
Lia teramat senang saat mendapat persetujuan dari Rosa untuk berteman dengannya. Dengan suasana hati yang baik, dia berpamitan kepada Rosa dan Tiara dan memasuki kelasnya. Setelah itu Rosa dan Tiara melanjutkan langkahnya menuju kelas mereka.
Lia dengan Rosa sama sama menempati kelas XI, Hanya saja berbeda kelas. Lia satu kelas dengan Suchi dan Cici yang membuat kedua orang itu lebih mudah untuk menggertaknya.
Namun, Rosa tidak bisa membantu lebih jauh. Ia hanya menerima pertemanan Lia karena hanya ingin melindunginya. Apalagi saat mengingat perlakuan keluarga Lorenzo terhadap Lia.
Kenapa Rosa melindunginya? Karena ROsa sendiri bisa merasakan bagaimana berada di posisi Lia.
Lia terlihat polos seperti dirinya dulu. Sangat mudah untuk di bodohi. Meskipun Rosa pernah merasakan hal yang lebih menyakitkan di kehidupan sebelumnya, setidaknya Rosa berharap dirinya sendiri membantu Lia walau hanya sekedar temannya.
***
Rosa membuka pintu kamar dengan gerakan pelan. Ia baru saja pulang sekolah. Wajahnya terlihat lelah. Saat pandangannya menyapu orang yang tengah berbaring di tempat tidur, Kelelahannya sedikit menghilang.
Rosa melangkah ke arahnya dengan senyuman di wajahnya. Ia menyimpan tasnya, Lalu duduk dikursi biasa ia duduk di samping ranjang.
Rosa menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya. Termasuk masalah Lia. Setiap pulang sekolah, Rosa memang selalu menceritakan hal apapun yang menurutnya menarik kepada Ibrahim.
Jika orang lain mendengar dan melihat Rosa sekarang, mereka pasti akan menganggap ROsa gadis tidak waras karena berbicara dengan orang yang tidak sadar.
Walaupun jika memang benar ada yang melihatnya, Risa tidak akan peduli.
Drrrrtttttt Drrrrrttttt
Telpon bergetar dan berdering membuat perhatian ROsa teralihkan pada ponsel di sakunta. Ia melihat pesan dari Tiara. Mereka memang sudah saling bertukan nomor ponsel, begitu pula dengan Fajar.
Saat melihat pesannya, Rosa sedikit mengernyit.
Tiara
__ADS_1
|Rosa! Fotomu sangat cantik! Coba kamu lihat di postingan forum sekolah, Komentarnya pun begitu ramai!
Rosa mengerutkan kening. Dengan penasaran ua membuka aplikasi yang terdapat postingan itu.
Rosa sangat jarang membuka internet atau media sosial. Jika pun ia membuka, ROsa hanya sekedar melihat lihat video yang menarik. Namun hari ini, Postingan itu menandai akunnya. Pengikutnya bertambah sangat banyak. Lalu ia melihat foto itu.
Gambar dalam foto itu adalah dirinya sendiri tengah bersandar di bawah pohon. Rosa sendiri menduga, pasti posisi kameranya tidak sembarangan, sehingga, gambar itu terlihat sangat indah dan bagus.
Entah siapa yang memotretnya. Namun, ROsa tidak keberatan dengan ini. Saat melihat komentarnya, Rosa hanya membacanya dengan tanggapan biasa saja.
Tidak sengaja, Rosa melihat komentar seseorang. Komentar itu bertuliskan kalimat yang memujinya "sangat cantik". Rosa tahu siapa itu, Itu adalah Satria.
Rosa tidak peduli. Ia mematikan ponselnya. Lalu beranjak mengganti pakaian, setelahitu ia memandikan Ibrahim serta memberinya makanan.
Saat ini, tidak ada yang lebih penting baginya selain Ibrahim.
***
Malam itu, Suchi langsung pergi ke Satria dan meraung. "Satria! Kenapa kamu mengomentari foto Rosa?! Aku sangat tersinggung! Apakah aku tidak cantik sepertinya?!"
Satria tetap diam seraya memainkan ponselnya. Wajahnya dingin. Tak sedikit pun ia melirik Suchi. Teriakan Suchi bagaikan angin lewat.
Menurut Satria, walaupun Rosa dan Suchi kembar, sikap mereka sangatlah berbeda. Sekalipun Suchi menghapus semua make upnya, itu tidak berpengaruh.
Tidak mendapati tanggapannya, Wajah Suchi memerah karena marah "Satria!! Jangan diamkan aku! Berikan aku Penjelasan!".
Satria mengangkat kepalanya, menatap Suchi tajam, ia merasa sangat risih dan terganggu dengan teriakannya yang membuat telinga berdengung.
"Penjelasan apa yang harus aku jelaskan hah?! Itu salahmu karena tidak memberitahuku sejak awal tentang pertukaran kalian! Aku menerimamu bukan berarti aku menyukaimu! itu karena aku terlalu malu dengan keluargaku! Jika kamu ters berbicara tentang ini, aku akan pergi ke keluarga Grimshtoon untuk menemui Rosa!" Geramnya marah dengan wajah dingin.
__ADS_1
Suchi sedikit takut dengan kemarahan serta ucapannya. Walaupun masih kesal, Suchi tidak bicara lagi. Ia menjadi diam dan pergi ke kamarnya.
Aku akan membalasmu, Rosa!! Batinnya dengan penuh kebencian.
***
Ke esokan harinya, seperti biasa sebelum berangkat sekolah, Rosa akan memberikan air murni itu kepada Ibrahim. Setelah selesai, Rosa pergi berangkat.
Ketika sampai di tempat tujuan, Rosa melihat Lia yang terlihat menunggu seseorang di gerbang. Ia turun dan mendekatinya.
Saat melihat Rosa, Wajah Lia langsung cerah. Namun, tersirat kekhawatiran.
Rosa mengernyit. "Ada apa?"
Mata Lia bergulir gelisah "mm...Ros--"
"Kakak! Aku ingin berbicara sesuatu denganmu!"
Teriakan di belakang membuat keduanya menoleh, Mereka mendapati Scuhi dan Cici. Alis Rosa mengerut.
"Ayo!" Ajak Suchi seraya menarik tangan Rosa tanpa menunggu tanggapannya.
Lia terlihat ingin menghentikan Rosa pergi, namun di halangi oleh Cici dengan peringatan tajam. "Jangan ikut campur urusan mereka. Urusanmu denganku!"
Lia mundur. Ia sangat khawatir dengan apa yang akan di lakukan Suchi. Lia sempat mendengar apa yang akan mereka rencanakan. Tapi Lia tidak mengerti rencana apa itu, Yang jelas itu tidak baik. Ia menunggu Rosa untuk memberitahunya, namun mereka terlanjur datang.
Melihat punggung ROsa yang sudah menjauh, Lia hanya berharap tidak akan ada masalah yang menimpa Rosa.
DI sisi lain, Suchi membawa ROsa ke tempat Lia di bully sebelumnya. DI sana terlihat sepi.
__ADS_1
Saat sudah berhadapan, Wajah Suchi langsung berekspresi menyedihkan dan berderai air mata. Namun tersirat kemarahan dan kebencian di matanya.
"Kakak! Kenapa kamu melakukan ini? Apakah kamu membalas dendam pada kami hanya karena bukan anak kandung ibu dan ayah? Kamu menganggapku saudaramu, kan? Walaupun kedua orang tuaku bukan orang tua aslimu, namun mereka sudah merawatmu sedari kecil, membesarkanmu dan menyayangimu. Mereka sangat kesulitan. Kenapa sikapmu berubah, Kak?" ujarnya tersedak-sedak.