Husband In Life

Husband In Life
Mundur dari Olimpiade


__ADS_3

**


"Maaf bu, sepertinya saya tidak bisa mengikuti Olimpiade" Ujar Rosa setelah menatap orang yang akan menjadi pasangannya.


Rosa tidak menduga akan bertemu dengan Satria secepat ini. Dia memang tidak pernah bertemu sejak kelahirannya kembali. Karena Satria merupakan kakak kelasnya. Jarak Kelas XI dan CII lumayan jauh. Jadi Rosa tidak perlu waswas dan menghindar jika menemui Satria.


Satria memang pintar. Namun, dia pemalas. Rosa ingat kembali, Satria tidak mengikuti Olimpiade di masa lalu. Tapi, kenapa sekarang Satria mengikutinya?


Ucapan Rosa membuat Bu Mila dan Satria sama sama mengernyit.


"Mengapa? Kalian sudah saling mengenal bukan?" tanya Mila melihat ketidak senangan di wajah Rosa saat menatap Satria.


Rosa tersenyum pongah. "Bukan itu yang saya maksudkan. Saya memiliki sesuatu yang tidak bisa saya tinggalkan di rumah" jawabnya antara benar dan tidak.


Awalnya Rosa memang akan mgnikuti. Namun, setelah melihat Satria dan juga saat mengingat Ibrahim di rumah, Rosa berubah pikiran. Lebih baik ia merawat Ibrahim daripada harus bersama Satria untuk olimpiade.


Walaupun kecewa, Bu Mila tetap mengangguk mengerti. Ia tidak akan terlalu memaksa.


Sedangkan Eskpresi Satria berubah. Satria tahu apa yang di maksud Rosa. Hatinya panas dan merasa kesal. Awalnya, ia tidak mau ikut olimpiade, Namun Satria mendengar bu Mila menyuruh seseorang untuk memberitahu dan menawarkan Rosa mengikuti Olimpiade. Satria merasa tertarik dan ikut mengikutinya.


Tidak terbayangkan Rosa akan mundur. Sekarang, saat Rosa menatapnya bukanlah tatapan antusias dan senang, tapi tatapan tidak suka dan sedikit dingin.


Satria yakin, Rosa tidak jadi ikut pasti karena dia sendiri yang akan menjadi pasangannya. Satria tidak yakin dengan alasan yang Rosa ucapkan. Rosa tidak akan suka merawat lelaki cacat itu! Rosa pasti masih menyukainya! Mungkin tatapan tidak suka yang Satria lihat di mata Rosa kepadanya pasti karena pernikahannya yang tidak terjadi!.


Memikirkan itu, wajah Satria sedikit pulih.


"Kalau begitu saya pamit dahulu, Bu, "Kalau kamu berubah pikiran, temui saya di sini. Wakyunya masih beberapa hari lagi."


Rosa mengangguk dan tersenyum sopan.


Lalu, dia keluar dari ruangan itu.


"Rosa!"


Langkah Rosa terhenti . Ia sangat tahu suara siapa yang memanggilnya. Rosa diam tanpa menoleh.


"Mengapa?" tanya Satria dengan kening mengerut setelah sampai di depan Rosa.


Rosa tidak perlu berpura pura, ia menatap Satria dingin.


Penderitaannya dimasa lalu langsung melintas dibenaknya. Walaupun Rosa mempunyai sedikit rasa takut, trauma dengan apa yang pernah Satria lakukan di masa lalu, ia mencoba melawan rasa takutnya.


Satria semakin bingung dengan mata dingin. Apalagi Satria melihat kebencian yang sangat dalam. Ia tidak pernah melihatnya. Kenapa? Satria juga merupakan korban. Ia tidak pernah menduga, bukan Rosa yang ia nikahi.


Rpsa tidak menjawab. Dengan acuh tak acuh malah melanjutkan langkahnya.


Satria sangat kesal, ia langsung menarik tangan kiri Rosa sehingga gadis itu mundur kembali ke belakanag. Wajah Rosa semakin dingin. Dengan kasar dia menghempaskan tangan Satria yang menggenggam lengannya.

__ADS_1


Satria terkejut dengan reksinya. Wajahnya jelas tidak senang. "Begitu benci kamu kepadaku? Mengapa kamu mundur? Apa karena aku yang akan menjadi pasangamu? Jangan membenciku, Rosa. Aku sendiri pun menjadi korban dari pernikahan yang tertukar itu. Aku tidak pernah menyangka mereka akan mengorbnakanmu untuk menggantikan Suchi. Aku menerima pernikahan itu karenamu"


Ros tersenyum ironis. "Benarkah?Lalu kenapa harus aku yang menjadi alasanmu menerima pernikahan itu?."


Satria tidak mengerti dengan sikap Rosa sekarang. Sikapnya sangat berbeda daripada terakhir kali dia bertemu dengannya. Rosa sangat lembut bila berbicara dengannya. Wajah polos dan cantiknya selalu cerah dengan bibir selalu melengkung. Namun sekaran? Seakan akan Rosa orang lain. Sangat dingin dan terasing.


"Karena aku hanya menyukaimu, Rosa" jawabnya jujur.


Satria semakin menyukainya ketika ia melihat foto foto cantik Rosa kemarin. Ia sangat cemburu melihat komentar lelaki lain. Jadi, Ia tidak ketinggalan. Mengingat dirinya sudah menikah dan Rosa menikahi orang lain, hatinya sangat panas dan tidak nyaman. Seharusnya Rosa miliknya!.


Rosa tertawa sinis, ia melangkah mendekat Satria. Setika bahunya dan Rosa bersentuhan, Satria membeku. Jika di lihat dari belakang atau depan, mereka seakan berpelukan. Namun, tangannya tetap di tempat.


Saat wajah Rosa sampai di samping wajah Satria, Rosa berbisik dengan nada mengejek. "karena kamu menyukaiku atau....."


"...Karena hartaku?"


Satria menegang. Wajahnya berubah drastis. Perkataan Rosa tidak salah.


Melihat reaksinya. Rosa mundur sseraya tertawa serkastik terdengar cemohan. Rosa memiringkan kepalanya. Menatap Satria. Ia mendesis Sinis. "Aku benar, Bukan?"


Melihatnya diam, senyum Rosa melebar. Tapi itu bukanlah senyuman yang baik. Dengan suara yang hanya bisa di dengar dua orang. Rosa Berujar ".... Aku tidak akan menyesal memilih Ibrahim. Dia lebih baik darimu. Lalu tentang mengapa aku mundur, itu bukan karenamu saja. Tapi karena aku akan merawat Ibrahim. Dia sudah menjadi Prioritasku."


Setelah mengatakan itu, Rosa pergi dengan menabrak bahu Satria dengan Kasar. Sedangkan, Satria masih berdiri kaku dengan kedua tangan terkepal, Hatinya gelisah.


Ia tidak menyangka Rosa mengetahui niatnya. Satria sangat kesal dengan perkataan terakhirnya. Ternyata Rosa membencinya. Dia lebih memilih pria cacat itu. Hatinya terasa sakit dan cemburu.


Di sisi lain, Tidak sedikit siswa siswi yang menonton mereka. Tapi tidak ada yang bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka sudah terbiasa melihat kebersamaan Rosa dan Satria.


Suchi tidak melihat keanehan atau ekspresi kedua orang itu. Suchi hanya melihat mereka berbicara sangat intim.


Suchi melihat Rosa penuh kebencian. Setelah mengingat rekaman yang ia punya, Wajahnya sedikit lebih baik, Lalu dia pergi dari sana.


***


"Maaf" Kata itulah yang Rosa ucapkan sudah memasuki kelasnya.


Pembicaraan dan gerakan semua orang terhenti. Mereka menoleh heran ke arah Rosa yang terlihat bersalah.


"Ada apa, Rosa?" Tanya Fajar bingung. Dia berdiri dan menghampiri gadis itu yang terdiam di pintu.


Rosa menarik nafas dalam dalam. Ia mengangkat kepala menghadapi semua mata yang tertuju padanya.


"Aku berubah pikiran. AKu tidak jadi mengikuti olimpiade itu karena aku memiliki sesuatu yang tidak akan aku tinggalkan di rumah" ujarnya pelan. Namun, di tengah keheningan kelas semua orang bisa mendengar suaranya.


Rosa menatap satu persatu. Namun, tidak ada yang menatapnya jecewa seperti dugaan di benaknya. Malah mereka tersenyum maklum.


"Kenapa kamu harus sesedih itu? ikut atau tidaknya merupakan hak dan keputusan kamu, Rosa" Ujar Tiara santai.

__ADS_1


Yang lain mengangguk.


"Ya, lagi pula semua orang memiliki kepentingan masing masing. Kita akan selalu mendukung keputusanmu, Rosa. Masih banyak waktu yang lain untuk kamu mengikutinya." Kata Fajar menghibur.


Rosa rileks. Dia tersenyum haru. Tanggapan mereka di luar dugaannya.


"Terima kasih."


****


Pada pagi hari, suasana terasa dingin. Matahari tertutup awan hitam. Rintik rintik hujan membasahi tanah dan jalanan. Namun, itu tidaj menghalangi Rosa untuk pergi ke sekolah.


Walaupun suasana dingin, gosip hangat mengalir di sepanjang Rosa berjalan di koridor. Rosa sangat jelas mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi, gosip itu miring mereka tidak menghentikan langkah Rosa. Apalagi tatapan mereka yang berbeda dari biasanya.


Rosa tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Dia tidak peduli. Yang pasti, Rosa sudah menebak dan tahu siapa dalangnya.


Fajar dan Tiara terlihat tergesa menghampirinya. Wajah mereka jelas khawatir. Rosa hanya tersenyum ringan.


"Rosa! Kamu baik baik saja?! Jangan dengarkan gosip mereka!" pekik Tiara cemas.


Fajar mengangguk dan menatap tajam penggosip di sekitarannya.


Rosa mengangkat alis. Bertanya tanpa minat.


"Memang ada apa?"


kedua temannya melotot kaget. "Kamu tidak tahu?!" sentak mereka bersamaan.


Rosa menggeleng polos.


Tiara menepuk jidatnya. Lalu, dia membuka ponselnya. "Ini! di forum sekolah ada yang mengupload videomu dengan Suchi. Yang menjadi masalahnya adalah perkataan Suchi. Komentar di postingan ini merupakan hujatan banyak orang kepadamu. Mereka berkata kamu anak tidak berbakti, tidak tahu terima kasih--" Jelas Tiara dengan heboh.


"Aku bersyukur kamu belum melihatnya. Aku takut kamu sedih. Jangan dengarkan mereka. Kita yakin kamu tidak seperti yang mereka katakan. Mungkin itu hanya akal akalan Suchi saja" Cibir Fajar.


Rosa mengangguk tanpa mengubah ekspresinya. Dugaannya benar, ternyata Suchi hanya berakting. Di sisi lain pasti ada orang yang merekamnya. "Aku tidak apa apa tenang saja."


Tiara dan Fajar semakin cemas melihat responnya. Rosa terlalu santai, Hatinya pasti lebih tertekan dan berpura pura kuat.


"Ini pasti ulah Suchi! Ayo kita ke kelasnya!" Marah Fajar.


Fajar akan melangkah namun Rosa mencegahnya. "Tidak perlu. aku benar benar baik baik saja. Biarkan saja dulu." ucapnya di akhiri seringai yang tak terlihat.


Tiara dan Fajar menghela nafas lega Melihatnya tidak berbohong. Mereka takut Rosa akan sedih.


"Oke, aku akan membantumu menghilangkan Video itu. Atau kita bisa menyatakan kebenarannya?" Tawar Fajar yang digelengi Rosa.


"Tidak perlu" tolaknya halus. Rosa tersenyum ringan. "Apa yang Suchi katakan memang benar"

__ADS_1


Fajar dan Tiara mengernyit heran. Rosa tersenyum dan menarik tangan keduanya. "Ayo pergi ke kelas. Akan aku ceritakan."


***


__ADS_2