House, Love, Song

House, Love, Song
Cinderela Lost Her Smile


__ADS_3

Gadis lugu itu tidak menyadari bahwa jodoh yang ayah-ibu angkat sodorkan untuknya akan menjungkir balikkan hidupnya. Dia hanya seorang kembang desa yang molek. Kembang desa yang tidak menamatkan pendidikan SMP. Kembang desa dengan kerumunan kumbang yang berusaha mengambil madunya. Sayang si kembang tak berdaya ketika palu takdir telah diketok oleh ayah-ibu angkatnya.


Jumirah, nama gadis lugu itu. Semenjak orangtuanya meninggal Jumirah kecil memilih tinggal bersama kerabat jauh. Sebenarnya dia bisa saja tinggal dengan ibu tiri. Tapi Jumirah kecil yang pernah mendengar cerita-cerita kelam tentang kekejaman ibu tiri menjadi ketakutan. Dia khawatir nasibnya akan seperti kisah anak tiri dalam cerita itu. Menjadi bulan-bulanan tangan baja si ibu tiri.


Jumirah si anak tunggal hanya berharap bisa hidup lebih baik setelah ikut dengan Pak Dhe Narto yang hanya punya seorang putra juga. Sejak awal Pak Dhe Narto memang selalu menunjukkan rasa sayang padanya. Hal itu lah yang membuat Jumirah merasa aman dan nyaman bersama Pak Dhe Narto.


Impian hidup yang lebih baik pasca orangtuanya meninggal tergilas kenyataan yang ada. Ibarat lepas dari mulut harimau masuk mulut singa. Maksud hati ingin lepas dari kekejaman ibu tiri yang belum terbukti, malah masuk perangkap manis Pak Dhe Narto yang memelihara singa. Istri Pak Dhe Narto tidak suka dengan kehadiran Jumirah, sehingga dengan semena-mena dia menjamu Jumirah layaknya pembantu.


Sebagai laki-laki dan kepala keluarga ternyata Pak Dhe Narto tidak berkutik jika berhadapan dengan istrinya. Dia membiarkan istrinya memperbudak Jumirah.


“Maaf ya Jum, tapi kamu harus sabar.” kata Pak Dhe Narto suatu ketika saat istrinya sedang tidak ada di rumah. “Apa kamu mau ikut ibu tirimu saja?” tawar Pak Dhe Narto.


“Ndak Pak Dhe, saya di sini saja. Saya tidak yakin bisa hidup dengannya, saya lebih takut tinggal bersama dia.” sahut Jumirah. Walau Bu Dhe Narto super galak, tapi setidaknya masih ada Pak Dhe Narto dan Bagyo yang diam-diam memberinya semangat untuk bertahan dan bersabar.


“Baiklah kalau begitu. Yang jelas, kamu harus menurut saja apa kata Bu Dhe-mu, ya?”


“Nggih, Pak Dhe.”


Jumirah segera beranjak dari hadapan Pak Dhe Narto karena sang istri telah datang sambil berkacak pinggang.


“Jadi kalau tidak ada aku kamu duduk-duduk santai, ya?”

__ADS_1


“Sudahlah. Aku tadi yang mengajaknya bicara.”


“Bapak terlalu kasih hati ke dia. Dia pikir dia siapa, bukannya dia cuma menumpang di sini?”


“Aku ke sawah dulu, Bu.” Pak Dhe Narto paling tidak suka ribut-ribut. Jika istrinya mulai berorasi dia memilih menyingkir keluar dari pada panjang urusan.


Tanpa dia tahu setelah kepergiaannya Jumirah menjadi sasaran omelan dan caci maki. Jumirah hanya diam meski dadanya perlahan memercik setitik bunga api.


Setiap pagi Jumirah harus bangun paling awal untuk memasak sarapan keluarga Pak Dhe Narto. Setelah semua sarapan, dia baru sarapan jika sempat, kemudian berangkat ke sekolah. Tak heran jika Jumirah selalu datang terlambat ke sekolah.


Pulang sekolah tak ada kata bermain bagi Jumirah, sebab sepulang sekolah dia harus mencuci baju kemudian membersihkan rumah dan menjelang sore dia harus memasak lagi untuk makan malam. Bukannya berterimakasih atas jerihnya, Jumirah masih saja mendapat banyak omelan dari istri Pak Dhe Narto yang menganggap pekerjaan Jumirah tidak benar, tidak sesuai keinginannya.


Nyaris tak ada waktu untuk duduk bersantai atau bahkan belajar. Malam hari terkadang Jumirah juga masih bekerja menyetrika baju-baju yang siangnya dia cuci. Hari-hari yang melelahkan membuat Jumirah selalu tertidur sebelum sempat membaca buku pelajaran. Tak heran jika nilai Jumirah selalu menempati rangking terakhir. Hal itu jelas memicu kemarahan istri Pak Dhe Narto yang selalu membanding-bandingkan dengan anaknya Bagyo yang mendapat peringkat pertama. Dalam hati Jumirah cuma berkata seandainya dia punya waktu untuk belajar tentu dia bisa mengungguli si Bagyo itu.


“Kamu itu bodoh! Sebaiknya tidak usah sekolah saja dari pada menghabiskan biaya percuma.”


Jumirah diam, di sudut matanya sebutir mutiara bening menanti saat jatuhnya. Jumirah berusaha keras menahan mutiara berharga itu agar tidak terburai percuma. Percikan bunga api di dadanya bertambah satu lagi.


“Tenang saja Jum, nanti kamu bisa belajar sama aku.” kata Bagyo yang menyusul masuk dapur pura-pura mengambil minum.


“Makasih, Mas Bagyo.”

__ADS_1


Jumirah terus tumbuh menjadi gadis yang cekatan dalam urusan rumah. Wajahnya yang tak pernah kenal bedak tampak ayu berhias alis tebal yang terbentuk rapi alami. Bagyo yang semula hanya menganggapnya sebagai adik, lama-lama tumbuh bintik-bintik merah jambu dalam hatinya.


Bagyo sering terpana setiap melihat kelebat Jumirah. Hasrat jiwa mudanya menyeruak, menumbuhkan gairah petualangan terhadap wanita. Sama halnya dengan Jumirah yang mulai merasakan ada getaran aneh yang menyergap dia kala bertemu pandang dengan Bagyo. Keduanya saling memaling canggung bergerak tanpa kendali otak. Melakukan gerakan-gerakan dan alasan yang tidak masuk akal.


“Ehm, aku sedang mencari tikus.” kata Bagyo langsung beringsut mundur sambil mengendap-endap.


“Oh,” Jumirah hanya melongo melihat ulah Bagyo. Tapi begitu Bagyo menghilang dari pandangan Jumirah segera memegang dadanya, menahan sekuat tenaga agar jantungnya tidak jatuh ke dalam tungku.


Sang ibu rupanya menyadari akan hal itu, dan langsung menyerang Jumirah agar tidak genit pada anaknya Bagyo. “Kamu itu tidak pantas bicara lama-lama dengan anakku. Jangan coba menggoda Bagyo. Ingat itu!”


Jumirah sendiri bingung mengapa dia yang harus menjaga jarak dengan Bagyo. Bukankah Bagyo yang selalu mencari dia, selalu menyuruh-nyuruh seperti ibunya yang memanggil dan menyuruh tanpa melihat situasi dan kondisi.


Pernah suatu kali Jumirah sedang menggoreng tempe, lalu tiba-tiba dipanggil Bu Dhe Narto untuk menggosok punggungnya pakai minyak kayu putih. Jumirah tidak berani membantah dan berdalih. Akibatnya tempe yang sedang dia goreng gosong tidak bisa dimakan. Bu Dhe jelas murka.


“Dasar Bodoh! Kenapa goreng tempe kamu tinggal kemana-mana!”


“Maaf, Bu Dhe.”


“Goreng lagi untuk kami. Kamu makan tempe gosong itu!”


Jumirah menghela nafas. Bergegas pergi ke warung membeli tempe dan menggoreng lagi.

__ADS_1


Bagyo memang lihai dalam hal akting. Jika ada ibunya dia akan bersikap acuh tak acuh, ketus, dan kadang marah-marah tidak jelas. Bila sudah bersikap seperti ini Jumirah benar-benar kesal dan ingin menyambal saja si Bagyo itu. Namun kerlingan nakal Bagyo, segera dapat meluruhkan bara di hati Jumirah.


Esok harinya jika ada kesempatan, ketika ibu sedang ada urusan keluar, Bagyo akan meminta maaf dan segera membantu pekerjaan rumah Jumirah. Begitu seterusnya membuat Jumirah panas dingin kena demam cinta pertama.


__ADS_2