Husband In Life

Husband In Life
Gosip Hangat


__ADS_3

"Kamu sudah menikah?!" pekik Theresa syok setelah mendengar semua cerita Rosa.


Rosa melotot seraya mengkode untuk diam. Fajar memukul pelan lengan Theresa sembari menoleh ke sana kemari memastikan tidak ada orang yang mendengar.


Tiara menutup mulut dengan rasa bersalah. Di terkekeh canggung, "... maaf."


"Untung tidak ada orang," gumam Fajar seraya menghela nafas lega.


Waktu istirahat sudah tiba beberapa menit yang lalu. Di kelas hanya ketiga orang itu yang mengisi. Semua orang sudah pergi ke kantin.


Pagi tadi Rosa tidak sempat bercerita, karena guru pelajaran pertama telanjur masuk. Tadi pagi pula, pandangan teman sekelas sedikit berbeda, namun tidak semua orang.


"Aku tidak menyangka ...," gumam Theresa masih tidak percaya. Lalu menoleh ke arah Fajar heran. "Kamu tidak terkejut?"


Sedari tadi Fajar hanya diam dengan wajah masam.


Fajar melirik sekilas. "Aku sudah tahu."


Meskipun begitu, tetap saja hatinya merasa sesak ketika mendengar langsung dari mulut Rosa.


"Kenapa hanya aku saja yang tidak tahu?" lirihnya sedih.


Rosa melirik Fajar ketika mendengar dia sudah tahu. Dia tidak menyadari perubahan wajahnya sama sekali. Rosa mengangkat alis. "Apa yang kamu tahu?"


Bibir Fajar melengkung masam ketika mendengar pertanyaan Rosa. "Aku tahu kamu menikah dengan Satria karena perjodohan."


Rosa terkekeh sinis mendengar Nama 'Satria'. Namun, kedua orang itu hanya mendengar kekehan biasa, dan terdengar manis di telinga Fajar.


"Bukan. Bukan dia yang menikah denganku," akunya jujur.


Mata Fajar membulat kaget. "Lalu siapa?!"


Theresa hanya mendengar percakapan mereka dengan bingung.


"Yang menikah dengan Satria adalah Suchi. Sedangkan aku menikah dengan ...," ucapnya digantung, membuat Fajar semakin penasaran.


Rosa mengangkat kepala menatap Fajar. "Apa kamu tahu Tuan Muda Grissham tang beberapa bulan lalu mengalami kecelakaan?"


"Tentu tahu! Siapa yang tidak kenal dengannya? Sayang sekali. Dia mengalami kecelakaan. Aku mendengar pelakunya adalah—" Fajar langsung menyadari sesuatu.


Dia menatap Rosa dengan mata


membulat. "Tunggu, tidak, tidak. Itu tidak mungkin ...," lirihnya pelan dengan kepala menggeleng mencoba untuk menghilangkan prasangkanya. Dia terkekeh hambar. "Rosa, itu tidak mungkin, 'kan?"


Rosa hanya tersenyum.


Melihat senyumnya sekarang Fajar tahu, sangkaannya benar. Dia bersandar lemas sembari menundukkan kepalanya.


Theresa menjadi lebih bingung. "Ada apa? Aku tidak mengerti."


"Pernikahanku ditukar dengannya. Itu permintaan mereka. Jadi, tanggung


jawab Suchi ditanggung olehku," akunya terus terang. Rosa merasa tidak perlu menyembunyikannya. Walaupun dia belum mempercayai kedua temannya sepenuhnya, dia tidak keberatan, jika suatu hari dibocorkan, baginya bukan masalah besar.

__ADS_1


Theresa mulai mengerti. Dia juga mendengar soal kecelakaan itu. Ternyata tanggung jawabnya dengan pernikahan. Dan posisi Rosa dan Suchi ditukar?


Fajar mengepalkan tangannya di bawah meja. "Kenapa ... keluargamu sangat tega."


Rosa mengangguk setujui. "Itulah sebab


apa yang Suchi katakan di video itu. Hari itu, mereka menunggu di luar gerbang, tapi aku tidak mau menemui mereka karena aku masih belum terima," tuturnya jujur dan bohong.


Rosa hanya membuat alasan.


"Sudah aku duga. Kamu bukan orang seperti itu. Suchi hanya melebih-lebihkan untuk menjelekkanmu, 'kan?" kata Theresa dengan raut jengkel.


"Bukankah dia saudarimu? Kenapa aku merasa Suchi sangat memusuhimu?" tanya Fajar heran.


"Bukan." Rosa menggeleng. "Dia bukan saudariku. Dia hanya sepupuku."


"Apa?!" Ucapan Suchi membuat kedua orang itu terkejut lagi.


Rosa mengangguk santai. "Aku tidak bisa memberi tahu kalian lebih jauh. Intinya, mereka hanya menginginkan hartaku."


Raut kaget keduanya menjadi marah dan kesal.


Rosa mengambil ponselnya. Lalu dia memposting sesuatu.


'Aku bukan putri keluarga Lumian. Suchi bukan saudariku. Dia hanya sepupuku. Kenapa aku harus patuh kepada mereka?'


Setelah mengklik kirim Rosa menyimpannya ponselnya lagi.


Dia malas untuk berpura-pura.


Hanya beberapa menit, postingan itu langsung ramai komentar. Banyak orang yang tidak percaya. Ingin tahu lebih dalam.


"Apakah tidak apa-apa kamu mengatakan yang sebenarnya?" tanya Fajar hati-hati setelah menutup ponselnya. Theresa ikut menengok. Keduanya kaget melihat ekspresi dinginnya.


Rosa mengangguk. "Aku tidak mau berpura-pura kepada Kalian. Sekarang adalah wajah asliku. Kemarin hanya topeng saja. Aku tidak peduli jika kalian berhenti menjadi temanku."


Walaupun masih terkejut, keduanya saling memandang sebelum menggeleng panik.


"Aku tidak mau, Rosa. Aku masih ingin berteman denganmu," aku Fajar dengan tulus. Dia tidak peduli dengan perubahan Rosa. Ia masih menyukainya.


Theresa mengangguk setuju. Dia berfikir, lebih baik saling jujur dan tidak ada yang perlu disembunyikan. Apa yang sudah Rosa ucapkan bukan sesuatu yang sepele, dan Theresa merasa sudah dipercayai dengan perkataan yang bisa di bilang rahasia. Dia akan bertahan bagaimana pun wajah Aslinya


Rosa tersenyum tipis. Dia menatap mereka bergantian membuat Fajar salah tingkah dan Theresa malu.


"Aku akan membantumu perihal video


itu," timpal Theresa seraya mengeluarkan ponselnya kembali. Fajar tidak mau kalah. Dia membant Rosa meredakan gosip itu.


Rosa hanya diam. Tidak tahu apa yang dia pikirkan


Dengan postingan Rosa, pembelaan Fajar dan teman sekelas Rosa yang lainnya, gosip itu menjadi reda. Mereka menjadi sedikit bersimpati kepada Rosa yang ternyata tidak memiliki kedua orang tuanya.


Seharusnya mereka tidak memandang dari sisi Suchi yang menangis sedih. Namun, terkadang orang yang diam hatinya lebih menyakitkan.

__ADS_1


Akhirnya, seminggu kemudian semuanya kembali normal.


Sedangkan Suchi merasa jengkel. Dia merasa usahanya sia-sia. Dan tidak pernah menyangka Rosa akan mengeluarkan identitas sebenarnya. Saat melihat postingan Rosa hari itu, dia langsung pergi ke keluarganya.


Tentu saja mereka sama-sama kaget dan kesal.


Banyak pembela di sisi Rosa. Rosa menggertakkan gigi. Namun, dia mendengar bahwa Rosa tidak mengikuti Olimpiade. Senyumnya mengembang. Hari itu, dia langsung pergi menawarkan diri ke kantor.


Kebetulan belum ada pengganti. Bu Mila langsung menerimanya. Lagipula kepintaran Suchi tidak beda jauh walaupun masih


di bawah Rosa. Hanya saja, Bu Mila menyayangkan Satria ikut mundur hari itu.


Acara olimpiade di luar kota yang akan di adakan tiga hari lagi. Namun, acara seleksi bakat lainnya di adakan di sekolah. Malam ini merupakan acara itu di adakan.


Semua kelas tentu tidak akan belajar. Semua siswa-siswi terlihat sibuk. Mereka bersiap-siap menampilkan bakat mereka masing-masing.


"Rosa, apa kamu tidak mengikuti acara yang lain?" tanya Fajar seraya melihat panggung yang tengah dihias.


Rosa menggeleng malas. Dia hanya akan menonton. Dulu, dia mengikuti seleksi piano dan olimpiade. Dan tentu saja dia yang memenangkannya. Niatnya tidak jauh—-hanya untuk membuat Satria melihatnya.


Malam ini, Suchi pasti mengikuti seleksi piano itu. Rosa yakin. Dulu, mereka bersaing. Dan sekarang Rosa tidak mau melakukan hal merepotkan seperti itu.


Saat malam tiba, panggung di lapang sekolah terlihat bersinar terang. Siswa dan siswi dipanggil satu persatu untuk menampilkan bakat mereka masing-masing.


Rosa dan kedua temannya, mereka tengah duduk dikursi yang sudah di sediakan. Mereka bertiga hanya menjadi penonton tanpa minat mengikuti seleksi itu.


Rosa mengedarkan pandangannya, lalu berhenti pada Lia di samping panggung yang terlihat panik.


Rosa berdiri membuat kedua temannya menoleh bingung. Lalu dia menunjuk ke arah tempat Lia. "Aku mau ke sana dahulu."


Keduanya sudah terbiasa dengan ekspresi Rosa seminggu ini. Termasuk nada bicaranya. Mereka mengangguk mengerti.


Rosa berjalan santai menuju Lia. Gadis yang terlihat panik itu melihat Rosa dan merasa terselamatkan. Entah kenapa merasa lega.


"Rosa!" panggilnya terengah-engah. "Aku akan menari, tapi pita pengiringnya hilang."


Kening Rosa mengerut. "Ada yang mengambilnya?"


Lia mengangguk gelisah. Dia tentu tahu siapa yang mengambilnya. Meskipun Rosa bisa membantunya mengambil kembali. Acaranya akan segera dimulai. Waktunya akan terlambat.


Sama seperti dia, Cici sama-sama ikut menari. Di sekolah itu, terdapat les menari. Lia san Cici mengikutinya. Selama latihan itu, tentu saja gurunya bisa menilai. Tarian Lia lebih baik dari Cici.


"Jika kamu mengganti pertunjukannya, apakah akan terlambat?" tanya Rosa seraya melirik Cici yang tidak jauh darinya. Dia terlihat bangga dengan senyum remeh melirik Lia.


"Setelah ini aku yang akan tampil. Pasti akan terlambat. Selain itu, aku tidak memiliki pendamping," jawabnya cemas. Wajahnya pucat. Ini merupakan kesempatannya, dan dia tidak akan melewatkannya.


"Aku—" Ucapan Lia dipotong ketika mendengar namanya dipanggil. Wajahnya semakin pucat. Tiba-tiba Rosa menarik lengannya menuju ke arah panggung.


"R-osa—" Lia panik dan bingung.


"Aku yang akan menjadi pendampingmu di panggung." Ucapan Rosa sontak membuat Lia sangat lega dengan mata berbinar.


Para staf panitia bingung dengan kedatangan Rosa. Karena Rosa tidak mendaftar seleksi apapun.

__ADS_1


Mendapat tatapan bingung mereka, Rosa menjelaskan. "Pita penggiring Lia hilang. Saya akan menjadi pendampingnya untuk mengiringi tarian Lia dengan piano," tutur Rosa yang membuat semua orang tertegun.


__ADS_2