
"Iya. Sukma benar sekali yah. Nanti kami pasti akan menginap disini sesekali," jawab Hakim membenarkan ucapan wanita yang baru ia sadari.
"Baguslah kalau begitu. Sering-seringlah menginap disni, kami sama sekali tidak keberatan," tambah Murni menatap Sukma dan Hakim secara bergantian.
***
"Ah, pasti bu. Ya sudah, kalau gitu kami pamit pulang dulu," jawab Hakim lalu menyalami tangan mertuanya itu bergantian.
"Ayah, aku pergi dulu ya. Ayah jaga diri dan kesehatan ayah. Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk memberi tahukannya kepadaku," ucap Sukma memeluk laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
Jujur,Sukma sebenarnya berat untuk meninggalkan ayahnya itu. Apalagi saat ini ia merasa jika sang ibu tengah menyelingkuhi ayahnya.
"Pasti nak. Kamu tenang saja, ayah pasti akan jaga diri dan kesehatan ayah. Sekarang kamu pulang lah. Tidur yang nyenyak. Ayah tunggu kabar baik darimu," balas Bagus mengusap kepala putri tercintanya itu.
Setelah melepas pelukan sang ayah, Sukma pun masuk ke dalam mobil milik Hakim, dan mobil sedan itu melaju meninggalkan area rumah itu.
Sepanjang perjalanan ke rumah Hakim, Sukma deg-degan sekali. Ini baru kali pertama kalinya ia meninggalkan rumah orang tuanya. Rumah yang telah membesarkannya itu.
"Sayang, kamu kenapa? Kok sepertinya kamu gelisah begitu? Apa ada masalah?" tanya Hakim sembari menggenggam tangan Sukma yang terasa dingin.
"Nggak mas, aku nggak papa kok. Cuma aku merasa nervous saja. Baru kali ini aku meninggalkan rumah dan meninggalkan ayah dan ibuku," jawab Sukma membuat Hakim hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
"Sukma sayang, itulah perempuan. Jika anak perempuannya telah menikah, maka ia harus ikut suaminya. Tapi kamu tenang saja. Aku janji akan membawamu mengunjungi ibu dan ayah sesering mungkin," jawab Hakim mengusap kepala wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
"Benarkah?" tanya Sukma menatap Hakim.
"Tentu saja," jawab Hakim tersenyum.
__ADS_1
"Makasih ya mas. Kamu memang suami yang terbaik. Aku beruntung sekali bisa menjadi istri mu," ucap Sukma yang sampai detik ini masih belum tau bagaimana sifat asli suaminya yang sebenarnya.
Tiga puluh menit kemudian, Sukma pun tiba di rumah milik Hakim. Beberapa tahun yang lalu Hakim membeli rumah tersebut dengan cara menyicilnya. Dan seminggu sebelum menikahi Sukma, Hakim pun melakukan pelunasan untuk rumahnya itu.
Untuk membeli rumah itu, Hakim di bantu oleh Murni, wanita yang kini menjadi mertuanya. Murni membantu Hakim secara diam-diam dengan uang yang berasal dari penjualan tanah milik almarhum nenek Sukma di kampung halamannya. Uang yang seharusnya di bagi rata dengan tante Sinta. Namun Murni tidak membaginya dan memakan uang tersebut sendirian.. Bahkan waktu itu Sinta tak tau jika tanah itu telah di jual oleh Murni.
Disitulah penyebab pertengkaran Sinta dan Murni mulai memuncak.
"Hmmmm mas, orang tua mu masih di rumah?" tanya Sukma sesaat mereka akan turun dari mobil sedan itu.
"Nggak. Mereka sudah pulang ke Sumatera," jawab Hakim membuka pintu mobilnya.
"Kenapa cepat sekali mas?" tanya Sukma heran.
"Karena mereka tidak mau meninggalkan kampung kesayangannya. Lagi pula, papa ku tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lama-lama. Kamu tenang saja, nanti sesekali kita akan mengunjunginya ke Sumatra. Mereka pasti senang sekali," jawab Hakim yang tentu semua itu adalah kebohongan belaka.
Setelah menurunkan semua koper-koper miliknya, Sukma dan Hakim pun melangkahkan kakinya memasuki rumah minimalis itu.
Sukma nampak gugup sekali. Meskipun sudah berpacaran dengan Hakim cukup lama, tapi ia belum pernah masuk ke dalam rumah tersebut. Apalagi menginap di sana.
Namun, saat Sukma sudah berada di dalam rumah Hakim dan memasuki kamar mereka, Sukma di buat terkejut dengan sebuah pakaian yang mirip sekali dengan punya ibunya. Sebuah daster bermotif batik Jogja yang dulu sempat ia belikan untuk sang ibu tercinta.
Jantung Sukma langsung berdetak dengan cepat. Pikiran buruk mulai menari-nari di benaknya. Bagaimana bisa batik ibunya bisa berada di rumah Hakim, bahkan di kamarnya pula.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Hakim yang tiba-tiba saja datang memeluk istrinya itu dari arah belakang.
Sukma nampak terkejut dan tersentak. Seketika ia menatap suaminya itu dengan lekat. Sukma tengah membayangkan jika suaminya itu tengah melakukan hal yang tidak-tidak dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Sayang, hey, kamu kenapa?" tanya Hakim lagi.
"Mas, kamu membuat ku terkejut saja," ucap Sukma melepas pelukannya.
"Haha, maafkan aku sayang. Tapi kamu kenapa? Kamu memikirkan apa?" tanya Hakim yang belum menyadari jika ada daster singkat tergantung di balik pintunya.
"Itu, itu, itu sepertinya batik milik ibu ku. Kenapa bisa sampai ada di kamar mu mas?" tanya Sukma membuat Hakim diam tercekat setelah menatap batik yang memang milik ibunya Sukma.
'Siial, kenapa aku lupa menyingkirkan baju itu sih? Aku harus jawab apa sama Sukma?' batin Hakim tengah berpikir keras mencari alasan agar istrinya itu tak curiga..
"O.. O.. Oh batik yang itu. Haha, itu batik milik mama ku sayang. Sepertinya ketinggalan deh. Kamu ini ada-ada saja. Bagaimana bisa kamu bisa mengira itu adalah batik ibu, padahal kan ibu belum pernah ke sini sayang," jawab Hakim meyakinkan Sukma.
"Tapi kenapa mirip sekali ya?" gumam Sukma yang masih merasa yakin jika itu adalah batik milik ibunya.
"Sukma sayang, yang namanya pakaian ya pasti ada kembarannya lah. Lain jika batik itu ada nama ibu mu atau memang di rancang khusus buat ibu," jawab Hakim lagi.
'Sepertinya apa yang di katakan mas Hakim itu ada benarnya. Mana mungkin ibu selingkuh dengan mas Hakim,' batin Sukma berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya.
"Maafkan aku ya mas. Aku sudah suudzon sama kamu. Tak seharusnya aku seperti itu sama suami aku sendiri. Aku hanya parno saja mas. Kamu kan tau sendiri jika aku mencurigai ibu tengah berselingkuh dengan laki-laki lain," ucap Sukma memeluk suaminya itu.
"Tidak apa-apa sayang. Aku tau apa yang tengah kamu rasakan saat ini. Sekarang buang jauh-jauh pikiran buruk mu itu, dan mari kita berselancar lagi," ucap Hakim sembari tangannya mulai menggerayangi tubuh sang istri.
"Berselancar? Lagi?" tanya Sukma sedikit ngeri. Pasalnya dari semenjak menikah dengan Hakim, mereka selalu melakukan hal seperti itu hingga dua sampai tiga kali sehari, dan menyebabkan nyeri dan ngilu di bagian intim Sukma.
"Ya, memang kenapa? Apa kamu lelah?" tanya Hakim lagi.
"Hmmmmmmm lelah nggak sih mas. Hanya saja itu ku masih terasa nyeri," jawab Sukma berterus terang.
__ADS_1