
"Gini yah, tadi aku baru saja menghubungi tante Sinta, dia bilang ibu tidak ada di sana. Selain itu, tante Sinta juga bilang jika ibu sudah biasa tidak pulang seperti ini. Ayah, katakan padaku, apa yang di katakan tante Sinta itu benar? Apa ibu pernah berselingkuh sebelumnya?" tanya Sukma membuat Bagus kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, tepatnya satu tahun sebelum Sukma lahir ke dunia ini.
***
Bagus tak menyangka jika Sinta akan menepati janjinya untuk memberi tahukan kebusukan ibunya suatu hari nanti. Dan saat inilah waktunya.
Bagus sendiri bingung harus menjawab apa. Sebenarnya, ia tidak ingin menceritakan masa lalu itu kepada anaknya Sukma. Biarlah itu semua menjadi rahasianya selamanya.
"Yah? Ayah kenapa diam?" tanya Sukma semakin membuatnya penasaran.
"Hmmmm begini nak, dulu, sebelum kamu lahir, ibumu sempat....," ucap BAgus terhenti karena tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah mereka.
"Sebentar yah, aku buka pintu dulu," sela Sukma lalu pergi.
"Hhhhhh syukurlah," gumam Bagus merasa lega.
"Ibu? Ibu darimana saja bu? Ibu nggak jadi ke Bogor?" tanya Sukma membuat Murni bingung harus menjawab apa.
"Itu, ibu.. Ibu.. Ibu nggak jadi ke rumah tante mu Suk," jawab Murni gelagapan.
"Tapi kenapa bu?" tanya Sukma ingin mendengar jawaban ibunya itu.
"Karena tadi bicara dengan Hakim, ibu jadi ketinggalan bis tujuan Bogor. Ibu juga sudah memberi tahu tante mu jika ibu nggak jadi ke sana," jawab Murni dengan alasan terbaiknya.
"Tapi kenapa tante Sinta bilang jika ibu tidak ada janji dengannya? Bahkan sudah tidak ada tanah lagi yang akan ibu jual lagi karena semuanya sudah habis ibu jual semua," ucap Sukma membuat Murni semakin tersudut.
"Kamu jangan percaya sama tante mu Suk. Dia sengaja bilang seperti itu agar dia bisa menguasai semua tanah peninggalan nenek mu di sana," jawab Murni memutar balikkan fakta.
"Ibu? Kamu nggak jadi ke Bogor?" tanya Bagus yang tiba-tiba saja datang.
Bagus takut jika Sukma akan menanyakan hal yang sama kepada ibunya.
"Nggak pak. Ibu ketinggalan bis ke Bogor," jawab Murni lega karena kehadiran suaminya yang datang mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Loh? Kenapa bisa bu? Emang tadi kamu tutup jam berapa?" tanya Bagus juga heran.
"Ya ibu tutup seperti jam biasanya pak, tapi tadi pas ibu berangkat, Hakim menelpon dan minta ketemuan sama ibu di taman," jawab Murni mulai mengatur sandiwaranya.
"Hakim? Kenapa dia bu? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Bagus lagi.
"Baik-baik saja kok pak. Tadi Hakim bilang dia sebenarnya mau ke rumah kita, tapi ya karena berhubung anak itu mau ke Bandung, jadi dia minta ketemunya di taja pak," jawab Murni mulai tenang.
"Memang ada apa bu?" tanya Bagus penasaran,
"Nggak ada apa-apa pak. Hakim cuma mengatakan jika sehabis dia pulang dari Bandung, dia dan keluarganya pun akan langsung datang melamar Sukma," jawab Murni terdengar memang masuk di akal.
"Syukurlah kalau begitu bu. Ya sudah, bagaimana kalau ibu berangkatnya besok saja," ucap Bagus yang selalu tak pernah belajar dari kesalahan.
"Iya, ibu berangkat besok saja, biar aku yang temani ibu ke Bogor," tambah Sukma membuat Murni nampak keberatan.
Tidak usah Suk, ibu pergi sendiri saja," balas sang ibu yang sangat keberatan sekali. Pasalnya, jika Sukma ikut pergi dengannya, itu artinya ia benar-benar harus ke Bogor dan ujung-ujungnya kebusukannya pasti akan ketahuan.
"Memang kenapa jika aku pergi bu? Ada yang harus aku tanyakan sama tante Sinta," ucap Sukma lagi.
"Udah Suk, mending kamu di rumah saja, biarkan saja ibumu yang pergi sendirian," sela Bagus berusaha untuk menutupi masa lalu istrinya itu.
"Hhhhhh, baiklah yah," balas Sukma lalu masuk ke kamarnya.
Tak lama setelah itu, Murni pun langsung masuk ke dalam kamarnya.
Ia masih sangat kesal sekali karena waktunya berdua dengan calon menantunya itu hancur berantakan.
Padahal, sudah lama sekali Murni merindukan belain dari laki-laki. Meskipun Murni sudah memiliki Bagus sebagai suaminya, tapi sangat di sayangkan jika suaminya itu tidak bisa lagi memberikan nafkah batin karena juniornya yang tidak sanggup berdiri lagi.
"Bu, apa aku boleh bertanya sesuatu? Tapi aku mau menjawab jujur," ucap Bagus yang menyusul sang istri ke kamarnya.
"Mau nanya apa kamu pak?" jawab Murni balik bertanya. Wanita paruh baya itu nampak ketakutan. Ia takut jika Bagus akan menanyakan perihal lainnya.
__ADS_1
"Hhhhhhhh, Murni, apa kamu tadi benar-benar ketinggalan bus?" tanya Bagus membuat Murni gelagapan.
"Mak.. Maksud kamu apa pak? Kamu nggak percaya jika aku ketinggalan bis?" jawab wanita itu lagi.
"Bukan begitu bu, aku hanya takut saja kamu dan mba Sinta kembali bersengketa dan kamu membatalkan untuk berangkat ke Bogor," ucap Bagus membuat Murni lega.
'Hhhhhh, jadi itu, untung saja dia tidak mencurigai ku lagi,' batinnya.
"Ya nggak lah pak. Aku ini benar-benar ketinggalan bis. Lagian, mana mungkin mba Sinta mau mengangkat teleponku. Ini saja, soal masalah penjualan tanah itu, mba Sinta meminta pak RT buat menelfon ku," jelas Murni lagi-lagi mengarang sandiwara.
"Hhhhh, baiklah kalau begitu. Aku percaya. Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja. Besok tidak usah jualan dulu," ucap Bagus juga merasa lega.
Sementara itu, Hakim yang masih berada di penginapan merasa suntuk dan kesepian.
Seperti biasa, Hakim selalu menyewa jasa wanita malam untuk menemaninya dan juga memuaskan nafsunya.
Disaat Hakim tengah menunggu wanita bayarannya, ia iseng untuk menelfon Sukma, calon istrinya.
Setelah berbicara cukup lama, Hakim pun mengakhiri pembicaraannya dengan Sukma, namun, karena pintu kamarnya ada yang mengetuk, Hakim lupa memutuskan panggilannya dengan Sukma, sehingga calon istrinya itu masih tersambung dengan ponsel milik Hakim.
"Hay, kamu cepat sekali," ucap Hakim menyambut kedatangan wanita sewaannya itu.
"Iya dong, aku kan on time," jawab wanita tersebut.
"Astaga, itu sepertinya suara wanita. Tapi siapa?" gumam Sukma sangat shock mendengar suara wanita yang tengah berbicara dengan calon suaminya itu.
Hakim yang tak sadar jika masih tersambung dengan Sukma terus saja berkata manis kepada wanita sewaannya itu.
Sementara Sukma sendiri sudah mulai menitikkan air matanya mendengar percakapan Hakim yang semakin lama semakin memanaskan hatinya.
"Dimana kamu sebenarnya mas? Siapa wanita itu?" ucap Sukma terus merekam panggilan teleponnya itu.
Sukma sudah mendengar semuanya. Mulai dari kata-kata manis calon suami kepada wanita itu, sampai ******* kenikmatan antara calon suaminya dan wanita yang tengah bersama dengan suaminya itu.
__ADS_1
Semalaman Sukma tak bisa di buat tidur oleh ulah calon suaminya itu. ******* kenikmatan itu masih terngiang-ngiang di telinganya.
Sedangkan Hakim masih tertidur dengan nyenyak nya dengan di temani oleh wanita yang ia sewa semalam.