
Setelha bertahun tahun menikah, Rosa sangat menginginkan seorang anak. tapi Satria selalu mencegahnya dengan cara apapun dan alasan yang membuatnya sabar dan percaya. Dia selalu mengenakan penghalang. Atau tidak lain dirinya selalu di paksa meminum pil Kontrasepsi setelah berhubungan.
Rosa sangat sedih saat itu. Yang membuat hatinya sangat hancur ketika memergoki dua orang telanjang yang berguling guling di atas ranjang. Tidak lain bereka adalah suaminya dan Suchi yang tengah berhubungan intim di kamar dia dan Satria sendiri.
Itu adalah hal yang paling menyakitkan selain mengetahui kenyataan tentang mereka yang hanya menginginkan hartanya.
Entah kenapa walaupun dia sudah berpengalaman, tapi masih sangat malu. Masalahnya dia pria berbeda dengan sosok yang bagus.
Rosa menarik nafas dalam dalam. Hal yang paling sulit dan memalukan dalam merawat Ibrahim adalah mandi.
Dia memulai mengangkat tubuh Ibrahim ke atas kursi roda. Tentu saja berat, Taoi entah apa yang mempermudahkannya. Apalagi karena terbiasa, dia merasa ringan.
Rosa mendorongnya ke kamar mandi, tubuh Ibrahim memang sedikit kurus dari sebelum kecelakaan. Namun pria itu masih terlihat kekar.
Terkadang, ROsa selalu menyayangkan dan takut kehilangan otot-ototnya, tapi ia juga selalu malu sendiri atas pemikirannya.
Setelah beberapa menit, ROsa keluar denganwajah masih memanas.
Dia mengambil baju ganti dan memakaikannya. Mengeringkan dan menyisir rambutnya. Lalu, membaringkannya kembali.
Rosa mengambil sarapan yang sudah di siapkan di meja untuk memberinya makan. Mengambil air di tangannya. Ia tidak pernah memakai air lain untuk memberi minum Ibrahim, hanya air itu saja. Dan itu sangat berdampak. Ibrahim tidak terlihat lesu dan pucat lagi seperti sebelumnya.
__ADS_1
Terkadang, dia memakai sisa airnya untuk menyeka tangan wajah dan kakinya. Walaupun tidak tahu agar apa, Rosa hanya mengikuti naluri di hatinya.
Rosa sudah tahu tentang kamar itu yang terdapat kamera pengawas, Namun Rosa tidak keberatan. Asalkan pada waktu yang tepat dan tidak sembarangan. Rosa mengetahuinya karena tidak sengaja melihat sebuah cctv kecil di sudut ruangan. Namun Rosa tidak peduli.
Entah kenapa ia bisa melihatnya, yang pasti matanya lebih jernih dan jelas saat melihat sesuatu.
Tok Tok.
Ketukan di pintu kembali terdengar, Rosa sudah tahu siapa.
Ia membukanya dan melihat Charless dengan penampilan yang sama seperti sebelumnya.
Charless duduk di kursi biasa Rosa duduk. Dia mengamati cucunya yang terlihat lebih baik,rapi,dan segar.
"Kamu merawatnya dengan baik." gumam Charles yang masih Rosa dengar.
Rosa hanya tersenyum tulus. "Terima kasih, Kakek"
"Bagaimana kamu bisa menangani keluarga Luxury?" tanya Charless tanpa menoleh, hanya menatap cucunya.
Ekspresi ROsa menjadi dingin mendengar marga itu. "Aku akan menanganinya sendiri kakek. Namun, aku meminta bantuanmu untuk mempertahankan perusahaan JeremyAndara agar tidak bangkrut sebelum aku mengisinya. Tapi jika pamanku sendiri yang membuatnya bangkrut, jangan pertahankan. Karena itu seolah kakek yang membantu pamanku, bukan Luxury."
__ADS_1
Charles mengangguk ringan. Itu sangat sepadan dengan perawatan Rosa kepada Ibrahim.
"Apakah kamu mampu?" tanyanya lagi mendengar kalimat terakhir Rosa.
Rosa berkata dengan datar. "Tentu saja"
Walaupun awalnya dia tidak mengerti, namun membaca buku-buku Ibrahim tidaklah sia sia. Rosa akan meningkatkan belajar tentang perusahaan nanti.
Charles hanya mengangguk puas.
"Kakek, bolehkah aku meminta izin untuk pergi ke kediaman Luxury? tanya Rosa setelah mengumpulkan keberanian. Lalu ia menambahkan dengan hati hati. "Hanya sebentar, aku akan mengambil suatu barang dan mengatakan sesuatu kepada mereka."
Charles menoleh dan berkata ringan. "Tentu saja. Aku akan memanggil supir untukmu."
Rosa tersenyum tipis. "Terima kasih, Kek."
Charles hanya mengangguk tersenyum sambil berdiri. "Kalau begitu hati-hati." ucapnya lalu pergi keluar.
Rosa tidak melunturkan senyumannya. Setelah kepergian Charles dia menghampiri Ibrahim.
"Aku akan pergi sebentar. Bolehkah?" bisiknya meminta izin. Tapi keterdiamannya merupakan jawaban untu Rossa.
__ADS_1