
Setelah kios di tutup, Hakim pun kembali ke kantornya dan Sukma beserta sang ibu juga pulang ke rumah. Hari ini adalah hari yang spesial untuk Sukma. Masalahnya, hari ini ia akan di lamar secara resmi oleh Hakim.
Sukma tidak tau saja, jika yang datang melamarnya adalah orang tua yang di bayar oleh sang calon suami.
***
"Bu, aku senang sekali jika hari ini keluarga mas Hakim beneran akan datang ke rumah untuk melamar," ucap Sukma setelah mereka sampai di rumah.
'Tapi ibu tidak Sukma. Ibu sama sekali nggak ikhlas jika kamu di lamar oleh Hakim. Ibu bahkan juga nggak senang jika kamu menikah dengan Hakim. Hakim itu cintanya sama ibu, bukan sama kamu. Ibu berharap semoga usia pernikahanmu tidak bertahan lama,' batin Murni.
Wanita itu benar-benar tidak menampakkan raut wajah bahagia sama sekali.
"Ibu juga senang nak. Ibu sangat senang sekali. Akhirnya kamu dan Hakim akan segera menikah," jawab Murni menyenangkan hati putrinya.
"Makasih bu. Ini semua tak lepas dari doa ibu dan juga ayah. Hmmmm, oh ya bu, ayah bagaimana? Apa ibu sudah menelponnya?" tanya Sukma yang sebenarnya berharap sekali jika sang ayah hadir di saat kedua orang tua Hakim melamarnya.
"Ibu sudah telpon ayah mu Sukma. Bapakmu minta maaf jika dia tidak bisa pulang untuk menghadiri hari ini," jawab Murni sembari menuang segelas air ke gelasnya.
"Ya nggak papa kok bu. Oh ya bu, aku mandi dulu ya. Aku mau siap-siap dulu," pamit Sukma lalu berjalan masuk ke kamarnya.
"Iya, ibu juga akan bersiap-siap," balas Murni juga masuk ke dalam kamarnya.
Setibanya di kamar, Murni pun langsung menghubungi Hakim. Seperti biasa, jika Bagus tidak di rumah, Murni pasti menghubungi Hakim dengan panggilan video. Hal itu ia lakukan agar Hakim bisa menonton dirinya di saat mandi.
"Halo sayang, ada apa?" tanya HAkim setelah panggilan videonya terhubung.
"Halo sayang. Kamu dimana?" tanya Murni dengan suara pelan.
"Ini aku lagi di ruanganku. Ada apa? Memang kenapa?" tanya Hakim lagi.
"Nggak, ini aku mau mandi. Apa kamu mau ikut?" tawar Murni sembari melepas pakaiannya satu persatu.
__ADS_1
"Mau. Ayo buruan, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya," jawab Hakim memperbaiki posisi duduknya serta melonggarkan dasi yang ia kenakan.
"Sabar dong. Kamu nggak lihat aku lagi membuka pakaian ku," jawab Murni sembari terus membuka pakaiannya satu persatu.
Begitulah hubungan Hakim dan Murni, hubungan terlarang yang sebenarnya timbul bukan karena cinta, melainkan kerena nafsu.
Beberapa jam kemudian, Sukma dan juga Murni sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari makanan dan juga minuman. Kini mereka hanya tinggal menunggu kedatangan orang tua dari Hakim.
Di saat yang sama, ponsel milik Sukma pun berdering. Ia yang tengah duduk manis itu pun langsung menjawab panggilan yang berasal dari Hakim.
"Halo mas, kamu dimana?" tanya Sukma setelah panggilan mereka terhubung.
"Ini aku lagi di jalan, dan sebentar lagi sampai. Kamu sudah siap kan sayang?" tanya Hakim sembari fokus menyetir.
"Sudah kok mas. Ya sudah kamu lanjut saja nyetirnya, hati-hati di jalan," ucap Sukma lalu mematikan panggilannya.
Sepuluh menit kemudian, mobil Hakim sampai di pekarangan rumah Sukma. Hakim beserta orang tua bayarannya itu pun turun dan langsung menuju rumah Sukma.
"Selamat datang om, tante" sambut Sukma menyalami tangan calon mertuanya itu secara bergantian.
"Selamat datang di rumah kami pak, bu, Hakim. Ya sudah kalau begitu mari masuk," ajak Murni berpura-pura tersenyum dan bahagia.
"Ah, baiklah. Terima kasih," jawab orang tua Hakim setelah anaknya pura-pura nya itu menyalami calon mertuanya itu.
"Ayo silahkan duduk, sebentar, saya siapkan minuman dulu," ucap Murni hendak berdiri, namun langsung di cegat oleh Sukma.
"Nggak usah bu. Ibu di sini saja. Biar aku saja yang membuatkannya," ucap Sukma yang hanya di balas dengan anggukan oleh Murni.
.
.
__ADS_1
"Hmmmmm, langsung saja bu Murni, seperti yang sudah kita semua ketahui, kedatangan kami kesini untuk meminta Sukma menjadi istri dari anak kami Hakim. Bagaimana menurut ibu? Apa ibu menerima lamaran anak kami?" tanya laki-laki paruh baya yang mengaku sebagai ayah dari Hakim.
"Hmmmm, kalau saya sendiri sebagai ibu menyerahkan semua keputusan kepada anak saya Sukma. Jika dia menerima, maka saya sebagai orang tua pasti akan menerimanya juga. Iya kan Suk?" jawab Murni melempar pertanyaannya kepada Sukma..
"Kalau aku sendiri sangat-sangat menerima lamaran ini bu. Maka dari itu, aku minta doa restu dari ayah dan juga ibu," jawab Sukma dengan mata yang mulai basah akibat terharu.
"Ibu dan juga ayah mu pasti mendokan mu selalu nak," jawab Murni yang sebenarnya sangat sakit hati sekali.
"Alhamdulillah, berarti kita tinggal menentukan kapan hari dan tanggalnya saja. Apa dari pihak ibu memiliki saran megenai kapan pernikahan mereka akan dilaksanakan?" tanya ibu palsu Hakim.
"Bagaimana Sukma? Apa kamu dan Hakim sudah menetapkan harinya?" tanya Murni lagi.
"Hmmmm, sebenarnya sudah bu. Aku dan mas Hakim sudah menentukan hari pernikahan kami," jawab Sukma menatap calon suaminya itu.
"Iya bu, sesuai kesepakatan kami berdua, rencananya kami akan menikah tanggal tiga bulan tiga tahun ini. Bagaimana menurut kalian? Apa ada usul lainnya?" tanya Hakim menatap Murni dan juga kedua orang tua bayarannya.
"Sepertinya tidak. Taggal itu sudah bagus. Berarti pernikahan kalian dua minggu lagi. Kalau begitu kami sebagai orang tua akan menyiapkan semuanya," jawab ibu dari Hakim, dan diikuti oleh Murni.
"Ah, nggak usah bu. Aku dan Sukma sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk gedung, undangan dan juga catering. Bahkan kami juga sudah menyiapkan pakaian pengantin kami jauh sebelum hari," ucap Hakim membuat Murni terkejut.
'Apa? Mereka sudah menyiapkan semuanya? Tapi kenapa Hakim tidak cerita sama sekali?' batin Murni kesal.
"Oh ya, rupanya kalian sudah bergerak cepat ya," ucap ayah Hakim.
"Ya begitu lah,"
"YA sudah ayo diminum tehnya. Keburu dingin nggak enak," ucap Murni mengalihkan pembicaraan mereka.
Beberapa saat kemudian, Hakim beserta kedua orang tua bohongan nya itu pamit pulang dari rumah Sukma. Murni yang sudah sangat cemburu itu pun langsung memilih masuk kamar dengan alasan jika kepalanya mendadak sakit.
Setibanya di kamar, Murni langsung mengirim pesan kepada calon menantunya itu. Ia meminta Hakim untuk menemuinya besok di kios bakso.
__ADS_1
Sedangkan Sukma, langsung beristirahat karena ia sangat lelah sekali untuk hari ini.