
"Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini? Bagaimana jika dai memergoki kita?" ucap Hakim tak kalah paniknya.
***
"Begini saja, bagaimana kalau kamu bersembunyi di kamarnya Sukma, aku yakin sekali jika suami ku tidak akan tau. Di sana pasti akan sangat aman untuk mu.
"Ok, baiklah. Kalau begitu, segeralah pasang pakaian mu," jawab Hakim memungut semua pakaiannya lalu bergegas ke kamar Sukma.
Semetara itu, setelah memasang semua pakaiannya, ia kemudian bergegas membukakan pintu untuk Bagus.
"Huh, semoga saja nggak ada yang ketinggalan di kamar," gumam Murni sebelum membukakan pintunya.
"Kenapa buka pintunya lama sekali bu?" tanya Bagus yang heran melihat sang istri hanya mengenakan handuk yang di balut kan di badannya.
"Maaf pak, tadi aku lagi di kamar mandi. Bapak nggak lihat, ni aku hanya menggunakan handuk saja," alasan wanita paruh baya itu.
"Oh iya, maafkan aku bu. Ya sudah, kamu lanjutkan saja mandinya," ucap Bagus lalu memilih duduk untuk melepas penatnya.
"Ah nggak usah pak. Aku mandinya nanti saja. Pesawat kamu berangkat pukul berapa pak?" tanya Murni berharap jika suaminya itu akan pergi dengan secepatnya.
"Dua jam lagi bu. Maka dari itu aku nggak bisa lama-lama. Kamu sudah siapkan keperluan ku kan?" tanya Bagus lagi.
"Sudah pak. Aku sudah menyiapkannya dari tadi. Ya sudah, kalau begitu kamu mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya nya lagi.
"Hmmm, maaf ya bu, kayaknya nggak dua-duanya deh. Aku buru-buru soalnya. Takut nanti macet di jalan. Kamu nggak keberatan kan jika aku pergi sekarang," jawab Bagus membuat hati Murni senang.
"Ya nggaklah pak. Masak aku keberatan? Lagi pula kamu bekerja kan juga untukku dan juga Sukma. Sebentar ya, aku ambilkan koper mu dulu," balas Murni lalu bergegas masuk ke kamarnya.
Sementara itu, di kamar Sukma, Hakim masih terus bersembunyi di balik lemari. Namun beberapa saat kemudian, matanya tiba-tiba saja berpaling ke sebuah buku diary yang terletak di atas meja riasnya.
Hakim benar-benar sangat penasaran sekali dengan isi buku itu. Dengan perlahan, ia melangkahkan kakinya mendekati meja risa tersebut dan mengambil buku tersebut.
__ADS_1
Namun sayang sekali, di saat Hakim akan kembali ke tempat persembunyiannya ia tak sengaja menyenggol sebuah bingkai foto dirinya dan juga Sukma, sehingga foto tersebut jatuh dan pecah ke lantai.
"Sial, kenapa nyenggol sih?" umpat Hakim segera berlari ke samping lemari.
"Suara apa itu bu?" tanya Bagus kepada sang istri yang baru saja keluar dengan menyeret koper miliknya.
Murni yang juga mendengar bunyi jatuhan di kamarnya Sukma seketika menjadi cemas dan juga panik. Ia takut jika keberadaan Hakim di ketahui oleh suaminya.
"Kamu mau kemana pak? Bukannya kamu sudah telat?" tanya Murni berusaha mengalihkan perhatian suaminya.
"Itu tadi kamu dengar nggak ada suara yang jatuh dari kamarnya Sukma? Apa Sukma sudah pulang?" tanya Bagus sembari melangkahkan kakinya menuju kamar anak kesayangannya itu.
"Hmmm itu palingan suara kucing pak. Sudah, nanti biar aku saja yang memeriksanya," jawab Murni berlari mencegah suaminya agar tidak masuk ke kamar sang anak.
"Sudah biar aku saja. Siapa tu ada maling masuk kamar anak kita," ucap Bagus yang sebenarnya kembali mencurigai istrinya itu.
Murni atk dapat berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa berdoa agar suaminya tidak menemukan keberadaan Hakim di dalam sana.
Namun, saat Bagus membuka pintu kamar Sukma, ia sama sekali tidak menemukan siapa-siapa di sana. Yang ada hanyalah sebuah bingkai yang jatuh dan pecah kelantai. Dan di atas kasur, ia melihat seekor kucing yang hendak pergi dari tempatnya.
"Kucing bu," ucap Bagus membuat Murni merasa lega.
'Hhhhhh, syukurlah,' batin Murni aman.
"Tuh kan, aku bilang apa. Ya sudah, sekarang mending kamu segera berangkat. Nanti ketinggalan pesawat loh," ucap Murni mencoba mengalihkan perhatian sang suami.
"Iya, kamu benar juga bu. Ya sudah, aku berangkat dulu ya bu. Jangan lupa sampaikan sama Sukma jika aku ada dinas di luar kota. Titip Sukma baik-baik," jawab Bagus sembari berjalan menuju luar rumahnya.
"Baik pak, aku pasti sampaikan sama Sukma nanti. Bapak hati-hati di jalan. Dan jangan lupa seperti biasa ya pak, oleh-oleh untuk aku jangan lupa," balas Murni menyalami tangan suaminya itu.
"Baiklah bu, aku nggak akan lupa," ucap Bagus lalu masuk ke dalam taksi yang sedari tadi menunggunya di luar rumah.
__ADS_1
Setelah kepergian Bagus, Murni segera bergegas masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan rapat. Ia kemudian langsung masuk ke kamar Sukma dan memanggil Hakim agar segera keluar dari persembunyiannya.
"Gimana? Suami mu sudah pergi?" tanya Hakim yang ternyata berpindah ke dalam lemari pakaian Sukma.
"Sudah, dia baru saja berangkat. Gimana? Apa kita bisa lanjutkan lagi?" tanya Murni dengan genitnya.
"Ya pasti bisa lah sayang. Sayang sekali untuk tidak di lanjutkan," ucap Hakim lali membawa Murni ke atas ranjang Sukma.
Mereka pun akhirnya kembali melanjutkan pergulatan terlarang tersebut di kamar Sukma. Kamar yang sebelumnya rapi itu, kini berubah menjadi berantakan akibat ulah kedua pasangan tersebut.
Hingga sore hari mereka baru selesai bergulat dan keduanya sama-sama terbaring lemas karena kehabisan tenaga.
"Murni, buruan kita mandi, Sukma sebentar lagi pasti pulang dari kantor," ajak Hakim yang posisinya masih tidur di sebelah calon mertuanya itu.
"Iya, kamu benar. Ayo, kita mandinya barengan saja di kamarku. Kalo di sini, takutnya nanti Sukma pulang," ucap Murni lalu bangkit dari tidurnya.
Di kamar mandi, Hakim kembali menyalurkan hasratnya kepada sang calon mertua. Namun merek tak sadar jika Sukma saat ini sudah berada di jalan akan pulang ke rumahnya.
Tiga puluh menit kemudian, Sukma pun tiba di depan rumahnya. Ia melihat rumah dalam keadaan sepi dan semua pintu tertutup rapat.
"Ibu kemana ya? Kenapa sepi sekali?" gumam Sukma menerawang jendela samping pintu masuknya.
"Bu... Ibu.." teriak Sukma dari luar sembari mengetuk pintu rumah bercat kan coklat susu tersebut..
Beberapa kali Sukma memanggil sang ibu, namun tak ada jawaban sama sekali. Sukma kemudian memutuskan untuk menelpon sang ibu untuk menanyakan keberadaannya.
Sementara di kamar, Murni yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati ponselnya tengah berdering. Ia pun mengambil dan seketika terkejut saat melihat siapa ang tengah menelponnya.
"Siapa sayang?" tanya Hakim yang juga baru saja keluar dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya.
"Sukma. Kamu jangan bersuara dulu ya. Aku akan angkat panggilannya," jawab Murni lalu menekan tombol hijau yang ada dilayar ponsel pintar miliknya.
__ADS_1
"Halo bu, ibu dimana?" tanya Sukma setelah panggilannya terhubung.