Ibu Pelakor Terkejam

Ibu Pelakor Terkejam
Bab 11


__ADS_3

"Sukma. Kamu jangan bersuara dulu ya. Aku akan angkat panggilannya," jawab Murni lalu menekan tombol hijau yang ada dilayar ponsel pintar miliknya.


"Halo bu, ibu dimana?" tanya Sukma setelah panggilannya terhubung.


***


"Ini ibu.. Ibu.. Ibu lagi belanja di pasar dekat rumah kita. Sukma kamu dimana?" tanya Murni yang curiga jika anaknya itu telah sampai di rumah.


"Oh, ibu lagi di pasar. Ini aku lagi di depan rumah bu. Ibu pulangnya masih lama lagi nggak? Aku tunggu ibu di depan rumah ya," ucap Sukma membuat Murni panik.


"Ah, Sukma, sepertinya ibu butuh bantuan mu. Ibu minta tolong dong mampir ke laundry yang ada di persimpangan rumah kita itu, waktu itu ibu memasukkan pakaian kita ke sana karena ibu tidak sempat menyuci. Pegawai laundry nya bilang jika pakaian kita sudah selesai dan mereka akan tutup sebentar lagi. Kamu tolong ambilkan sebentar ya Suk," akal-akalan Murni agar Sukma bisa pergi untuk sementara dan Hakim pun bisa pergi dari rumah itu.


"Hmmmm, baiklah bu, kalau gitu aku akan jalan sekarang," ucap Sukma kembali menyalakan mesin motornya.


"Aman, buruan pasang pakaian mu. Sukma sudah pulang dari kantornya," suruh Murni yang juga bergegas memasang pakaiannya.


Lima menit kemudian, Murni dan Hakim telah selesai berpakaian. Kini Hakim hendak pergi meninggalkan rumah tersebut, dan akhirnya Hakim bisa keluar tanpa ketahuan oleh Sukma. Namun, di perempatan jalan, Hakim yang memarkirkan mobilnya di sebuah mini market berpapasan dengan Sukma yang baru saja kembali dari laundry. Sukma nampak terkejut dan memberhentikan motornya tepat di depan Hakim.


"Kamu dari mana mas?" tanya Sukma heran karena rambut calon suaminya itu basah seperti baru saja selesai mandi.


"Sukma, ini aku.. Aku.. Aku dari rumah mu, tapi kamu nya nggak ada. Yang ada hanya ibu yang baru saja pulang dari pasar," jawab Hakim berbohong. Untung saja tadi ia mendengar percakapan antara Sukma dengan ibunya.


"Apa? Ibu suah pulang dari pasar?" tanya Sukma heran.


"Iya, memang kenapa sayang?" tanya Hakim pura-pura tidak tau.


"Tidak apa-apa. Hmmmmm, mas, kamu rencananya mau kemana?" tanya Sukma yang dalam hatinya ingin menanyakan masalah yang beberapa waktu lalu.


"Mau menemui mu sayang. Aku sangat merindukan mu sekali Sukma. Bagaimana kalau kita jalan dan makan di luar?" ajak Hakim agar Sukma tak menaruh curiga dengan dirinya dan juga sang ibu.

__ADS_1


"Hmmmmmm, boleh. Kebetulan ada yang ingin aku tanyakan sama kamu. Tapi aku harus mandi dulu, masalahnya aku baru pulang dari kantor," pinta Sukma kepada calon suaminya itu.


"Sukma sayang, nggak usah mandi. Begini saja kamu tetap cantik apa adanya. Sudah, mending sekarang kamu langsung saja ke mobil ku di mini market depan sana. Biar aku yanng mengantar motor mu ke rumah. Aku akan menitipkan kunci motor nya ke ibu. Bagaimana?" ucap Dominic menoel dagu Sukma.


"Ok, baiklah kalau begitu. Tapi, kenapa kamu parkir di depan sana? Kenapa nggak di depan rumahku saja?" tanya Sukma lumayan penasaran.


"Karena aku mau kasih kejutan untuk mu, eh, kamu nya malah nggak ada di rumah," jawab Hakim seolah ia sudah handal membohongi calon istrinya itu.


"Hhhhhhh, maafkan aku. Ya sudah, kalau begitu aku akan menuggu di mobil mu. Mana kuncinya?" ucap Sukma sembari meminta kunci mobil milik Hakim.


Setelah memastikan Sukma pergi, Hakim pun kemudian melajukan motor milik Sukma menuju rumah. Ia kemudian mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian, pintu pun di bukakan oleh Murni, wanita selingkuhannya.


"Ternyata kamu aku pikir Sukma. Kamu membawa motor Sukma? Lalu dimana anak itu?" tanya Murni celingak-celinguk.


"Aku sudah menyuruh dia untuk menunggu di mobil. Aku akan mengajaknya jalan dan makan malam hari ini supaya dia tidak mencurigai mu lagi," jawab Hakim sembari tangannya mengerayap nakal di bibir calon mertua.


Hakim tidak sadar jika seorang warga tidak sengaja tengah memperhatikannya.


"Astaga, apa aku tidak salah lihat?" tanya warga tersebut sembari mengucek matanya.


Warga tersebut pun langsung pergi untuk mengatakan apa yang baru saja ia lihat kepada rw ataupun rt setempat.


"Jangan nakal, nanti ada yang lihat gimana?" protes Murni dengan senyumnnya.


"Haha.. Nggak akan ada yang melihat kita sayang. Lagian, suami mu nggak di rumah kan?" jawab Hakim kembali bertanya.


"Kamu benar Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku tidak mau Sukma menunggu terlalu lama," pamit Hakim lalu bergegas pergi setelah memberikan kantong yang berisikan pakaian laundry keluarga itu.


.

__ADS_1


.


"Hai sayang, maaf ya jika kamu menunggu terlalu lama," ucap Hakim yang sudah duduk di bangku kemudi.


"Tidak masalah mas. Kita akan kemana?" tanya Sukma yang bersikap lebih dingin saat ini.


"Seperti biasa, kita akan ke taman kota, lalu makan makanan kesukaan mu. Bagaimana? Apa kamu punya ide lain?" tanya Hakim merapikan rambut Sukma.


"Tidak. Aku terserah kamu saja," jawab Sukma membuat Hakim kemudian diam dan fokus dengan kemudinya.


"Sayang?" panggil Hakim di saat mereka telah tiba di taman dan duduk di bangku yang biasa mereka tempati itu.


"Ya, ada apa mas?" jawab Sukma lalu balik bertanya.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Hakim mengusap kepala Sukma dengan lembut.


"Aku nggak papa mas. Cuma ada yang ingin aku tanyakan sama kamu. Tapi aku harap, kamu bisa menjawab pertanyaan ku dengan jujur sejujur-jujurnya," ucap Sukma menatap Hakim dengan tatapan lekat.


"Kamu mau menanyakan apa sayang? Tanyakan saja. Aku janji, akan menjawabnya dengan jujur," jawab Hakim yang sebenarnya sedikit cemas dengan apa yang akan di tanyakan oleh calon istrinya itu.


Sukma kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dan mulai mendengarkan sebuah rekaman panggilan telepon antara dirinya dengan sang calon suami beberapa waktu lalu.


"Apa ini? Rekaman suara siapa itu?" tanya Hakim yang masih belum menyadari jika itu adalah dirinya.


"Coba kamu dengarkan baik-baik mas, aku yakin sekali kamu pasti tau suara siapa itu," jawab Sukma mulai dingin.


'Tidak, ini suara ku. Tapi, bagaimana bisa Sukma memiliki rekaman suara ini? Apa wanita itu mengenal Sukma?' batin Hakim yang menampakkan wajah pias nya.


"Kenapa wajah mu jadi berubah gitu mas? Apa kamu sudah tau itu suara siapa?" tanya Sukma membuat Hakim tak berkutik.

__ADS_1


"Mas? Kamu kenapa diam?" tanya Sukma lagi. Kali ini nada suara Sukma mulai tinggi. Rasanya ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Sukma, kamu.. Kamu dapat rekaman itu dari mana? Apa wanita itu yang mengirimkannya kepada mu?" tanya Hakim yang secara tidak langsung mengakui jika itu adalah dirinya.


__ADS_2