
"Eh tunggu, Sukma, sepertinya ada yang berbeda dengan wajahmu. Kamu, mata mu kenapa sembab dan merah gitu Sukma? Kamu habis menangis?" tanya Ricky baru sadar.
"Sukma tak memberikan jawaban apa-apa. Ia hanya diam sembari langsung menundukkan pandangannya.
"Sukma jawab, apa kamu habis menangis semalaman?" tanya Ricky lagi.
***
Sukma masih tak mau menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali menunduk. Air pun sudah jatuh menetes begitu saja tanpa bisa ia tahan. Sukma kembali terngiang-ngiang suara kenikmatan calon suaminya dengan wanita yang sama sekali ia tidak ketahui itu.
"Sukma ada apa? Ayo ceritakan saja. Tidak baik memendam masalah itu dengan sendiri," bujuk Ricky menggenggam tangan wanita yang ia cintai itu.
"Hhhhhh, jadi begini pak, semalam saya tenga telponan dengan calon suami saya. Jadi, saat kami memutuskan untuk mengakhiri panggilannya, calon suami saya itu lupa untuk memutus sambungannya. Alhasil saya bisa mendengar semua yang tengah terjadi di sana. Dan betapa terkejutnya saya saat saya mendengar suara seorang wanita menyapa suami saya dengan lembut. Begitu juga dengan calon suami saya, ia berbicara dengan sangat lembut sekali dengan wanita itu. Semakin lama semakin saya dengar, suara mereka semakin intim dan seperti mendesah seperti itu. Saya curiga jika mereka tengah melakukan sesuatu pak. Menurut bapak, apa yang harus saya lakukan?" tanya Sukma meminta pendapat dari atasannya itu.
Mendengar dan melihat Sukma menangis seperti itu, hati Ricky rasanya sakit sekali. Ingin sekali Ricky menghajar dan memukul laki-laki yang merupakan calon suami dari Sukma itu.
"Hmmmm, Sukma saya tau bagaimana perasaan mu saat ini. Tapi menurut saya, lebih baik kamu tanyakan langsung kepada calon suami mu itu. Minta penjelasannya. Jika memang benar dia melakukan hal yang tak senonoh itu, maka semua keputusan ada di tangan mu. Apakah kamu memilih untuk melanjutkan pertunangan mu dan menikah dengannya, atau kamu menghentikan membatalkan pernikahan mu dengannya. Tapi,, jika saya jadi kamu, saya nggak akan bersedia menikahinya karena dalam sebuah hubungan, kesetiaan adalah hal yang utama," jelas Ricky mengemukakan pendapatnya.
'Sepertinya apa yang di katakan oleh pak Ricky itu memang benar. Jika memang ternyata mas Hakim memang berbuat yang tak senonoh, maka pernikahan ini harus di batalkan. Tapi, bagaimana dengan rasa cintaku padanya? Aku benar-benar tidak bisa kehilangan mas Hakim. Aku sangat-sangat mencintainya,' batin Sukma berada di posisi yang tak menguntungkannya.
"Makasih pak atas saran yang bapak berikan. Nanti setelah calon suami saya tiba di Jakarta, saya akan menanyakan semuanya secara langsung," ucap Sukma menghela nafas berat.
"Ya sudah mending sekarang kita happy saja. Lupakan semua masalah dan juga beban mu setidaknya untuk hari ini saja," ucap Ricky memberi semangat Sukma.
Sementara itu, di rumah, Murni tengah bersiap-siap untuk bertemu dengan Hakim. Mereka memang sudah membuat janji sebelumnya.
__ADS_1
Dan untuk hari ini juga, Murni tidak membuka kios baksonya.
"Bu, sebentar ini bapak baru mendapatkan kabar jika salah satu kantor cabang tempat bapak bekerja memiliki masalah. Maka dari itu, bapak diminta langsung untuk mengecek dan menyelesaikannya hingga semuanya kembali normal," ucap Bagus tiba-tiba menelpon.
"Memang kantor cabang yang dimana pak?" tanya Murni yang saat ini tengah duduk di depan meja riasnya.
"Di Surabaya bu," jawab Bagus singkat.
"Memang bapak pergi berapa hari?" tanya Murni mulai senang.
"Sendiri nggak tau bu. Dilihat dari masalahnya yang bapak dengar, sepertinya lebih dari satu minggu," jawab Bagus membuat hati Murni bersorak sorai kegirangan.
'Yes, degan begitu, aku jadi punya banyak watu dengan Hakim di rumah ini,' batin Murni tersenyum sumringah.
"Ya sudah, aku izinin bapak pergi, tapi bapak harus janji jika bapak akan segera kembali setelah semuanya selesai," ucap Murni basa-basi.
Dengan senang hati, wanita itu segera menyiapkan pakaian dinas sang suami. TAk lupa juga ia memberi kabar jika kepada selingkuhannya.
"Jadi suami mu akan ke Surabaya?" tanya Hakim masih belum percaya.
"Iya. Maka ari itu, kita punya banyak waktu untuk berdua," ucap Hakim senang.
"Iya, kamu benar sekali. Lalu kamu sekarang dimana Kim? Kamu nggak ke kantor kan hari ini?" tanya Murni lagi.
"Nggak, saat ini aku sedang berada di pertamina untuk mengisi bahan bakar mobilku. Jika kamu nggak sibuk, bagaimana kalau kita bertemu di rumah mu saja? Aku yakin sekali nggak akan ada yang mencurigai kita," ucap laki-laki yang akan menjadi calon menantunya itu.
__ADS_1
Di tempat lain, Sukma tengah menghabiskan waktunya dengan atasannya di sebuah pusat perbelanjaan. Saat ini mereka tengah menikmati makanan laut di mall tersebut.
"Gimana Sukma? Enak?" tanya Ricky menatap Sukma yang makan dengan lahapnya.
"Iya pak. Ini enak banget," jawab Sukma lalu melanjutkan makannya.
"Nah, saya senang jika kamu ceria seperti ini Sukma. Tetaplah seperti ini. Jangan bersedih lagi, apalagi menangis," ucap Ricky seketika membuat perasaan Sukma menghangat.
"Makasih pak karena telah menyemangati saya," balas Sukma tersenyum.
Jam pun berjalan dengan cepatnya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Saat ini mereka tengah berada di pantai, menghabiskan waktu untuk melihat mata hari tenggelam.
'Andai kamu jadi milik saya seutuhnya Suk, maka setiap hari pasti akan ada momen indah seperti ini. Hhhhhh, kenapa harus dia yang berhasil mendapatkan cinta dan hatimu Suk? Padahal saya yakin sekali jika laki-laki itu bukanlah laki-laki yang baik untukmu,' batin Ricky yang diam-diam mengambil foto Sukma dengan ponselnya.
"Indah sekali ya pak pemandangannya?" tanya Sukma membuyarkan lamunan laki-laki tampan itu.
"Iya, indah sekali, seindah wanita yang ada di sebelah saya saat ini," jawab Ricky membuat Sukma tersipu malu.
Di saat momen indah seperti itu, di rumahnya, Murni dan juga Hakim juga mengukir momen di atas ranjang sang calon mertua. Peluh sudah membasahi tubuh mereka berdua. Meskipun sudah cukup berumur, tapi Murni masih sangat merawat **** *************, sehingga Hakim selalu di buat ketagihan oleh milik sang ibu mertua yang masih bisa di katakan sempit.
Namun, mereka yang sedang bergumul itu di dikagetkan dengan ketukan pintu. Murni yakin sekali jika yang datang itu adalah Bagus, suaminya.
"Siapa itu Mur?" tanya Hakim yang masih berada di posisi atas.
"Sepertinya suamiku. Dia akan pulang mengambil pakaiannya," jawab Murni terlihat panik.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini? Bagaimana jika dai memergoki kita?" ucap Hakim tak kalah paniknya.