
"Saya... Saya.. Saya nggak kenapa-kenapa pak. Maaf pak, saya permisi dulu. Saya. Saya harus pulang sekarang juga," jawab Sukma lalu berlari meninggalkan Riky begitu saja. Sedangkan semua karyawan lain hanya berbisik-bisik melihat Sukma.
Mereka bertanya-tanya apa yang tengah terjadi kepada rekan kerjanya itu.
***
Merasa ada yang tidak beres, Riky pun memutuskan untuk mengejar Sukma ke loby.
Di saat Sukma tengah menunggu taksi yang tak kunjung datang, Riky datang menawarkan tumpangan. Tanpa pikir panjang lagi, Sukma pun masuk ke dalam mobil atasannya itu dan meminta Riky untuk mengantarkannya pulang dengan cepat.
"Memang ada apa Sukma? Kenapa kamu sangat panik sekali?" tanya Riky penasaran.
"Panjang pak ceritanya. Nanti bapak juga bakalan tau.Maafkan saya jika sudah merepotkan bapak," jawab Sukma dengan air mata yang tak henti menetes.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang membawa Sukma pun tiba di rumahnya. Kedatangan Sukma langsung di sambut oleh pak RT yang telah menunggunya sedari tadi.
"Bagaimana pak? Apa mereka masih di di dalam?" tanya Sukma dengan mata yang sudah mulai memerah.
"Masih bu. Mereka masih belum mengetahui keberadaan kami," jawab pak Rt membuat hati Sukma semakin hancur.
"Sukma. Apa yang terjadi nak? Kenapa kamu memanggil ayah kesini?" tanya sang ayah yang baru saja sampai dengan motornya.
"Nanti ayah juga akan tau. Ya sudah, kalau begitu ayo pak. Kita langsung masuk saja," ucap Sukma setengah berlari.
Ia sudah tidak sabar lagi untuk menangkap basah suami dan ibunya itu.
Setibanya di dalam rumah, Hakim dan Murni yang belum menyadari keberadaan Sukma dan warga pun nampak masih sibuk bermain panas di atas ranjang.
Dengan emosi, Sukma pun langsung berteriak sehingga membuat Hakim dan sang ibu terkejut. Begitu juga dengan Bagus yang sangat shock dan malu melihat sang istri dalam keadaan telanjang seperti itu. Ia sangat marah sekali sehingga Bagus pun langsung menarik Murni untuk segera menjauh dari Hakim.
"Apa yang telah kalian lakukan?" tanya Sukma dengan teriakan emosi.
__ADS_1
"Suk.. Suk.. Sukma. Kamu," ucap Hakim gelagapan. Hakim yang sedang bertelanjang itu langsung bergegas mengenakan pakaiannya karena begitu banyaknya warga yang meyaksikan penggerebekan tersebut.
"Apa-apaan kamu bu? Kamu sadar nggak sih dengan apa yang telah kamu lakukan ini?" bentak Bagus tak membuat Murni berkutik.
"Ma.. Ma..Maafkan aku pak," jawab Murni dengan kepala yang tertunduk.
"Maaf kamu bilang?" ucap Bagus lagi.
Melihat Sukma yang jatuh pingsan, Bagus pun langsung menangkap tubuh putrinya itu. Ia tau, Sukma pasti sangat terluka sekali.
"Sukma sayang, kamu kenapa?" ucap Hakim hendak meraih Sukma, namun dengan cepat Bagus pun langsung menepis tangan menantunya itu.
"Jangan pernah sentuh anak saya lagi. Pak, tolong amankan kedua pasangan mesum ini. Kalau perlu, bawa saja mereka ke kantor polisi," ucap Bagus lalu membawa Sukma meninggalkan rumah itu.
"Hmmmm maaf om. Sukma naik mobil saya saja. Saya akan membawanya ke rumah sakit," jawab Riky yang langsung di balas dengan anggukan oleh Bagus.
"Sukma bangun nak. Bangun," ucap Bagus terus mengguncang pipi Sukma yang masih tak sadarkan diri.
Lima belas menit kemudian, mereka pun tiba di rumah sakit dan segera membawa Sukma ke UGD. Sukma yang tak sadarkan diri langsung mendapatkan penanganan langsung dari dokter yang bertugas di sana.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya Bagus beberapa saat kemudian.
"Hmmmm, anak bapak baik-baik saja. Hanya saja tekanan darahnya sangat rendah sekai. Selain itu, bayi yang ada di dalam kandungannya juga baik-baik saja. Saya sarankan agar pasien istirahat tota dan jangan stres," jelas dokter tersebut membuat Bagus dan juga Riky sangat terkejut sekali..
"Apa? Anak saya hamil dokter?" tanya Bagus lagi.
"Iya pak. Anak bapak tengah hamil tiga minggu," jawab dokter tersebut kembali menjelaskan kata-katanya.
"Baiklah dokter. Terima kasih banyak," ucap Bagus dengan nada suaranya yang lemah.
Bagus dan Riky pun kemudian masuk dan menemui Sukma yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
Seketika air mata Bagus menetes saat melihat sang putri yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
"Kasihan sekali nasibmu nak," gumam Bagus mengusap kepala Sukma.
Beberapa saat kemudian, Sukma pun sadarkan diri. Ia nampak masih sangat ling-lung sembari memegangi kepalanya yang masih terasa sangat pusing.
"Kamu sudah sadar nak?" tanya Bagus dengan senyuman yang ia paksakan.
"Aku kenapa yah? Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Sukma sepertinya belum sadar sepenuhnya.
"Tadi kamu pingsan nak. Jadi ayah dan pak Riky membawamu ke sini," jawab Bagus seketika membuat mata Sukma basah.
"Yah, mas Hakim yah. Dia.. Dia dan ibu," ucap Sukma dengan suara bergetar.
"Tenang Sukma. Dokter bilang kamu nggak boleh stres. Kasihan anak yang ada di dalam kandungan mu," balas Bagus membuat Sukma terdiam.
"A.. A.. Anak? Kandungan? Aku.. Aku.. Aku hamil?" tanya Sukma mengusap perutnya yang masih datar.
"Iya nak. Kamu hamil. Maka dari itu, kamu jangan stres nak. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan mu itu," jawab Bagus berusaha menenangkan putrinya.
"Nggak yah. Aku nggak mau hamil. Aku nggak mau anak ini. Aku nggak sudi hamil anak laki-laki bajingan itu yah," teriak Sukma histeris.
"Sukma tenang Suk. Kamu harus tenang," ucap Riky angkat suara.
"Gimana saya bisa tenang pak. Suami dan ibu saya.. Bapak lihat sendiri kan apa yang mereka lakukan?" ucap Sukma di sela tangisannya.
"Iya saya tau Sukma, Tapi kamu harus sadar, orang seperti itu nggak pantas untuk kamu tangisi. Air mata kamu terlalu berharga untuk menangisi semua ini," ujar Riky berusaha untuk menenangkan karyawannya itu.
"Apa yang di katakan pak Riky itu benar nak. Kamu nggak pantas menangisi suami mu itu. Laki-laki seperti itu nggak pantas untuk kamu tangisi," ujar Bagus yang satu pemikiran dengan Riky.
"Aku harus temuin mas Hakim yah. Aku akan meminta penjelasannya. Sejak kapan dia melakukan hal seperti ini di belakangku," ucap Sukma sesaat kemudian. Sukma pun mencabut paksa infus yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Nggak usah nak. Kamu istirahat saja dulu. Warga sudah membawanya ke kantor polisi. Biarkan mereka mempertanggung jawabkan perbuatannya di penjara," cegah Bagus menahan putrinya itu. Namun, Sukma tetap bersikeras untuk menemui laki-laki yang baru beberapa bulan menjadi suami nya itu.