House, Love, Song

House, Love, Song
Cinta Siti Nurbaya 1


__ADS_3

“Aku bersedia menikah denganmu, tapi kamu jangan mengharap hatiku.” kata-katanya masih terngiang dibenakku. “Aku menerimamu karena tak ingin terjebak dosa durhaka pada orangtua.” lanjut Eva.


“Iya, aku mengerti. Bagaimana pun aku juga tidak bisa menolak permintaan Ayahmu.” sahutku kala itu.


Tentu saja posisiku berada dibawahnya dalam segala hal. Dia seorang bidan mapan berstatus PNS. Pendidikan strata satu. Dari segi umur dia juga menang dua tahun di atasku.


Lalu lihat aku! Status masih honorer. Pendidikan D3, sedang merangkak menyelesaikan pendidikan S1 Guru SD. Yang paling kentara jelas dari segi gaji. Selain dari gaji tetap bulanan dia juga membuka praktek di rumah. Lalu aku? Gajiku bahkan tidak ada setengah dari gajinya.


Sungguh awalnya aku ragu-ragu menerima permintaan ayahnya yang Kepala Sekolah di tempat aku mengajar. Kalau saja aku tidak berhutang budi pada beliau karena sudi menerimaku bekerja di sekolahnya? Entahlah, saat ini sangat sulit untuk masuk mengabdi menjadi guru honorer. Mungkin karena lulusan pendidikan sekolah dasar semakin menjamur di segala musim ini. Kalau tidak ada koneksi, akan sangat susah menembus meski hanya masuk sebagai tenaga honorer. Seperti tes CPNS saja, seleksi ketat. Bahkan aku pernah dengar tanpa koneksi, tanpa uang sangat susah lulus tes CPNS.


Yah, siapa sangka Bapak Kepala Sekolah yang aku hormati berbalik minta tolong padaku. Sempat bingung pertolongan macam apa yang akan dia mintakan pada seorang Ilham yang tidak punya apa-apa ini. Setelah berdehem beberapa kali dan mengatakan bahwa aku orang baik yang pantas dia lamar untuk putrinya, aku membeku.


Bukan karena aku tidak bersedia karena telah memiliki seseorang. Bukan juga karena takut kalau putri beliau tidak masuk kriteriaku. Yang membuatku kaku adalah, pantaskah aku? Terus terang selama aku belum mapan dan menyelesaikan kuliah S1, aku tidak akan menikah dulu. Belum berniat mencari pendamping dulu.


Tapi permintaan Bapak Kepala Sekolah itu. Ah, galau. Apalagi beliau bilang jika aku setuju tahun ini kami harus segera menikah. Sebenarnya aku tidak masalah dengan cara seperti itu, sayangnya aku harus berapologi belum siap secara materi.


“Putriku akan semakin menjadi perawan tua kalau kamu menundanya. Oh, baiklah. Besok Minggu datang saja ke rumahku. Sudah sepantasnya kamu melihat calon istrimu bukan? Jika kamu memang tidak suka, saya tidak memaksa.”


Mendengar ucapannya aku semakin tidak enak hati. Apalagi aku pernah dengar dari rekan-rekan guru yang suka bergunjing bahwa putrinya itu mogok menikah gara-gara dulu pacarnya tidak direstui sang ayah.


Apa mungkin karena kekasihnya itu hanya lulusan SMA dan buka usaha foto copy-an? Tapi setahuku usahanya itu sangat maju. Lalu kenapa ayahnya justru memilihku yang jelas-jelas berada dibawah putrinya. Hanya pendidikan saja satu tingkat lebih tinggi dari kekasih anaknya dulu dan tempat bekerja sedikit terlihat baik pada sebuah instansi.


“Berkali-kali aku sudah menolak perjodohan. Kali ini aku ingin melegakan hatinya.” lanjutnya sebelum kami beranjak keluar dari warung bakso.

__ADS_1


Untuk memberi kesan baik aku yang membayari baksonya, meski tiga hari ke depan aku tidak yakin apakah motorku bisa jalan tanpa bensin. Dia segera melaju dengan motornya dan aku mengikuti di belakang.


Ada secercik kagum menguar manakala dia berteguh tidak mau berbonceng motor denganku. Yah, dia sebenarnya wanita yang baik mau menjaga martabatnya sejalan dengan jilbab yang dikenakannya.


Ah, entah sudah berapa lama aku tercenung di depan komputer. Sejak pertemuan kedua di luar rumah waktu itu, disebuah warung bakso langgananku. Pikiranku semakin kacau. Padahal tugas memasukkan data pegawai harus selesai hari ini juga. Selain mengajar agama aku juga mendapat tugas membantu urusan keadministrasian sekolah.


Ayo fokus, Ham! Aku kembali menekuri kertas-kertas dan tuts laptop.


**


Hari menjelang pernikahan semakin dekat. Setelah acara lamaran, hari pernikahan langsung ditetapkan tiga bulan kemudian. Kalau dihitung-hitung sejak pertemuan pertama, setidaknya kami menjalani masa perkenalan selama lima bulan.


Satu hal yang aku pahami dari dia adalah, dia seorang wanita yang mandiri, tegas dan teguh pendirian. Posisinya sebagai anak bungsu tidak membuatnya menjadi seorang yang manja. Meski dia bilang tidak menyukaiku tapi dia selalu menyambut ramah kedatanganku. Tentu saja bukan datang untuk pergi berduaan pacaran. Tapi kedatanganku untuk membahas tentang acara pernikahan yang akan diadakan meriah atas permintaan orangtuanya.


Akhirnya hari yang telah terencanakan datang juga. Berkali-kali aku menghirup nafas dalam untuk menghalau rasa gugup. Setelah pembacaan ijab kabul, hatiku berdesir manakala melihat pengantinku keluar dari peraduannya. Untuk sekian detik aku terpana. Kebaya putih longgar dengan kerudung menjuntai berhias bunga melati menjadi perpaduan sempurna bagi wajah yang putih bersinar. Ah, sayang... kemana senyummu?


**


Sebenarnya aku malu jika harus tinggal di rumah yang dibangun istriku. Tapi, sungguh aku masih belum bisa berbuat banyak untuknya secara materi. Dan akhirnya aku semakin tidak tahu malu saat Eva turut membiayai kuliahku tanpa aku minta.


Syukurlah, kuliahku tinggal tahap akhir. Jadi aku tidak akan menganggu keuangan Eva lagi. Dan, aku bisa memberi nafkah yang tidak seberapa pada Eva secara penuh.


Tiga bulan, enam bulan bahkan satu tahun Eva tidak juga hamil. Aku mulai resah, apalagi ayah Eva selalu menanyakan perihal cucu yang telah dinantikannya. Hanya Eva saja yang tampak tenang dengan kondisi rumah tangga kami yang aku rasa kurang.

__ADS_1


“Eva, apa tidak sebaiknya kita periksa ke dokter tentang kondisi kita.” tawarku suatu malam saat dia tidak ada pasien.


Aku berani mengajukan permintaan setelah kuliahku selesai. Tentu saja ini menyangkut biaya periksa dokter.


“Boleh, kapan Mas punya waktu. Kita periksa ke dokter mana?” sahutnya menoleh padaku dengan ekspresi datar seperti biasa.


“Terserah Eva saja, aku sama sekali tidak punya referensi tentang dokter kandungan.”


“Hmm, dokter Yulia aku dengar bagus. Aku cari tahu dulu jadwal prakteknya ya?”


“Itu di mana?”


“Di Purwokerto.”


Aku mengangguk-angguk, “Kita berusaha ya?” ucapku meraih tangannya.


Dia menatapku dalam-dalam, sebuah anggukan kecil dan senyum tipis membuatku menjadi lega.


Aku seharusnya sudah siap saat dokter bilang aku juga harus melakukan tes ******. Tapi tetap saja aku menjadi cemas tentang hasilnya. Maju mundur aku sedikit menunda pergi ke laboratorium.


Pada kontrol berikutnya yang sempat tertunda karena menunggu hasil analisa ****** dari laboratorium, dokter mengatakan bahwa kondisi rahim dan hormon Eva bagus. Siklus haidnya teratur menandakan dia subur.


Hatiku semakin menciut. Bagaimana dengan hasil tes spermaku? Terbentuk resah.

__ADS_1


“Wah, jumlah spermanya kurang ya? Geraknya juga kurang aktif.” diagnosa dokter Yulia seakan menamparku hingga terjungkal.


“Jadi bagaimana, Dok?” tanyaku dengan kerut singa tanpa surai, auman dan taringnya.


__ADS_2