Husband In Life

Husband In Life
Setelah mengambil


__ADS_3

***


Seiring berjalannya waktu, Rosa menjadi lebih akrab dan beradaptasi di kediaman Grimshtoon. Walaupun ibu, adik,paman, bibi, atau sepupu Ibrahim masih tidak peduli dengannya, dia juga tidak peduli. Tugasnya hanya merawat Ibrahim, dan itu adalah alasan keberadaan Rosa di rumah itu.


Terkadang, Rosa akan mengobrol atau sekedar saling sapa dengan pembantu-pembantu di rumah itu. Tentu saja memakai topeng polosnya.


Soal pemantauan, Charless sudah mencabutnya sendiri. Karena lelaki tua itu juga sudah menjadi lebih percaya dengan Rossa.


Tapi di sisi lain, Rian menjadi semakin kesal. Dia selalu menuduh ROsa akan mencelakai kakaknya dan membujuk Charless kembali memasang kamera pemantau.


Namun, Charless tidak melakukannya. ROsa hanya tersenyum sinis menanggapi itu.


Tok tok.


Ketukan di pintu mengalihkan pandangan kedua orang di ruangan itu. Saat ini, Seperti biasa ROsa dan Charles tengah mengobrol. Dan di samping mereka terdapat Ibrahim yang seperti patung tiduran.


"Masuh," ujar Charles.


pintu terbuka. Terlihatlah seorang pembantu yang sudah Rosa kenal--Flora


"Ada apa?"


"I-tu.. Tuan, ada seseorang dari keluarga Luxury datang untuk mengunjungi Anda".


Charles dan Rosa saling pandang dengan ekspresi rumit. Kebetulan ROsa tengah duduk di dekat jendela, ia langsung melihat ke arah luar.


Sumirah dan Taryo terlihat berdiri menunggu di luar gerbang. Rosa terkekeh dalam hati. Ternyata, mereka benar benar tidak di hargai semua orang di rumah Grimshtoon. Bukannya di suruh masuk, satpam gerbang malah membiarkan mereka berdiri kepanasan.


Wajah keduanya terlihat merah. Sepertinya menahan kesal, Rosa yakin, mereka pasti tidak terima dengan apa yang sudah ia ambil sebagai haknya.

__ADS_1


Sudah hampir sebulan sejak Rosa pergi ke rumah Luxury untuk mengambil surat itu. Mereka pasti menyangka ia akan kembali lagi ke sana dan menyerahkan kembali surat itu, atau Rosa akan meminta maaf kepada Suchi seperti yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya.


Dulu, jika Rosa melakukan kesalahan, maka ia akan mati-matian meminta maaf kepada ketiga orang itu.


"sungguh, tidak tahu malu," monolog Rosa tanpa emosi.


Pandangan Rosa kembali pada buku di tangannya. Dengan santai membaca.


Sebelum Charles keluar, ia melihat sikap Rosa yang begitu acuh tak acuh. Charles mengangkat sebelah alisnya dan bertanya. "Apakah kamu tidak akan menemui mereka?"


"Aku sudah mengambik apa yang menjadi milikku di tangan mereka. Dan selama perusahaan Jeremyandara tidak goyah, mereka tidak penting lagi bagiku." balas Rosa melirik Charles seklilas.


"Kapan kamu akan balas dendam?"


Rosa mengangkat kepalanya menatap Charles dengan senyum penuh arti. "Nanti pada waktunya."


Charles mengangguk mengerti "Selama kamu tidak berfikir buruk terhadap keluarga kami, kami akan melindungimu."


Charles tidak menjawab. Dia langsung keluar.


Sedangkan di sisi lain, Sumirah dan Taryo sangat kesal dan marah. Mereka menunggu hampir satu jam lebih di luar gerbang rumah Grimshtoon.


Mereka sudah mengatakan kedatangan mereka untuk menemui Rosa kepada satpam. Tapi setelah satpam masuk, Tidak ada yang keluar lagi membuat mereka harus menunggu. Setelah menunggu lama, tidak ada yang membukakan gerbang. Satpam tadi entah kemana.


Sumirah sudah menelpon Rosa berkali kali sebelumnya. Namun, tidak di angkat sedikit pun.


Mereka hanya takut keluarga Grimshtoon mengetahui tentang mereka. Selain itu, mereka sangat takut, Rosa memberitahukan identitasnya yang sebenarnya.


Wajah kedua orang itu terlihat memerah karena marah,kesal, dan juga karena terpapar sinar matahari yang cukup terik.

__ADS_1


Akhirnya keduanya menyerah karena tidak ada tanda tanda orang yang akan menyuruh mereka masuk. Dengan perasaan buruk keduanya pulang.


Rosa yang melihat mereka dari atas hanya senyum dingin.


Sedangkan Rian yang menyaksikan kedatangan sampai kepergian kedua orang itu merasa sedikit aneh dengan ROsa yang tidak menemui mereka dari awal sampai akhir.


Rian tengah berada di ruangan Charles dengan atensi melihat keluar jendela. Ia bertanya heran, "Kakek, kenapa Rosa tidak menemui mereka? Bukankah seharusnya mereka bekerjasama?"


Kerjasama yang Rian maksud yaitu tentang identitasa yang di tukar.


"Kakek tidak tahu, selama tidak melibatkan dan menyusahkan keluarga kita, biarkan saja. Itu urusan mereka sendiri," jawab Charles tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah buku tebal di kedua tangannya.


Rian mengangguk setuju. DIa tidak akan membiarkan mereka mengusik keluarganya. Sudah cukup dengan apa yang di alami kakaknya yang di sebabkan keluarga Luxury.


Sebulan ini, Keluarga Grimshtoon berada dalam tekanan rendah semenjak Ibrahim mengalami kecelakaan dan terbaring. Charles tidak bisa memulihkan keadaan tanpa keberadaan Ibrahim sendiri.


Dari pada menghancurkan keluarga Luxury langsung, Charles hanya ingin tahu bagaimana ROsa sendiri yang membuat mereka hancur.


Charles hanya berharap Rosa tidak mengecewakannya.


****


"Sudah hampir dua bulan, kenapa kamu masih betah menutup mata?" tanya Rosa seraya menatap Ibrahim dengan sendu. Tapi tangannya tidak berhenti bergerak untuk menyeka tangan,kaki,dan wajah pria itu.


Rosa menunda sekolahnya, ia belum memikirkannya lagi. IA hanya fokus pada Ibrahim dua bulan ini. Mungkin sebentar lagi dia akan pergi.


Ketika ROsa memikirkan kehidupan sebelumnya, di mana Ibrahim tidak bangun selama ia hidup selama hampir tiga puluh tahun, Rosa tertawa miris dan mengejek diri sendiri "Aku lupa. Kamu tidak akan bangun, 'kan? Kenapa aku selalu berharap bahwa kamu akan bangun? Sepertinya percuma saja aku menggunakan air ini. Konyol sekali..."


Rosa tahu, dimasa lalu Keluarga Grimshtoon benar-benar jatuh pada titik terendah karena hampir 10 tahun atau lebih Ibrahim tidak pernah bangun. Tapi, mereka masih memiliki harta yang berlimpah, sehingga perawatan untuk Ibrahim sangat baik.

__ADS_1


Itulah yang Rosa dengar sebelum ia di kurung, di siksa dan mati.


__ADS_2