
***
"Pita pengiring Lia hilang. Saya akan menjadi pendampingnya untuk mengiringi tarian Lia dengan piano."
Semua orang tertegun mendengar penuturan Rosa. Mereka kira Rosa ingin bersaing dengan Suchi.
Pada saat sebelumnya, penampilan Suchi memang sangat bagus. Mereka yang merupakan senior, tentu tahu gosip apa yang pernah mereka dengar beberapa hari yang lalu. Tidak ada yang tidak terkejut dengan fakta Rosa dan Suchi bukan saudari kandung.
"Biarkan saja dia tampil," imbuh seorang guru seni.
Guru seni itu merupakan koordinatornya. Jadi ia mempunyai wewenang. Dia juga tahu bagaimana kemampuan Rosa dalam piano.
Para panitia yang masih ragu, langsung mengangguk setuju. Mereka membawakan piano ke atas panggung. Penampilan Lia merupakan acara terakhir.
Saat keduanya berdiri di atas panggung, semua orang yang penonton sedikit heran dan penasaran dengan keberadaan seorang 'ratu sekolah' alias Rosa.
Suchi dan Cici yang mendengar prosesnya tentu saja marah.
Pembukaan penampilan keduanya langsung membuat penonton bersorak. Tarian indah Lia diiringi dengan piano Rosa membuat keduanya bersinar terang di atas panggung.
Suchi yang merasa tidak terima, mengepalkan tangannya seraya memprotes kepada
pria yang merupakan guru seni itu. "Pak! Bagaimana bisa Rosa tampil? Dia tidak mendaftar!"
Lelaki berkisar 40 tahun—-koordinator acara, menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari panggung. "Lia kehilangan pita pengiringnya. Rosa hanya membantu melengkapi tariannya."
Suchi menghentakkan kakinya kesal. Semua mata tertuju panggung. Berbagai pujian terlontarkan untuk kedua orang di panggung itu membuat telinganya panas.
Cici merasa iri dan kesal melihat Lia yang bersinar di atas panggung. Apalagi dengan iringan merdu piano Rosa, tarian Lia menjadi sangat lihai dan indah. Lebih baik darinya.
Cici sudah mengancam Lia untuk tidak mengikuti seleksi karena ia takut kalah saing. Namun, Lia sangat keras kepala, jadi Cici mengambil pita pengiringnya itu agar Lia tidak bisa tampil. Tidak pernah Cici sangka Rosa akan membantunya. Penampilan mereka menjadi lebih baik dari dia. Cici mengepalkan tangannya.
"Sjalan!" umpatnya.
Suchi melirik temannya-Cici yang memiliki ekspresi sama dengannya-kesal dan marah. Kedua tangannya mengepal dengan ekspresi cemburu dan kebencian menatap Lia di sana.
Saat melihat Cici akan pergi, Suchi berteriak. "Ke mana kamu pergi?!"
"Bukan urusanmu!" cetusnya tanpa menoleh.
Suchi menjadi semakin kesal. Lalu pandangannya menyapu Satria. Lelaki itu terlihat fokus menatap Rosa di panggung. Matanya penuh obsesi. Mood buruk Suchi semakin buruk.
Tatapan tajamnya menyapu Rosa.
__ADS_1
Saat penampilan keduanya selesai, tepuk tangan dan sorakan meriah memenuhi lapangan. Bahkan, para juri ikut berdiri bertepuk tangan dengan wajah bangga.
Hasil akhir, dimenangkan oleh penampilan terakhir pula. Tentu saja Lia dan Rosa.
Suchi memerhatikan Rosa yang di kerumuni dan dikelilingi pujian. Saat Rosa sudah sendirian, Suchi menghampirinya.
Rosa yang melihat Suchi mendekat dengan wajah tidak sedap di pandang, bertanya dengan acuh tak acuh. "Ada apa?"
"Kau sengaja!" teriak Suchi marah.
Rosa mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura!" Ekspresi Suchi semakin mengerikan. Ia sedikit memelankan suaranya karena masih banyak orang di sekitar. Bagaimana pun, Suchi harus tetap mempertahankan citranya. "Apakah kamu sengaja membantu gadis cupu itu tampil
di panggung agar kalian menang dan mempermalukanku?!"
Rosa mengangkat sebelah alis dengan tersenyum ironis. "Untuk apa aku mempermalukanmu? Jangan-jangan ...." Rosa menggantung ucapannya dengan mata memicing yang membuat Suchi waswas.
".. kamu yang mengambil pita pengiring Lia?"
Suara Rosa mengeras membuat orang-orang di sekitarnya mendengar. Mereka juga sempat tahu soal pita pengiring Lia
yang menghilang. Tidak ada yang tahu di mana. Setelah mendengar ucapan Rosa, semua atensi tertuju ke arah Suchi dengan mengerutkan kening.
Semakin banyak orang yang menonton perdebatan mereka.
Suchi melotot. "Kenapa kamu menuduhku?! Aku sama sekali tidak pernah mengambilnya!"
Suchi merasa panik dan cemas. Apalagi semua mata tajam menuju ke arahnya.
"Oh, benarkah? Lalu, kenapa kamu terlihat panik?" Suara Fajar tiba-tiba datang malah menambah keramaian.
Rosa menoleh ke samping-menatap
Fajar. Kemunculannya tidak masuk dalam perhitungannya. Namun, dia cukup senang. Sekarang, Rosa ingin menonton bagaimana Suchi di pojokkan. Sudut mulut Rosa terangkat menjadi senyum miring.
Suchi merasa berdiri di tengah api. Kemunculan Fajar membuat api semakin besar melingkarinya.
Suchi sangat tahu latar belakang Fajar. Jadi, dia berusaha untuk tidak menyinggungnya. "Ini hanya salah paham."
Fajar terkekeh mencemooh. "Salah paham? Lalu, apa maksud dari apa yang kau bicarakan kepada Rosa? Hilangnya pita Lia pasti
ada hubungannya denganmu! Kenapa kau tidak mengaku saja?" tuntutnya semakin memojokkan.
__ADS_1
"Bu-bukan aku ....." Suchi mencoba menyangkal. Dia sangat gugup dan gemetar.
"Lalu siapa jika bukan kau?" tanya Fajar semakin menuntut.
Mata Suchi bergulir mencari seseorang. Dia sangat tahu bahwa Cici yang melakukannya. Tapi apakah mungkin dia memberitahunya? Kalau tidak, pasti dirinya sendiri yang disalahkan.
Melihat Suchi yang diam dan cemas membuat Rosa terhibur dan bahagia. Suchi selalu berpura-pura baik di depan semua orang. Nyatanya, wajah aslinya sangat berbeda jauh dengan citranya di kesan orang lain.
"Tidak bisa menjawab, heh? Selain jadi pencuri, kau ternyata yang mengarang dan membuat rekaman video itu hanya untuk merusak reputasi Rosa, bukan?!" Mata Fajar memicing tajam.
Suchi menatap Fajar dengan mata membulat kaget. Bagaimana dia mengetahuinya?! Pasti Fajar menyelidikinya! Dan pasti karena Rosa!
Memikirkan itu, Suchi menatap Rosa dengan tajam. Sedangkan yang di tatap malah menyeringai. Wajah Suchi memerah karena marah.
Perdebatan itu bubar menyisakan gosip Suchi yang dianggap pencuri. Reputasinya berubah jelek dikesan orang-orang.
***
"Apakah kamu tahu bagaimana wanita
itu dipojokkan? Wajahnya sangat jelek karena marah. Dia tidak bisa membalas dan menyangkal perkataan Fajar. Aku sangat bahagia melihatnya."
Ketika sampai di rumah, Rosa langsung menceritakannya sambil terkikik. Dia memberikan air yang sudah di peras kepada Abyan. Lalu ia melanjutkan ucapannya. "Suasana hatiku menjadi baik. Kapan lagi aku bisa melakukan hal itu? Aku yakin, reputasinya pasti memburuk. Ya, itu bagus. Karma yang ia dapatkan memang harus lebih buruk. Begitu, bukan?"
Heningnya kamar sudah menjadi jawaban biasa bagi Rosa. Senyumnya belum luntur. Rosa menyeka tangan serta kaki Abyan dengan lembut.
"Aku harap, dia mendapatkan hukuman yang lebih buruk. Dengan apa yang terjadi padanya malam ini, menurutku tidak cukup. Aku ingin dia hancur! Sehancur-hancurnya!" geramnya penuh kebencian.
Saat menatap Abyan lagi, matanya melembut. Rosa mencium pipinya. Berkata lirih. "Cepatlah bangun. Bantu aku."
Setelah selesai, Rosa keluar karnar.
Jari-jari Abyan sedikit bergerak di dalam kamar. Sayangnya, Rosa tidak melihat itu.
Saat akan berjalan ke dapur, Rosa berpapasan dengan Rian. Langkah keduanya berhenti. Rian menatap Rosa tidak ramah. Sebaliknya, Rosa menatap Rian dengan santai.
"Ternyata kamu tidak sesederhana di permukaan," desis Rian dengan suara dingin. "... Diamnya aku, bukan karena aku takut denganmu. Aku akan bertindak jika saja kamu seenaknya. Jika kamu melakuka sesuatu di luar batas dan berniat buruk terhadap kakak dan keluargaku, aku tidak akan membiarkanmu lolos," ancamnya penuh penekanan.
Rian menonton semua perdebatan di sekolah itu. Rian tahu, Rosa tidak akan mudah diprovokasi.
Rosa tidak menjawab. Dia hanya tersenyum santai. Rian mendelik tajam dan melenggang pergi.
Rosa mengangkat bahu. Setelah menyimpan baskom kecil di dapur, dia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Rosa tidak goyah atau pun terpengaruh dengan ancaman Rian. Ia juga tidak berharap keluarga Grissham mengakui keberadaannya. Oleh karena itu, Rosa akan berjuang sendiri. Walaupun seandainya dia seekor kura-kura, ia tetap berjuang akan memanjat puncak dengan kedua kakinya sendiri