Ibu Pelakor Terkejam

Ibu Pelakor Terkejam
Bab 23


__ADS_3

"Hhhhhhh, aku nggak papa kok mas. Aku hanya nggak nyangka saja jika saat ini kita sudah menjadi suami istri. Rasanya, aku seperti mimpi loh gitu loh mas," jawab Sukma seolah ia sudah lupa akan masalah tadi pagi.


***


"Sama. Aku juga nggak nyangka bisa sampai di titik ini. Makasih ya sayang kamu sudah mau percaya sama aku.


.


.


Sudah hampir dua bulan Sukma menjadi istri dari Hakim. Selama itu juga tidak ada yang aneh dari suaminya. Sukma semakin percaya jika omongan para tetangganya itu hanyalah sekedar gosip saja.


"Mas, aku berangkat kerja dulu ya," pamit Sukma setelah ia selesai menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan suami yang kebetulan hari ini tidak masuk kantor.


"Oh iya. Hati-hati ya sayang. Jangan lupa nanti sore aku jemput kamu. Kita akan ke dokter hari ini juga," jawab Hakim yang tetap kekeh membawa Sukma ke rumah sakit.


"Nggak usah buru-buru mas. Aku ini bar aja telat dua minggu. Siapa tau saja memang hormon ku yang seperti ini," ujar Sukma yang sangat malas sekali jika berurusan dengan dokter.


"Sudah, kamu jangan ngeyel lagi deh sayang. Kalo memang kamu hamil gimana? Kan kasihan anaknya kurang makan," ucap Hakim yang masih berada di dalam selimutnya.


"Apaan sih mas. Belum tentu juga aku ini hamil," ujar Sukma merasa sangat di perhatikan oleh suaminya itu.


"Ya berdoa saja semoga ada adek bayinya di dalam sana. Kalo misalkan nggak ada ya hitung-hitung konsultasi aja gitu," jawab Hakim lagi.


"Haha, iya,, iya,, terserah kamu saja. Ya sudah, aku berangkat dulu ya," balas Sukma lalu mencium kening suaminya itu.


Setelah Sukma pergi, Hakim pun segera meraih ponsel pintar miliknya yang ia letakkan di atas meja sebelah tempat tidurnya. Ia kemudian nampak mengirim pesan kepada seseorang lalu bangun dan langsung ke kamar mandi.


Sedangkan Sukma, tengah berada di atas taksi online yang akan sampai beberapa menit kemudian.


"Selamat pagi Sukma," sapa Riky yang kebetulan satu lift dengan dirinya.


"Selamat pagi juga pak Riky," jawab Sukma balik menyapa.


"Oh ya Sukma. Ini saya mau memberikan undangan untuk mu. Saya harap kamu datang ya," ucap Riky sembari menyerahkan sebuah undangan pernikahan.

__ADS_1


"Loh? Bapak bukanya sudah menikah? Ini?" tanya Sukma terheran.


Setau dirinya, jarak pernikahan antara dirinya dan atasannya itu hanya beberapa waktu saja.


"Belum. Pernikahan saya di tunda karena mama saya tidak enak badan dan harus di rawat di rumah sakit," jawab Riky yang seolah tau dengan apa yang akan di tanyakan oleh Sukma.


"Oh jadi begitu. Nggak papa. Kalau begitu, selamat ya pak atas pernikahan bapak . Semoga lancar sampai hari H," ucap Sukma baru mengerti.


"Amin. Makasih Sukma," balas Riky nampak sangat canggung sekali.


Sementara itu, di rumah, Hakim tengah bersiap-siap menunggu kedatangan ibu Murni. Sang ibu mertua yang sudah beberapa waktu ini jarang sekali berkomunikasi dengan dirinya lantaran Murni ikut dengan suaminya dinas di luar kota.


Dan baru kemarin wanita paruh baya itu kembali pulang.


Tak lama kemudian, Murni pun tiba di rumah sang menantu. Dengan santainya, ia melenggak masuk bagaikan tuan rumah.


Murni tak sadar jika kedatangannya itu tengah di perhatikan oleh seorang warga yang memang kebetulan sudah sangat-sangat curiga sekali dengan Hakim.


Salah satu warga tersebut pun mulai memberi tahu RT dan warga lainnya untuk mengintip aktifitas menantu dan mertua itu.


.


.


"Maafkan aku sayang. Kamu tau sendiri kan jika aku harus ikut suami ku dinas ke luar kota," jawab Murni dengan suara manjanya.


"Ok, lupakan. Sekarang ayo kita ke kamar," ajak Hakim merangkul pinggul wanita yang merupakan mertuanya itu.


Sementara Hakim dan Murni tengah sibuk merajut dosa di kamar menantunya, para warga pun juga sibuk mengintai mertua dan menantu tersebut.


"Bagaimana ini? Apa sebaiknya kita hubungi istrinya saja?" tanya salah satu warga kepada pak RT yang juga ikut dalam pengintaian tersebut.


"Boleh, tapi apa ada yang memiliki nomor istri pak Hakim?" tanya pak RT tersebut.


"Ada, kebetulan saya membawa ponsel istri saya, dan disini ada nomornya bu Sukma. Sebentar, saya cek dulu," ucap salah sat warga lainnya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan nomor ponsel Sukma, warga tersebut langsung memberikannya kepada pak RT dan membiarkan RT mereka untuk bicara dengan Sukma. Sedangkan warga lainnya sibuk merekam aksi Hakim dan Murni yang semakin panas.


"Halo, selamat siang?" jawab Sukma yang saat ini tengah duduk di depan monitornya.


"Halo selamat siang bu Sukma. Ini saya pak Eri ketua RT di komplek Indah," ucap ketua RT tersebut.


"Oh iya pak, ada apa ya pak kalau saya boleh tau," tanya Sukma penasaran.


"Hmmmmmm begini bu Sukma. Apa ibu bisa pulang sekarang?" jawab ketua RT tersebut membuat Sukma semakin penasaran.


"Memang ada apa ya pak? Suami saya baik-baik saja kan pak?" tanya Sukma mulai cemas.


"Suami ibu baik-baik saja. Tapi,,, rencananya saya dan juga warga lainnya akan melakukan penggrebekan terhadap suami ibu pak Hakim," jawab pak RT Eri membuat jantung Sukma berdetak kencang.


"Peng.. Penggrebekan? Maksud bapak apa? Memang suami saya berbuat apa?" tanya Sukma lagi.


"Hmmmmm, begini bu, saat ini kami tengah melakukan pengintaian di rumah ibu karena pak Hakim saat ini tengah melakukan hal yang tidak senonoh dengan seorang wanita bu. Jika ibu tak percaya, sebentar lagi akan saya kirimkan buktinya ke nomor ibu," jawab pak RT Eri seketika membuat jantung Sukma seakan berhenti berdetak.


"A.. A.. Apa? Tidak.. Ini tidak mungkin. Bapak pasti bercanda kan?" tanya Sukma lagi. Ia masih tidak bisa percaya dengan apa yang di katakan oleh pak RT tersebut.


"Saya tidak bercanda bu. Kalau ibu tidak percaya, silahkan ibu lihat sendiri ponsel ibu. Saya baru saja mengirimkan video nya," jawab pak RT tersebut.


Dengan tangan yang bergetar, Sukma pun langsung membuka ponselnya dengan panggilan yang masih terhubung. Matanya terbelalak saat ia tau siapa wanita yang tengah berbuat dosa dengan suaminya itu.


Seketika, air mata Sukma jatuh begitu saja. Rasa perih yang ia rasakan sangat-sangat menyiksa bagi dirinya. Rasa sakit yang baru kali ini rasakan.


Tak mudah bagi Sukma untuk mengeluarkan suaranya yang seakan tercekat di tenggorokannya.


"Pak, tunggu saya. Jangan bergerak dulu. Saya akan pulang detik ini juga," jawab Sukma di sela-sela tangisannya.


Saat Sukma hendak meninggalkan mejanya, tiba-tiba saja Riky datang menghampirinya.


"Sukma, ada apa?" tanya Riky yang terkejut dengan keadaan Sukma.


"Saya... Saya.. Saya nggak kenapa-kenapa pak. Maaf pak, saya permisi dulu. Saya. Saya harus pulang sekarang juga," jawab Sukma lalu berlari meninggalkan Riky begitu saja. Sedangkan semua karyawan lain hanya berbisik-bisik melihat Sukma.

__ADS_1


Mereka bertanya-tanya apa yang tengah terjadi kepada rekan kerjanya itu.


__ADS_2