
'Aku nggak nyangka mas jika saat ini kamu sudah menjadi suami mu. Aku sangat-sangat beruntung sekali karena bisa menjadi istri dari laki-laki sebaik kamu mas,' batin Sukma mengelus kepala Hakim sehingga membuat laki-laki itu menggeliat dan memeluknya dengan erat.
***
Sukma pun hendak bangkit untuk mandi, namun Hakim semakin mempererat pelukannya.
"Nanti dulu sayang. Jangan pergi kemana-mana. Aku masih ingin meluk kamu sebentar saja," ucap Hakim masih dengan mata tertutup.
"Tapi aku mau mandi mas," balas Sukma lagi.
"Sebentar saja ya sayang. Nggak usah buru-buru mandinya. Kita disini buat bulan madu, jadi nggak usah buru-buru," ucap Hakim lalu mulai menciumi bibir istrinya itu.
Alhasil, pada pagi itu sepasang pengantin baru tersebut kembali merajut cinta dan bermandikan peluh.
Sementara itu, di rumahnya, Murni nampak sangat kesal sekali. Ia marah-marah tidak karuan dalam setiap aktifitasnya.
Hal tersebut membuat Bagus uang tidak tau apa-apa menjadi heran sekali.
"Kamu kenapa bu? Kenapa marah-marah nggak karuan seperti itu?" tanya Bagus mendekati istrinya yang baru saja menghempaskan tubuhnya di sofa depan tv.
"Hhhhhhhh, aku nggak kenapa-napa pak. Aku hanya lelah, mungkin karena seharian kemaren aku sangat sibuk sekali," jawab Murni menghela nafasnya kasar.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita istirahat saja di kamar. Kebetulan badanku juga capek-capek semua," ucap Bagus mengajak istrinya itu untuk beristirahat di kamar.
"Ya sudah, ayo," balas Murni berharap bisa melakukan hubungan intim dengan suaminya.
"Hmmmmm pak," panggil Murni bermanja ria dengan Bagus.
"Ya bu, kenapa?" jawab Bagus balik bertanya.
"Gimana pak perkembangannya punya kamu itu? Apa sudah ada perubahan? Ini sudah lama sekali lo pak aku puasa," tanya Murni membuat raut wajah Bagus berubah seketika.
__ADS_1
"Hhhhhh, sepertinya belum bu. Ibu sabar ya. Tapi sepertinya tidak separah dulu lagi bu," jawab Bagus membuat Murni menghela nafasnya panjang.
"Tapi bapak minum obatnya terus kan?" tanya Murni lagi.
"Iya bu, aku selalu minum obatnya. Ini saja tadi bapak baru selesai minum obatnya," jawab Bagus mengusap-usap kepala sang istri.
Sebenarnya Bagus sendiri sudah lama sembuh. Tapi ia sama sekali tidak ingin memberi tahukannya kepada sang istri. Di saat Bagus ingin melakukannya dengan sang istri, Bagus kembali teringat momen dimana sang istri tengah selingkuh dan bermain ranjang dengan laki-laki lain. Hati Bagus rasanya sangat sakit sekali. Semenjak saat itu, ia kehilangan selera dan enggan untuk menyentuh sang istri.
Untung saja Bagus bukan tipe laki-laki yang memiliki hasray seksual yang tinggi. Bagus sendiri tidak masalah jika ia tidak memdapatkan hak batinnya dari sang istri.
Kembali ke Sukma dan juga Hakim, merek yang saat ini baru selesai mandi memutuskan untuk bermain dan melihat alam bawah laut. Tak lupa sebelumnya mereka sarapan terlebih dahulu. Untuk pakaian Sukma sendiri, ternyata mereka telah bekerja sama dengan Bagus. Pakaian Sukma akan di antar sekalian dengan sarapan pagi agar wanita cantik itu mau mengenakan gaun malam tersebut di malam pertamanya menjadi seorang istri.
Di saat Sukma tengah menyelam bersama para pemandu, Hakim memutuskan untuk naik ke permukaan untuk mengecek ponsel miliknya. Ia takut jika Murni ataupun wanita-wanitanya mengirimi ia pesan.
Dan ternyata benar saja, banyak pesan dan panggilan dari mertuanya dan juga wanita-wanitanya yang lain. Ada yang mengucapkan selamat dan ada juga yang mengugkapkan rasa kekecewaannya terhadap Hakim karena memutuskan untuk menikah dengan wanita lain.
Sedangkan pesan dari Murni mengatakan bahwa ia sangat-sangat cemburu sekali. Murni juga mengatakan jika ia juga ingin menghabiskkan waktu di tempat terseut dengan dirinya.
Beberapa hari telah berlalu. Kini Hakim dan Sukma tengah bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah orang tua Hakim. Namu, sebelumnya Hakim dan Sukma terlebih dahulu singgah ke rumah Murni untuk mengambil pakaian milik Sukma.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar rumah. Dan dari dalam, Bagus pun bergegas membukakan pintu untuk orang yang di sangka tamunya itu.
"Assalamualaikum ayah," sapa sukma menyalami tangan ayahnya itu, dan di susul oleh Hakim setelahnya.
"Wa'alaikum salam. Sukma, Hakim, kalian sudah pulang? Ayah senang sekali melihat kalian berdua seperti ini," jawab Bagus sangat-sangat bahagia sekali.
__ADS_1
"Makasih ayah. Berkat voucher liburan ayah, aku sangat-sangat bahagia sekali," ucap Sukma memeluk ayahnya itu.
"Sama-sama sayang. Sudah kewajiban ayah buat bahagiain kamu. Ya sudah,, ayo masuk. Kalian pasti lapar sekali ya,?" ajak Bagus mempeprsilahkan anak dan meantunya itu masuk.
"Ayah tau aja kalo kami hanya makan sedikit saja tadi di hotel," jawab Sukma mengikuti langkah ayahnya masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk dulu. Sebentar, bapak akan panggikan ibu dulu," ucap sang ayah lalu masuk ke dalam kamarnya..
"Bu.. Bu bangun bu. Di luar ada Sukma dan juga suaminya," panggil Bagus membangunkan istrinya.
"Ada apa sih pak. Aku ngantuk sekali," jawab Sukma dengan mata yang tertutup,.
"Itu di luar ada Sukma dan Hakim. Ayo siapkan makanan buat mereka. Mereka pasti sangat-sangat lapar sekali," suruh Bagus yang langsung membuat mata Murni ****** mendengar nama menantunya itu.
"Baiklah. Aku akan segera siapkan makanan," jawab Murni bersegera untuk bangun.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, makanan pun siap terhidang di atas meja. Murni pun memanggil anak dan menantunya itu untuk makan bersama. Selama acara makan berlangsung, Hakim dan Murni sama-sama saling mencuri pandang.
Hal tersebut lantas membuat Sukma bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya antara ibu dan suaminya itu.
"Hmmmmm Sukma, apa malam ini kamu akan tidur di sini?" tanya Bagus di sela-sela makanannya.
"Maaf yah, sepertinya nggak. Mulai hari ini aku akan tinggal bersama dengan mas Hakim di rumahnya," jawab Sukma sebenarnya agak berat meninggalkan ayahnya.
"Hhhhhhh, ya sudah. Tapi, sesekali menginap lah di sini nak. Bapak sama ibumu pasti akan sangat-sangat merindukan mu sekali," ucap Bagus lagi.
"Ok.. Itu pasti yah. Iya kan mas?" balas Sukma sembari bertanya kepada suaminya itu.
"Iya. Sukma benar sekali yah. Nanti kami pasti akan menginap disini sesekali," jawab Hakim membenarkan ucapan wanita yang baru ia sadari.
"Baguslah kalau begitu. Sering-seringlah menginap disni, kami sama sekali tidak keberatan," tambah Murni menatap Sukma dan Hakim secara bergantian.
__ADS_1