Husband In Life

Husband In Life
Tak tahu Malu


__ADS_3

Rosa mengehentikan gerakannya. Ia memandang wajah tampan Ibrahim lebih lekat. "... namun lebih baik jika kamu bangun. Aku tidak akan meninggalkanmu dan selalu merawatmu. Kamu juga tidak akan menyakitiku dan harus selalu berada disisiku. Kamu akan selalu menjadi tempat mencurahkan semua rahasia dan isi hatiku. Sehingga kamu tidak akan menghianatiku..." tambah Rosa tersenyum manis seraya melanjutkan gerakan menyeka.


Setelah selesai, Rosa menyimpan kain lap dan baskom kesil di bawah tempat tidur.


Ia tersenyum lembuat, mengecup pipi Ibrahim, lalu terkekeh "Maaf, aku sangat lancang. Tapi tidak apa apa kan? Kamu tidak akan marah. Aku juga tidak akan melewati batas. Aku tahu, kamu tidak akan bangun..."


"... tidurlah selama yang kamu inginkan. Dan bangun ketika kamu merasa kenyang. Aku menunggumu." Ciuman Rosa berpindah ke kening.


"... aku tidak percaya siapa pun di rumah ini. Setelah hidup selama hampir tiga puluh tahun, tidak memiliki tujuam. Aku menderita, sejak kecil, aku harus melawan sepupuku jika aku menginginkan sesuatu. Suamiku tidak mencintaiku dan berhati kejam. Aku mati dengan sangat teragis.Semua ingatanku di kehidupan masa lalu, membuatku tidak mempercayai perasaan cinta dan kasih sayang lagi atau mempercayai siapa pun lagi. Tapi, aku menyayangi dan mempercayaimu karena kamu tidak akan bangun. Jika saja kamu bangun, aku tidak tahu bagaimana perasaanku kepadamu. Dan semoga kamu tidak akan mengecewakanku."


***


"Kakek, APakah aku boleh pergi ke sekolah?" Kata Rosa kepada Charles yang tengah terduduk santai di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Rosa mengahampiri Charles sendiri karena akan mengatakan ini.


Charles menyesap tehnya. Tanpa melihat ke arah Rosa, Ia menjawab. "Tentu saja. Namun, perawatanmu terhadap Ibrahim akan selalu berjalan setiap waktu luangmu setiap hari."


"Tentu,Kakek.Terima kasih. aku akan pergi ke sekolah besok."


Setelah pamit, Rosa kembali ke kamarnya.


Rosa dan Rian sekolah di tempat yang sama. Namun di masa lalu. Rosa tidak terlalu mengenalnya. Hanya tahu sebatas adik Ibrahim.


Begitu pun dengan Ketty-- Ibu Ibrahim, sama-sama jarang. Ketika berpapasan, Ketty hanya tersenyum tanpa bicara sepatah kata pun. Rosa sendiri pun hanya tersenyum sopan, bagaikan orang asing yang hanya kebetulan bertemu dan saling menyapa di jalanan.


Ketty merupakan seorang gutu. Namun, berada di tingkatan yang dinggi. Dia selalu keluar kota menjadi seorang juri dalam setiap olimpiade.

__ADS_1


Paman dan bibi Ibrahim tidak tinggal di rumah ini. Namun, mereka sering berkunjung. Itulah yang Rosa tahu.


Sebenarnya, Rosa tidak terlalu mau untuk bersekolah. Namun semakin lama, kehidupannya semakin monoton. Jadi dia bisa menghabiskan waktu mencari ilmu yang bermanfaat untuknya dengan kembali sekolah. Dia akan belajar lebih baik dari masa lalu. Memperbaiki dan menyelesaikan yang belum tuntas dalam pembelajarannya.


Sebenarnya Rosa tidak terlalu bodoh. Namun di masa lalu, ia terlalu di pengaruhi oleh hal hal yang negatif dan tidak bermanfaat.


Sedangkan orang yang mempengaruhinya, berada di paling atas, dikagumi, di hujani pujian oleh semua orang. Ya, orang tersebut tentu saja Suchi.


Dan sekarang, Rosa akan melawan dan menjatuhkan musuh dengan melampauinya serta menjadi terbaik.


Rosa tertawa mengejek kepada dirinya sendiri yang terlalu bodo saat itu, "Betapa bodohnya aku di masa lalu..."


Lalu, Rosa menghela nafas seraya tersenyum dingin. "...Di kehidupan ku sekarang, Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu berada di atasku, Suchi Permata Luxury?"

__ADS_1


"...Tentu saja, aku akan menghancurkanmu secara perlahan."


***


__ADS_2