Ibu Pelakor Terkejam

Ibu Pelakor Terkejam
Bab 17


__ADS_3

"Jerry tunggu, kamu mau kemana?" teriak Talita namun tidak di acuhkan oleh Jerry.


Sementara itu, Hakim saat ini tengah sibuk dengan pekerjaannya. Di saat kesibukannya itu, Hakim teringat dengan Sukma yang sampai detik ini sama sekali menghubunginya..


***


"Sukma kemana ya? Kenapa sampai detik ini belum menghubungiku? Nggak biasa-biasanya dia seperti ini," gumam Hakim lalu mencari nomor kontak calon istrinya itu.


"Halo mas," jawab Sukma setelah panggilan mereka tersambung..


"Halo Sukma. Kamu kemana saja? Kenapa kamu nggak menghubungi ku? Apa kamu sesibuk itu? Hmmmmm?" tanya Hakim dengan nada suara yang sangat lembut.


"Maafkan aku sayang. Aku banyak pikiran sekali hari ini. Hmmmm, kamu lagi dimana?" jawab Sukma lalu balik bertanya.


"Ini aku lagi di kantor. Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu cemas memikirkan kemana kita akan berbulan madu?" rayu Hakim seketika membuat hati Sukma menghangat sekaligus salah tingkah.


"Apaan sih mas. Bukan itu. Aku hanya kepikiran ibu saja," jawab Sukma membuat Hakim mengernyitkan keningnya.


"Ibu? Memang ibu kenapa?" tanya Hakim penasaran.


"Hmmm, nanti kita bicaranya pas pulang kerja saja ya mas. Aku nggak enak bicaranya di hp," jawab Sukma semakin membuat Hakim penasaran.


"Memang ada apa sih sayang? Aku jadi penasaran tau," ucap laki-laki itu masih sangat-sangat penasaran.


"Udah, nanti saja ya kita cerita. Aku mau kerja dulu," balas Sukma lagi.


"Ok, baiklah. Kalau gitu sampai ketemu nanti. Aku akan jemput kamu ke kantor," ucap Hakim lalu mematikan panggilannya.

__ADS_1


Sementara itu, stelah mematikan panggilannya dengan Sukma, Hakim langsung menghubungi Murni. Sukma benar-benar membuatnya penasaran. Di tempat lain, warga yang tadi melihat Hakim keluar subuh dari rumah Sukma mulai membuat laporan kepada RT dan RW setempat. Pasalnya bukan sekali dua kali warga tersebut melihat Hakim sering keluar subuh bahkan tengah malam. Warga curiga jika Sukma dan Hakim melakukan sesuatu yang tidak-tidak di dalam rumahnya.


"Ya sudah, kalau begitu kita akan mulai intai rumah bu Murni. Kita harus punya bukti agar tidak terjadi masalah nantinya," jawab ketua RT yang di balas dengan anggukan setuju oleh para warga yang hadir di sana.


.


.


"Memang apa yang Sukma ingin katakan sama kamu?" tanya Murni juga penasaran.


"Aku juga nggak tau Mur. Apa jangan-jangan Sukma tau jika kita semalam....," ucap Hakim mencoba menebak-nebaknya.


"Nggak mungkin, orang Sukma pasti sudah tidur malam itu," tepis Murni tak menutup kemungkinan.


"Iya juga sih.. Lalu apa yang ingin di katakan Sukma ya?" ucap Hakim penasaran.


Beberapa jam kemudian, jam pulang kantor pun tiba. Di luar kantor Sukma, Hakim telah menunggu nya sedari tadi. Hakim sengaja datang cepat karena sedari tadi ia sudah tidak sabar ingin tau apa yang akan di katakan oleh calon istrinya itu.


"Halo sayang, kamu masih lama lagi nggak? Ini aku sudah ada di depan kantormu," ucap Hakim dalam panggilan teleponnya.


"Cepat sekali mas? Ini aku baru siap-siap akan pulang," jawab Sukma sembari merapikan mejanya..


"Ya sudah,, kalau gitu aku tunggu ya," balas Hakim lalu mematikan telponnya.


Lima belas menit kemudian, Sukma pun sudah berada di dalam mobil calon suaminya itu.


"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan tentang ibu?" tanya Hakim yang sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Sukma.

__ADS_1


"Hhhhhh, kita cari tempat duduk dulu ya mas," jawab Sukma lagi-lagi semakin membuat Hakim penasaran.


"Ok, baiklah," ucapnya melajukan mobil sedan hitam itu.


Sepanjang perjalanan, Sukma tak banyak bicara. Ia masih saja terpikirkan kejadian semalam, dimana ia mendengar sang ibu di kamar dengan laki-laki yang disangkanya adalah Bagus, ayahnya.


Lima belas menit kemudian, mereka pun tiba di sebuah taman yang selalu mereka kunjungi untuk mengisi waktu luang.


Taman yang di penuhi oleh bunga dan taman anak-anak.


"Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan tentang ibu?" tanya Hakim yang sudah penasaran sedari tadi.


"Hhhhhh, jadi begini mas. Semalam aku terbangun karena haus. Aku pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan mengambil minum ke dapur. Namun langkahku terhenti saat aku mendengar suara-suara dari dalam kamar ibu," jelas Sukma mengingat kejadian semalam.


"Suara? Suara apa?" tanya Hakim mulai cemas.


"Suara seperti orang yang tengah bercinta. Aku kira itu adalah suara ibu dengan ayah. Namun saat aku akan berpamitan sama ibu yang masih tertidur, ibu bilang jika ayah masih di luar kota. Dia belum pulang. Aku sangat terkejut sekali mendengarnya. Ingin sekali aku menanyakan lebih lanjut sama ibu. Tapi aku nggak punya keberanian. Aku takut mas jika ibu ternyata memiliki selingkuhan. Aku kasihan sama ayah yang sudah banting tulang untuk kami," jawab Sukma membuat Hakim termenung. Ada sedikit rasa bersalah yang terlintas di benak Hakim. Namun ia tak mampu berbuat apa-apa karena Hakim juga mencintai calon mertuanya itu. Hakim sendiri merasa nyaman jika sudah berduaan dengan Murni. Selain itu, Hakim juga di buat puas oleh secara batin oleh sang calon mertuanya itu.


"Hmmmmmm, siapa tau saja kamu salah dengar. Atau bisa jadi ibu sedang menonton film yang mengandung adegan dewasa di ponsel miliknya," jawab Hakim mencoba untuk membuang jauh-jauh rasa curiga Sukma.


"Ah, mana mungkin aku salah dengar mas. Aku yakin kalau aku tidak salah dengar. Tapi kamu ada benarnya juga sih mas. Siapa tau aja ibu sedang menonton sebuah film yang ada adegan dewasanya," ucap wanita cantik itu. Dengan begitu mudahnya ia termakan begitu saja ucapan Hakim.


"Ya sudah, kalau gitu kamu habiskan makananmu. Aku akan mengantarkan mu pulang. Lusa kita akan segera menikah. Apa kamu sudah mendapatkan cuti kerja mu?" tanya Hakim mengalihkan obrolan mereka.


"Sudah, aku sudah mengajukannya. Hari ini adalah hari terakhirku bekerja. Nanti seminggu setelah menikah, aku akan kembali bekerja seperti biasa," jawab Sukma antusias. Ia seolah lupa dengan masalahnya tadi.


"Baguslah kalau begitu. Aku juga sudah mengajukan cuti ku beberapa hari yang lalu. Dan hari ini adalah hari terakhirku bekerja. Selanjutnya aku akan mulai bekerja seminggu setelah menikah. Aku sudah sangat tidak sabar sekali untuk menjadi suami mu. Menikahi mu adalah impian terbesar dalam hidupku," jawab Hakim membuat Sukma benar-benar berada di atas awan.

__ADS_1


Hakim memang pandai sekali dalam menaklukkan hati Sukma. Ia benar-benar mampu membuat Sukma takut akan kehilangannya.


__ADS_2