Ibu Pelakor Terkejam

Ibu Pelakor Terkejam
Bab 19


__ADS_3

"Ayah, ibu makasih," jawab Sukma memeluk kedua orang tuanya bergantian.


Dan benar saja, setelah orang tua Sukma dan orang tua Hakim pulang, sebuah mobil pengantin pun datang dan langsung membawa mereka ke sebuah tempat yang telah diimpikan oleh Sukma sedari dulu.


***


"Mas aku sangat senang sekali. Aku nggak nyangka jika ayah dan ibu memberikan hadiah seperti ini padaku,," ucap Sukma setelah mereka duduk di bangku belakang bersama dengan Hakim, laki-laki yang telah menjadi suaminya.


"Iya, aku juga sangat senang sekali. Oh ya, kita akan menghabiskan waktu berapa hari di sana?" tanya Hakim yang tadinya kurang menyimak apa yang dikatakan oleh Sukma.


"Tiga hari mas," jawab Sukma menyenderkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Lumayan, kita bisa menghabiskan waktu berdua saja," ucap Hakim mengusap kepala sang istri.


"Beberapa jam kemudian, mobil pengantin itu tiba di sebuah penginapan yang letaknya di sekitaran pantai pasir putih.


Penginapan yang sedari dulu ingin di kunjungi oleh Sukma. Penginapan tersebut sangat unik sekali. Masing-masing dari kamarnya terpisah dan menjorok ke pantai.


"Wah, indak sekali mas. Lebih indah dari yang aku lihat di foto," ucap Sukma takjub.


"Iya, suasananya juga sangat nyaman sekali. Ayo kita masuk. Aku sudah tidak sabar untuk....," balas Hakim menghentikan ucapannya.


"Untuk apa?"tanya Sukma menatap suaminya itu.


"Mau tau ajah," balas Hakim menoel dagu sang istri lalu berjalan lebih cepat.


"Ihh, apaan sih mas. Bikin penasaran saja," protes Sukma manyun lalu menyusl langkah Hakim.


Setibanya di dalam kamar, Hakim dan Sukma pun langsung membuka pintu yang menghadap ke laut. Hari yangsudah mulai gelap membuat angin dari laut menghembuskan dinginnya ke tubuh Sukma da juga Hakim.

__ADS_1


Hakim pun memutuskan untuk membawa Sukma kembali masuk dan menutup pintunya.


"Sayang, aku mau mandi dulu. Kamu tolong siapkan pakaian ku ya," perintah Hakim mengecup kening Sukma untuk yang pertama kalinya.


Sukma yang baru pertama kali di cium oleh Hakim seketika dibuat diam membatu. Ia seolah tak menyangka jika saat ini ia sudah resmi menjadi istri dari laki-laki yang sudah beberapa tahun ia paccari itu.


Setelah menyiapkan pakaian Hakim untuk yang pertama kalinya, Sukma pun lanjut membersihkan sisa-sisa riasannya sebelum mandi.


Lima menit kemudian, Hakim pun keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk hotel berwarna putih yang ia lilitkan di pinggangnya. Tetesan air dari rambutnya membuat dada bidang Hakim semakin terlihat mempesona, seingga Sukma di buat termenung tak bekedip sedikit pun.


"Hai.. Sayang, kamu kenapa?" tanya Hakim melambai-lambaikan tangannya,


"Ah, aku.. Aku.. Akuu nggak kenapa-kenapa. Aku. Aku mau mandi dulu," jawab Sukma terbata-bata.


"Sukma.. Sukma.. Pasti kamu terkejutkan lihat aku seperti ini. Aku maklum kok.. Kita ini sudah menikah, jadi tolong biasakan dirimu untuk melihat tubuh ku setiap harinya," ucap Hakim membuat pipi Sukma merah merona.


"Apaan sih mas. Minggir, aku mau mandi dulu," balas Sukma mengulum senyumnya semabri berlalu ke kamar mandi.


Sepertinya ayah dan ibunya sudah menyiapkkan semuuanya untuk bulan madu singkatnya dengan Hakim.


"Kalo bajunya seperti ini semua, bagaimana dengan besok? Apa yang akan aku kenakan jika akan main di tepi pantai?" tanya Sukma ragu.


Akhirnya, karena Hakim terus memanggilnya dari luar sana, Sukma pun memutuskan untuk mengenakan sebuah lingerie berwarna hitam mengkilap. Sukma begitu seksi dan sangat cantik sekali mengenakannya. Ukuran yang pas membuat Sukma sangat cocok sekali dengan pakaian itu.


Dengan langkah ragu, Sukma pun membuka pintu kamar mandinya dan melihat cahaya lampu yang sudah redup. Sepertinya Hakim sengaja mengganti lampunya agar bisa beristirahat dengan tenang.


Begitu Hakim mendengar pintu kamar mandinya di buka, matanya tak bisa berkedip saat melihat betapa cantik dan seksinya Sukma dengan gaun tidur itu.


Perlahan Hakim berdiri dari tempat ia duduk dan terus berjalan menghampiri Sukma yang nampak ragu-ragu untuk melangkah.

__ADS_1


"Sayang kamu.. Kamu.. Kamu cantik sekali," puji Hakim yang selama ini hanya melihat Sukma mengenakan kemeja lengan panjang dan rok selutut, dan tak lupa rambut panjang yang ia selalu kuncir kuda.


Kini Sukma sangat berubah seratus enam puluh derajat. Dengan rambut hitam pekat yang terurai, di tambah lagi dengan gaun malam berwarna hitam yang sangat-sangat menerawang, Sukma tampil dengan seksi dan juga anggun.


Lagi-lagi, mendengar pujian dari Hakim, pipi Sukma pun terlihat merah merona, menambah kesan cantik dan seksinya.


"Apa aku pantas mengenakan pakaian ini? Di koper tidak ada pakaian lain selain pakaian ini saja dengan banyak warna dan pilihan," jawab Sukma seolah ia sedang meminta pendapat dari sang suami.


"Kamu sangat-sangat pantas sekali Sukma. Kamu begitu cantik, anggun dan juga seksi," jawab Hakim memberikan pendapatnya.


"Tapi mas, ini.. Ini.. Ini sangat nerawang sekali,"ucapnya lagi.


"Nggak papa. Yang namanya pakaian tidur pengantin baru memanglah seperti ini sayang. Nanti juga akan di buka semua," jawab Hakim membuat bulu kuduk Sukma berdiri.


"Di buka?" tanya Sukma dengan nafas yang sudah tercekat.


"Ya, ayo, kita mulai sekarang," ucap Hakim yang sudah tidak sabar untuk memulai proses malam pertamanya.


Akhirnya, pada malam itu Hakim dan Sukma melangsungkan proses malam pertamanya di tempat impian Sukma. Suasana yang tenang namun kedap suara itu membuat Hakim dan Sukma bebas bereksprei dalam bentuk suara. Sehingga membuat malam dingin itu menjadi malam yang sangat romantis dan spesial bagi sepasang pengantin baru itu.


"Bagaimana? Apa kamu menikmatinya?" tanya Hakim yang hanya di balas dengan anggukan oleh Sukma.


"Sama, aku juga menikmatinya. Makasih ya sayang kamu sudah menjaga mahkota mu untukku," ucap Hakim mencium kening Sukma sekilas.


"Sama-sama sayang. Sudah menjadi tugasku menjaganya untuk kamu," jawab Sukma masih terengah-engah.


Setelah sama-sama puas, Hakim dan Sukma pun akhirnya tertidur saling berpelukan satu sama lainnya hingga pagi menyingsing.


Karena sudah terbiasa bangun pagi, Sukma pun tak butuh alarm untuk membangunkannya. Cukup terkejut dengan keadaannya yang tanpa pakaian, Sukma pun kembali mengingat malam pertamanya dengan Hakim sembari menatap wajah tampan yang masih tertidur lelap di sebelahnya.

__ADS_1


'Aku nggak nyangka mas jika saat ini kamu sudah menjadi suami mu. Aku sangat-sangat beruntung sekali karena bisa menjadi istri dari laki-laki sebaik kamu mas,' batin Sukma mengelus kepala Hakim sehingga membuat laki-laki itu menggeliat dan memeluknya dengan erat.


__ADS_2