Husband In Life

Husband In Life
Terbongkar


__ADS_3

*****


Hari yang mengubah jalan takdir Rosa tiba.


Rosa hanya memakai gaun putih sederhana dan make up tipis membuat wajah cantiknya semakin cerah.


Mobil keluarga Grimshtoon tiba untuk menjemput pengantin wanita. Keluarga Luxury menyusul di belakangnya, untuk mengantar 'putri' mereka.


Setelah puluhan menit dalam perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah berinterior sangat megah. Hanya beberapa orang yang menyambut. Wajah mereka bukanlah berseri seperti pernikahan pada umumnya. Namun terlihat suram dan kusam.


Rosa hanya tersenyum getir.


Sedangkan ekspresi keluarga Luxury terlihat bahagia. Selain menunggu harta Rosa, mereka bisa mengambil harta keluarga ini lewat Rosa. Itulah yang mereka pikirkan.


Mereka masuk ke dalam rumah besar itu. Keluarga Grimshtoon terlihat sudah menunggu. Begitu pun pengantin pria. Pakaiannya terlihat rapi. Dengan jas hitam, dasi hitam, kemeja putih. Wajahnya sangat tampan, namun pucat. Dia sedang terbaring menutup mata.


Tidak ada sedikit pun senyum dari semua wajah keluarga Grimshtoon. Malah kebencian tersembunyi dapat terlihat di mata mereka.


Walaupun hatinya tak enak, Rosa tetap tersenyum sopan dan berjalan dengan anggun.


Mereka memulai acaranya hanya beberapa jam setelah itu mereka semua bubar.


Rosa tidak pulang kembali ke rumahnya. Dia sudah membawa barang bawaannya. Malam tadi adalah malam terakhirnya tidur di kamarnya yang ia tempati sejak kecil.


Rosa tidak ikut. Walaupun keluarga Grimshtoon tahu mereka kembar. Sumirah dan Taryo merasa waswas. Karena takut Rosa ketahuan. Karena Rosa tidak mau bermake up tebal seperti penampilan Suchi. Sedangkan Rosa selalu berpenampilan polos.


Di masa lalu, Suchi selalu membujuk Rosa untuk berpenampilan sepertinya, dan pada akhirnya kecantikan Rosa tertutupi.


Namun, sekarang berbeda.


Sumirah dan Taryo sudah pulang. Keluarga Grimhtoon sudah keruangannya masing masing. Begitu pun Ibrohim yang sudah dibawa kekamarnya oleh beberapa orang pembantu. Semuanya seperti semula, seakan akan tidak terjadi pernikahan apapun.


"Nona, ikuti saya kekamar tuan muda," kata seorang wanita dengan nada datar. Pakaiannya seperti pembantu.


Rosa hanya mengangguk. Ia mengikuti wanita itu sambil membawa kopernya.


Ketika diperjalanan menuju kamar Ibrohim, Rosa sempet berpapasan dengan beberapa orang yang tadi hadir ketika akad. Namun mereka hanya menatapnya dingin dan acuh tak acuh.


Rosa hanya membalas dengan senyuman polos. Dia tidak peduli.


"Silahkan masuk. Tempat ini adalah kamar Nona dan Tuan Muda. Saya harap Nona bisa merawatnya dengan baik," tutur wanita itu ketika sampai disebuah pintu. Walaupun wajahnya datar, namun tutur katanya sangat sopan.


"Terima kasih, Bibi" ucap Rosa riang dengan senyuman manisnya.


Wanita itu terpana oleh senyuman nona barunya. Wajahnya yang datar sedikit tertegun. "Ah, ya, ya..."


Gadis semanis dia, tidak mungkin orang yang menabrak tuan muda'kan? Batinnya ragu.


Wanita itu mengangguk kaku. Ia lantas membungkuk sopan sebelum pergi.


Rosa mengangkat bahu.


Ketika pintu terbuka, pandangannya menangkap dinding hitam dan putih. Tidak ada foto atau hiasan apapun. Kamar luas itu hanya terdapat tempat tidur,lemari,nakas,rak buku. Lalu, objek yang paling penting adalah seseorang yang terbaring kaku. Dia seperti pangeran tidur. Apalagi, jasnya belum terhanti.


Rosa menutup pintu. Ia Lalu menghampiri Ibrahim yang terbaring dengan langkah pelan.


Dia dudil do soso tempat tidur, sambil menatap wajahnya.


"Hai, Ibrahim. Nama Aku Rossalina" ucap Rosa dengan senyum tipis.


Ketika ia menyebut marganya, suaranya tedengar sangat pelan.


..."kamu bisa panggil aku Rosa. Aku adalah orang yang sudah menjadi istrimu. Aku akan merawatmu dan menjagamu seumur hidupku. Ya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Di kehidupan sebelumnya, kita tidak pernah bertemu. Jadi, mungkin ini adalah pertama kalinya kita bertemu..."


"...Aku sangat menhyesal tidak memilihmu di masa lalu. Namun aku beruntung bisa memilihmu sekarang. Jika orang lain mengejekmu, maka aku yang akan memujimu, jika orang lain menghinamu, maka aku akan menyanjungmu..."


"...Asalkan, kamu selalu ada di sini di sampingku. Kamu tidak akan menyakitiku. Kamu akan menjadi satu-satunya orang yang akan mempercayaiku. Aku mengatakan ini karena aku menyaksikan bagaimana kamu tidak pernah bangun di kehidupanku sebelumnya. Walaupun begitu, aku tidak keberatan walaupun kamu bangun di kehidupan ini. Entah kenapa... Aku mempunyai keyakinan kamu akan bangun, aku hanya takut kepercayaanku goyah..."


Rosa mengungkapkan semua isi hatinya, bahkan rahasia kehidupan masa lalunya ia ungkapkan.


Dira merasa tidak perlu ada rahasia dengan suaminya. Apalagi dia sedang tidur. Jika bangun suatu hari dia bangun juga. Abyan tidak akan mengingat apa yang dia ucapkan. Semoga saja.


Ucapan panjang lebar Rosa hanya di balas dalam keheningan kamari itu, ia tentu saja tidak berharap ada yang menjawabnya. Rosa hanya ingin merasa lega.


Rosa berdiri dari duduknya. ia berkeliling melihat lihat isi kamar itu.


********


Sedangkan di ruangan lain.

__ADS_1


Rosa tidak tahu bahwa dia dan Ibrahim sedang di awasi oleh sebuah kamera pengawas.


"Apa yang ia bicarakan? Kehidupan sebelumnya?.." tanya heran lelaki remaja kepada keluarganya.


Beberapa orang di sana berfikir rumit.


"Dia bukanlah Suchi. Tapi, Kembarannya" Ucapan seorang lelaki tertua di ruangan itu membuat semua orang kaget.


"Apa?!" teriak mereka kaget berbarengan.


Brak!


"Apakah mereka menipu kita?!.." Marah itu sambil menggebrak meja.


"Sabar nak. Kamu jangan terbawa amarah," ucap lembut seorang wanita.


Dia adalah ibu Ibrahim dan Flora. Usianya sudah hampir menginjak kepala empat. Dia terlihat masih usia tiga puluhan. Karena terlihat sangat cantik. Penampilannya sangat anggun.


"Tapi mereka menipu kita Mah!"


"Rian! Diam kau!" Kekesalan pria tua itu membuat orang yang di panggil Rian langsung tertunduk.


"Kita tidak bisa menukar mereka kembali! Pernikahan mereka sudah terjadi! Apakah kamu mendengar ucapan gadis itu? Dia sangat tulus ingin merawat cucuku. Kita bisa membalas keluarga Luxury lain kali!.


Rian terdiam mendengar ucapan Kakeknya.


"Aku akan menyeka keringatmu, bolehkah?" Suara lembut Rosa mengalihkan perhatian mereka kembali ke layar.


"Diammu, Ku anggap iya." lanjutnya seraya terkekeh.


"Gadis ini terlihat kebalikan dari sikap kembarannya, dia terlihat sangat baik. Namun aku belum bisa menerimanya karena dia putri Luxury." Flora bersuara, tanpa mengalihkan pandangan pada dua orang di layar.


"Meskipun dia baik, aku tidak akan pernah mau mengakui keberadaannya di rumah ini!" Ada sedikit kebencian dalam nada suara Rian sambil tangannya mengepal.


Dia sudah mengagumi kakaknya dari kecil/ Dia berusaha menjadi seseorang seperti kaknya yang selalu membanggakan orang tua dan bekerja keras. Namun, kecelakaan itu membuat semuanya berubah. Hatinya hancur.


Kakaknya yang selalu gagah, sekarang terbaring. Mata tajamnya menutup. Apalagi kakinya mengalami Cacat.


Rian sangat membenci pelakunya. ia sangat marah ketika pelakunya tidak di penjara. ketika ia tahu pelakunya adalah siswi yang satu sekolah dengannya, Rian sedikit kaget. Namun tidak lama bibirnya menyeringai. Dia berniat akan membullynya habis-habisan.


Ketika keluarganya memutuskan untuk menikahkannya dengan orang itu, Rian sedikit tak terima, namun ia tidak bisa apa-apa.


**********


Rosa meminta tolong kepada seorang pembantu untuk membawakan sebuah baskom kecil berisi air handat dan handuk.


Pembantu itu dengan sopan mengangguk dan melaksanakan perintah.


"Terima Kasih!" Ucap Rosa kepada pembantu wanita yang terlihat masih muda.


Wanita itu tersenyum tulus melihat Nona barunya "Sama-sama".


Rosa menutup pintu. Ia melangkah pelan menuju ranjang. Lalu duduk di samping Ibrahim dengan baskom kecil di pangkuannya.


"Maaf, ya. Bukannya aku tidak sopan, Namun kita sudah suami-istri. Tidak apa-apa kan Jika aku menyentuhmu?" Tanyanya lembut hanya di balas suara percikan air di tangannya.


Rosa membasahi handuk itu, Lalu Memeras Airnya.


Dengan hati-hati, Rosa menyeka keningnya yang basah oleh keringat, Tengkuk serta leher. Gerakannya sangat lembut. Rosa tidak membuka bajunya. Walaupun dia sudah menjadi istrinya, Rosa belum meminta izin kepada keluarganya sebelum tanggung jawab penuh di serahkan kepadanya.


Rosa menyekanya dengan telaten. setelah selesai ia menyimpan kembali basok kecil tersebut di samping tempat tidur,


Tok Tok


Ketukan di pintu membuat Rosa langsung beranjak membukanya.


Setelah terbuka, terlihatlah seorang wanita yang ia suruh beberapa menit lalu.


"Nona, Tuan meminta Anda untuk ke ruangannya."


Tuan yang ia maksud adalah kakek Ibrahim. Karena ayah Ibrahim sudah meninggal tiga tahun yang lalu karena penyakit.


Rosa mengangguk mengerti. ia yakin, pasti yang orang itu bahas merupakan yang bertentangan dengan Ibrahim.


"Mari saya antarkan" Ajaknya yang Langsung Rosa Angguki.


Rosa mengikutinya di belakang.


Di perjalanan, Rosa bertanya, "Kakak, namamu siapa?"

__ADS_1


wanita itu tersenyum malu, Namun tetap menjawab. "Nama s-aya Firsa Nona"


Rosa tersenyum "Kalau gitu, aku akan memanggilmu Kak Firsa!"


"Ah, Jangan Nona! itu terdengar tidak pantas. Aku hanya pem-"


Rosa memotongnya "Apakah tidak boleh? Aku hanya ingin lebih akrab dengan kak Firsa." Ucapannya terdengar menyedihkan.


Firsa gelagapan . "Bu-bukan begitu, No-na..."


"Boleh, Ya?"


Melihat harapan di matanya, Firsa mengangguk kaku.


Rosa tersenyum lebar "Terima Kasih"


"Sudah sampai, No--"


"Kak Firsa harus memanggilku, Rosa"


"I-tu... sangat tidak sopan untukku No--"


"Rosa \=. R-O-S-A" Dengan keras kepala Rosa mengejahnya agar Firsa memanggil namanya.


Firsa hanya pasrah. Ia berucap pelan "Oke R-rosa"


Rosa punya tujuan lain melakukannya, ia bukan hanya sekedar ingin akrab dengan pembantu rumah ini. Karena ia tidak akan mempercayai siapapun lagi.


Dengan pelan-pelan, ia hanya ingin tahu lebih banyak tentang keluarga Grimshtoon lewat Firsa.


"Terima kasih, Sudah mengantarku" Ucap Rosa tulus.


"Ya, ya sama sama" Firsa mengangguk berulang kali lalu pergi.


Senyum di wajah Rosa hilang di gantikan dengan ekspresi dingin.


Tok tok.


Rosa mengetik tiga kali pintu depannya.


"Masukkk"


Ketika mendengar suara di balik pintu, Rosa kembali memasang Ekspresi palsunya dengan senyum sopan. Ia dengan pelan membuka pintu.


Setelah Masuk, yang Rosa lihat seperti ruangan interogasi, sangat cocok di dalam berisi dua bangku berhadapan. Di tengahnya meja persegi panjang berukuran sedang. Lampu menggantung hanya menyinari bagian tengah meja itu.


Ruangan terasa dingin. Tapi, tidak ada sedikit pun rasa takut pada diri Rosa. Dia sudah pernah menempati tempat yang lebih mengerikan di kehidupan pertamanya.


"Duduk." Suara dingin pria tua di ruangan minim cahaya itu di balas bungkukan sopan Rosa sebelum duduk.


"Kamu Bukan Suchi?"


Tidak ada raut kaget dalam ekspresi Rosa. Ia hanya menjawab "Ya"


Charles Grimsthoon. Nama lengkap pria tua di hadapan Rosa. Nadanya terdengar Mengintimidasi. Tapi tidak berpengaruh apapun terhadap Rosa.


Charles memincingkan matanya melihat wajah santai gadis yang menjadi istri cucunya.


"Apakah kau tahu apa yang kau katakan?"


"Yeah, Aku tahu. Aku bukan Suchi, Tapi aku Rosa" Jawabnya dengan polos.


Wajahnya juga terlihat polos. Charles merasa harga dirinya jatuh.


Bagaimana tidak? Jika dia mengintrogasi orang lain, orang itu akan menggigil ketakutan akan aura atau pun nada suaranya. Wajah mereka pucat, Jika lebih lama di ruangan itu merasa akan mati.


Namun justru wajah gadis di depannya terlihat sangat santai. Tidak ada sedikit pun rasa takut ; membuat Charles tidak ingin menginterogasi lebih jauh. Jawabannya sangat jujur, Charles merasa seakan menuduh orang yang tidak bersalah.


"Dia tidak cocok di libatkan masalah ini. Mereka sangat brengsek," monolog Charles dengan pelan yang masih Rosa dengar.


Rosa hanya melihat sekeliling ruangan itu berpura-pura tidak mendengar.


Sekarang harga dirinya benar-benar sudah jatuh. Charles menyerah, ia menghelan nafas dalam dalam. "Baiklah, hanya itu yang ingin ku katakan. Niatku menikahkan Ibrahim dengan kembaranmu hanya ingin dia membayar harganya. Jika semua ini ku tahu dari awal, mereka tidak perlu mengorbankamu. Sekalian, aku ingin sekali menghancurkan keluargamu."


"...Hancurkan saja Aku tidak peduli.."


Charles Tertegun "....Appaaaa?"


*****************

__ADS_1


__ADS_2