Ibu Pelakor Terkejam

Ibu Pelakor Terkejam
Bab 22


__ADS_3

"Ya, memang kenapa? Apa kamu lelah?" tanya Hakim lagi.


"Hmmmmmmm lelah nggak sih mas. Hanya saja itu ku masih terasa nyeri," jawab Sukma berterus terang.


***


"Hehe.. Maafkan aku ya sayang. Aku selalu nafsuan jika melihat kamu. Ya sudah, kalau begitu kita tidur. Kita bisa melanjutkannya besok," ajak Hakim merangkul pinggul sang istri menuju tempat tidur.


Keesokan paginya, Sukma sudah bangun lebih awal dari Hakim. Ia pun langsung menuju dapur dan melihat isi kulkas yang ternyata kosong.


Sukma pun akhirnya berinisiatif untuk pergi ke pasar yang tak jauh dari komplek perumahan Hakim.


Namun, saat Sukma baru saja keluar dari rumah, ia melihat tukang sayur keliling yang tengah menjajakan jualannya di ujung komplek.


"Ah, itu ada tukang sayur. Aku belanja disitu saja," gumam Sukma dengan semangat melangkahkan kakinya menuju tukang sayur.


"Hmmmmm, penghuni baru ya? Tinggal di rumah nomor berapa?" tanya salah seorang ibu-ibu yang tengah belanja sayur di tempat yang sama.


"Iya bu. Kenalkan nama saya Sukma. Saya istrinya Hakim yang tinggal di rumah nomor dua belas," jawab Sukma membuat ibu-ibu itu saling berbisik satu sama lain.


"Jadi, kamu itu istrinya Hakim? Apa dulu kalian berpacaran?" tanya salah satu dari ibu-ibu tersebut.


"Iya, kami pacaran sudah lama sekali," jawab Sukma dengan sumringah.


"Oh ya? Tapi maaf ya jeung Sukma. Kami sering melihat Hakim itu sering bawa perempuan ke rumahnya. Dan anehnya lagi perempuannya itu selalu berbeda. Ada yang rambutnya merah, pirang, dan ada juga yang sudah ibu-ibu," ujar ibu-ibu rempong tersebut membuat hati Sukma sakit mendengarnya.


"Ah, ibu ini salah lihat kali ya? Mana mungkin suami saya bawa-bawa perempuan ke rumahnya," jawab Sukma masih membela Hakim.


Sukma mencoba untuk tidak mempercayai ibu-ibu tersebut. Namun, semakin lama perkataan ibu-ibu tersebut semakin membuatnya sakit hati.

__ADS_1


"Hmmmmm, mungkin kali ya. Tapi kalo jeung Sukma masih penasaran, boleh hubungi satpam komplek kita buat cek rekaman cctv nya. Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu ya jeung. Udah mulai panas ini soalnya," ucap ibu-ibu itu lagi sembari menyindir Sukma yang hatinya sudah bergemuruh.


Setelah membayar semua barang belanjaannya, ia pun bergegas meninggalkan tempat tersebut. Setibanya di rumah, ia langsung menangis melepaskan semua sesak yang sedari tadi ia tahan.


"Sayang? Kamu kenapa menangis?" tanya Hakim yang baru saja bangun mencari keberadaan sang istri.


"Sukma langsung memeluk suaminya erat dan melepaskan semua tangisannya di dalam pelukan sang suami tercinta. Hakim pun nampak diam dan membiarkan Sukma melepaskan semua rasa yang ada di hatinya.


Setelah tenang, Hakim pun langsung bertanya apa yang menyebabkan sang istri menangis di pagi hari.


"Ada apa? Kamu dari mana? Apa yang membuat mu menangis hmmmmm?" tanya Hakim mengusap kepala sang istri dengan lembut.


"Mas, mereka bilang kamu selalu membawa wanita yang berbeda ke rumah mu ini. Apa itu benar?" tanya Sukma sesenggukan.


'Sial, dasar ibu-ibu nggak ada otak. Bisanya cuma ghibah,' batin Hakim kesal.


"Ya ampun, lagi-lagi ibu itu lagi. Sayang kamu tau, ada salah seorang ibu-ibu di komplek kita ini yang berkali-kali meminta aku buat menjadi menantunya. Tapi, aku selalu saja menolaknya. Semenjak saat itu dia sangat-sangat membenciku dan menghasut ibu-ibu yang lain untuk membenciku. Aku yakin sekali jika dialah yang mengatakan hal seperti ini kepadamu agar rumah tangga kita yang bahagia ini menjadi rusak dan hancur. Jadi aku minta sama kamu, tolong, jangan percaya dan jangan bergaul dengan mereka," ucap Hakim mengarang cerita.


Ia berharap jika Sukma akan percaya dengan ucapannya ini. Dan Hakim pun harus menjauhkan Sukma dari ibu-ibu tersebut. Jika tidak, cepat atau lambat, kebusukannya akan terbongkar.


"Tapi hati ku ini sakit sekali mas. Kenapa dia setega itu menuduh mu?" ujar Sukma lagi.


"Sudah. Lupakan. Anggap saja ini ujian dalam rumah tangga kita. Dengan begini, semoga kamu dan aku akan menjadi yang lebih baiknya lagi," ujar Hakim sembari mengecup kepala istrinya itu berkali-kali.


"Tapi mas," ucap Sukma yang langsung di sela oleh Hakim.


"Sayang, begini saja. Sekarang kamu adalah istri aku. Aku mau tanya, kamu percaya nggak sama suami mu ini? Jika tidak, itu hak kamu. Tapi yang jelas, setiap rumah tangga itu akan berakhir bahagia jika masing-masing dari pasangannya saling mempercayai satu sama lain. Aku sendiri, sebagai suami sangat-sangat mempercayai mu, karena aku yakin, kamu adalah wanita yang terbaik untukku," sela Hakim bijak.


Sepertinya Sukma termakan ucapannya Hakim. Ia nampak lebih tenang dalam pelukan suami tercintanya.

__ADS_1


"Aku percaya kamu kok mas. Hanya saja, aku sakit hati dengan ucapan mereka," ucap Sukma menatap wajah suaminya itu.


"Sudah, biarkan saja. Mereka itu hanya iri karena kamu bisa menikah denganku. Ya sudah, mending kamu masak sarapan untuk kita. Aku mau mandi dulu. Hari ini aku akan menghabiskan waktuku dengan mu di rumah saja. Eh, maksud ku di kamar saja," jawab Hakim bercanda.


"Ok baiklah. Huhhhh. Kamu mandi gih sana. Aku akan memasak untuk kita," jawab Sukma mengusap air matanya lalu bangkit dan menuju dapur untuk memasak.


Hakim pun merasa lega karena sang istri memilih untuk percaya dengan dirinya.


Hakim bisa mandi dan bernafas dengan tenang.


Namun, tanpa Hakim ketahui, ternyata Sukma merasa sangat-sangat penasaran sekali dengan apa yang di katakan oleh ibu-ibu kompleknya.


Kecurigaan Sukma semakin bertambah karena waktu itu Hakim pernah mengatakan jika ia di jebak oleh temannya saat pergi ke Bandung.


"Aku akan mencari taunya sendiri tanpa sepengetahuan kamu mas," gumam Sukma setelah teringat kembali kata-kata ibu komplek tadi.


Lima belas menit kemudian, Sukma pun telah selesai memasak sarapan pagi untuk dirinya dan juga sang suami. Begitu juga dengan Hakim, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mas, ayo buruan, nanti keburu sarapannya dingin lo," ucap Sukma menyusul sang suami ke kamar mereka.


"Iya, ini juga udah selesai kok sayang," ujarnya beberapa saat kemudian.


Di meja makan, Sukma hanya banyak diam. Ia tak seperti biasanya.


Ucapan demi ucapan yang di lontarkan oleh ibu-ibu tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Kamu kenapa sayang? Kenapa makanannya nggak di makan?" tanya Hakim yang sedari tadi memperhatikan perubahan sang istri.


"Hhhhhhh, aku nggak papa kok mas. Aku hanya nggak nyangka saja jika saat ini kita sudah menjadi suami istri. Rasanya, aku seperti mimpi loh gitu loh mas," jawab Sukma seolah ia sudah lupa akan masalah tadi pagi.

__ADS_1


__ADS_2