
Suara menyedihkan seseorang membuat Rosa langsung beranjak. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, lalu langkah kakinya menuju sumber suara yang berasak dari belokan yang tidak jauh darinya.
Saat sampai, Rosa melihat ketiga orang gadis. Salah satunya terlihat menundukkan kepala. Dan yang dua lainnya terlihat berkacak pinggang dengan ekspresi jijik.
Plak!
Tamparan dari gadis di samping Suchi kepada gadis yang menunduk membuat gadis menyedihkan itu langsung terjatuh dengan muka berpaling ke samping.
Rosa mengerutkan kenin melihat itu. langkah kakinya berlanjut dan lebih mendekat.
Mendengar langkah kaki seseorang, ketiga gadis itu menoleh. Yang paling berekspresi kaget adalah Suchi.
"Kakak?Kenapa kamu di sini?" tanyanya dengan mata melebar kaget.
Suchi pikir, Rosa tidak akan pernah bersekolah lagi untuk merawat Ibrahim. Dan ia pikir, Rosa tidak akan di biarkan keluar rumah oleh keluarga Grimshtoon. Pikiran itu membuatnya kesenangan. Suchi bisa merebut gelar ratu sekolah dari Rosa.
Melihatnya muncul, apalagi dalam keadaan sekarang membuat Suchi merasa cemas dan panik. Walaupun wajahnya sudah terekspos saat terakhir kali bertemu dengan Rosa, Namun Suchi akan berpura pura baik lagi. Apalagi Rosa selalu percaya padanya.
Rosa tidak menjawab. Tanpa ekspresi apapun di wajahnya, Rosa menghampiri gadis yang berjongkok dengan pipi bengkak dan merah bekas tamparan. Rosa membantunya berdiri. Lalu tatapannya menjadi tidak senang saat beralih pada kedua pelakunya.
"Suchi? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menggertaknya?"
Suchi menggeleng panik dengan kedua tangan ikut melambai mengikuti gerakan kepalanya untuk menyangkal.
Sekarang, Suchi sudah mulai tinggal di kediaman Ferguso. Suchi tidak tahu informasi apa apa dari orang tuanya tentang Rosa. Sekarang, kenapa sikap Rosa terlihat berubah?
Mata Rosa bergulir gelisah "E-um.. sebentar lagi akan di adakan seleksi dalam partisipasi pemilihan bakat di sekolah ini. Jadi... Jadi kita hanya berlatih,, Ya,,ya berlatih,," Alibi suchi dengan kepala mengangguk angguk seraya tersenyum paksa.
Gadis di samping Suchi--Cici, menggeleng menyangkal ucapan Suchi, "Tidak seperti itu!"
Suchi memelototinya. Ia mencubit lengan Cici dengan mengancam.
Cici meringis. ia memegang tempat yand di cubit. Setelah melihat mata Suchi yang memberi kode, ia mulai mengerti. Cici mengangguk kaku. "Ah, Suchi benar! Kita hanya latihan saja..."
Mata Rosa memicing. Lalu, ia menoleh ke arah Lia gadis yang ia rangkul untuk membantunya berdiri tegak. "Apakah begitu?"
Lia melirik Cici dan Suchi dengan takut. Tapi, melihat Rosa yang melindunginya, Lia merasa ketakutannya sedikit menghilang.
"Kamu... apakah suda makan siang?" tanyanya pelan.
Rosa mengangkat alis. Lalu tiba tiba Rosa mengerti. Lia ingin berbicara dengannya di tempat lain.
Rosa tersenyum santai seraya menggeleng. "Kebetulan aku belum. Ayo ke kantin bersama," ajaknya mengambil tangan Lia.
Rosa mengabaikan kedua gadis di belakangnya dan menarik tangan Lia. CIci ingin menghentikan mereka, Namun Suchi menggeleng.
Wajah Cici terlihat sangat kesal. "Kenapa kamu membiarkan mereka pergi?!"
__ADS_1
Suchi tidak menjawab. Namun, dia mengkode Cici untuk melirik ke arah lain. Saat Cici mengikuti arah pandangan Suchi, Cici mendapati Fajar dan lelaki lainnya yang tengah menonton mereka. Entah sejak kapan mereka berdiri di sana.
Cici merasa sangat malu dan gelisah. Apakah pembullyan yang ia lakukan kepada Lia mereka lihat>
Ketika melihat Fajar dan yang lainnya terlihat akan pergi, Cici pasti tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk bertemu dengan Fajar.
Dengan itu, CIci sedikit mendekat dan tersenyum seraya menyapa. "Hai."
Fajar hanya melirik dengan kening mengernyit. Jijik, lalu Fajar melanjutkan langkahnya di ikuti teman temannya.
Cici merasa lebih kesal. ia menoleh ke arah Suchi dengan marah. "Kenapa kamu tidak memberitahuku sedari awal?!"
Kening Suchi mengerut. "Kenapa kamu menyalahkanku? Aku sendiri baru sadar keberadaan mereka di sana. Fajar sudah lama telah mengejar Rosa dan selalu mengawasinya, Kamu sendiri tahu itu. Seharusnya kamu menyalahkan Rosa!"
Melihat kekesalan temannya, Cici menghela nagas "Oke.Oke. Aku minta maaf, Kamu tahu bahwa Fajar adalah tunanganku. Aku sangat takut dia membenciku karena tindakanku tadi."
"Lalu bagaimana? apakah kamu akan menjelaskan tindakanmu tadi kepadanya?"
"Ya! Aku takut dia salah paham. Jangan sampai dia membatalkan pertunangan ini."
***
Rosa dan Lia sampai di kantin. Sepanjang jalan, tidak ada yang membuka suara.
Saat memasuki kantin, Rosa melihat Tiara syang sendirian, Ia mengernyit/ Bukankah Fajar bersamanya? Rosa menarik tangan Lia menuju meja Tiara.
Tiara mendongak. Ia menatap Rosa, lalu matanya beralih pada gadis di belakangnya.
"Ya aku sendiri. Aku tidak tahu Fajar pergi ke mana." balasnya. Lalu melirik Lia lagi dengan penasaran "Siapa dia?"
Rosa duduk di depan Tiara. Lalu di ikuti Lia yang duduk di sampingnya. "Tadi ada pembullyan. Aku datang membantunya."
Kening Tiara mengernyit. "Pembullyan? Siapa yang membulynya?"
"Itu Suchi. Orang yang satunya aku tidak tahu siapa dia"
"Suchi? Saudari kembarmu?" Tiara semakin bingung. Ia memang mengenal Rosa, Namun ia tidak mempunyai kesan baik tentangnya.
Rosa mengangguk.
Tiara ingin tahu lebih banyak. Namun, tidak ia menelan kembali pertanyaannya. Rosa mengangkat bahu, lalu menoleh berhadapan dengan Lia.
"Namamu Lia?"
Lia mengangguk dengan kepala tertunduk, Lia adalah gadis yang pemalu. Tidak ada yang berinisiatif berteman dengannya. Ia Juga terlalu malu untuk mengajak orang lain.
Namun, Lia tidak menyangka akan ada yang membantunya. Apalagi itu Rosa. Lia sangat tahu siap dia. Dia sangat mengaguminya dalam kecantikan dan prestasinya. Tidak terbayangkan di benaknya, Dia bisa mengobrol dan di ajak Rosa.
__ADS_1
"Bisa kamu ceritakan?" Tanya Rosa dengan hati hati.
Sebenarnya Rosa, Tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain. Namun, melihat Suchi yang ikut membullynya, Rosa merasa ingin tahu masalah Lia dan teman Suchi.
Lia mengangguk. Dia menceritakannya tanpa ragu.
Lia dan Cici merupakan dua anak yang tertukar. Itu terjadi ketika mereka masih bayi di rumah sakit. Entah apa penyebabnya. Cici bersama keluarga asli Lia yang merupakan keluarga besar dan masih termasuk kalangan atas, begitu pun sebaliknya, Lia bersana keluarga Cici yang berkeadaan biasa saja.
Ketika kebenaran terungkap, Lia kembali ke rumahnya yang bermarga--Lorenzo. Ironisnya, kedatangan Lia tidak di senangi. Malah, Dia selalu di abaikan, di ejek dan tidak pernah di anggap.
Cici yang merupakan putri palsu sangat di sayangi semua keluarga asli Lia. Bukannya di kembalikan pada keluarga aslinya, Namun keluarga Lorenzo malah membiarkannya tinggal dan merawatnya sangat baik. Apalagi, tinggak Cici selalu menyedihkan. Membuat mereka lebih menyayangi dan tidak tega untuk membiarkannya pergi.
"Sangat menyedihkan," gumam Tiara setelah ikut mendengar semua singkat cerita Lia.
ROsa mengangguk setuju, Ia sangat tidak senang dengan pernyataan keluarga Lorenzo.
"Mengapa mereka bersikap seperti itu kepadamu? Padahal kamu sebenarnya putri asli mereka. Seharusnya kondisi kamu lebih menyedihkan dan tersiksa selama kamu tinggal di keluarga yang palsu, Sangat tidak adil" rutuk Rosa dengan kesal.
TIara sepertinya baru sekarang melihat Rosa keasl. Dia selalu berpenampilan polos dan tidak peduli. Entah kenapa sedikit lucu.
Melihat Tiara yang tidak serius, Rosa menjadi lebih kesal."Bukankah seharusnya begitu?"
Tiara menahan senyum geli. mangut mangut. "ya. Ya"
"Kamu juga berfikir begitu kan? Kamu harus lebih kuat dan melawan. Jangan hanya diam. Kamu berhak sebagai putri Lorenzo. Dia bukan siapa siapa di keluargamu. Dia hanya orang lain yang menumpang" Kata Rosa kepada Lia.
Lia mengangkat kepala menatap Rosa. Dia merasa ucapan Rosa sangat masuk akal. DIa sedikit terharu mendapatkan kata kata dari Rosa.
Lia tersenyum tulus "Terima kasih. Aku akan berusaha."
Rosa mengangguk puas tanpa menoleh, Dia pergi ke staf kantin untuk memesan sesuatu. Setelah beberapa menit, Rosa duduk kembali seraya menyodorkan sebuah mangkuk yang berisi semangkuk makanan berat.
"Makan" Titahnya. Lalu, duduk mulan memakan makanannya.
Lia tersenyum cerah. "Baik,terima kasih"
Rosa tidak menjawab. Ia sibuk dengan makanannya.
Mereka selesai bertepatan dengan bel berbunyi. Ketiga gadis itu mulai keluar kantin. Nmaun, Saat akan menuju ke kelasnya, lengan baju Rosa di tarik Lia.
Rosa menoleh "Ada apa?"
Lia menunduk malu. "Bolehkah aku berteman denganmu?"
Rosa dan Tiara saling pandang. Sebenarnya, Rosa tidak asal menerima seseorang. Tergantung bagaimana kesannya pada pandangan pertama. Namun Rosa pikir berteman dengan Lia tidak buruk. Apalagi saat mengingat kondisinya yang menyedihkan.
Rosa menghela nafas "Oke."
__ADS_1
***