
Lalu dengan berani ROsa mencium keningnya. Ini bukanlah pertama kali dan buka pula untuk mengambil kesempatan. Rosa sangat tulis, setiap hari bersamanya, Rosa mempunyai kasih sayang untuknya.
Dengan sengaja, Rosa melirik kamera dengan senyum mengejek. Entah itu karena mendapat izin atau karena keberanian Rosa.
Yang pasti sangat kebetulan, di ruangan itu hanya Rian yang menonton. Dia kesal dan marah melihat ejekannya.
"Awas kau, Rosa!"
****
Lebih dari setengah jam, Rosa sampai tidak jauh dari rumahnya sedari kecil ia tumbuh. Ia hanya diam melamun dan belum beranjak keluar mobil. Sebelumnya, ia sudah menelpon SUmirah tentang kedatangannya.
Sedangkan yang di telpon menjadi cemas dan gelisah.
"Apa?! Rosa akan pulang?! Tidak mungkin! Seharusnya dia tidak bisa keluar mengurus Ibrahim! Apakah dia akan menukarkanku lagi,Bu?! Aku tidak mau!" teriak cemas Suchi saat ibunya memberitahu tentang kedatangan Rosa.
Suchi memang sedang di rumah saat ini. Ia selalu pulang ke rumahnya jika bertengkar dengan Satria.
__ADS_1
"Diam,Sucih!" Tekan Sumirah kesal mendengar ocehan putrinya. Ia juga tidak kalah khawatir dengan kepulangan Rosa. Melihat putrinya akan menangis, Nada suara melunak,... Ibu tidak akan membiarkannya"
"Aku tidak akan pernah mau menikah dengannya, Bu! Aku sudah menikah dengan Satria, DUlu, Aku mengejarnya mati-matian! Namun tidak pernah sekali pun Ibrahim melirikku. Aku sangat kesal dengannya!" Raungnya mulai menangis. Ia benar benar khawatir dengan tujuan Rosa pulang.
Wajahnya yang bermake up tebal menjadi menyeramkan karena air mata. Shumirah menghela nafas berat, lalu mengusap kepala putrinya."Tidak akan, Suchi. Ibu tidak akan pernah membiarkannya."
Suchi mengangguk mendengar ucapan ibunya.
"Kita harus berikap lebih baik kepada ROsa hari ini. Kita harus lebih membujuknya agar selalu bersama pria cacat itu."
Suchi mengangkat kepalanya dan tersenyum cerah mendegar usulan ibunya. Dia lupa, Rosa selalu luluh karenanya.
Namun sayangnya, Rosa sudah tahu semua kemunafikan mereka.
Ting nong.
Mendengar suara bel di luar, ibu dan anak itu saling lirik. KEduanya langsung beranjak, sebelum pintu di buka, dengan cepat mengubah mereka memperbaiki ekspresi mereka menjadi tersenyum cerah seakan kedatangan Rosa adalah hal yang paling mereka nantikan.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, mereka melihat ROsa yang tersenyum polos menatap mereka.
Sumirah dan Suchi langsung memeluknya, dan di balas oleh Rosa seraya menahan jijik.
"Rosa! Apakah kamu tidak apa-apa?! Apakah mereka mengganggumu dan menyakitimu?! Ibu sangat Khawatir, hiks..." Ocehan cemas Sumirah hampir memecahkan gendang telinga Rosa.
"Kakak! Aku minta maaf! Seharusnya aku tidak egois, Kak, hiks. Aku akan melakukan apa pun untukmu kak, hiks" Isak Suchi terdengar pilu. Namun di telinga Rosa seakan tengah mendengar monyet mengoceh.
Rosa masih mempertahankan senyum polosnya terlihat semangat dan riang. "Aku baik baik saja. Aku sangat bahagia tinggal di sana..."
Senyum di wajah Suchi dan Sumirah langsung membeku. Kebahagiaan Rosa memang terdengar tulus dan itu menghancurkan bayangan penderitaan Rosa di benak mereka.
Suchi berusaha mempertahankan senyumannya. Bertanya dengan antusias. "Benarkah?!"
Sangat jelas bahwa senyuman terlalu kaku dan di paksakan. Melihat itu ROsa menyembunyikan seringaiannya dan mengangguk semangat.
Lalu tida tiba wajah mereka berubah menjadi sedih membuat kedua orang di depannya mengernyit.
__ADS_1
ROsa menatap Suchi dengan sedih, menahan tangis. "Bu.... Keluarga Grimshtoon mengatakan bahwa aku bukan putrimu. Benarkah itu?"
bagaikan di sambar petir di siang bolong. Dengan mata melebar, wajah Sumirah dan Suchi seketika memucat pasi.