Husband In Life

Husband In Life
Pasangan Olimpiade


__ADS_3

Make up nya sedikit luntur karena air mata. Penampilan menyedihkannya membuat orang lain bersimpati.


Rosa terlihat tertarik melihat aktingnya. Ia yakin, pasti ada sesuatu.Namun,Rosa tetap santai dan terlihat polos.


"memang apa yang aku lakukan?" Tanya Rosa seakan tidak tahu apa apa.


"Kenapa kakak tidak menemui mereka di gerbangrumah saati itu? Kenapa kakak tidak menjawab telpon mereka? Ibu dan Ayah menunggu lama dan kepanasan. Kakak sangat tega! Kakak menyakiti mereka! Aku sudah bilang, kita masih keluarga. Ayah dan Ibu masih menganggapmu putri mereka. Tapi apa? Kakak tidak keluar sedikit pun menemui mereka!" teriaknya marah dengan air mata mengalir di pipinya.


Ekspresi ROsa yang datar tidak berubah sejak awal. Ia malah mengangkat sebelas alisnya dengan kepala di miringkan. Lalu, bergumam dengan suara dingin. "Kamu tidak akan mengerti."


Rosa berbalik badan dan melangkah untuk pergi.


Suchi merasa kesal dengan sikapnya, setelah itu wajah sedihnya langsung mencerah, dan melirik ke arah sebuah pohon.


"Semuanya sudah terekam?" tanya Suchi ketika seseorang keluar dari balik pohon itu.


Pria berbaju hitam itu mengangguk.


Suchi menyeka air mata palsunya. Lalu tersenyum puas. Senyumannya menjadi seringai. Dengan mata tertuju pada tempat Rosa pergi, Suchi bergumam "Awas Kau! Rosa! Tunggu dan lihat nanti."


***


"Rosa! Ada seorang guru fisika yang menanyakanmu. Dia bertanya apakah kamu ingin mengikuti olimpiade?" Ujar Tiara saat melihat Rosa masuk kelas. "Sebenarnya kamu di haruskan untuk ikut. Tapi terserah kamu saja."


Rosa memang paling pintar dalam bidang fisika. Wajar jika guru fisika mengajukan Rosa ke seleksi bakat untuk olimpiade.


Melihat ROsa yang terdiam, Tiara khawatir Rosa tidak akan mengikutinya. Tiara membujuknya "Rosa! Ayo ikuti saja. Karena ini Internasional! Olimpiade itu di laksanakan di luar kota. Kamu bisa membanggakan sekolah kita!"

__ADS_1


Teman sekelas lainnya yang berada di kelas mengangguk setuju dan mendukungnya.


"Ada apa?"


Rosa akan membuka mulut untuk menggapai, namun tertutup kembali mendengar pertanyaan orang yang baru memasuki kelas--dia Fajar.


Tiara terlihat sangat antusias menjawab pertanyaan Fajar. "Apakah kamu tahu?! Rosa di tawarkan guru kita untuk mengikuti Olimpiade!"


Fajar langsung menatap Rosa dengan senyum cerah. "Rosa! Terima saja! Aku akan mendukungmu sampai akhi!"


"Ya! Kita akan mendukungmu di barisan terdepan!"


"Terima saja!"


"Kamu memiliki otak encer. Jadi bagimu fisika mungkin mudah"


"Ya benar! Selain bisa membanggakan sekolah, Kelas kita pun akan menjadi populer karenamu!"


Rosa di kerumuni dengan suara ramai yang merupakan dukungan antusias semua teman kelasnya.


Rosa terlihat kewalahan. Ia menghela nafas dalam dalam. "Baiklah,baiklah. Aku akan mengikutinya"


Suara Rosa menghentikan semua orang yang berbicara. Kelas menjadi hening. Beberapa detik kemudian, suara tepuk tangan dari Fajar menyebar ke semua orang. Kelas menjadi sangat ramai. Mereka bersorak mendapatkan jawaban Rosa.


Rosa merasa ternyuh mendapatkan dukungan dari mereka. Dulu, mereka tidak seantusias ini. Rosa merasa sendiri. Tidak ada yang mendukungnya. Ia di benci dan di acuhkan. Semua usahanya terasa sia sia. Sepertinya, Tuhan memberikan keadilan padanya, di kehidupan sekarang.


Rosa akan berusaha dan tidak mengecewakan mereka.

__ADS_1


***


"Rosa! Kamu di panggil ke kantor untuk membahas tentang Olimpiade," Teriak Fajar dari luar kelas.


Hari ini memang jamkos, Jadi, Rosa hanya baca baca buku di kelas. Sedangkan orang lain berkeliaran entah kemana.


Rosa mengangguk untuk menanggapi Fajar. Lalu, Ia beranjak keluar.


"Mau aku temani?" Tawar Fajar saat Rosa sudah keluar pintu kelas.


Rosa menggeleng "Tidak perlu. Aku sendiri saja."


Fajar mengangguk mengerti.


"Aku Pergi," Pamit Rosa yang di balas senyuman manis Fajar.


Rosa mulai melangkahkan kakinya menuju kantor. Letaknya tidak terlalu jauh, hanya butuh 4 menit untuk sampai di sana dengan berjalan kaki.


Rosa mengetuk pintu. Lalu ada suara dari dalam untuk menyuruhnya masuk. ROsa membuka pintu bercat cokelat itu. Pandangannya di sambut dengan rak rak dengan berbagai macam buku dan kertas yang bertumpuk, Meja guru serta kursi panjang.


Mila--Guru FIsika, Yang melihat Rosa masuk langsung tersenyum.


"Rosa, kemarilah duduk," ajaknya seraya menunjuk ke kursi di hadapannya.


Rosa mengangguk, Namun, gerakan Rosa terhenti saat melihat seseorang di kursi yang akan dia duduki. Ia baru sadar ada orang lain di depan bu Mila.


Mila yang melihat pandangan Rosa, mulai mengerti dan menjelaskan. "Dia yang akan menjadi pasangan Olimpiade kamu."

__ADS_1


Kening Rosa mengerut tidak suka seraya menatap oran itu. Yang akan menjadi pasangannya.


Satria?


__ADS_2