
*** Rosa sudah siap dengan seragam sekolahnya. Rambutnya di kuncir kuda sederhana. Rok selutut, baju di masukan, lengan panjang,dasi,kaus kaki putih sampai betis, sepatu putih dan tas kecil biru tua. Tidak ada make up apapun yang menghiasi wajahnya. Justru kecantikan alami sangat memancar. Ia hanya memakai bedak tipis agar tidak terlalu kusam. Serta lip balm agar bibir tidak kering. Setelah siap, ROsa melirik tempat tidur yang di tempati Ibrahim. Dia tersenyum dan mendekat. "Ibrahim, aku akan pergi ke sekolah dulu," bisiknya. Rosa sudah sarapan, ia juga sudah memberi Ibrahim sarapan sendiri. Dan tentu saja, Ibrahim sudah mandi sebelum dia. Walaupun dalam posisi tidur, Ibrahim terlihat sangat baik. Pakaian yang rosa pakaikan selalu cocok dengan penampilannya. Rosa tersenyum melihat karyanya. "Sampai jumpa. Jangan merindukanku." Rosa mencium pipinya seraya terkikik sendiri. Setelah itu, Rosa mulai keluar kamar dan menutup pintu dengan santai. Sebenarnya, waktu masih terlalu pagi. Namun, Rosa terlalu bersemangat Saat menuruni tangga, Rosa sempat melirik ruang makan yang sedang di sajikan pembantu. Belum ada siapa pun disana. Alasan inilah yang membuat Rosa berangkat pagi. Ia tak ingin bertemu anggota keluarga ini di rumah itu. Apalagi RIan, Jika saja Rosa berangkat agak siang, ia akan berpapasan atau melewati ruang makan mereka. Rosa malas berbasa basi. "Non, tidak makan dulu?" Pertanyaan seseorang membuat Rosa menoleh. Ia mendapati kepala pelayan. Kepala pelayan merupakan seorang wanita paruh baya. Wajahnya sangat ramah, namun jika dalam masalah pekerjaan, dia sangat tegas. Rosa sedikit mengagumi sikapnya. EUM, TIDAK. aKU SUDAH MAKAN. jADI, aKU AKAN LANGSUNG BERANGKAT" JAWAB rOSA DENGAN SOPAN. Kepala pelayan--Bianca mengangguk mengerti, " Kalau begitu, hati hati di jalan, Nona." Rosa mengangguk seraya tersenyum ramah. Lalu, ia melanjutkan langkahnya keluar rumah. Charles sudah menyiapkan mobil dan supir khusus untuknya. ROsa menjadi lebih santai. Rosa menyapa sopir itu, lalu membuka pintu dan duduk di belakang. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan rata rata. Rosa sedikit menurunkan jendela, membiarkan semilir angin masuk. Udaranya sangat sejuk karena cuaca masih pagi. Embun menutupi jendela, sedikit mengaburkan penglihatan. Rosa menyentuhnya, namun tak tersentuh. Karena, embun menempel di luar jendela. Ia hanya membuat huruf acak dengan jari telunjuknya di jendela. Rosa melakukan hal hal kecil, namun tersa menyenangkan baginya. 15 menit kemudian, mobil sport itu tiba di sebuah gerbang sekolah. Rosa mengamati gedung sekolah besar itu. Dia sedikit merindukannya. Namun, tersimpan banyak kenangan pahit masa lalu, di sekolah ini. Sekarang, Rosa akan merubahnya. Mencoba sesuatu yang baru. Setelah mengamati beberapa saat, dia keluar mobil. "Terima kasih, Pak" Ucap Rosa yang di angguki dan senyum sopan sopir itu. Rosa mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam gerbang. DIa sudah sangat familier dengan sekolah ini. LEtak,suasana, semuanya terasa akrab baginya. Tidak sedikit orang yang melirik ke arahnya. Karena ROsa merupakan ratu sekolah sebelum reputasinya hancur.
***
Rosa sudah berubah.
Itulah kesan hampir semua teman sekalas terhadap Rosa setelah lebih dari seminggu mereka mengamati. Di antara yang lainnya, Rosa menjadi lebih dekat dengan Fajar dan Tiara.
Mereka layaknya teman, akan ke kantin bersama, saling bantu dan selalu berkelompok antara yang lainnya.
Rosa selalu berinisiatif mengobrol atau membantu keduanya jika sulit dan tidak mengeri dalam pembelajaran. Tentu saja, Fajar dan Tiara sangat terkejut dan senang. Dengan bangga, kedua orang itu selalu pamer kepada siswa lain. Mereka terlihat sombong, bisa dekat dengan Rosa, si cantik dingin dengan gelar ratu sekolah.
Triiingggg Triiingggg
Bel istirahat berbunyi begitu nyaring membuat semua orang yang mendengar langsung bersorak senang. Apalagi perut mereka yang ikut bersorak membuat mereka pergi ke kantin dengan semangat.
__ADS_1
"Rosa, apa kami ingin pergi ke kantin?" Tanya Tiara. Fajar ikut menatapnya. Kedua orang itu menjadi terbiasa dan lebih santai dengan Rosa. Mereka tidak perlu gugup atau canggung lagi.
Rosa melirik mereka. Lalu ia menggeleng seraya tersenyum. "Tidak, aku akan pergi ke perpustakaan."
Tiara dan Fajar hanya mengangguk. Mereka sangat memaklumi Rosa. Gadis di depan mereka terlalu rajin dan bersemangat dalam belajar. Selain itu, mereka sama sekali tidak merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang agak acuh tak acuh.
"Oke. Kalau begitu kami pergi dulu ya" pamit Tiara yang di angguki Rosa.
Fajar dengan enggan mengikuti Tiara. Sebenarnya, Kedua orang itu tidak dekat. Mereka hanya teman sekelas biasa. Namun, bisa di bilang mereka menjadi lebih dekat sebagai teman lewat Rosa.
Melihat mereka berinisiatif berbicara terdahulu kepadanya, Rosa menjadi lebih nyaman.
Kelas berangsur angsur sepi dan menjadi kosong. Semua orang sudah pergi untuk makan siang.
Rosa beranjak. Ia memang akan pergi ke perpustakaan. Sepanjang jalan, ROsa menjadi lebih terbiasa dengan banyak perhatian murid-murid yang ia lewati menuju kepadanya. Seperti biasa, Rosa akan membalas sapaan mereka. Walaupun, sebenarnya ia sangat malas.
__ADS_1
Rosa berjalan dengan langkah tenang dan santai. Ia akan sesekali berhenti jika melihat sesuatu yang menarik. Angin sepoi sepoi menerpa wajahnya. Rambutnya yang ia ikat bergoyang ke segala arah mengikuti gerakan langkah kaki.
Menghirup udara segar, Rosa berubah pikiran. Ia tidak jadi pergi ke perpus. Namun, ia ingin berniat pergi ke taman sekolah yang berada di samping gedung sekolah.
Saat Rosa sampai di sana, ia langsung merasakan suasananya yang sangat sepi dan tenang. Tempat seperti inilah yang ia inginkan. Bukannya di kursi yang sudah tersedia, Rosa malah duduk lesehan di atas rumput. Punggungnya bersandar pada sebuah pohon yang lumayan besar, sehingga sinar matahari tidak mencapai tubuhnya karena terhalang pohon itu.
Rosa memejamkan matanya dengan kepala bersandar hingga mendongak. Angin menerpa dedaunan dan ranting sehingga menimbulkan gesekan yang terdengar jelas di telinga Rosa.
"Lia! Aku peringatkan sekali lagi! Bagaimana pun caranya segeralah pergi dari rumahku! Jika tidak, aku akan membuatmu di keluarkan dari sekolah ini!!"
samar samar, Rosa mendengar teriakan tajam dari arah jauh membuat alisnya mengernyit.
"Jangan berpura pura menyedihkan seperti itu! sangat menjijikan."
Suara yang sangat Rosa kenali membuatnya langsung membuka mata indahnya. Itu adalah suara Suchi.
__ADS_1
"Maaf...aku tidak bisa..."