House, Love, Song

House, Love, Song
Kepercayaan = Mahal


__ADS_3

Felisa menurut saja ketika tangannya ditarik dan diseret oleh Twini ke perpustakaan. Rasa penasaran Felisa dibiarkan berkumandang ditelinga Twini tanpa satu katapun keluar dari mulut Twini.


“Twin, apa maksud dari penculikan ini?” tanya Felisa sekali lagi sambil menatap Twini yang duduk tepat di depannya, sibuk dengan buku yang tadi sempat dicomotnya. “Hhh, jadi aku cuma disuruh duduk dan melihat kamu baca buku? Aku balik ke kelas, Twin.” Felisa langsung bangkit dari duduknya.


“Aduh, sori. Ternyata buku yang asal kuambil ini bagus juga. Makanya jadi penasaran. Sudah, ini bisa aku tunda kok! Duduk lagi kenapa?” Twini menyuruh Felisa. “Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Serius!”


“Apa? Seberapa penting?”


“Tentang kamu.”


“Aku?”


“Iya, aku dengar kabar tidak sedap ini dari Yoli. Sebenarnya dia nggak yakin sama berita itu, makanya dia ingin aku menanyakan tentang berita burung itu padamu.”


“Berita burung apa?” Felisa tampak gusar. “Siapa yang nyebarin, Yoli? Kenapa dia tidak menemui aku langsung, pakai utusan segala. Huh!” muka Felisa memerah menahan marah.


Memang sejak insiden buku tugas kimia hubungan keduanya tidak akur lagi. Padahal ketiganya sahabat karib sejak SMP, yeeah masalahnya sih, gara-gara Yoli. Dia anaknya memang ceroboh, suatu kali dia pinjam buku tugas kimia buat dicontek di rumah. Tapi paginya Yoli malah lupa bawa buku tugas Felisa. Otomatis Felisa kena setrap karena nggak bawa buku tugas yang hari itu memang harus dikumpulkan. Meski Yoli sudah minta maaf dan menjelaskan duduk perkara yang sesungguhnya pada Pak Romli, Felisa tampaknya belum bisa menerima ulah Yoli itu.


“Kamu masih marah sama Yoli?”


“Tidak. Sudah jangan mengalihkan pembicaraan, berita apa yang kamu maksud itu, Twin. Aku nggak ngerti,”


“Ini soal kamu dengan Anda.” terang Twini.


“Oh soal itu. Kamu percaya dengan perkataan mereka?”


Twini menghela nafas, lalu tersenyum tipis, “Antara ya dan tidak.”


“Kamu meragukan aku?” Felisa menggelengkan kepala, “Kamu ini sahabatku bukan sih?”


“Karena itulah aku menemuimu untuk menanyakan langsung padamu. Aku baru percaya kalau ada sangkalan yang keluar dari mulutmu sendiri.”


“Tidak, Twin. Berita itu sama sekali tidak benar. Aku dan Anda hanya berteman. Seperti aku dan kamu, juga Yoli. Tidak mungkin aku pacaran sama pacar teman sendiri. Aku masih waras, Twin.”


“Kabar yang kudengar kamu sering main ke rumahnya, begitu pula sebaliknya. Apa benar?”


“Kamu dengar itu dari Yoli?” tuding Felisa. “Kamu percaya dengan kata-katanya yang tidak masuk akal, sementara kamu tahu dia sama sekali tak bisa dipercaya?”


“Jangan menyalahkan orang lain atas perbuatanmu yang tidak jelas itu.” Twini jadi panas juga mendengar Felisa yang selalu menyudutkan Yoli.


“Hah!”


“Felisa, kami sayang kamu, karenanya kami tak mau kamu terjerumus dalam kesalahan dan perbuatan tidak adil dengan merebut sesuatu yang bukan jadi hakmu.” suasana hening sejenak, “Kalau kamu sudah bilang tidak, kami sudah bisa percaya. Tapi belum tentu dengan orang lain.”

__ADS_1


“Jika benar kamu percaya, kenapa matamu menyiratkan kalau kamu masih terhasut berita bohong itu!” mata Felisa berkaca-kaca.


“Fel, tolong, jagalah jarak dengan Anda kalau memang kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kamu tahu, Mila tampaknya begitu terpukul dengan berita itu, malah dia sempat tidak masuk sekolah karenanya.”


“Aku tahu Twin.” sahut Felisa mengelap air matanya.


Satu minggu berlalu. Felisa belum berubah, dia kini malah seolah menghindar dari Yoli dan Twini. Sementara gosip tentang perebutan Anda dari Mila oleh Felisa kian santer menggema. Dan tampaknya Felisa acuh dengan gosip itu.


Diam-diam Felisa dan Anda sering melakukan kencan. Tentu hubungan Anda dengan Mila pun terhembus sudah bubar. Mendengar itu Yoli dan Twini semakin gelisah, gelisah memikirkan sikap Felisa yang mendadak berubah angkuh dan egois.


Apalagi ketika suatu ketika Yoli dan Twini memergoki Anda sedang berduaan dengan Felisa di sebuah kafe. Jelas Twini super gondok, dia merasa dibohongi mentah-mentah. Dulu dia bilang nggak ada hubungan apa-apa diantara mereka, kenapa sekarang mereka terlihat akrab, berduaan lagi!


“Bagus sekali ya?” puji Twni melabrak meja Felisa dan Anda. “Pintar sekali kamu bicara dan bersandiwara, pakai acara nangis segala.”


“Twini...., Yoli....kalian?” Felisa tampak terkejut.


“Kenapa, kaget?”


“Heh, kalian mau apa! Jangan ganggu Felisa!” Anda berdiri menghalau kedua sahabat Felisa.


“Heh! Kamu jangan ikut campur! Dasar manusia bermuka dua.” maki Yoli sengit.


“Apa maksudmu?”


“Mempermainkan?” Anda tersenyum sinis. “Menggelikan.”


“Teman-teman aku rasa kalian sudah salah paham.” Felisa mencoba meredam suasana yang mulai memanas.


“Sudah ketahuan kencan diam-diam begini masih bisa bilang salah paham? Fel, buka matamu. Dia itu.....dia pacar Mila.”


“Kami sama sekali tidak pacaran.” terang Felisa.


“Felisa benar. Kalian jangan asal tuduh dong!” timpal Anda.


“Diam!” bentak Yoli mendorong Anda hingga terduduk.


“Kasar sekali. Yang begini ini sahabatmu, Fel. Para preman ini?” tuding Anda.


“Kamu.....”


“Yol!” cegah Felisa ketika melihat Yoli bersiap hendak menampar Anda. “Kalau kalian mau duduk dulu mungkin aku akan cerita.” Felisa menatap Anda. “Anda apa boleh?”


“Apa mereka bisa dipercaya, tidak akan bilang siapa-siapa?” dengus Anda.

__ADS_1


“Kamu tak perlu menyangsikan kami. Soal simpan-menyimpan rahasia kami berani jamin tidak akan bocor.”


“Kami ini gudang penyimpanan rahasia yang aman.” tambah Yoli. “Ada apa sebenarnya?”


Felisa tersenyum, dia tahu pasti sifat kedua rekannya itu. “Mereka bisa dikunci kok mulutnya.” Felisa meyakinkan Anda.


“Kalau begitu biar aku yang cerita.” tawar Anda. Dia pun lalu mulai mengisahkan kejadian yang sesungguhnya. Bahwa memang tidak ada hubungan apa-apa antara dia dengan Felisa. Hanya teman curhat saja. Yaa, selama Anda punya masalah dengan Mila, Anda merasa Felisa adalah penasehat terbaiknya. Nasihat-nasihat Felisa selalu mampu meringankan beban pikiran yang kalut dan buntu.


Sebuah kekalutan atas perbuatan salah yang fatal. Mila hamil akibat dari model pacaran mereka yang kelewatan. Meskipun akhirnya Mila keguguran, tetap saja hal itu mencemaskan Anda.


Twini dan Yoli merinding mendengar penuturan Anda. Ada rasa bersalah menyelimuti relung mereka karena telah berburuk sangka pada Felisa yang mulia. Entahlah.


“Keguguran itu musibah juga berkah bagiku dan Mila. Walau sedih harus kehilangan bayi, di sisi lain aku bersyukur karena masih bisa meneruskan sekolah, demikian juga dengan Mila. Tak seorang pun tahu. Kecuali keluargaku dan keluarga Mila, Felisa termasuk kalian. Aku harap kalian bisa benar-benar menyimpan aib ini.”


Twini dan Yoli mengangguk dengan wajah penuh penyesalan dan turut berduka cita.


“Maaf.” ucap Yoli kemudian.


“Aku juga minta maaf, aku pikir......”


“Sudahlah. Soal gosip yang beredar biarkan saja. Itu tidak lebih memalukan dari kisah yang sebenarnya.” potong Anda.


“Fel, maafkan kami ya?” ungkap Yoli menjabat tangan Felisa lalu memeluknya.


“Maaf ya?” Twini menggengam erat tangan Felisa.


“Sori, sepertinya aku harus pergi!” pamit Anda tiba-tiba.


“Eh....”


“Kenapa?”


“Aku pikir kalian perlu bicara lebih dalam tanpa aku.”


“Tidak apa-apa, duduklah!” tanggap Yoli. “Santai sajalah.”


“Gara-gara aku kan kalian jadi terpecah, karena itu kini saatnya aku kembali menyambungkan tali persahabatan kalian. Maafkan aku ya? Dan....Fel, salut!”


“Yah?” Felisa mengernyitkan kening.


“Kamu punya teman-teman hebat dan peduli padamu.”


“Tentu, mereka adalah hidupku.” sahut Felisa.

__ADS_1


Anda meninggalkan tiga sahabat yang mulai bertangis-tangisan dalam bahagia. Mereka bertiga menyadari satu hal bahwa dalam persahabatan yang diperlukan adalah saling percaya dan komunikasi yang baik, jika ingin hubungan pertemanan tetap langgeng. Jika itu tidak ada, selamanya akan ada rasa saling curiga yang berbuah dendam. Teman bisa berubah jadi musuh bebuyutan.


__ADS_2