Husband In Life

Husband In Life
Pengambilan barang


__ADS_3

"" Bu... Kelurga Grinshtoon mengatakan bahwa aku bukan putrimu. Benarkah itu? "


Bagikan di serang petir di siang bolong. Dengan mata melebar, wajah Sumarni dan suhci memucat.


Rossa menyeringai diem-diem melihat reaksi mereka.


Setelah menarik kesabarannya, Sumarni yang panik tanda sadar membentak, " Omong kosong apa yang kamu katakan?! Tentu saja kamu putriku! "


Rossa sedikit mundur. Ekspresi Rossa terlihat ketakutan. Matanya berkaca-kaca , "kalau begitu... Kenapa kamu membentakku, Bu? "


Sumarni gelagapan. Suaranya langsung melembut. "Ah, maaf! Ibu hanya kaget. Jangan dengarkan omong kosong mereka. "


"Iyah kk kamu tentu saja kakak ku dan putri ibu, " Ujar Suchi ikut menambahkan.


Rossa mengerjap polos. "Tapi... aku mempercayai mereka merana meraka sudah jadi keluargaku. Kalian bukan kelurga ku lagi. Aku juga sudah tidak tinggal di rumah ini. "


Sumarni semakin memucat. Apalagi mendengar 'bukan keluargaku lagi'.apakah usahanya selama 17 tahun akan sia-sia begitu saja? Tentu saja Sumarni tidak akan membiarkannya!


"Bagimana bisa begitu, Rossa? Kamu bisa pulang kapan saja. Kamu juga masih punya keluarga kami , " bantah Sumarni sedikit putus asa.


Ketika mereka mendengar ucapan satria hari itu benar-benar membuat mereka gelisah. Namun, meraka masih bisa tenang karena Lexandra dana surat warisan Rossa masih ada di tangan mereka. Dan kegelisahan mereka terhapus.


Hanya saja, saat Rossa menyebutkan hal ini, kegelisahan Sumarni kembali lagi. Ia takut Rossa tidak akan kembali lagi kerumah mereka untuk berurusan dengan mereka.


Rossa hanya diem membuat Sumarni semakin kalut. Dengan lembaut dia mengambil tangannya. "Ayo masuk dulu. Kita bicarakan saat ayah pulang. Ibu akan meneleponnya. "


Rossa mengangguk patuh. Dia masuk ke rumah itu dan duduk di ruang tamu.


Sumarni dengan tergesa menelepon Taryo yang sedang berkerja. Saat membahas soal apa yang Rossa bicarakan, Taryo dengan cepat pulang. Ia samapai hanya dengan beberapa menit.

__ADS_1


"Sepertinya kita tidak bisa menutupinya. Kelurga Grimshoon sudah mengetahui bahwa dia bukan putri kita, " Bisik Taryo kepada Sumarni


Rossa yang ada di hadapan mereka hanya diem berpura-pura tidak mendengar. Padahal selain penglihatannya yang jelas, dia juga bisa mendengar suara sekecil pun walapun beberapa meter jarak jauh darinya.


Rossa hanya tersenyum dingin. Saat suchi menoleh ke arahnya, senyumannya menjadi manis.


"Rossa, bagaimana mereka mengetahui itu? Apakah kamu juga mengetahui sesuatu di memeberi tahu mereka? " Tuntut Taryo sedikit dingin


Rossa menyusut takut, bibirnya mengerucut. "Apakah ayah menuduhku? Kenapa? Bahkan aku sama sekali tidak tahu aku bukanlah putri kalian. "


Sumarni mencubit keras pinggang Taryo dan memelotinya. Sumarni berbisik tajam. "Kenapa kau malah mengakatan itu"?


Taryo mengiris kesakitan mendapat cubitan istrinya. Setelah mengusap pinggangnya yang menjadi korban, Taryo kembali menatap Rossa dengan ekspresi bersalah. " Ah, bukan itu maksudnya . Ayah hanya ingin tahu saja. "


Rossa menghela nafas, lalu menjawab asal. "Aku tidak tahu ayah . Meraka yang menebaknya sendiri."


Meraka menegang.


desak Taryo


Rossa diem tidak menjawab mambuat kecemasan mereka menambah.


"Ayah, ibu. Kalian banar-banar bukan orang tuaku, 'kan? " Rossa bertanya yang lain.


"Kak! Kenapa kamu malah bertanya sesuatu yang tidak panting?! Orang tua kita bertanya! Kamu malah mengalihkan pembicaraan! Apakah keluarga Grimshoon akan melakukan sesuatu kepada kami?! Raung Rossa cemas dan kesal.


Meraka bertiga tidak tahu saja, Rossa tertawa diem-diem melihat kecemasan kegiatan orang itu.


Sangat menyenangkan, batinnya.

__ADS_1


Dengan sengaja Rossa bertanya pertanyaan yang sama." Kalian juga kenapa tidak menjawab? Ibu dana ayah bukan orang tuaku, 'kan? "


"Ya kamu bukan orang tuamu! Kamu bukan putri kami! Puas kau?! "Taryo kehilangan Kendali karna kekesalannya. Sumarni dan suchi kaget dengan mata melototi Taryo.


Rossa juga sedikit kaget karna pengakuannya. Namun, tanpa terlihat ia tersenyum kemenangan.


" Begitu, yah? "Menolong Rossa dengan kepala tertunduk--menutupi seringaiannya.


Rossa kembali mengangkat kepalanya. Ia menatap satu persatu wajah orang di hadapannya. " Kalau bagitu, jika aku bukan putri ibu dan ayah, aku ingin mengambil hakku. "


Taryo mengerut kening. Firasatnya tidak enak. "Hak apa Maksudnamu? "


"Aku juga mendengar, kalurga Grimshoon mengatakan bahwa aku mempunyai sebuah surat wasiat dari orang tuaku yang asli, " Jawabannya tanpa beban


Ketiga orang di San menegang dengan keringat dingin.


Sumarni berusaha menstabilkan suaranya. "Surat wasiat apa maksudmu? "


"Aku memilikinya, 'kan, bu? " Tanya Rossa lagi menambah kegelisahan mereka. Tanpa menunggu jawaban mereka, Rossa melanjutkan. ".. Jangan iya, maka aku akan mengambilnya, aku sudah dewasa dan sudah menikah. Aku juga sudah bukan kelurga kalian lagi. "


"Kakak! Walaupun kita bukan saudara kandung, tapi kita tetep kelurga!, suara Suchi sedikit kasar dan kelembutannya hilang. Dia hampir saja kehilangan kesabaran mendengar ucapan Rossa.


" Ya ,Rossa. Adikmu bener. Apakah kamu tidak merasakan? Ibu memperlakukanmu lebih baik dari Suchi sendari kecil, apakah kamu tega pergi dari kami? Kami bisa menyimpan surat itu baik-baik . "


Sumarni mencoba untuk membujuknya dengan sangat lembut


"Tidak, ibu. Aku tetep akan mengambilnya dan pergi dari sini, " Sanggah Rossa bersikeras


"Kau"?!" Taryo sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia sangat keselamatan dengan kekereskepalaan Rossa.

__ADS_1


Rossa tersentak kaget. Dia mundur terlihat sangat ketakutan. "Ayah kenapa memarahiku? Aku hanya ingin mengambil hakku. Apakah aku perlu meminta bantuan kalurga Grimm--"


__ADS_2