
Sebuah sms menghempaskan tubuhku ke sandaran kursi seiring desahku. Mataku menatap jalanan yang masih ramai hilir mudik antara kendaraan dan orang-orang. Bapak berulah lagi. Ini nampaknya lebih parah dari sebelumnya.
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Sebentar lagi aku harus menjemput Raihan dari TK. Dan dalam sms yang berasal dari adikku itu, dia menyuruhku segera datang ke rumah Bapak agar segera mengadili Bapak atas perbuatannya yang sudah sangat kelewatan.
Ibu pasti sangat sedih, sudah bertahun-tahun ibu bersabar menghadapi Bapak yang selalu menuruti hawa nafsunya. Amarah dengan kepalan tangan, hobi riya, sifat kekanak-kanakan yang tak mau kalah dan salah. Belum lagi Bapak suka sekali pada hal-hal mistik yang menjurus pada perbuatan syirik. Kata-kataku yang selalu mengingatkan selalu berujung perdebatan yang berakhir dengan hujatan untukku. Astagfirullah, aku hanya terus berharap Bapak sadar atas kekeliruannya itu.
Dulu semasa aku masih kecil Bapak pernah membawa orang ke rumah. Menurut Bapak orang itu orang sakti yang bisa mendatangkan emas. Bapak juga bilang kalau orang tersebut bisa mengubah daun menjadi ikan paus di kolam ikannya. Aku yang waktu itu masih kecil jelas takjub mendengarnya dan selalu menunggu saat ikan paus akan berenang-renang di kolam ikan Bapak. Tak terpikir sama sekali bahwa ikan paus hanya bisa hidup di air asin dan kolam Bapak sudah pasti tidak akan muat untuk sebuah ikan paus yang besarnya bisa serumah. Yang terjadi orang tersebut hanya membual agar bisa hidup menumpang secara gratis selama berbulan-bulan di rumah.
Kejadian yang hampir sama terulang beberapa tahun kemudian. Bahkan orang-orang satu dusun percaya bahwa lelaki cacat kaki itu bisa menggandakan uang. Bapak jelas tergiur sampai menawarkan rumah kami sebagai pos pengumpulan uang yang akan digandakan. Menurut ibu, Bapak hampir mempertaruhkan separuh dari gajinya. Nyatanya, setelah uang terkumpul banyak orang itu pergi begitu saja tanpa pamit. Bukan hanya uang Bapak yang hilang, sepatu, baju, celana panjang sampai ****** ***** bapak bahkan ikat pinggangku ikut melayang.
Sejak peristiwa itu, Bapak menampakkan gelagat tobat. Beliau hanya melakukan aksi kecil-kecil memberi hutangan pada tetangga atau kenalan Bapak. Untuk yang satu ini ibu bisa mengerti karena bersifat memberi bantuan. Tapi dari semua pinjaman itu, tidak ada satu pun yang kembali. Tak ada upaya dari Bapak pula untuk menagih secara gigih. Padahal ibu kadang harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan dapur karena gaji Bapak yang seorang PNS golongan II hanya diberikan seperempat dari hasil pendapatan. Sebagian besar gaji Bapak pegang untuk membiayai kesenangannya sendiri. Padahal ibu harus membayar sekolah aku dan adikku. Untung ibu juga bekerja sebagai honorer guru TK bisa menutup biaya sekolah aku dan adikku meski kadang menunggak.
Dua tahun yang lalu saat aku masih menumpang di rumah Bapak pasca menikah, lagi-lagi beliau berulah. Ku pikir sudah cukuplah mengejar uang, toh sudah tidak ada biaya besar untuk pendidikan bagi anak-anak yang sudah selesai kuliah bahkan berkeluarga. Nikmati saja hidup dengan uang pensiun yang ada tidak perlu mencari-cari uang untuk bermewah-mewah. Ku dengar dari ibu, bahwa bapak ingin punya mobil seperti teman-teman pensiunan yang lain. Bapak bilang malu setiap datang mengambil uang pensiun hanya dia yang memakai sepeda motor.
Entah dapat ide dari mana tiba-tiba bapak melakukan kerja sama bisnis membuka restoran padang. Bapak berlaku sebagai investor yang menurut rekanannya bisa mendapat 1 juta perbulan. Dan Bapak yang tidak punya tabungan memaksakan diri berhutang ke bank dengan jaminan tanah kebun. Ibu sebenarnya kurang setuju dengan ide bapak itu. Apalagi terdengar kabar bahwa usaha Pak Bujang selama ini kurang berhasil. Satu dari dua dari Rumah Makan Padang miliknya sudah tutup, sementara Rumah Makan Padang tersisa bertahan dengan tersengal-sengal.
Bukan maksud ibu untuk berburuk sangka dengan Pak Bujang dan percaya dengan kabar burung yang berkicau menghampirinya. Ibu tidak setuju karena ibu ingin hidup tenang tanpa menanggung hutang di usia tuanya. Ibu tidak mau kelak meninggal dengan mewariskan hutang ke anak-anaknya. Tapi sayangnya alasan ibu itu sama sekali tidak berarti bagi bapak yang sudah gelap uang.
“Jadi ibu mau menandatangi itu?” tanyaku memastikan.
Ibu mengangguk dan tersenyum, “Kamu tahu sifat bapakmu kan? Segala keinginannya tidak bisa dihentikan.”
“Tapi sampai kapan ibu akan tertindas macam ini?”
“Mengalah bukan berarti kalah, Nduk.”
Kata-kata ibu yang lembut dan bijak tak bisa meluruh kekesalan yang membuncah di dada. Aku mendesah kecewa.
__ADS_1
Aku ingat bagaimana tangan ibu gemetar ketika menandatangani surat persetujuan hutang sebagai penjamin. Titah bapak memang segalanya, ibu sama sekali tidak bisa menolak dan mengelak. Sebagai istri ibu nampaknya ingin menjadi seorang istri yang selalu patuh pada perkataan suami.
Kalau sudah demikian aku tak bisa berkata-kata lagi. Bukankah kewajiban istri harus patuh pada suami? Terus terang aku jadi malu sendiri. Ternyata teladan ibu tidak merasuk dalam jiwaku. Aku sering sekali berontak pada suami. Aku merasa ada sesuatu yang terpendam dalam diriku sehingga setelah aku menikah aku ingin tidak di dikte terlalu oleh suami sebagaimana bapak mendikte ibu sedemikian rupa.
Setidaknya aku masih harus belajar untuk patuh pada suami dan melakukan yang terbaik untuk suami dan anakku. Untunglah suamiku tipe penyabar yang bersedia selalu membimbingku untuk senantiasa menjadi manusia yang lebih baik.
Satu, dua bulan usaha bapak tampak ramai. Beliau begitu bangga dan selalu sesumbar restoran padang miliknya telah menghasilkan banyak pundi-pundi uang untuknya. Masuk bulan ketiga, wajah bapak tidak tampak ceria seperti biasa. Beliau kembali jadi seorang pemarah, tentu saja ibu yang menjadi korban kemarahannya. Aku tidak tahu sebab pastinya. Yang ku tahu secara kasat mata, restoran padang milik bapak mulai sepi dari pengunjung dan kadang-kadang malah tutup.
Kekhawatiran ibu jadi kenyataan. Pak Bujang tidak lagi menyetor uang bulanan ke bapak yang harus mencicil hutangan ke bank. Bapak terlihat kalang kabut. Dari kadang-kadang tutup, akhirnya restoran padang bapak tutup untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. Apalagi Pak Bujang malah kabur tanpa pamit setelah berjanji akan membayar jatah bulanan bapak.
Untuk membayar uang bulanan bank akhirnya bapak menyewakan restoran padang pada usaha lain. Sayangnya lagi-lagi usaha bakso yang menempati kontrakan bapak yang di dapat dari mengontrak dari pemilik asli juga memilih keluar dari ruko bapak. Bapak semakin uring-uringan dan tidak lagi memberi nafkah ke ibu.
Sesudahnya aku tidak tahu secara mendetail tentang berbagai aksi bapak. Suami mengajakku pindah menempati ruang tambahan di belakang toko kecil kami agar aku tidak bolak-balik dari rumah bapak ke toko kelontong setiap hari.
Sesungguhnya aku tidak tega meninggalkan ibu sendirian dengan bapak. Ibu yang selalu curhat padaku jika ada masalah akan menanggung semua sendiri nanti. Meski jarak antara tokoku dengan rumah bapak hanya 2 kilometer tapi terkadang kesibukanku sebagai ibu rumah tangga dan menjalankan usaha toko cukup menyita waktu untuk sekedar mengunjungi bapak-ibu. Padahal begitu keluar dari rumah bapak, aku sudah membuat jadwal kunjungan setidaknya tiga hari sekali. Dalam prakteknya aku hanya bisa mengunjungi mereka setiap hari minggu saja, itu pun kalau tidak ada acara lain yang kadang menghadang.
**
“Keterlaluan sekali Bapakmu ini, Mbak! Sok kaya, sok baik hati sampai meminjamkan surat tanah untuk jaminan hutang orang. Lihat! Begini jadinya, rumah ini akan disita oleh rentenir.”
Lian langsung menyambutku dengan ceracau sambil melotot-lotot. Padahal di situ ada dua orang tamu yang kutaksir pasti tukang tagih sekaligus tukang sita. Untung Raihan mau tinggal dengan ayahnya. Dia pasti akan ketakutan melihat Tante Lian yang sedang terbakar emosi.
“Bapak mana?” tanyaku berusaha sabar.
“Sepertinya dia kabur, malu barangkali. Tadi aku sms dia, aku maki dia. Sampai sekarang belum juga menampakkan batang hidungnya!”
Tidak puas dengan jawaban Lian yang penuh angkara, aku langsung masuk mencari ibu. Dalam kamar aku menemukan ibu tengah tiduran ditemani Rili saudara sepupu kami yang ikut tinggal di rumah. Ada isak terdengar diantara kesenyapan kamar.
__ADS_1
“Ibu,” panggilku lirih.
“Hes,” sahut ibu semakin terisak. “Bapakmu, Hes….”
Aku merapat ke sisi ranjang menggeser posisi duduk Rili yang membisu, “Iya, Bu.” aku menangguk-angguk. Tapi Bapak mana, Bu?” tanyaku padanya.
Aku sungguh ingin tahu kemana Bapak pergi di saat seperti ini. Bukankah dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Kalau keluar rumah apa Bapakmu pernah bilang mau pergi kemana? Ibu tidak tahu, Hes.”
“Kenapa ibu tidak cerita kalau Bapak meminjamkan sertifikat rumah untuk pinjaman orang, Bu? Bukankah bisa dicegah? Apa orang yang meminjam juga kabur?”
“Kalau Bapakmu punya rencana apa dia mau meminta pendapat ibu, Hes. Semua selalu datang mengejutkan. Seratus juta, Hes. Bagaimana kita akan mengembalikan uang sebanyak itu. Kecuali rumah ini mereka ambil sebagai ganti pembayaran.” ibu semakin tersedan. “Lalu ibu mau tinggal di mana, Hes?”
“Ssst… ibu bisa tinggal di rumah Hesti kan?” ucapku sambil memeluk ibu.
Tiba-tiba dari arah luar terdengar keributan. Gelegar suara Lian kembali mengudara.
“Kurang ajar kau, Pak!”
Aku segera berlari keluar.
“Lian!” bentakku. “Bagaimana juga dia bapakmu, jangan durhaka Li!” sekilas aku melihat wajah bapak tampak beda. Tak ada aura marah. Dia hanya diam.
Lian semakin merajalela menghujat semua kesalahan Bapak terdahulu. Lian seperti orang kesetanan terus menghakimi Bapak tanpa ampun. Sepertinya sekam yang bertahun-tahun tersimpan telah tersulut.
“Astagfirullah Lian, sadar!” ucapku di antara tangis.
__ADS_1