selalu menjadi makan siang ternikmat bagi kami. Bisa saling bercerita dalam sepiring berdua.


Suamiku paling senang duduk di sini. Matanya tak letih memandang lalu-lalang kendaraan.


“Lihat, sudah berapa puluh motor lewat? Dan berapa angkot yang lewat?” kata suamiku setiap harinya.


Aku menanggapi dengan gumaman tidak jelas. Ikut mengamati jalan raya.


“Jumlah angkot semakin berkurang. Penumpang juga semakin jarang. Pantas banyak usaha angkot yang gulung tikar. Para sopir angkot menderita lapar.”


“Motor semakin banyak ya, Pak?” komentarku.


Rasanya aku paham apa yang dia keluhkan. Suamiku mantan sopir angkot yang tersingkir oleh keadaan itu.


“Sepeda motor sedang menjadi raja.” gumamnya.


Tanpa berkata apa pun, dia sudah berdiri dengan susah payah. Tangannya langsung sigap menjadi tumpuan bagiku untuk berdiri. Terseok-seok kami meneruskan perjalanan.


Limabelas menit kemudian kami tiba di sebuah taman yang teduh dengan aneka mainan anak. Seperti biasa setelah berkeliling mencari botol atau gelas bekas minum, kami duduk dibawah pohon dengan hamparan rumput yang kekuningan.


Beda dengan suamiku, aku paling suka duduk di taman. Banyak anak-anak kecil bermain di dalamnya. Melihat tawa lucunya, gerak kaki mungilnya, lambaian tangan sucinya. Ah, aku selalu merindukan mereka.


“Maaf, suamiku. Aku tak bisa memberimu anak.” akhirnya kata itu keluar dari mulutku. “Hidup kita jadi hitam-putih saja.”


“Kamu ini bicara apa? Kita tetap bahagia bukan dengan tanpa hadirnya mereka.” ucap suamiku yang kadang melegakan, namun terkadang menghampakan.

__ADS_1


“Setidaknya kita sudah berusaha,” desahku menghibur diri.


“Bukankah kamu punya kenangan indah dengan Lia? Bukankah sejak bayi kamu mengasuhnya? Dia itu anakmu, Bu.”


Aku jadi tersenyum teringat Lia. Orangtuanya mempercayakan pengasuhan Lia padaku karena mereka sibuk bekerja. Bayi mungil itu kini telah menjelma gadis dewasa. Jika suamiku kehilangan angkotnya, aku jelas kehilangan Lia.


“Dia anak baik. Dia masih mengingatmu sebagai ibu asuhnya. Kamu harus mensyukurinya.”


“Iya,” kataku pelan menggantung. Tetap saja aku merasa belum menjadi wanita yang sempurna tanpa melahirkan anak.


“Justru aku yang minta maaf karena tak bisa membuat hidupmu nyaman dan indah. Aku tidak bisa memberi kelayakan hidup untukmu. Semua serba kekurangan.”


Aku terkejut dengan penuturan suamiku. Sama sekali aku tak pernah memikirkannya.


“Hidupku indah karena ada Bapak.” ucapku spontan. Mungkin pipiku sudah merona saat mengucapkan itu.


Kali ini kami merasa seperti anak remaja yang sedang dilanda demam cinta pertama. Kami berdua tersenyum-senyum malu.


“Hidupku pun sudah cukup berwarna meski kita tak memiliki anak, Bu.” sambut suamiku sambil menggenggam tanganku.


Aku mendesah lega. Mungkin ini hal yang terbaik bagi kita. Setidaknya kami dapat menikmati tiap detik romansa hingga hari senja.


“Ayo, kita pulang. Jangan sampai kita kemalaman karena terlena suasana.”


Kami pun beranjak menyongsong sinar sore yang masih menyilaukan. Melewati jalan saat kami datang. Tak peduli tatapan hina dan kasihan. Kami melangkah beriringan dengan memanggul jerih seharian.

__ADS_1


Mungkin penampilan kami seperti pengemis. Tapi jiwa kami bukan pengemis. Selagi ada daya kami akan berusaha mencari sesuap nasi dari sampah-sampah yang terbuang. Cukuplah untuk perut kenyang seharian. Cukuplah agar jalan yang kami lintasi tak ada sampah berserakan.


Tangannya masih setia menggamitku. Memapahku menyusuri jalan-jalan kenangan bersama asam manis kehidupan.


__ADS_2