
Pagi hari yang seharusnya menyilaukan Kini malah sebaliknya, dalam gelap entah tau dia ada dimana, semua ketenangan, sinar mentari, serta rasa sakit hilang begitu saja.
Bukan karena sebuah ilmu atau sebuah pendapat, melainkan karena dia selalu di siksa setiap saat bila kedua orang itu datang ke hadapannya. Sepasang kekasih yang tak tahu diri.
Di sebuah ruangan gelap dengan cahaya minim, terdapat seorang wanita duduk lesehan di lantai dengan tangan terikat.
Wanita itu sangat cantik,Namun, kondisinya sangat
menyedihkan. Rambut berantakan, kedua pipinya memar, sudut bibir berdar*h, mata sayu, sekujur tubuhnya terluka.
Tidak hanya kedua tangan, kedua kakinya di rantai sehingga pergelangan kakinya lecet dan memerah. Bibirnya kering tidak berwarna. Nafasnya tidak teratur. Di keheningan, suara nafasnya terdengan terengah-engah karena rasa sakit.
Tidak lama kemudian, ada dua orang berbeda jenis kelamin masuk ke dalam ruangan itu.
Ruangan yang awalnya redup, menjadi terang karena cahaya dari luar pintu yang terbuka.
Penampilan wanita yang menyedihkan itu semakin jelas. Di sisi lain. Wanita dengan pakaian glamor dan seksi, make up tebal, memasuki ruangan. Jika make-up nya terhapus, wajahnya akan terlihat mirip dengan wanita yang berpenampilan terbalik di lantai.
Sedangkan, pria di sampingnya berpenampilan rapi, terlihat cool dan dewasa. Kemeja hitam putih tidak dikancingkan.
Dengan kaus hitam polos di dalamnya, serta celana panjang hitam. Wajah tampan di atas rata-rata. Rambut di sisir rapi di satu sisi dengan tinggi sekitar 185 cm.
Kedua orang itu melirik sinis wanita menyedihkan yang tengah mencoba membuka matanya.
Saat matanya terbuka, ia mencoba menyesuaikan cahaya.
Setelah penglihatannya menjadi jelas. Sorot kebencian tertuju pada kedua orang di depannya.
"hmm?bagaimana? Apakah kau tidak merasa kapok? sudah aku bilang! Cepat berikan tanda tanganmu! Agar kita lebih cepat menikmati kekayaanmu, ha ha ha...." Wanita Glamor itu tertawa gila.
"aku tidak akan pernah mau menandatanganinya! Aku lebih baik m*ti daripada harta warisanku berada di tangan kalian!!" Tukasnya dingin.
Pria yang sempat tersenyum sinis, menggertakan gigi mendengar ucapannya. Pria itu menghampiri wanita yang masih berstatus istrinya. Memegang kasar kedua pipinya.
Mata serakahnya berhadapan dengan mata penuh kebencian wanita itu.
"apa kau bilang? Kau mau m*ti? Tidak akan ku biarkan! Kau akan ku*iksa tanpa membiarkanmu m*ti!"
Imbuhnya dengan tawa membahana. Wanita berusia 27 tahun bernama Rosalina itu, menahan sakit
di pipinya. Air matanya sudah terkuras. Dia tidak akan
pernah menangis lagi di depan keuda orang biadab di hadapannya.
Rosa dengan berani meludah ke wajah Satria-suaminya. Tawa Satria terhenti. Wajahnya yang terkena air liur memerah menahan amarah yang akan meledak. Urat-urat biru terlihat bermunculan di pelipis dan lehernya. Ia mengelap air liur Rosa di Wajahnya dengan ekspresi begitu jijik.
__ADS_1
..Plak!
..Plak!
..Plak!
Tamparan beruntun Satria membuat Dar*h yang sudah kering mengalir kembali di sisi sudut bibir Rosa.
Namun, Rosa sudah m*ti rasa. Seluruh tubuhnya sudah lemas. Dia hanya menerima siksaan mereka tanpa bisa melawan.
Wanita glamor yang bernama Suchi yang tengah menyaksikan, sama-sama marah melihat Rosa meludah ke wajah kekasihnya-Satria. Setelah mendapat tamparan, Suchi menjambak rambut Rosa dengan kasar.
"Berani beraninya kau meludahi wajah Satria!! Aku akan membuat hidupmu lebih menderita, Rosaa!!!!" Murkanya geram.
Rosa hanya merasa seakan akan semua rambutnya tercabut dari kepalanya. Rasa sakitnya membuatnya ingin m*ti.
"B*NUH AKU SUCHI!! B*NUH AKU!!" Dengan putus asa, Rosa Berteriak.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENANDATANGANI WARISAN ITU SAMPAI
KAPAN PUN!!! AKU LEBIH BAIK M*TI!! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN
KALIAN BAHAGIA!! HA HA HA....,!" Teriak Rosa dengan keras seraya tertawa tidak kalah gila.
Ucapan dan tawa mengejek Rosa, membuat amaras sepasang kekasih itu semakin memuncak.
Sesampainya di luar rumah kumuh itu, terpampanglah hutan lebat dengan pepohonan hijau berukuran tinggi.
Rosa tidak melawan, dia hanya pasrah. Namun, ia sedikit
nyaman menghirup udara segar. Tidak peduli dengan kedua kakinya tergores beberapa batu kecil karena seretan Satria.
Suchi mengikuti mereka dengan tergesa. Walaupun terlihat kesusahan karena sepatu Hak tingginya. Namaun ekspresinya seperti iblis.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di tepi jurang curam.
Di bawah jurang itu, banyak bebatuan runcing.
"lihat ke sana, Rosa! Bagaimana jika kau jatuh ke sana? Kau akan langsung h*ncur dan m*ti!" Ancam Satria dengan kejam.
Ekspresinya yang menyeramkan tidak sesuai dengan wajahnya yang tampan.
Suchi berjongkok. Lalu ia men*ambak bagian atas kepala ke belakang. Sehingga Rosa mendongak menatap matanya yang terasa jijik.
"kau harus menandatangani surat itu sebelum aku
__ADS_1
menjatuhkanmu ke jurang sana!" Ancamnya dengan nada penuh penekanan.
"Cuih" Rosa meludah ke wajah Suchi yang di penuhi dengan make-up tebal. Tersenyum sinis "aku tidak akan pernah sudi! M*ti saja kau ******!"
Suchi langsung melepas jambakannya, wajahnya di penuhi rasa jijik.
Suchi menendang keras tubuh Rosa, sehingga tubuhnya yang lemas langsung terguling ke jurang itu. Namun, tali di tangannya membuat Rosa tersangkut, dengan badan tergantung.
"mengapa kau menendangnya, Suchi? Kau mau usaha kita sia sia?!" Bentak Satria dengan marah.
Wajah Suchi yang terdapat sisa air liur Rosa, terlihat menyedihkan mendapat bentakan dari Satria.
"Dia meludah ke wajahku, Satria!" Keluhnya merengek Satria mendengus kesal
"aku tidak akan pernah memaafkan kalian! Jika ada kehidupan kedua..."
Suara penuh kebencian itu mengalihkan perhatian keduanya kepada wanita yang tergantung di tepi tebing. Tidak ada ekspresi ketakutan layaknya orang yang akan terjatuh kapan saja. Tapi Rosa malah tersenyum dengan begitu dingin.
"gue bakal balas apa yang kalian lakuin di kehidupan ini!"
Atensinya beralih pada Satria, Menatapnya tanpa Ekspresi.
"satria, aku menyesal memilihmu untuk menikah denganku. Jika aku tahu bagaimana niatmu sedari awal, aku akan lebih memilih pria cacat itu!"
Satria sangat marah mendengar dirinya di bandingkan dengan pria c*cat yang di maksud Rosa. Harga dirinya merasa terinjak.
Dia sendiri membuat semua usahanya sia sia. Karena Satria melepaskan sangkutan talinya sehingga Rosa terjatuh ke dalam jurang mengerikan itu.
"AKU MEMBENCI KALIAN!!" Raung Rosa ketika tubuhnya masih di udara.
Suara jeritannya di penuhi kesedihan, kebencian, kekecewaan, penyesalan dan keputusasaan.
"tuhan.... Beri aku kesempatan kedua...."
Kata kata terakhir itulah yang ia ucapkan sebelum kematiannya. Seorang Rosalina Andara, ia meninggal dengan tubuh hancur di dasar jurang.
Tidak ada yang tahu bagaimana hasil dari do'a yang ia
panjatkan di detik terakhir ke*atiannya. Namun,tuhan selalu memberikan yang terbaik.
Dengan semua penderitaan dan cobaan
yang ia alami di luar batas kemampuannya, tuhan akan memberikan akhir kebahagiaan serta keadilan untuknya.
Di mana kebahagiaan dan keadilan untuk Rosa?
__ADS_1
Di kehidupan baru yang tidak pernah Rosa bayangkan.
Apakah doa dari Rosa Akan terkabul atau malah sebaliknya? Apakah Kalian penasaran dengan ceritanya? Jangan lupa baca terus ya jangan di skip skip biar saya tambah semangat olahraga jari sampai keriting demi kalian.